Selasa, 25 Mei 2010

Terorisme dari Balik Penjara

Dinginnya tembok penjara rupanya tidak bisa membuat jera sejumlah pelaku terorisme. Mereka tetap beraksi dan menyusun rencana-rencana baru, serta melakukan perekrutan. Dari balik penjara Sukamiskin, Amman Abdurrahman malah bisa merekrut anggota baru. Sedangkan Muhammad Rois memiliki 8 handphone di penjara Cipinang, dan sering berkomunikasi dengan kelompok teroris yang sedang latihan militer di Aceh. Belum lagi sejumlah mantan napi terorisme yang kembali beraksi setelah bebas, seperti Abdullah Sunata, Urwah, dan nama lain.

Salah satu tersangka dalam penggerebekan pelatihan militer di aceh, Februari 2010 lalu adalah Gema Awal Ramadhan. Tertangkapnya pria ini dalam pelatihan terorisme di Aceh cukup mengejutkan. Gema Awal Ramadhan adalah seorang praja lulusan IPDN yang bekerja sebagai PNS di Pemda Sumedang, Jawa Barat.


Perkenalan Gema Awal Ramadhan di dunia terorisme diduga kuat terjadi ketika ia mendekam di LP Sukamiskin Bandung. Saat itu, lulusan IPDN ini dipenjara karena terlibat dalam kasus penganiyaan terhadap praja IPDN Wahyu Hidayat hingga tewas pada tahun 2003. Sekeluar dari penjara, Gema memang diketahui menjadi sangat militan, dan akhirnya terlibat dalam aksi pelatihan militer kelompok teroris di Aceh.

Adalah Aman Abdurrahman alias Oman Rohman yang diduga merekrut Gema Awal Ramadhan ke dalam jaringan terorisme. Masuknya Gema dalam aksi terorisme mewakili pola rekrutmen melalui hubungan guru-murid. Aaman, yang juga napi kasus terorisme, menjadi guru-nya, sedangkan Gema menjadi murid-nya.

Tahun 2005 lalu, Aman Abdurrahman mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Cibinong, Jawa Barat. Pria yang sehari-sehari menjadi guru ngaji ini menjadi terdakwa dalam kasus ledakan bom di Cimanggis yang terjadi pada tanggal 21 Maret 2004. Aman kemudian dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin di Bandung.

Saat sedang menjalani hukuman di penjara Sukamiskin, rupanya Aman Abdurrahman merekrut anggota baru dalam jaringannya. Di LP Sukamiskin Aman Abdurrahman memang sering mengisi waktu dengan memberikan ceramah di kelompok pengajiannya. ceramahnya mampu menyihir banyak orang di dalam lingkungan penjara, termasuk sejumlah praja IPDN yang sedang menjalani hukuman, seperti Gema Awal Ramadhan.

Aman Abdurrahman menghirup bebas pada Juli 2008. Setelah bebas, ia beberapa kali berkunjung ke LP Cipinang. Di sana, antara lain ia pernah menemui Abdullah Sunata, yang saat itu menjadi napi kasus terorisme karena menyembunyikan Noordin M Top.

Jumat, 19 Maret 2010, Aman Abdurrahman akhirnya kembali ditangkap tim Densus 88 Antiteror di rumahnya di Sumedang, Jawa Barat. Penangkapan diduga masih terkait dengan penggerebekan pelatihan militer di Aceh.

Terungkapnya hubungan antara Aman Abdurrahman dengan Abdullah Sunata serta Gema Awal Ramadhan, semakin membuktikan kalau penjara tidak menjadi tempat pembinaan yang baik bagi para pelaku terorisme. Mereka justru terus membina dan memperbesar jaringan mereka dari dalam penjara.


Kisah 8 Handphone di Penjara Cipinang


Pertengahan Mei 2010 Iwan Darmawan alias Muhammad Rois dipindahkan ke Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Terpidana mati bom Kedubes Australia ini sebelumnya menjadi salah satu penhuni di penjara Cipinang, Jakarta Timur.

Rois dipindahkan ke Nusa Kambangan bersama Hasan, rekannya sesama terpidana mati bom di depan Kedubes Australia. Pemindahan dua terpidana mati kasus pengeboman Kedutaan Besar Australia ini mendapat pengawalan ketat dari Detasemen Khusus 88 Antiteror. Pemindahan kedua terpidana mati ini diduga kuat karena faktor keamanan.

Rois dan Hasan ditangkap pada November 2004 dan dijatuhi pidana mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada September 2005. Pemindahan itu bukanlah tanpa sebab. Disebut-sebut, Rois adalah salah satu maestro yang mendalangi pelatihan militer kelompok teroris di Aceh.

Tudingan keterlibatan Rois ini bukanlah tanpa alasan. Maret lalu, pasca penggerebekan pelatihan militer di Aceh Besar, Densus 88 menggeledah sel Rois di cipinang, dan menemukan 8 unit handphone di sel terpidana mati ini. Diduga Rois sering melakukan kontak dengan dua tersangka pelatihan di Aceh, yaitu Sapta alias Ismet alias Syailendra dan Zaki Rahmatullah alias Zainal Muttaqin alias Abu Jahid.

Fakta kepemilikan delapan unit handphone oleh pelaku bom Australia ini tentu saja cukup memprihatinkan. Pasalnya, Rois yang jelas-jelas diganjar pidana mati, ternyata masih leluasa menjalin komunikasi dengan jaringannya di luar penjara.

Terlebih dalam pengungkapan bom Ritz Carlton sebelumnya, nama Rois juga sempat disebut-sebut. Diduga salah satu target dari kelompok ini adalah membebaskan Rois dari penjara. Ide membebaskan rois ini dinilai sebagian pihak cukup masuk akal. Pasalnya Rois masih dilihat sebagai petinggi, khususnya di kalangan ring Banten.

Peran ring Banten sendiri dalam pelatihan militer di Aceh juga cukup dominan,yaitu melalui keterlibatan Jaja dan Saptono. Saptono dan Jaja tak lain adalah dua bersaudara yang selama ini diduga sebagai petinggi simpul ring Banten dari jaringan NII, yang bersama dengan Rois, mereka getol merekrut pemuda-pemuda di Jawa Barat dan sekitarnya. Salah satu jejak nyata tiga maestro perekrut ini adalah peristiwa bom Australia 9 September 2004 silam.

Rois adalah salah satu murid Jaja. Rois direkrut bersama dengan 12 orang lainnya dan diberi pelatihan militer di Desa Kebon Pedes, Sukabumi, Jawa Barat. Jaja sendiri sudah mati tertembak polisi saat dalam perjalanan dari Banda Aceh ke arah Meulaboh pada 12 Maret 2010. Sedangkan Saptono tewas ditembak dalam penggerebekan di Cikampek, Jawa Barat, pada 12 Mei 2010.

Pasca pemindahan Rois dan Hasan, kini masih ada sekitar 10 napi kasus terorisme di LP Cipinang. Mereka ditempatkan di sel terpisah di Blok 3. Sedangkan total napi kasus terorisme di seluruh LP hingga kini tercatat ada 126 orang. Rinciannya, 2 napi hukuman mati, 15 napi hukuman seumur hidup, 67 napi hukuman 10 sampai 20 tahun, 36 napi hukuman 5 sampai 10 tahun, dan 6 napi hukuman dibawah 5 tahun. Napi yang sudah bebas tercatat ada 198 orang.


Apa yang salah di LP


Bagus Budi Pranoto alias Rrwah tewas dalam sebuah penggerebekan di Kampung Kepohsari, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, pada 16 September 2009. Sebelum akhirnya tewas di tangan tim Densus 88, Urwah sebelumnya juga pernah dipenjara dalam kasus terorisme.

Saat itu, ia ditangkap dengan tuduhan menyembunyikan Noordin M Top dan DR Azahari. Atas perbuatannya itu, pria kelahiran 2 November 1978 ini dijatuhi vonis 3,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Urwah akhirnya bebas pada akhir 2007.

Kembali terlibatnya orang seperti Urwah, Abdullah Sunata dan yang lainnya dalam sepak terjang pergerakan aksi terorisme di tanah air ini, tak lepas dari kelemahan sistem pembinaan pihak lembaga pemasyarakatan dan lemahnya pengawasan dari aparat kepolisian.

Di lain pihak, sebagai institusi yang berpengalaman menangani serangkaian aksi teror di tanah air, seharusnya Detasemen Khusus 88 Antiteror pun bisa memantau pergerakan para napi dan mantan napi kasus terorisme.

Bukti lemahnya pengawasan terhadap para napi dan mantan napi teroris ini juga terlihat dari daftar pencarian orang yang dirilis oleh mabes polri sendiri. Dari daftar DPO yang diumumkan April silam, Mabes Polri menyebut sedikitnya enam nama diantaranya adalah mantan napi kasus terorisme. Mereka adalah Mustofa alias Imron alias Abu Tholut, Ahmad Maulana alias Zakaria Samad alias Malik, Kamaludin alias Hasan alias Abdul Malik.

Bahkan beberapa diantara mereka adalah mantan pelaku bom Senen, yaitu Imam Rasyidi alias Sukamto alias Harun, Hasan alias Untung alias Khaidir, dan Warsito alias Abu Hasbi.

Yang mengagetkan, Abu Hamzah alias Babe, buronan teroris yang menyerahkan diri ke polisi pada 19 Mei lalu, ternyata sebelumnya juga terlibat teror bom di Atrium Senen tahun 2001 silam. Babe mengaku terjebak dalam gerakan kelompok terorisme. Babe adalah salah satu dari anggota kelompok pengajian pamulang.

Isi tulisan sudah ditayangkan dalam program METRO REALITAS di METRO TV pada Senin, 24 Mei 2010, pukul 23.05 WIB.


Selengkapnya...

Selasa, 18 Mei 2010

Abdullah Sunata dan Penyerangan 17 Agustus 2010

Abdullah Sunata kini menjadi buronan utama Densus 88. Ia diduga sekarang menjadi pemegang kendali kelompok terorisme di Indonesia. Sunata adalah tokoh dari Mujahidin Kompak/ sebuah kelompok yang dulu ikut terlibat dalam konflik Ambon dan Poso. Kompak bersama jaringan Jamaah Islamiyah dan Negara Islam Indonesia (NII) kini menyatu. Mereka telah mengincar tanggal 17 agustus 2010 untuk menyerang presiden dan para petinggi negeri ini.


Sejumlah anggota Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri menggerebek sebuah bengkel di Kampung Gondang, Desa Baki Pandeyan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, 13 Mei 2010.
Dari lokasi ini, Densus 88 Antiteror menangkap tiga orang yang diduga anggota teroris. Kketiganya adalah Joko Purwanto, Abdul Hamid, dan Erwin. Ketiganya diduga terlibat aksi pelatihan militer kelompok teroris di Bukit Jalin, Jantho, Aceh Besar, yang digerebek pada pertengahan Februari lalu.

Dari penggerebekan di Sukoharjo ini, polisi menyita sejumlah barang bukti seperti seperti senjata laras panjang M-16, pistol jenis revolver, ratusan peluru, belati, rompi, dan sejumlah buku.

Penyergapan di jawa tengah ini merupakan pengembangan dari penyergapan serupa di Jakarta Timur dan Cikampek, Jawa Barat. Sejumlah tersangka teroris memang berhasil ditembak mati dan ditangkap dalam penggebekan ini. Namun, tokoh utama terkini pergerakan terorisme di ndonesia, yang bernama Abdulah Sunata, berhasil lolos.

Kuat dugaan, Abdullah Sunata kini menjadi pemimpin kelompok teroris pasca tewasnya Nurdin M Top dan Dulmatin. Jejaknya mulai jelas terlihat di pelatihan militer kelompok tersebut di Aceh. Menurut Komandan Densus 88 Antiteror Kombes Pol Tito Karnavian, Sunata adalah pimpinan Mujahidin Kompak yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi atas apa yang ia yakini terkait gerakan yang ia jalankan. Itu yang menyebabkan ia kembali ‘bermain’ setelah bebas dari penjara. “Karena itu, butuh cara yang khusus untuk menyadarkannya,” kaat Tito.

Sunata, pria kelahiran Jakarta 4 oktober 1978, punya banyak nama lain, seperti Arman Kristianto alias Arman alias Andri. Tahun 2005 lalu, Abdullah Sunata diajukan ke meja hijau dengan tuduhan menyembunyikan Noordin M Top dan menyimpan senjata api.

Nama Abdullah Sunata mulai dikenal aktivis gerakan radikal Islam saat konflik agama di Ambon dan Poso Meletus pada tahun 1999-2004. Ia ikut mendirikan Komite Aksi Penanggulangan Akibat Krisis atau KOMPAK.

Di medan tempur Ambon dan Poso, Sunata berkenalan dengan Dulmatin, Zulkarnaen, dan Noordin M Top. Tak heran ,ketika Noordin dan kawan-kawan dikejar-kejar aparat keamanan pasca bom Bali I, Sunata dimintai tolong Noordin menyediakan tempat persembunyian.

Noordin juga beberapa kali mengajak Sunata bergabung dengannya untuk menghidupkan kembali sel-sel Jamaah Islamiah yang kocar kacir akibat penangkapan anggotanya pasca bom Bali I. Gara-gara menyembunyikan Noordin itulah, Sunata diadili dan kemudian divonis tujuh tahun penjara pada bulan mei 2006.

Rupanya, setelah bebas dari penjara, pria ini kembali aktif memimpin Kompak. Sunata pun terdeteksi aparat menjalin kontak dengan Dul matin, serta memfasilitasi kepulangan Dulmatin ke Indonesia dari Philipina.

Jejak Sunata makin terang benderang ketika Polri menggerebek pelatihan militer kelompok teroris di Aceh. Ia menjadi tokoh sentral di pelatihan ilegal tersebut karena ia menjadi salah satu pencetus ide dan penanggung jawab pelatihan bersama Dulmatin.

Setelah Dulmatin tewas tertembak di Pamulang, Tangerang beberapa bulan lalu, nama Sunata masuk daftar buron kasus terorisme di Aceh setelah sejumlah tersangka teroris Aceh yang ditangkap,"bernyanyi" soal keterlibatan Sunata.

Sunata menjadi tokoh penting di pelatihan Aceh karena ia punya kemampuan manajerial yang tinggi. Jaringannya juga sangat kuat di Indonesia, berkat pengalamannya bergabung dalam Mujahidin Kompak dan terjun di konflik Ambon dan Poso, serta hubungannya dengan Nordin M Top.

Pelatihan Aceh

Sebuah video yang diduga merupakan rekaman kegiatan latihan militer kelompok terorisme di Aceh, sempat beredar luas pada bulan Maret 2010. Kelompok ini diduga sudah berlatih di Aceh sejak akhir 2009, dan sebelumnya beberapa kali menembak orang asing di sana.

Hasil investigasi Mabes Polri mengungkapkan, setidaknya ada empat kelompok yang melebur menjadi satu dan akhirnya membuat pelatihan militer di Aceh. Keempatnya adalah Jamaah Islamiah, NII atau Negara Islam Indonesia, Mujahidin Kompak, dan kelompok lokal Aceh.

Selain Abdullah Sunata, dari kelompok Mujahidin Kompak yang terlibat di pelatihan militer Aceh tercatat nama Mansur, Ardi alias Arham, Muklis alias Maulana, Warsito, dan Sofyan Tsauri.

Sedangkan dari kelompok NII tercatat ada nama Jaja alias Pura Sudarma, Zaki, Sapta, Adam, Kholik, dan Abu Abhi.

Dari kelompok Jamaah Ismaliyah ada nama Dulmatin, Adu Yusuf alias Mustaqim, dan Heru.

Sedangkan dari kelompok lokal Aceh, ada nama Yudi, Abu Rimba, Surya Acdha, Adam, dan Maskur.
Anggota Jamaah Ansharut Tauhid atau JAT juga turut disebut-sebut terlibat dalam kelompok ini. Tanggal 6 mei lalu, atau sepekan sebelum penyergapan di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah, Densus 88 juga telah menangkap tujuh orang anggota JAT di tiga lokasi, yakni Pejaten Barat, Menteng dan Petamburan.

Turut ditangkap dalam penggerebekan itu diantaranya Ubaid alias Adi alias Jafar dan Ziad alias Deni alias Toriq. Sebelumnya, keduanya juga masuk daftar daftar pencarian orang yang diburu Mabes Polri.

JAT adalah organisasi yang dibentuk oleh Abu Bakar Ba’asyir. Belakangan, pemimpin Pondok Pesantren Ngruki ini membantah terlibat JAT di pelatihan militer di aceh. Senada dengan Abu Bakar Baasyir, Abu Wildan, salah seorang mantan anggota Jamaah Islamiyah pun membantah keterlibatan organisasi ini. Mantan anggota JI ini bahkan mengaku dirinya juga anggota JAT.

Dari para tersangka sudah ditangkap, polisi mendapatkan pengakuan yang mengejutkan. Kelompok yang berlatih di Aceh ini kabarnya sudah menetapkan rencana sasaran setelah pelatihan militer selesai. Mereka bermaksud beraksi di Jakarta saat peringatan hari Kemerdekaan 17 Agustus 2010. Sasaran mereka adalah menyerang presiden dan para petinggi negara lainnya.

Kuat dugaan, kini kelompok teroris yang kini dipimpin Abdullah Sunata ini, tidak lagi menggunakan bom dalam aksi teror mereka. Kelompok ini sekarang beralih menggunakan senjata untuk menyerangan sasaran.

Abdullah Sunata tampaknya memang pas dengan pola baru penyerangan tanpa menggunakan bom ini. Pasalnya, Sunata pernah menolak ajakan Nurdin M Top untuk bergabung dengannya karena beda pendapat soal penggunaan bom.

Kabarnya, untuk melancarkan aksi mereka, sudah disusun rencana untuk mendatangkan puluhan pucuk senjata dari Mindanau. Semua senjata itu akan dipakai dalam penyerangan di Jakarta pada hari Hemerdekaan 17 Agustus nanti. Aksi penyerangan teroris terhadap hotel yang penuh warga negara asing di Mumbai, India pada 2008 lalu, diduga kuat telah mengilmahi kelompok teroris di Indonesia.

Kisah ini sudah diangkat dalam tayangan METRO REALITAS di METRO TV dalam episode "Bersatunya Kelompok Teroris", yang tayang pada Senin, 17 Mei 2010 pukul 23.05 WIB

Selengkapnya...

Jumat, 07 Mei 2010

IHSG & Sri Mulyani

Hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot tajam. Harapan para investor untuk melihat index bisa tembus 3.000, rupanya harus ditahan dulu. Akhir minggu ini, IHSG kembali turun 73,27 poin (2,61%) dan berada di level 2,737.35. Banyak alasan yang membuat index harus tertahan untuk menuju 3.000.

Awal minggu ini, begitu banyak orang yang yakin kalau IHSG bisa menembus 3.000. Bagaimana tidak, dalam beberapa hari terakhir sebelumnya, indeks sepertinya berlari kencang dari level 2.700-an menuju 2.900an. Bahkan, hanya tinggal mengumpulkan 20-an point saja, level 3.000 sudah tercapai.

Namun apa yang terjadi kemudian. Indeks tiba-tiba saja tertekan dan semakin menjauh dari 3.000. Bahkan, menurut laporan Leonard Samosir di program Market Review di Metro TV pada Jumat pagi tadi, IHSG sempet menyentuh angka 2.600-an pada saat pembukaan di pagi hari. Menyedihkan memang....



Sejumlah analisi memperkirakan banyak faktor yang membuat IHSG tertekan dalam beberapa hari terakhir ini. Faktor utama adalah adanya aksi profit taking dari para investor setelah dalam beberapa pekan terakhir ini, index rally terus dan beberapa poin lagi mencapai 3.000. Setidaknya ini bisa dilihat dari aksi jual investor asing yang lebih besar daripada aksi beli. Indikatornya antara lain adalah ikut tertekannya rupiah yang Jumat ini berada pada level 9.200-an. Penurunan nilai rupiah terhadap dollar ini sebagai indikasi kalau investor asing ada yang 'minggat' dari Indonesia.

Turunnya index di banyak negara, seperti di AS dan Eropa, juga membuat IHSG ikut tertekan. Menurut berita, negara-negara maju sedang khawatir melihat krisis ekonomi di Yunani yang bisa semakin gawat. Spanyol dan Portugal juga dalam bayang-bayang krisis seperti yang sedang dialami Yunani.

Melihat berita-berita krisis di Yunani di layar Metro TV, TV One, RCTI, dan tv-tv lain, seakan-akan mengingatkan kita dengan apa yang terjadi di Indonesia saat krisi moneter 2008 silam. Demo-demo terjadi pusat kota yang selalu berakhir dengan bentrokan dengan petugas. Penjarahan dan pembakaran terjadi dimana-mana. Masyarakat Yunani marah karena pemerintah menaikkan pajak dan memangkas gaji pegawai guna menutup depisit anggaran mereka. IMF dan negara-negara dunia pun akhirnya turun tangan membantu Yunani. Pokoknya, mirip dengan Indonesia pada 2008 silam deh.

Terakhir, yang disebut-sebut ikut menekan IHSG adalah berita mundurnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Sang Menteri ini memilih mundur karena mendapatkan tawaran sebagai salah satu direktur di Bank Dunia (World Bank). Kalau jadi (dan, mungkin jadi), per tanggal 1 Juni ini, Sri Mulyani sudah berkantor di kantor pusat World Bandk di washington DC, Amerika Serikat.

Pasar, kata para analisis bursa, menunggu siapa yang akan diangkat Presiden SBY sebagai pengganti Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Kalau orang yang ditunjuk tidak bisa diterima baik oleh pasar, maka tidak tertutup kemungkinan, indeks akan semakin tertekan.....




Selengkapnya...

Senin, 03 Mei 2010

Aliran Uang Gayus Tambunan

Sebuah rekaman video yang berisi detik-detik penjemputan Gayus Halomoan Tambunan di Singapura, diperoleh tim Metro Realitas. Video berdurasi sekitar sejam ini, berisi bagaimana akhirnya Gayus mau dibujuk untuk pulang ke Indonesia.

Sekitar pukul 8.30 malam waktu Singapura, anggota satgas pemberantasan mafia hukum, Mas Achmad Santosa dan Denny Indrayana bertemu Gayus di Asian Food Mall, Lucky Plaza. Dalam video tampak Gayus memakai kaos abu-abu dan celana pendek loreng, serta membawa sebuah tas. Mas Ahmad Santosa sendiri berbaju hitam, sedangkan Denny Indrayana mengenakan kemeja coklat.


Kabarnya, saat itu kedua anggota satgas mafia hukum ini sedang merayu Gayus agar mau pulang ke Indonesia. Butuh dua jam untuk menyakinkan si pegawai Ditjen Pajak ini, dan pertemuan baru berakhir setelah foodcourt ini mau tutup. Suasana dialog tampaknya berjalan santai. Gayus terlihat beberapa kali tertawa. Sbuah handphone pun selalu dalam genggamannya.

Sekitar pukul 22.30 malam waktu Singapura, dialog selesai dan Gayus diantar kembali ke kamarnya di Hotel Mandarin Meritus. Tampak Wakil Direktur Keamanan Trans Nasional Bareskrim Mabes Polri, Kombes M Iriawan sudah bergabung.

Dalam rekaman ini juga tampak Gayus dibawa ke sebuah tempat. Diperkirakan ini adalah saat dimana Gayus dipertemukan dengan tim dari Mabes Polri, serta staf KBI dan instansi terkait di Singapura, guna mengurus dokumen kepulangan pegawai Ditjen Pajak ini, ke Indonesia.

Durasi cukup panjang dalam rekaman ini berisi mengenai pertemuan Gayus dengan Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi, yang diperkirakan berada di dalam kamar hotel pemilik uang Rp 28 miliar ini.

Istri Gayus dan anaknya sempat bergabung. Keduanya pergi setelah terlihat menulis sesuatu di secarik kertas, yang juga dilakukan oleh Kabareskrim Ito Sumardi.

Kombes M Iriawan dan Komandan Densus 88 Brigjen Polisi Tito Karnavian ikut menemani percakapan Gayus dengan orang nomor satu Bareskrim Mabes Polri ini. Percakapan cukup panjang, dan terdengar mereka sedang membahas seputar kasus Gayus. Hidangan minuman hangat sempat disajikan kepada mereka, sebagai teman diskusi.

Rekaman video diakhiri dengan perjalanan ayus kembali ke ndonesia pada tanggal 31 maret lalu, seperti yang telah ramai diberitakan.

Nasib Hakim Gayus

Ini-lah sosok Muhtadi Asnun yang belakangan terkenal dalam kasus vonis bebas ayus Halomoan Tambunan. Asnun adalah ketua majelis hakim yang mengetok palu bagi kebebasan pegawai Ditjen Pajak yang memiliki uang Rp 28 miliar di dalam rekeningnya itu. Asnun tak lain adalah Ketua Pengadilan Negeri Tangerang alias pejabat tertinggi dan senior para hakim di Tangerang.

Sebelum namanya tercemar dalam kasus Gayus, Muhtadi Asnun juga pernah menjadi sorotan media pada tahun 2009 lalu. Saat itu, Asnun menjadi Ketua Majelis Hakim terdakwa Daniel Daen Sabon, salah satu eksekutor pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, yang juga melibatkan nama mantan Ketua KPK Antasari Azhar. Saat itu, Asnun selalu tegas memimpin sidang. Bahkan, tanpa segan-segan, Asnun dan dua hakim lainnya, menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara kepada Daniel.

Kini, Asnun menjadi hakim tanpa palu. Ia pun sudah tidak beredar lagi di Pengadilan Negeri Tangerang. Asnun telah dicopot sebagai Ketua Pengadilan Negeri Tangerang.

Mahkamah Agung Mencopot Muhtadi Asnun setelah sang hakim itu mengakui telah menerima Rp 50 juta dari Gayus Tambunan. Padahal, awalnya, Asnun mengaku bersih saat diperika Mahkamah Agung.

Yang menyedihkan, uang panas Rp 50 juta dari Gayus itu justru dipakai Asnun untuk tambahan bekal dirinya beribadah umroh. Asnun memang langsung pergi umroh, tak lama setelah memvonis bebas Gayus pada tanggal 15 maret 2010.

Yang mengagetkan, transaksi suap Asnun dan Gayus ini dilakukan secara terang-terangan. Gayus yang saat itu menjadi terdakwa, bahkan dengan leluasa bisa bertemu Asnun di rumah dinasnya.

Transaksi bawah tangan ini dilakukan Ssnun melalui perantara seorang panitera di Pengadilan Negeri Tangerang bernama Ikat. Rumah Ikat tak jauh dari kediaman Asnun. Ikat-lah yang mengantarkan Gayus Tambunan menemui Asnun di rumah dinasnya di Jalan Sholeh Ali, Kota Tangerang, Banten.

Yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah hanya Rp 50 juta yang mengalir ke hakim? Dan, bagaimana dengan dua hakim anggota lainnya? Padahal, sebelumnya beredar kabar kalau majelis hakim kebagian miliaran rupiah dari uang 25 miliar rupiah milik Gayus.

Nasib Jaksa Gayus

Ini-lah sosok Cirus Sinaga, yang menjadi kepala jaksa yang meneliti kasus Gayus Halomoan Tambunan. Dalam gambar terlihat bekas Jaksa Penuntut Umum di persidangan Antasari Azhar ini, marah-marah ketika dicegat wartawan untuk menanyakan seputar kasus Gayus Tambunan.

Cirus adalah salah satu jaksa yang sudah diberikan sanksi berat terkait perannya dalam kasus Gayus Tambunan. Ia dicopot sebagai Asisten Pidana Khusus Kejati Jateng. Sanksi bagi jaksa perkara Gayus lainnya adalah mulai dari teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat, hingga penurunan pangkat.

Sedangkan soal adanya aliran uang dari Gayus kepada para jaksa, hingga kini belum diselidiki lebih mendalam lagi. sanksi yang sudah dijatuhkan baru berdasarkan ketidakcermatan tim jaksa dalam menangani perkara gayus tambunan. Menurut Hamzah Tadja, Jamwas Kejaksaan Agung, tugasnya saya hanya soal pengawasan. Kalau ada aliran dana, itu tugas Jampidsus, polisi, atau KPK.

Sebelumnya memang tersiar kabarnya adanya miliaran uang Gayus yang mengucur ke pihak kejaksaan, setelah berhasil ikut dalam merekayasa perkara pegawai Ditjen Pajak itu. Antara lain, tidak menjerat Gayus dengan pasal korupsi, dan tidak menyinggung uang Rp 25 miliar milik Gayus di dalam dakwaan.

Bersama beberapa jaksa lainnya, Cirus Sinaga akhirnya memenuhi panggilan penyidik Mabes Polri pada hari Senin, 26 April 2010. Jaksa yang pernah lama bertugas di Sumatera Utara ini, diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas Gayus Tambunan. Statusnya pun masih sebagai saksi.

Jaksa peneliti dalam kasus Gayus lainnya, Poltak Manulang, juga mendapatkan sanksi berat. Jabatan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku terpaksa tidak lama digenggamannya. Ia dicopot dan ditarik ke Kejaksaan Agung.

Sama seperti jaksa kasus gayus lainnya, kini Poltak sulit ditemui. Metro realitas mencoba mendatangi kediaman Poltak di Kawasan Depok, Jawa Barat. Rumah mewah jaksa senior ini berada di kawasan eksklusif Yang ditaksir bernilai miliaran rupiah. Sayangnya, sang Jaksa ini menolak untuk ditemui. Lewat petugas keamanan, Poltak menitip pesan untuk menolak kehadiran semua wartawan yang datang.

Aksi tutup mulut juga dilakukan oleh Nazran Azis, Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan Gayus Tambunan di Pengadilan Negeri Tangerang.

Kisah dalam artikel ini sudah tayang dalam program Metro Realitas di Metro TV, dalam episode 'Aliran Uang Gayus', pada Senin 3 Mei 2010.



Selengkapnya...