Senin, 03 Mei 2010

Aliran Uang Gayus Tambunan

Sebuah rekaman video yang berisi detik-detik penjemputan Gayus Halomoan Tambunan di Singapura, diperoleh tim Metro Realitas. Video berdurasi sekitar sejam ini, berisi bagaimana akhirnya Gayus mau dibujuk untuk pulang ke Indonesia.

Sekitar pukul 8.30 malam waktu Singapura, anggota satgas pemberantasan mafia hukum, Mas Achmad Santosa dan Denny Indrayana bertemu Gayus di Asian Food Mall, Lucky Plaza. Dalam video tampak Gayus memakai kaos abu-abu dan celana pendek loreng, serta membawa sebuah tas. Mas Ahmad Santosa sendiri berbaju hitam, sedangkan Denny Indrayana mengenakan kemeja coklat.


Kabarnya, saat itu kedua anggota satgas mafia hukum ini sedang merayu Gayus agar mau pulang ke Indonesia. Butuh dua jam untuk menyakinkan si pegawai Ditjen Pajak ini, dan pertemuan baru berakhir setelah foodcourt ini mau tutup. Suasana dialog tampaknya berjalan santai. Gayus terlihat beberapa kali tertawa. Sbuah handphone pun selalu dalam genggamannya.

Sekitar pukul 22.30 malam waktu Singapura, dialog selesai dan Gayus diantar kembali ke kamarnya di Hotel Mandarin Meritus. Tampak Wakil Direktur Keamanan Trans Nasional Bareskrim Mabes Polri, Kombes M Iriawan sudah bergabung.

Dalam rekaman ini juga tampak Gayus dibawa ke sebuah tempat. Diperkirakan ini adalah saat dimana Gayus dipertemukan dengan tim dari Mabes Polri, serta staf KBI dan instansi terkait di Singapura, guna mengurus dokumen kepulangan pegawai Ditjen Pajak ini, ke Indonesia.

Durasi cukup panjang dalam rekaman ini berisi mengenai pertemuan Gayus dengan Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi, yang diperkirakan berada di dalam kamar hotel pemilik uang Rp 28 miliar ini.

Istri Gayus dan anaknya sempat bergabung. Keduanya pergi setelah terlihat menulis sesuatu di secarik kertas, yang juga dilakukan oleh Kabareskrim Ito Sumardi.

Kombes M Iriawan dan Komandan Densus 88 Brigjen Polisi Tito Karnavian ikut menemani percakapan Gayus dengan orang nomor satu Bareskrim Mabes Polri ini. Percakapan cukup panjang, dan terdengar mereka sedang membahas seputar kasus Gayus. Hidangan minuman hangat sempat disajikan kepada mereka, sebagai teman diskusi.

Rekaman video diakhiri dengan perjalanan ayus kembali ke ndonesia pada tanggal 31 maret lalu, seperti yang telah ramai diberitakan.

Nasib Hakim Gayus

Ini-lah sosok Muhtadi Asnun yang belakangan terkenal dalam kasus vonis bebas ayus Halomoan Tambunan. Asnun adalah ketua majelis hakim yang mengetok palu bagi kebebasan pegawai Ditjen Pajak yang memiliki uang Rp 28 miliar di dalam rekeningnya itu. Asnun tak lain adalah Ketua Pengadilan Negeri Tangerang alias pejabat tertinggi dan senior para hakim di Tangerang.

Sebelum namanya tercemar dalam kasus Gayus, Muhtadi Asnun juga pernah menjadi sorotan media pada tahun 2009 lalu. Saat itu, Asnun menjadi Ketua Majelis Hakim terdakwa Daniel Daen Sabon, salah satu eksekutor pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, yang juga melibatkan nama mantan Ketua KPK Antasari Azhar. Saat itu, Asnun selalu tegas memimpin sidang. Bahkan, tanpa segan-segan, Asnun dan dua hakim lainnya, menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara kepada Daniel.

Kini, Asnun menjadi hakim tanpa palu. Ia pun sudah tidak beredar lagi di Pengadilan Negeri Tangerang. Asnun telah dicopot sebagai Ketua Pengadilan Negeri Tangerang.

Mahkamah Agung Mencopot Muhtadi Asnun setelah sang hakim itu mengakui telah menerima Rp 50 juta dari Gayus Tambunan. Padahal, awalnya, Asnun mengaku bersih saat diperika Mahkamah Agung.

Yang menyedihkan, uang panas Rp 50 juta dari Gayus itu justru dipakai Asnun untuk tambahan bekal dirinya beribadah umroh. Asnun memang langsung pergi umroh, tak lama setelah memvonis bebas Gayus pada tanggal 15 maret 2010.

Yang mengagetkan, transaksi suap Asnun dan Gayus ini dilakukan secara terang-terangan. Gayus yang saat itu menjadi terdakwa, bahkan dengan leluasa bisa bertemu Asnun di rumah dinasnya.

Transaksi bawah tangan ini dilakukan Ssnun melalui perantara seorang panitera di Pengadilan Negeri Tangerang bernama Ikat. Rumah Ikat tak jauh dari kediaman Asnun. Ikat-lah yang mengantarkan Gayus Tambunan menemui Asnun di rumah dinasnya di Jalan Sholeh Ali, Kota Tangerang, Banten.

Yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah hanya Rp 50 juta yang mengalir ke hakim? Dan, bagaimana dengan dua hakim anggota lainnya? Padahal, sebelumnya beredar kabar kalau majelis hakim kebagian miliaran rupiah dari uang 25 miliar rupiah milik Gayus.

Nasib Jaksa Gayus

Ini-lah sosok Cirus Sinaga, yang menjadi kepala jaksa yang meneliti kasus Gayus Halomoan Tambunan. Dalam gambar terlihat bekas Jaksa Penuntut Umum di persidangan Antasari Azhar ini, marah-marah ketika dicegat wartawan untuk menanyakan seputar kasus Gayus Tambunan.

Cirus adalah salah satu jaksa yang sudah diberikan sanksi berat terkait perannya dalam kasus Gayus Tambunan. Ia dicopot sebagai Asisten Pidana Khusus Kejati Jateng. Sanksi bagi jaksa perkara Gayus lainnya adalah mulai dari teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat, hingga penurunan pangkat.

Sedangkan soal adanya aliran uang dari Gayus kepada para jaksa, hingga kini belum diselidiki lebih mendalam lagi. sanksi yang sudah dijatuhkan baru berdasarkan ketidakcermatan tim jaksa dalam menangani perkara gayus tambunan. Menurut Hamzah Tadja, Jamwas Kejaksaan Agung, tugasnya saya hanya soal pengawasan. Kalau ada aliran dana, itu tugas Jampidsus, polisi, atau KPK.

Sebelumnya memang tersiar kabarnya adanya miliaran uang Gayus yang mengucur ke pihak kejaksaan, setelah berhasil ikut dalam merekayasa perkara pegawai Ditjen Pajak itu. Antara lain, tidak menjerat Gayus dengan pasal korupsi, dan tidak menyinggung uang Rp 25 miliar milik Gayus di dalam dakwaan.

Bersama beberapa jaksa lainnya, Cirus Sinaga akhirnya memenuhi panggilan penyidik Mabes Polri pada hari Senin, 26 April 2010. Jaksa yang pernah lama bertugas di Sumatera Utara ini, diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas Gayus Tambunan. Statusnya pun masih sebagai saksi.

Jaksa peneliti dalam kasus Gayus lainnya, Poltak Manulang, juga mendapatkan sanksi berat. Jabatan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku terpaksa tidak lama digenggamannya. Ia dicopot dan ditarik ke Kejaksaan Agung.

Sama seperti jaksa kasus gayus lainnya, kini Poltak sulit ditemui. Metro realitas mencoba mendatangi kediaman Poltak di Kawasan Depok, Jawa Barat. Rumah mewah jaksa senior ini berada di kawasan eksklusif Yang ditaksir bernilai miliaran rupiah. Sayangnya, sang Jaksa ini menolak untuk ditemui. Lewat petugas keamanan, Poltak menitip pesan untuk menolak kehadiran semua wartawan yang datang.

Aksi tutup mulut juga dilakukan oleh Nazran Azis, Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan Gayus Tambunan di Pengadilan Negeri Tangerang.

Kisah dalam artikel ini sudah tayang dalam program Metro Realitas di Metro TV, dalam episode 'Aliran Uang Gayus', pada Senin 3 Mei 2010.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar