Jumat, 07 Mei 2010

IHSG & Sri Mulyani

Hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot tajam. Harapan para investor untuk melihat index bisa tembus 3.000, rupanya harus ditahan dulu. Akhir minggu ini, IHSG kembali turun 73,27 poin (2,61%) dan berada di level 2,737.35. Banyak alasan yang membuat index harus tertahan untuk menuju 3.000.

Awal minggu ini, begitu banyak orang yang yakin kalau IHSG bisa menembus 3.000. Bagaimana tidak, dalam beberapa hari terakhir sebelumnya, indeks sepertinya berlari kencang dari level 2.700-an menuju 2.900an. Bahkan, hanya tinggal mengumpulkan 20-an point saja, level 3.000 sudah tercapai.

Namun apa yang terjadi kemudian. Indeks tiba-tiba saja tertekan dan semakin menjauh dari 3.000. Bahkan, menurut laporan Leonard Samosir di program Market Review di Metro TV pada Jumat pagi tadi, IHSG sempet menyentuh angka 2.600-an pada saat pembukaan di pagi hari. Menyedihkan memang....



Sejumlah analisi memperkirakan banyak faktor yang membuat IHSG tertekan dalam beberapa hari terakhir ini. Faktor utama adalah adanya aksi profit taking dari para investor setelah dalam beberapa pekan terakhir ini, index rally terus dan beberapa poin lagi mencapai 3.000. Setidaknya ini bisa dilihat dari aksi jual investor asing yang lebih besar daripada aksi beli. Indikatornya antara lain adalah ikut tertekannya rupiah yang Jumat ini berada pada level 9.200-an. Penurunan nilai rupiah terhadap dollar ini sebagai indikasi kalau investor asing ada yang 'minggat' dari Indonesia.

Turunnya index di banyak negara, seperti di AS dan Eropa, juga membuat IHSG ikut tertekan. Menurut berita, negara-negara maju sedang khawatir melihat krisis ekonomi di Yunani yang bisa semakin gawat. Spanyol dan Portugal juga dalam bayang-bayang krisis seperti yang sedang dialami Yunani.

Melihat berita-berita krisis di Yunani di layar Metro TV, TV One, RCTI, dan tv-tv lain, seakan-akan mengingatkan kita dengan apa yang terjadi di Indonesia saat krisi moneter 2008 silam. Demo-demo terjadi pusat kota yang selalu berakhir dengan bentrokan dengan petugas. Penjarahan dan pembakaran terjadi dimana-mana. Masyarakat Yunani marah karena pemerintah menaikkan pajak dan memangkas gaji pegawai guna menutup depisit anggaran mereka. IMF dan negara-negara dunia pun akhirnya turun tangan membantu Yunani. Pokoknya, mirip dengan Indonesia pada 2008 silam deh.

Terakhir, yang disebut-sebut ikut menekan IHSG adalah berita mundurnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Sang Menteri ini memilih mundur karena mendapatkan tawaran sebagai salah satu direktur di Bank Dunia (World Bank). Kalau jadi (dan, mungkin jadi), per tanggal 1 Juni ini, Sri Mulyani sudah berkantor di kantor pusat World Bandk di washington DC, Amerika Serikat.

Pasar, kata para analisis bursa, menunggu siapa yang akan diangkat Presiden SBY sebagai pengganti Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Kalau orang yang ditunjuk tidak bisa diterima baik oleh pasar, maka tidak tertutup kemungkinan, indeks akan semakin tertekan.....




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar