Selasa, 25 Mei 2010

Terorisme dari Balik Penjara

Dinginnya tembok penjara rupanya tidak bisa membuat jera sejumlah pelaku terorisme. Mereka tetap beraksi dan menyusun rencana-rencana baru, serta melakukan perekrutan. Dari balik penjara Sukamiskin, Amman Abdurrahman malah bisa merekrut anggota baru. Sedangkan Muhammad Rois memiliki 8 handphone di penjara Cipinang, dan sering berkomunikasi dengan kelompok teroris yang sedang latihan militer di Aceh. Belum lagi sejumlah mantan napi terorisme yang kembali beraksi setelah bebas, seperti Abdullah Sunata, Urwah, dan nama lain.

Salah satu tersangka dalam penggerebekan pelatihan militer di aceh, Februari 2010 lalu adalah Gema Awal Ramadhan. Tertangkapnya pria ini dalam pelatihan terorisme di Aceh cukup mengejutkan. Gema Awal Ramadhan adalah seorang praja lulusan IPDN yang bekerja sebagai PNS di Pemda Sumedang, Jawa Barat.


Perkenalan Gema Awal Ramadhan di dunia terorisme diduga kuat terjadi ketika ia mendekam di LP Sukamiskin Bandung. Saat itu, lulusan IPDN ini dipenjara karena terlibat dalam kasus penganiyaan terhadap praja IPDN Wahyu Hidayat hingga tewas pada tahun 2003. Sekeluar dari penjara, Gema memang diketahui menjadi sangat militan, dan akhirnya terlibat dalam aksi pelatihan militer kelompok teroris di Aceh.

Adalah Aman Abdurrahman alias Oman Rohman yang diduga merekrut Gema Awal Ramadhan ke dalam jaringan terorisme. Masuknya Gema dalam aksi terorisme mewakili pola rekrutmen melalui hubungan guru-murid. Aaman, yang juga napi kasus terorisme, menjadi guru-nya, sedangkan Gema menjadi murid-nya.

Tahun 2005 lalu, Aman Abdurrahman mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Cibinong, Jawa Barat. Pria yang sehari-sehari menjadi guru ngaji ini menjadi terdakwa dalam kasus ledakan bom di Cimanggis yang terjadi pada tanggal 21 Maret 2004. Aman kemudian dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin di Bandung.

Saat sedang menjalani hukuman di penjara Sukamiskin, rupanya Aman Abdurrahman merekrut anggota baru dalam jaringannya. Di LP Sukamiskin Aman Abdurrahman memang sering mengisi waktu dengan memberikan ceramah di kelompok pengajiannya. ceramahnya mampu menyihir banyak orang di dalam lingkungan penjara, termasuk sejumlah praja IPDN yang sedang menjalani hukuman, seperti Gema Awal Ramadhan.

Aman Abdurrahman menghirup bebas pada Juli 2008. Setelah bebas, ia beberapa kali berkunjung ke LP Cipinang. Di sana, antara lain ia pernah menemui Abdullah Sunata, yang saat itu menjadi napi kasus terorisme karena menyembunyikan Noordin M Top.

Jumat, 19 Maret 2010, Aman Abdurrahman akhirnya kembali ditangkap tim Densus 88 Antiteror di rumahnya di Sumedang, Jawa Barat. Penangkapan diduga masih terkait dengan penggerebekan pelatihan militer di Aceh.

Terungkapnya hubungan antara Aman Abdurrahman dengan Abdullah Sunata serta Gema Awal Ramadhan, semakin membuktikan kalau penjara tidak menjadi tempat pembinaan yang baik bagi para pelaku terorisme. Mereka justru terus membina dan memperbesar jaringan mereka dari dalam penjara.


Kisah 8 Handphone di Penjara Cipinang


Pertengahan Mei 2010 Iwan Darmawan alias Muhammad Rois dipindahkan ke Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Terpidana mati bom Kedubes Australia ini sebelumnya menjadi salah satu penhuni di penjara Cipinang, Jakarta Timur.

Rois dipindahkan ke Nusa Kambangan bersama Hasan, rekannya sesama terpidana mati bom di depan Kedubes Australia. Pemindahan dua terpidana mati kasus pengeboman Kedutaan Besar Australia ini mendapat pengawalan ketat dari Detasemen Khusus 88 Antiteror. Pemindahan kedua terpidana mati ini diduga kuat karena faktor keamanan.

Rois dan Hasan ditangkap pada November 2004 dan dijatuhi pidana mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada September 2005. Pemindahan itu bukanlah tanpa sebab. Disebut-sebut, Rois adalah salah satu maestro yang mendalangi pelatihan militer kelompok teroris di Aceh.

Tudingan keterlibatan Rois ini bukanlah tanpa alasan. Maret lalu, pasca penggerebekan pelatihan militer di Aceh Besar, Densus 88 menggeledah sel Rois di cipinang, dan menemukan 8 unit handphone di sel terpidana mati ini. Diduga Rois sering melakukan kontak dengan dua tersangka pelatihan di Aceh, yaitu Sapta alias Ismet alias Syailendra dan Zaki Rahmatullah alias Zainal Muttaqin alias Abu Jahid.

Fakta kepemilikan delapan unit handphone oleh pelaku bom Australia ini tentu saja cukup memprihatinkan. Pasalnya, Rois yang jelas-jelas diganjar pidana mati, ternyata masih leluasa menjalin komunikasi dengan jaringannya di luar penjara.

Terlebih dalam pengungkapan bom Ritz Carlton sebelumnya, nama Rois juga sempat disebut-sebut. Diduga salah satu target dari kelompok ini adalah membebaskan Rois dari penjara. Ide membebaskan rois ini dinilai sebagian pihak cukup masuk akal. Pasalnya Rois masih dilihat sebagai petinggi, khususnya di kalangan ring Banten.

Peran ring Banten sendiri dalam pelatihan militer di Aceh juga cukup dominan,yaitu melalui keterlibatan Jaja dan Saptono. Saptono dan Jaja tak lain adalah dua bersaudara yang selama ini diduga sebagai petinggi simpul ring Banten dari jaringan NII, yang bersama dengan Rois, mereka getol merekrut pemuda-pemuda di Jawa Barat dan sekitarnya. Salah satu jejak nyata tiga maestro perekrut ini adalah peristiwa bom Australia 9 September 2004 silam.

Rois adalah salah satu murid Jaja. Rois direkrut bersama dengan 12 orang lainnya dan diberi pelatihan militer di Desa Kebon Pedes, Sukabumi, Jawa Barat. Jaja sendiri sudah mati tertembak polisi saat dalam perjalanan dari Banda Aceh ke arah Meulaboh pada 12 Maret 2010. Sedangkan Saptono tewas ditembak dalam penggerebekan di Cikampek, Jawa Barat, pada 12 Mei 2010.

Pasca pemindahan Rois dan Hasan, kini masih ada sekitar 10 napi kasus terorisme di LP Cipinang. Mereka ditempatkan di sel terpisah di Blok 3. Sedangkan total napi kasus terorisme di seluruh LP hingga kini tercatat ada 126 orang. Rinciannya, 2 napi hukuman mati, 15 napi hukuman seumur hidup, 67 napi hukuman 10 sampai 20 tahun, 36 napi hukuman 5 sampai 10 tahun, dan 6 napi hukuman dibawah 5 tahun. Napi yang sudah bebas tercatat ada 198 orang.


Apa yang salah di LP


Bagus Budi Pranoto alias Rrwah tewas dalam sebuah penggerebekan di Kampung Kepohsari, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, pada 16 September 2009. Sebelum akhirnya tewas di tangan tim Densus 88, Urwah sebelumnya juga pernah dipenjara dalam kasus terorisme.

Saat itu, ia ditangkap dengan tuduhan menyembunyikan Noordin M Top dan DR Azahari. Atas perbuatannya itu, pria kelahiran 2 November 1978 ini dijatuhi vonis 3,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Urwah akhirnya bebas pada akhir 2007.

Kembali terlibatnya orang seperti Urwah, Abdullah Sunata dan yang lainnya dalam sepak terjang pergerakan aksi terorisme di tanah air ini, tak lepas dari kelemahan sistem pembinaan pihak lembaga pemasyarakatan dan lemahnya pengawasan dari aparat kepolisian.

Di lain pihak, sebagai institusi yang berpengalaman menangani serangkaian aksi teror di tanah air, seharusnya Detasemen Khusus 88 Antiteror pun bisa memantau pergerakan para napi dan mantan napi kasus terorisme.

Bukti lemahnya pengawasan terhadap para napi dan mantan napi teroris ini juga terlihat dari daftar pencarian orang yang dirilis oleh mabes polri sendiri. Dari daftar DPO yang diumumkan April silam, Mabes Polri menyebut sedikitnya enam nama diantaranya adalah mantan napi kasus terorisme. Mereka adalah Mustofa alias Imron alias Abu Tholut, Ahmad Maulana alias Zakaria Samad alias Malik, Kamaludin alias Hasan alias Abdul Malik.

Bahkan beberapa diantara mereka adalah mantan pelaku bom Senen, yaitu Imam Rasyidi alias Sukamto alias Harun, Hasan alias Untung alias Khaidir, dan Warsito alias Abu Hasbi.

Yang mengagetkan, Abu Hamzah alias Babe, buronan teroris yang menyerahkan diri ke polisi pada 19 Mei lalu, ternyata sebelumnya juga terlibat teror bom di Atrium Senen tahun 2001 silam. Babe mengaku terjebak dalam gerakan kelompok terorisme. Babe adalah salah satu dari anggota kelompok pengajian pamulang.

Isi tulisan sudah ditayangkan dalam program METRO REALITAS di METRO TV pada Senin, 24 Mei 2010, pukul 23.05 WIB.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar