Selasa, 18 Mei 2010

Abdullah Sunata dan Penyerangan 17 Agustus 2010

Abdullah Sunata kini menjadi buronan utama Densus 88. Ia diduga sekarang menjadi pemegang kendali kelompok terorisme di Indonesia. Sunata adalah tokoh dari Mujahidin Kompak/ sebuah kelompok yang dulu ikut terlibat dalam konflik Ambon dan Poso. Kompak bersama jaringan Jamaah Islamiyah dan Negara Islam Indonesia (NII) kini menyatu. Mereka telah mengincar tanggal 17 agustus 2010 untuk menyerang presiden dan para petinggi negeri ini.


Sejumlah anggota Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri menggerebek sebuah bengkel di Kampung Gondang, Desa Baki Pandeyan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, 13 Mei 2010.
Dari lokasi ini, Densus 88 Antiteror menangkap tiga orang yang diduga anggota teroris. Kketiganya adalah Joko Purwanto, Abdul Hamid, dan Erwin. Ketiganya diduga terlibat aksi pelatihan militer kelompok teroris di Bukit Jalin, Jantho, Aceh Besar, yang digerebek pada pertengahan Februari lalu.

Dari penggerebekan di Sukoharjo ini, polisi menyita sejumlah barang bukti seperti seperti senjata laras panjang M-16, pistol jenis revolver, ratusan peluru, belati, rompi, dan sejumlah buku.

Penyergapan di jawa tengah ini merupakan pengembangan dari penyergapan serupa di Jakarta Timur dan Cikampek, Jawa Barat. Sejumlah tersangka teroris memang berhasil ditembak mati dan ditangkap dalam penggebekan ini. Namun, tokoh utama terkini pergerakan terorisme di ndonesia, yang bernama Abdulah Sunata, berhasil lolos.

Kuat dugaan, Abdullah Sunata kini menjadi pemimpin kelompok teroris pasca tewasnya Nurdin M Top dan Dulmatin. Jejaknya mulai jelas terlihat di pelatihan militer kelompok tersebut di Aceh. Menurut Komandan Densus 88 Antiteror Kombes Pol Tito Karnavian, Sunata adalah pimpinan Mujahidin Kompak yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi atas apa yang ia yakini terkait gerakan yang ia jalankan. Itu yang menyebabkan ia kembali ‘bermain’ setelah bebas dari penjara. “Karena itu, butuh cara yang khusus untuk menyadarkannya,” kaat Tito.

Sunata, pria kelahiran Jakarta 4 oktober 1978, punya banyak nama lain, seperti Arman Kristianto alias Arman alias Andri. Tahun 2005 lalu, Abdullah Sunata diajukan ke meja hijau dengan tuduhan menyembunyikan Noordin M Top dan menyimpan senjata api.

Nama Abdullah Sunata mulai dikenal aktivis gerakan radikal Islam saat konflik agama di Ambon dan Poso Meletus pada tahun 1999-2004. Ia ikut mendirikan Komite Aksi Penanggulangan Akibat Krisis atau KOMPAK.

Di medan tempur Ambon dan Poso, Sunata berkenalan dengan Dulmatin, Zulkarnaen, dan Noordin M Top. Tak heran ,ketika Noordin dan kawan-kawan dikejar-kejar aparat keamanan pasca bom Bali I, Sunata dimintai tolong Noordin menyediakan tempat persembunyian.

Noordin juga beberapa kali mengajak Sunata bergabung dengannya untuk menghidupkan kembali sel-sel Jamaah Islamiah yang kocar kacir akibat penangkapan anggotanya pasca bom Bali I. Gara-gara menyembunyikan Noordin itulah, Sunata diadili dan kemudian divonis tujuh tahun penjara pada bulan mei 2006.

Rupanya, setelah bebas dari penjara, pria ini kembali aktif memimpin Kompak. Sunata pun terdeteksi aparat menjalin kontak dengan Dul matin, serta memfasilitasi kepulangan Dulmatin ke Indonesia dari Philipina.

Jejak Sunata makin terang benderang ketika Polri menggerebek pelatihan militer kelompok teroris di Aceh. Ia menjadi tokoh sentral di pelatihan ilegal tersebut karena ia menjadi salah satu pencetus ide dan penanggung jawab pelatihan bersama Dulmatin.

Setelah Dulmatin tewas tertembak di Pamulang, Tangerang beberapa bulan lalu, nama Sunata masuk daftar buron kasus terorisme di Aceh setelah sejumlah tersangka teroris Aceh yang ditangkap,"bernyanyi" soal keterlibatan Sunata.

Sunata menjadi tokoh penting di pelatihan Aceh karena ia punya kemampuan manajerial yang tinggi. Jaringannya juga sangat kuat di Indonesia, berkat pengalamannya bergabung dalam Mujahidin Kompak dan terjun di konflik Ambon dan Poso, serta hubungannya dengan Nordin M Top.

Pelatihan Aceh

Sebuah video yang diduga merupakan rekaman kegiatan latihan militer kelompok terorisme di Aceh, sempat beredar luas pada bulan Maret 2010. Kelompok ini diduga sudah berlatih di Aceh sejak akhir 2009, dan sebelumnya beberapa kali menembak orang asing di sana.

Hasil investigasi Mabes Polri mengungkapkan, setidaknya ada empat kelompok yang melebur menjadi satu dan akhirnya membuat pelatihan militer di Aceh. Keempatnya adalah Jamaah Islamiah, NII atau Negara Islam Indonesia, Mujahidin Kompak, dan kelompok lokal Aceh.

Selain Abdullah Sunata, dari kelompok Mujahidin Kompak yang terlibat di pelatihan militer Aceh tercatat nama Mansur, Ardi alias Arham, Muklis alias Maulana, Warsito, dan Sofyan Tsauri.

Sedangkan dari kelompok NII tercatat ada nama Jaja alias Pura Sudarma, Zaki, Sapta, Adam, Kholik, dan Abu Abhi.

Dari kelompok Jamaah Ismaliyah ada nama Dulmatin, Adu Yusuf alias Mustaqim, dan Heru.

Sedangkan dari kelompok lokal Aceh, ada nama Yudi, Abu Rimba, Surya Acdha, Adam, dan Maskur.
Anggota Jamaah Ansharut Tauhid atau JAT juga turut disebut-sebut terlibat dalam kelompok ini. Tanggal 6 mei lalu, atau sepekan sebelum penyergapan di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah, Densus 88 juga telah menangkap tujuh orang anggota JAT di tiga lokasi, yakni Pejaten Barat, Menteng dan Petamburan.

Turut ditangkap dalam penggerebekan itu diantaranya Ubaid alias Adi alias Jafar dan Ziad alias Deni alias Toriq. Sebelumnya, keduanya juga masuk daftar daftar pencarian orang yang diburu Mabes Polri.

JAT adalah organisasi yang dibentuk oleh Abu Bakar Ba’asyir. Belakangan, pemimpin Pondok Pesantren Ngruki ini membantah terlibat JAT di pelatihan militer di aceh. Senada dengan Abu Bakar Baasyir, Abu Wildan, salah seorang mantan anggota Jamaah Islamiyah pun membantah keterlibatan organisasi ini. Mantan anggota JI ini bahkan mengaku dirinya juga anggota JAT.

Dari para tersangka sudah ditangkap, polisi mendapatkan pengakuan yang mengejutkan. Kelompok yang berlatih di Aceh ini kabarnya sudah menetapkan rencana sasaran setelah pelatihan militer selesai. Mereka bermaksud beraksi di Jakarta saat peringatan hari Kemerdekaan 17 Agustus 2010. Sasaran mereka adalah menyerang presiden dan para petinggi negara lainnya.

Kuat dugaan, kini kelompok teroris yang kini dipimpin Abdullah Sunata ini, tidak lagi menggunakan bom dalam aksi teror mereka. Kelompok ini sekarang beralih menggunakan senjata untuk menyerangan sasaran.

Abdullah Sunata tampaknya memang pas dengan pola baru penyerangan tanpa menggunakan bom ini. Pasalnya, Sunata pernah menolak ajakan Nurdin M Top untuk bergabung dengannya karena beda pendapat soal penggunaan bom.

Kabarnya, untuk melancarkan aksi mereka, sudah disusun rencana untuk mendatangkan puluhan pucuk senjata dari Mindanau. Semua senjata itu akan dipakai dalam penyerangan di Jakarta pada hari Hemerdekaan 17 Agustus nanti. Aksi penyerangan teroris terhadap hotel yang penuh warga negara asing di Mumbai, India pada 2008 lalu, diduga kuat telah mengilmahi kelompok teroris di Indonesia.

Kisah ini sudah diangkat dalam tayangan METRO REALITAS di METRO TV dalam episode "Bersatunya Kelompok Teroris", yang tayang pada Senin, 17 Mei 2010 pukul 23.05 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar