Kamis, 01 April 2010

Saham itu Judi

Beberapa waktu lalu, terjadi diskusi yang sengit dengan seorang kawan. Topiknya bukan soal Gayus Tambunan, pegawai Ditjen Pajak yang ketahuan memiliki uang Rp 28 Miliar di dalam rekeningnya. Bukan juga soal kasus Bank Century yang sudah antiklimaks pasca rapat paripurna DPR. Apalagi berhubungan dengan Mafia Kasus atau Markus yang sedang hot-hotnya dibahas di koran atau layar TV. Ini tentang saham. Ya, tentang saham. yang menjadi perdebatan adalah, si kawan tersebut terus saja menyebut investasi di saham oti adalah sama saja dengan bermain judi. "Main saham itu sama dengan judi. Haram!," kata kawan tersebut.


Perdebatan berawal ketika kami membahas tentang menabung di bank yang tidak lagi menguntungkan. Si kawan tadi mengeluh tentang tabungannya yang berkurang saban bulan. Padahal, dalam mindset-nya, menabung adalah cara untuk melipatgandakan uangnya. Celakanya, yang ia alami kini adalah sebaliknya. Uangnya malah tergerus karena bunga tidak bisa menuntup biaya.

Sebagai kawan yang baik (hehehe), aku pun menjelaskan kepadanya sejumlah investasi lainnya di luar menabung di bank. Aku menjelaskan kepadanya tentang tabungan rencana yang kini banyak dikeluarkan oleh sejumlah bank, obligasi, ORI, Reksadana, hingga saham. Nah, saat menyebutkan saham tadi, si kawan langsung menyambar dengan mengatakan, main saham itu sama dengan judi. Makanya haram.

Menurut si kawan tadi, orang membeli saham karena berharap harga sahamnya naik. Nah, saat sudah naik, maka saham kembali dijual untuk mendapatkan untung. Dalam membeli saham tadi, orang-orang selalu asal beli. Si pembeli juga tidak tahu untuk apa uang hasil penjualan saham tadi. Singkat kata, si kawan kembali mengatakan, "saham itu judi."

sebagai orang yang sudah melek investasi pasar modal (ciela.....), aku pun berusaha 'mencuci otak' si kawan itu. Kepadanya berkali-kali aku mengatakan kalau investasi di saham itu bukan judi karena dalam berinvestasi, kita harus memiliki banyak pengetahuan tentang saham, tentang perusahaan yang sahamnya mau kita beli, dan juga tentang perekonomian indonesia, dan bahkan dunia. Artinya, dalam investasi di saham, ada banyak kalkulasinya. Ini jelas berbeda dengan bermain judi yang kita tinggal menunggu mukjizat dari setan saja untuk menang. Mengapa dari setan? Ya jelas dari setan dong. Agama sudah mengatakan judi itu haram, jadi masak pemain judi mengharapkan mukjizat dari Tuhan. Ya ga bisa dong. Hehehe....

Kepada si kawan yang sepertinya sangat konservatif dalam soal mengelola uang itu, aku menjelaskan kalau dalam membeli sebuah saham, kita harus tahu kondisi perusahaaannya. Istilah dalam sahamnya, kita harus melakukan analisa fundamental si perusahaan itu. Dengan membeli sahamnya, maka sama saja kita memberikan tambahan modal kepada perusahaan itu, dengan harapan kinerja akan semakin meningkat. Kalau kinerja meningkat, maka pendapatan akan meningkat pula. Kalau pendapatan meningkat, sudah pasti perusahaan semakin besar. Kalau sudah besar, maka harga perusahaan pasti makin mahal kalau memang mau di jual.

Dengan demikian, bila kita beli saham sebuah perusahaan dengan harga Rp 100. Ternyata setahun kemudian perusahaan itu semakin besar dan menggoda orang lain untuk ikutan menjadi pemiliknya dengan bersedia membeli sahamnya dengan harga Rp 200. Karena kita memilik sahamnya, bisa saja kita menjual saham kita tadi dengan harga Rp 200. Itu artinya, dalam setahun uang kita naik Rp 100 atau 100%. Itu kalau mau dijual. Kalaupun tidak, ya tidak apa-apa. Siapa tahu 10 tahun lagi hargnya sudah menjadi Rp 100.000. Amin....

Jadi dimana letak judinya? Si kawan itu semakin bingung..... :-)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar