Rabu, 14 April 2010

Tas Sisa Kebakaran pun Habis Terjual


Ini kisah tentang para pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang kios mereka baru saja musnah terbakar pada 11 Maret 2010 dinihari lalu. Bagi mereka, tidak ada gunanya bersedih berlama-lama. Yang harus segera dilakukan adalah sesegera mungkin kembali berdagang, walaupun belum ada pengganti ruko. Mereka pun terpaksa berjualan di pinggiran lokasi Pasar Inpres Senen yang terbakar. Beragam hal unik nan jenaka mereka alami.

“Tiap hari kami tertawa-tawa saja sambil jualan. Tidak ada gunanya bersedih. Bahkan, penjualan kami tetap ada, walau tempat jualannya darurat,” kata Bu Kiap Sebayang saat ditanya bagaimana kondisinya setelah kebakaran lalu.


Ibu (yang bahasa Karo-nya adalah nande) ini adalah salah satu korban kebakaran. Tokonya yang penuh dengan pakaian, habis terbakar. Hal yang sama juga dialami oleh delapan anggota keluarganya yang lain. Maklum saja, anak-anaknya serta beberapa beberapa saudara kandung Ibu ini, juga menjadi korban su jago merah itu. Sebagian besar adalah pedagang grosir tas. Beberapa diantara mereka ini pun membagi cerita unik dan jenaka tentang pengalaman mereka berjualan setelah musibah itu.

“Saya heran juga dengan para pembeli yang datang ke Senen. Ada penjual tas yang menjual tas-tas dan dompet yang tidak ikut terbakar. Tas itu semua telah basah dan warnanya hitam yang mungkin terkena arang. Tas yang masih lumayan bagus, dijual 20 ribu. Laku sekali. Tas yang agak lusuh dijual 10 ribu, dan itupun habis. Bahkan, dompet yang warnanya sudah hitam pekat terkena arang, masih laku dijual lima ribu rupiah. Benar-benar tidak disangka. Padahal tangan si pembeli itu juga jadi kotor warna hitam saat memilih tas,” kata Nande Dedy, yang masih bersaudara dengan Nande Kiap.

Sambil menunggu kios yang sedang direnovasi kembali, Nande Kiap dan para pedagang lain memilih berdagang di pinggir pasar yang terbakar. Ada yang di dekat trotoar, dan ada juga yang di halaman pasar dimana masih menumpuk sampah-sampah sisa kebakaran. Mereka mengggelar barang dagangan di bawah atap terpal seadanya. Beberapa kali hujan turun dan mereka pun menikmatinya dengan penuh tawa saja.

“Kalau sedang tidak ada pembeli, kami hanya ngobrol-ngobrol dan tertawa. Sesekali kami berteriak menanyakan gimana kabar kawan kami yang di sebelah sana, yang jawabannya pasti mengundang tawa. Pokoknya ramai sekali,” Kata Nande Kiap yang bercerita penuh semangat.

Karena berjualan di atas sisa-sisa puing kebakaran, kaki mereka pun acapkali berwarna hitam saat pulang ke rumah. Belum lagi sesak napas yang mereka alami akibat menghirup debu sisa kebakaran. Bahkan, hingga kini Nande Kiap masih mengaku mengalami gangguan pernapasan.

Yang menggembirakan mereka, rupanya rejeki tetap ada di tengah musibah. Mereka mengaku masih mampu menjual barang dagangan dengan angka lumayan untuk menjaga dapur tetap berasap. Bahkan, beberapa kali hasil penjualan di luar perkiraan mereka. Suatu hari ada orang yang membeli ratusan pasang sendal yang mereka jual. Padahal hal demikian dulunya sangat jarang terjadi. Karena itu, para pedagang ini tetap optimistis berjualan sambil menunggu kios yang selesai direnovasi.

Dan, yang pasti senyum dan tawa mereka terlihat jelas. “Buat apa bersedih. Harus tetap berusaha dengan hati penuh suka cita. Tuhan Dibata pasti membantu,” kata Nande Kiap di ujung pembicaraan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar