Rabu, 30 Juni 2010

Teror Tabung Gas

Berkali-kali ledakan tabung gas terjadi dan mengakibatkan kematian di tengah masyarakat. Rakyat Indonesia seperti dikirimi bom ke rumah mereka, yang kapan saja bisa meledak dan melukai siapa saja.

Pemerintah dituding sudah sembrono dengan program konversi minyak tanah ke gas elpiji, dengan hanya mengkampanyekan harga murah tanpa dibarengi dengan sosialisasi dan pengawasan yang ketat. Program itu pun kini berubah menjadi teror di tengah masyarakat.
Rabu pagi, 23 juni 2010, puluhan rumah di Pademangan, Jakarta Timur, ludes terbakar. Ledakan tabung gas diduga menjadi pemicu peristiwa kebakaran di kawasan padat penduduk ini.

Ledakan tabung gas 3 kg lainnya terjadi di Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat, 18 Juni 2010. Yang menyedihkan, ledakan ini menghanguskan rumah dan menewaskan dua warga.


Yang lebih dahyat lagi menimpa sebuah ruko di Surabaya, Jawa Timur, 3 Juni 2010. Akibat ledakan tabung gas, empat orang tewas dan puluhan bangunan hancur. Lokasi ledakan diketahui sebagai gudang dan penjualan gas elpiji.

Kamis pagi, 27 Mei 2010, ldakan tabung gas menyebabkan dinding di apartemen Royal Tower Riverside, Pluit, Jakarta Utara, berlubang. Akibatnya, empat mobil yang parkir di bawah apartemen rusak tertimpa reruntuhan tembok.

Semua tadi hanya-lah beberapa dari sekian banyak kasus ledakan tabung gas yang akhir-akhir ini marak terjadi di tengah masyarakat. Publik pun cemas dan ketakutan, kalau-kalau mereka akan menjadi korban berikutnya. Sepertinya, teror sedang menghantui masyarakat lewat tabung-tabung gas yang masuk ke rumah mereka.

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap para korban ledakan tabung gas, akhirnya membuat sejumlah kalangan menyarankan agar para korban ledakan tabung gas untuk menggugat pemerintah.

Konversi minyak tanah ke gas elpiji yang digalakkan pemerintah sejak tahun 2008, dituding sebagai biang kerok maraknya ledakan tabung gas, akhir-akhir ini. Tudingan ini muncul karena peristiwa ledakan hampir seluruhnya terjadi pada tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram. Konversi tadi memang dijalankan pemerintah dengan menyediakan jutaan tabung gas 3 kg bagi masyarakat. Tabung gas ukuran mini yang biasa berwarna hijau ini, dianggap tidak aman dan hanya membawa maut ke rumah-rumah.

Sebuah dokumen milik Badan Stardardisasi Nasional (BSN) yang diperoleh tim Metro Realitas, mengungkap sebuah fakta yang mengejutkan. Dokumen ini adalah paparan BSN pada saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, 2 Juni 2010. BSN sendiri adalah lembaga yang bertugas melakukan standarisasi di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, BSN mengambil sampel tabung gas 3 kilogram beserta aksesorisnya dari sejumlah daerah, dan kemudian menguji mutu-nya. Hasilnya sungguh sangat mengejutkan. Dari seluruh sampel selang yang diteliti, 100 persen tidak memenuhi syarat mutu sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Sedangkan untuk katub tabung mencapai 66 persen, kompor gas 50 persen, regulator 20 persen, dan untuk tabung ada 7 persen yang mutunya tidak sesuai SNI.

Dalam dokumen juga dijelaskan penyebab utama ledakan tabung gas yang umumnya disebabkan oleh aksesoris tabung gas, seperti selang, regulator, karet katub tabung, dan kompor.

Hasil penelitian BSN seakan menjadi tamparan bagi pemerintah yang tadinya sudah merasa bangga mengurangi subsidi BBM dengan memaksa masyarakat memakai gas elpiji. Nyata-nyata, program konversi ini akhirnya memberikan teror bagi masyarakat.

Praktel Nakal Bisnis Gas Elpiji
Praktek nakal dalam bisnis gas elpiji dituduh ikut berperan dalam maraknya ledakan tabung gas elpiji. Demi meraup untung berlipat-lipat, keselamatan pun dipinggirkan seenak hati pelakunya.

Sejak awal, konversi minyak tanah ke gas elpiji memang sudah kontroversi. Masalah sudah mulai muncul sejak program konversi ini belum dilaksakan. Masih jelas dalam ingatan, ketika akhir 2007 terungkap adanya tabung elpiji 3 kg sudah di-impor dari Cina walau pemerintah belum menggalakkan program konversi minyak tanah ke gas elpiji. Padahal, saat itu pemerintah belum mengatur semua regulasi, seperti standarisasi maupun pengawasannya.

Impor ini sangat mencurigakan. Ppasalnya, Pertamina, sebagai pihak yang diberi tugas yang menyiadakan tabung 3 kg, saat itu baru mau rencana impor. Anehnya, tabung malah sudah masuk ke Indonesia. Bahkan, logo Pertamina sudah ada di tabung.

Hingga kini impor tabung gas dan aksesorisnya ditengarai masih terus berlangsung. Celakanya, soal mutu masih sangat diragukan karena belum pasti sesuai standar yang diatur pemerintah. Akibatnya, jaminan keselamatan masyarakat pun tergadaikan.

Selain masuknya barang impor yang memiliki mutu rendah, banyak-nya praktek ilegal, ikut memicu ledakan tabung gas. Yang paling sering terungkap adalah mengurangi isi gas elpiji dari tabung 3 kilogram ke 12 kilogram dengan peralatan tertentu. Dengan cara ini, pelaku bisa menjual elpiji bersubsidi 3 kilogram dengan harga non subsidi 12 kilogram. Ulah nakal ini tentu merusak komponen di tabung sehingga mudah meledak.

Yang lebih menyeramkan lagi, pengoplosan dilakukan dengan cara pelaku menyedot isi elpiji 12 kilogram antara 2 hingga 3 kilogram, kemudian memasukkannya ke tabung ukuran 3 kilogram yang sudah kosong. Sebagai pengganti, mereka memasukkan air atau angin ke dalam elpiji tabung 12 kilogram agar beratnya kembali normal.

Beredarnya tabung gas elpiji 3 kilogram yang buruk juga semakin menghantui masyarakat. Saat ini, penyediaan tabung gas 3 kilogram dimonopoli oleh Pertamina. Tercatat ada 54 perusahaan yang memasok tabung gas ke Pertamina dengan kapasitas mencapai 74 juta tabung per tahun. Untuk tahun 2010, sudah ada 70 perusahaan yang mengikuti tender tabung gas 3 kg sebanyak 7 setengah juta tabung gas. Pertamina berkilah, semua tabung gas elpiji 3 kg sudah sesuai aturan yang berlaku.

Nyatanya, di lapangan memang ada rekanan pertamina yang nakal. Seperti yang dilakukan oleh PT Tabung Mas Murni dengan memproduksi tabung gas elpiji 3 kilogram tak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia. Ketebalan bahan baku baja yang dipakai lebih tipis dari yang dipersyaratkan yakni 225 milimeter dari yang seharusnya 250 milimeter. Akibatnya, polisi pun menggerebek pabrik PT Tabung Mas Murni dan menetapkan direksi pabrik ini sebagai tersangka.

Beredarnya aksesoris tabung, seperti selang dan regulator yang tidak sesuai SNI juga semakin menambah seram konversi minyak tanah ke gas. Iming-iming harga yang lebih murah dan ketidaktahuan mereka, barangkali membuat masyarakat akhirnya terjebak pada produk-produk palsu ini. Kementerian perdagangan sudah beberapa kali menggerebek lokasi peredaran aksesoris tabung yang palsu tersebut.

Mana Pengawasan Pemerintah
Tidak hanya masalah beredarnya barang yang tidak sesuai mutu yang dianggap penyebab maraknya ledakan tabung gas. Pemerintah juga dinilai gagal mengawasi jalannya konversi minyak tanah ke gas elpiji.

Saat masih menjabat Wakil Presiden, Jusuf Kalla-lah yang paling getol mengkampanyekan konversi minyak tanah ke gas elpiji. Karena itu, tidak salah program tabung gas 3 kilogram pun di-identikkan dengan Jusuf Kalla. Kini, ketika Jusuf Kalla tidak lagi menjadi Wakil Presiden, pengawasan pemerintah terhadap program ini pun dinilai sudah mengendor.

Lihat saja, hampir semua instansi yang berwenang merasa sudah menjalankan fungsi dan tanggung jawab mereka. Mereka pun tidak mau disalahkan. Padahal, penggunaan elpiji barangkali menjadi barang baru bagi jutaan penduduk yang mengikuti program konversi. Akibatnya, mereka sering lalai terhadap bahaya gas elpiji yang ada di dapur rumah mereka. Akibatnya ya seperti ini…..

Sosialisasi dari pemerintah juga sangat kurang terhadap jalannya konversi minyak tanah ke gas elpiji. Akibatnya, masyarakat menjadi korban akibat minimnya informasi yang mereka peroleh. Misalnya, karena baru pertama kali memakai gas elpiji, masyarakat tentu belum tahu faktor keselamatan pemakaian gas elpiji, termasuk kapan dan bagaimana mengganti aksesoris pada tabung gas yang sudah melewati umur pemakaian.

Semakin seringnya peristiwa ledakan tabung gas akhir-akhir ini, dan ditambah dengan derasnya kritikan dari banyak pihak, akhirnya memaksa pemerintah semakin serius mengatasinya. Wakil Presiden Budiono pun mengumpulkan sejumlah pejabat terkait guna membahas masalah teror ledakan tabung gas ini.

Artikel sudah tayang dalam program Metro Realitas, edisi Rabu, 30 Juni 2010, pukul 23.05 WIB, dalam episode "Teror Tabung Gas".
Selengkapnya...

Jumat, 18 Juni 2010

Pantai Tablanusu yang Eksotik

Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi ketika kami segera beranjak menyusuri jalan raya Jayapura-Sentani. Tujuan kami kali ini adalah sebuah pantai yang disebutkan sebagai salah satu pantai terindah di sekitar Jayapura. Namanya Pantai Tablanusu. Nama pantai ini disebut Tablanusu karena memang berada di Desa Tablanusu, yang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Setelah sekitar dua jam duduk manis di dalam mobil sambil menikmati pemandangan alam Papua, kami akhirnya tiba di Pantai Tablanusu. Karena ini adalah hari Minggu, maka cukup ramai juga suasana di sini. Para pengunjung rata-rata datang dengan mobil pribadi. Yang menarik, semua mobil wajib parkir di tempat parkir yang sudah tersedia. Kondisi ini membuat pantai tidak menjadi semrawut oleh kendaraan-kendaraan. Agar tetap nyaman, sudah disediakan jalan yang unik dengan papan yang disusun memanjang, mulai dari parkiran sampai ujung pantai.

Mmmm..... ternyata tidak sia-sia menempuh pe
rjalanan yang mungkin hampir mencapai 100 km ini sejak dari Kota Jayapura. Pantai Tablanusu bagus sekali. Pantainya memberikan pemandangan yang luarbiasa indah. Warganya juga ramah dan siap membantu para wisatawan. Kebersihan juga dijaga di sekitar pantai.

Kabarnya, dulunya untuk mencapai pantai ini harus menggunakan perahu dari ibukota Kecamatan di Depapre dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Setelah itu, perjalanan menuju Desa Wisata Tablanusu dilanjutkan dengan berjalan
kaki. Namun, kini mobil sudah bisa mencapai Tablanusu setelah dibuat jalan aspal dengan cara memangkas perbukitan yang cukup terjal. Saat melihat bagaimana kondisi jalan, sudah terbayangkan betapa sulitnya dulu membangun jalan aspal ini. Tapi, usaha ini memang tidak sia-sia. Tablanusu kini menjelma sebagai sebuah tempat wisata baru yang tersohor di Jayapura.

Di Desa Wisata Tablanusu terdapat berbagai fasilitas, seperti pemandu wisata, gereja, persewaan perahu, pasar ikan, dan warung yang menyediakan aneka makanan, minuman, dan suvenir khas masyarakat setempat. Penginapan juga sudah ada selain bisa juga meyewa rumah penduduk setempat (homestay), atau berkemah dengan nyaman di berbagai lokasi di desa tersebut, seperti di tepi pantai.

Ada yang unik di Tablanusu yang mungkin tak akan pernah habis berpikir bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Hampir seluruh permukaan desa yang luasnya kurang lebih 230 Ha, tertutup oleh batuan alam hitam dengan ukuran kecil dan akan menimbulkan suara apabila Anda melangkah di atasnya. Bagi warga setempat
akan sangat mudah mengenali pendatang baru di desa tersebut hanya dengan mendengarkan suara gesekan batu-batu tersebut. Mereka seolah telah menemukan teknik tersendiri untuk berjalan di atas batuan itu sehingga tidak menimbulkan bunyi yang berisik.

Foto: by Edi Ginting

Selengkapnya...

Kamis, 17 Juni 2010

Adipura bagi Kota Tangerang

Selamat untuk Kota Tangerang yang akhirnya bisa mendapatkan Adipura di tahun 2010 ini. Bisa jadi, penghargaan ini sangat berkesan bagi para pejabat di Kota Tangerang. Bagaimana tidak, beberapa tahun lalu, Kota Tangerang pernah mendapatkan predikat sebagai salah satu kota terjorok di Indonesia. Predikat tidak enak itu, kini sudah bisa terhapus dengan mendapatkan Adipura.

Hebatnya lagi, Kota Tangerang mendapatkan Adipura sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia. Daftar Kota Metropolitan Peraih Piala Adipura 2010 adalah Palembang (Kota Palembang), Jakarta Pusat (Kota Administrasi Jakarta Pusat), Jakarta Selatan (Kota Administrasi Jakarta Selatan), Surabaya (Kota Surabaya), Tangerang (Kota Tangerang), Jakarta Utara (Kota Administrasi Jakarta Utara), Jakarta Timur (Kota Administrasi Jakarta Timur), Jakarta Barat (Kota Administrasi Jakarta Barat), dan Bekasi (Kota Bekasi).

Kabarnya, sebagai bentuk kegembiraan atas keberhasilan mendapatkan Adipura, maka penghargaan itu pun diarak-arak berkeliling Kota Tangerang. Acara ini dimulai dari Balaikota dan berlanjut ke sejumlah ruas jalan di sana, dan berakhir kembali di balaikota. Sambutan masyarakat pun cukup ramai yang tentu saja semakin membuat gembira para pejabat di sana.

Biasanya, kota-kota yang pernah mendapatkan Adipura, akan membuat sebuah monumen berbentuk piagam Adipura di kota mereka. Nah, kita tunggu saja apakah Kota Tangerang juga akan membuat hal yang sama. Tapi, tidak salah juga sih membuat monumen seperti itu. Apalagi, Kota Tangerang sepertinya memang miskin dengan patung. Jangankan patung, penghijauan saja baru digalakkan dalam setahun terakhir ini.

Kini, memang hampir semua jalan-jalan utama di Kota Tangerang sudah mulai hijau oleh pohon-pohon yang berbaris rapi di pinggir jalan dan median jalan. Karena baru ditanam, setiap pohon memang belum terlalu tinggi. Tapi, kita tunggu saja dalam beberapa tahun lagi....

Untuk tahun 2010, total ada 140 kota dan kabupaten se-Indonesia yang mendapatkan Adipura. Penerima Piala Anugerah Adipura tersebut terdiri atas 9 Kota Metropolitan, 4 kota besar, 41 kota sedang, dan 86 kota kecil.

Adipura merupakan penghargaan untuk kota di Indonesia yang berhasil yang berhasil dalam kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Dalam penilaiaannya, kota terbagi dalam 4 kategori yakni kota metropolitan (berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa), kota besar (500.001-1.000.000 jiwa), kota sedang (100.001-500.000 jiwa), dan kota kecil (kurang dari 100.000 jiwa).

Penganugerahan Adipura dilaksanakan setiap tahun sejak 1986 sebagai rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Namun sempat terhenti pada periode 1998-2002.
Selengkapnya...

Video Porno (diduga mirip) Artis

Hingga hari ini, masih menjadi perdebatan apakah pemeran video mesum itu adalah Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari? Masyarakat masih meraba-raba jawabannya, walau dalam hati kecil mereka, mungkin jawabannya sudah mereka temukan.

Dalam sebuah wawancara dengan TV swasta, Ariel Peterpan dan Luna Maya mengaku, mereka adalah korban. Ah, jawaban itu pun terasa sangat menggantung. Mereka menjadi korban terhadap apa? Menjadi korban karena video mesum mereka yang seharusnya menjadi milik pribadi, bisa tersebar luas? Menjadi korban karena ada orang mirip mereka yang membuat video porno? Atau menjadi korban karena kini mereka banyak kehilangan pekerjaan sebagai artis?

Yang pasti, mereka seharusnya masih bersyukur pada media. Sepertinya tidak ada media yang sudah memvonis ketiganya sebagai pelaku di video mesum itu. Semua media masih memakai kata 'mirip'. Bahkan, banyak media yang memakai kata 'diduga mirip'. Ini aneh sekali. Untuk menentukan kemiripan saja masih memakai kata 'diduga'.

"......video porno yang diduga mirip artis Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari." Ini-lah kalimat yang sering terdengar terkait beredarnya beberapa video porno tadi. Si pembuat berita tidak sadar dengan makna kalimat yang ia buat atau ia mencari aman saja dengan cara yang akhirnya mungkin menurunkan kridibilitasnya.

Kalau ia tidak mau memvonis pelaku di video mesum itu adalah ketiga artis itu, memakai kata 'diduga' saja sudah cukup kok. Tidak perlu lagi memakai kata 'mirip'. Atau begitu sebaliknya. Kalimatnya akan seperti ini:
".....
..video porno yang diduga artis Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari."
".......video porno yang mirip artis Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari."

Kedua bentuk kalimat itu maknanya hampir sama, kok. Memang, dalam kalimat pertama, tuduhan bahwa ketiga artis itu adalah pemain dalam video mesum itu, lebih terasa daripada kalimat kedua yang hanya mengatakan mirip mereka. Terserah mau memakai yang mana. Yang pasti kalau memakai kata diduga mirip rasa-rasanya kurang pas banget deh.

Selengkapnya...

Chairul Tanjung: Tidak Mau seperti Alibaba


Selalu ada aksi bisnis yang mengejutkan dari seorang Chairul Tanjung. Paling akhir pada April 2010, saat PT Trans Retail miliknya mengakuisisi 40 persen saham PT Carrefour Indonesia. Sebuah kebanggaan nasional karena sebuah perusahaan nasional mengakuisisi perusahaan multinasional.

Presiden Komisaris Trans Corp, yang juga satu dari tujuh warga Indonesia yang masuk dalam daftar orang kaya sejagat versi majalah Forbes (edisi Maret 2010), mengakui akuisisi ini bukan semata unsur bisnis, melainkan juga ada misi idealisme di baliknya.

”Bisa menjadi tempat untuk memasarkan produk usaha kecil dan menengah. Tentu saja produk yang masuk dalam standar kualitas yang dibutuhkan konsumen,” ujarnya. Ada 82 gerai Carrefour di 27 kota di Indonesia. Berikut petikan wawancara dengan Chairul Tanjung yang berlangsung 31 Mei di Jakarta.

Apa misi idealisme, di balik akuisisi Carrefour?
Saya selalu percaya ada kaitan antara bisnis dan idealisme. Ada orang bilang kalau bicara bisnis ya bisnis saja, idealisme ya idealisme saja. Seperti minyak dan air. Bagi saya, bisnis dan idealisme bisa digabungkan dan kalau bisa digabungkan secara baik, maka memiliki sustainability, kemampuan bertahan jangka panjang. Ini kepercayaan yang saya anut sejak saya mulai berbisnis sampai hari ini. Makanya dalam setiap bisnis saya, selalu dibicarakan bisnisnya begini dan idealismenya begini. Jadi dengan begitu tidak perlu dipertentangkan antara bisnis dan idealisme.

Bagaimana dengan Carrefour. Carrefour ini perusahaan ritel terbesar di Indonesia. Tahun lalu omzetnya sekitar Rp 11,7 triliun (tahun 2009). Tadinya milik asing. Buat asing orientasinya jelas, prospek ekonomi bagus, konsumen besar, stabilitas ekonomi dan politik bagus. Mereka tak peduli distribusi itu penting untuk dijadikan alat memajukan perekonomian nasional, memajukan kesejahteraan rakyat. Kita lihat ritel ini sesuatu yang luar biasa. Tapi apa salahnya kita tumpangkan tanpa mengurangi bisnisnya dengan tujuan agar perekonomian nasional maju lebih baik dan sehat. Orang-orang yang selama ini belum mendapat kesempatan ke pasar, ekonomi, kemasan bisa numpang, sekaligus bermitra. Secara bisnis saya tidak merugi, tetapi secara idealisme saya bisa memberikan sesuatu kepada bangsa ini.

Sejak kapan terbesit akuisisi Carrefour?
Sebenarnya berpikir pun tak ada. Tidak berpikir karena Carrefour itu begitu besarnya. Carrefour ini bukan dicari, tapi mereka yang datang. Mereka sewa konsultan mencari mitra potensial yang baik dan strategis di Indonesia. Muncul 20 nama, ada kami. Menciut jadi 10, lima, dan dua ada nama kami. Mereka menjajaki kami. Saya setuju ambil alih Carrefour dengan catatan tak mau menjadi silent partner. Tak mau seperti Alibaba. Kalau mau, saya pemegang saham terbesar. Saya mau misi dan visi kita seperti pengembangan UKM, bermitra dengan pasar tradisional, hubungan dengan pemerintah pusat dan daerah, ke masyarakat kita berjalan. Juga bisa sinergi dengan usaha kita, yang ada juga bisa berjalan. Kalau mau oke, kalau tidak silakan cari mitra lain.

Mereka lihat memang bisnis seperti begini yang perlu di Indonesia. Jika tidak sustainability, tidak berjalan. Mereka bersedia, mulai berunding harga.

Berapa lama proses runding?
Proses perundingan tidak lebih dari tiga bulan. Sangat cepat. Biayanya sangat murah. Tak ada fee untuk pihak ketiga. Perundingan di beberapa negara, di India, Indonesia, Perancis, tapi penandatanganan kesepakatan beli di Perancis dan di Jakarta.

Inspirasi idealisme itu mulai dari mana?
Saya mulai berbisnis sejak kuliah tingkat satu di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Idealisme ini muncul karena keluarga saya tidak mampu. Ibu saya harus menggadaikan kain halusnya untuk membayar kuliah. Saya tidak bisa menerima. Intinya saya harus bisa membiayai diri sendiri. Syukur, bisnis informal yang saya kerjakan (di kampus jual stiker, tas, buku, penjilidan buku) sukses, dan bertahap bisa biayai keluarga. Kesulitan keuangan, aktivitas semasa SMP, SMA, dan kuliah menjadi pendorong utama. Ada akumulasi bahwa berbisnis itu harus cari untung, cari uang. Uang penting, tapi tak segalanya. Ini membuat saya bisa akumulasikan bisnis dan idealisme ini. Pengalaman batin. Kalau saya anak orang kaya tak bisa. Saya sangat paham akan bisnis dan idealisme ini.

Ingin menjadi penguasa?
Saya demonstran, mahasiswa teladan, dan kini pengusaha. Sampai hari ini saya selalu bisa mengendalikan diri untuk tetap sebagai pengusaha. Walaupun dorongan dan ajakan untuk ke politik sangat kuat, syukur sampai saat ini saya bisa meyakinkan semua pihak bahwa menjadi pengusaha itu juga penting.

Persisnya?
Karyawan saya kini lebih dari 50.000 orang. Ini yang langsung bukan yang terafiliasi. Kalau saya tetap berusaha, lima tahun lagi bisa di atas 100.000 orang dan mungkin 10 tahun lagi menjadi 500.000 orang. Kalau saya menjadi penguasa, mungkin saya tidak bisa melakukan ini, memberikan kesejahteraan langsung bagi begitu banyak orang. Sekonkret itu. Mungkin saya bisa berbuat lewat perbaikan regulasi dan sebagainya, tetapi efek langsungnya tidak bisa. Sebagai pengusaha bisa langsung.

Bagaimana hubungan yang pas antara pengusaha dan penguasa?
Persisnya kita harus bicara soal Indonesia Incorporated, jangan lagi bicara bahwa saya penguasa sehingga pengusaha harus datang untuk meminta-minta dan deal-deal tertentu. Sudah lewat masa itu. Juga pengusahanya jangan berpikir harus dekat dengan pejabat atau pemerintah biar dapat konsesi, dapat monopoli. Era-era seperti ini sudah lewat. Saat ini adalah pengusaha harus bilang bahwa pemerintah tugas Anda adalah membuat regulasi yang baik agar kami para pengusaha bekerja dengan baik. Dan saya akan melakukan tugas saya sebagai pengusaha sebaiknya. Saya bisa membuat keuntungan yang besar dan bisa bayar pajak sebesar-besarnya ke negara.

Saya akan membuat usaha ini memberikan manfaat bukan saja untuk saya, tetapi juga sebesar-besarnya bagi bangsa ini. Kalau semua bisa seiring sejalan seperti ini, maka isya Allah 10 tahun dari sekarang saya jamin Indonesia bisa sejahtera.

Yang ada saat ini bagaimana?
Problemnya masih ada pengusaha yang masih suka main-main dengan penguasa, minta konsesi, keistimewaan. Sementara ada juga penguasa yang senang bermain-main dengan pola itu. Nah, kalau kita bisa memutuskan mata rantai ini, sebagian permasalahan bangsa ini akan terselesaikan.

Pandangan soal pajak?
Bagi saya, kalau rugi memang tak perlu membayar pajak. Tetapi kalau untung, apalagi untung besar, ya harus bayar pajak. Karyawan saya saat pertama kali mendapat bonus besar, mereka diminta membayar pajak. Soalnya gaji yang diterima sudah dibayarkan pajaknya oleh perusahaan. Saat mendapat bonus saya bilang semua harus bayar pajak. Semua kaget karena selama ini pajak dibayar oleh perusahaan. Kini mereka membayar pajak.

Usaha bisnis ini sudah sebuah imperium?
Saya tak peduli dengan istilah atau sebutan apa. Tujuan saya pertama adalah bisa punya perusahaan yang bisa memberikan keuntungan dan maju. Dan tidak ada satu pun perusahaan dalam Trans Corp yang merugi. Kedua, perusahaan harus tumbuh dan tumbuhnya cepat. Mengapa? Karena makin tumbuh, makin banyak tenaga kerja yang bisa diserap dan bisa sejahtera. Bank Mega contohnya, setiap tahun membuka 50 sampai 100 cabang. Satu cabang butuh 30 orang. Ini baru satu perusahaan.

Ketiga, kalau saatnya nanti perusahaan ini harus menjadi jawara, paling tidak di Indonesia. Mengapa? sebagai persiapan pada saatnya nanti perusahaan ini harus bisa menjadi pemain global. Jangan bercita-cita menjadi pemain global kalau belum jawara di Indonesia. Jadi harus ada tahapan yang dilalui.

Gosip, ada orang lain di belakang bisnis Chairul Tanjung?
Ada yang bilang ini perusahaan Anthony Salim. Ada yang bilang keluarga mantan Presiden Soeharto di baliknya. Karena ada Bank Mega dibilang ada kaitan dengan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Juga ada kaitan dengan tentara segala. Saya pernah bilang, demi Allah tidak ada satu pun uang mereka. Kita belum dewasa. Begitu ada ”anak ajaib” kita tidak percaya.

Sumber: Kompas edisi Rabu, 16 Juni 2010
Selengkapnya...

Minggu, 13 Juni 2010

Kapolri Pengganti Bambang Hendarso Danuri

Kapolri Jend Pol Bambang Hendarso Danuri pada Oktober 2010 nanti akan memasuki pensiun. Kabarnya yang beredar menyebutkan, tidak ada perpanjangan tugasnya sehingga ia pun harus pensiun. Karena itu, rumor siapa yang bakal menggantikannya pun sudah mulai ramai dibicarakan. Beberapa nama sudah mulai bermunculan. Lantas siapa yang paling memiliki kans terbesar untuk menjadi TB1 untuk menggantikan Bambang Hendarso Danuri?

Rabu, 9 Juni lalu, Kapolri Bambang Hendarso Danuri dan tim-nya sedang mengikuti rapat kerja dengan tim pengawasan Kasus Bank Century di gedung DPR RI. Karena sedang berada di gedung DPR, aku pun menyempatkan diri untuk melihat sekilas jalannya rapat. Tidak lama aku mengikuti jalannya rapat, karena sebentar kemudian aku sudah larut dalam obrolan dengan seorang pensiunan Polri di luar ruang rapat. Kami membicarakan banyak hal tentang Polri, termasuk siapa yang bakal menjadi kapolri baru.

Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Kapolri Jend Pol Bambang Hendarso Danuri keluar dari ruang rapat. Ia berjalan menuju ruang kamar mandi dan melewati tempat kami berdiri. "Selamat siang, Jenderal!" kataku sambil memberikan gerakan seakan-akan memberi hormat. Sang Kapolri tersenyum dan mengangkat tangan kanannya, sambil berlalu ke dalam kamar mandi.

Tidak sampai dua menit, sang Kapolri kembali keluar kamar mandi. Aku segera menghampirinya dan menyalaminya.
"Apa kabar, Pak?" tanyaku.
"Baik. Kemana saja tidak pernah kelihatan?" tanya sang Kapolri balik.
"Masih jadi pemburu berita, Pak," jawabku sambil melepas jabatan tangan dengannya.
Sang Kapolri pun tertawa kecil sambil mengatakan harus kembali rapat lagi. Ia kembali berjalan masuk ke dalam ruangan. Aku pun menatapnya sampai hilang di balik pintu.

Aku sangat sering mewawancarai sang Kapolri. Ketika ia menjadi Kaditserse Polda Metro Jaya pada tahun 2001-an lah aku pertama kali mengenalnya, dan saat itu hampir tiap hari kami berjumpa. Aku pun sering meneleponnya untuk menanyakan perkembangan sebuah kasus untuk aku beritakan. Bahkan, ketika Bambang Hendarso Danuri menjabat Kapolda Kalsel dan Kapolda Sumut, beberapa kali aku mewawancarainya di dalam ruangan kerjanya. Karena itu, ia pun masih mengingatku sampai detik ini.

Tidak terasa, beberapa bulan lagi ia akan pensiun. Kini, yang menjadi pertanyaan, siapa yang akan menggantikannya.

Dalam obrolan-obrolan yang sering aku ikuti, setidaknya muncul 3 nama yang punya kans besar menjadi kapolri. Yang pertama adalah Nanan Soekarna, Timur Pradopo, dan Oegroseno. Nanan sekarang menjadi Irwasum Polri dengan pangkat Komjen (bintang 3). Timur baru saja dipromosikan menjabat Kapolda Metro Jaya, setelah sebelumnya menjabat Kapolda Jawa Barat. Oegroseno sekarang menjabat Kapolda Sumut.

Nama Nanan Soekarna muncul karena dianggap punya kedekatan dengan Bambang Hendarso Danuri. Posisinya selalu mengkilat semasa Kapolri Bambang Hendarso Danuri. Semasa Kapolri Soetanto, ia menjabat Kapolda Kalimantan Barat dan Kapolda Sumatera Utara. Namun, saat bertugas di Sumut, terjadi insiden demo pembentukan Provinsi Tapanuli yang berbuntut tewasnya Ketua DPRD Sumut. Nanan pun dicopot dan ditarik ke Mabes Polri.

Banyak yang mengira karirnya sudah habis. Namun, rupanya Bambang Hendaro Danuri tidak melupakan Nanan. Ia pun diberi tugas sebagai Kadiv Humas yang membuatnya hampir setiap hari muncul di TV dan koran. Sebentar di sana, Nanan kembali dipromosikan menjadi jenderal bintang tiga dengan posisi sebagai Irwasum.

Melihat karirnya yang selalu cemerlang, tidak salah kalau Nanan Soekarna masuk menjadi salah satu nominasi kapolri pengganti Bambang Hendarso Danuri. Nilai plus Nanan lainnya adalah ia adalah alumni Akpol angkatan 1978 yang menyandang predikat sebagai lulusan terbaik atau Adi Makayasa di angkatannya.

Sedangkan Timur Pradopo adalah teman seangkatan Nanan Soekarno di Akpol. Ia baru saja mendapat promosi sebagai Kapolda Metro Jaya dari sebelumnya Kapolda Jawa Barat. Walau posisi itu sama-sama berpangkat Irjen, namun banyak yang menduga promosi itu adalah tanda-tanda Timur akan menjadi Kapolri.

Nama pria kelahiran Jombang, 10 Januari 1956 ini, sangat terkenal ketika menjabat Kapolres Metro Jakarta Barat. Pasalnya, saat itu terjadi tragedi Trisakti yang menjadi awal runtuhnya dinasti Presiden Soeharto. Posisi yang pernah diemban Timur juga tidak jelek-jelek amat. Usai di Jakarta Barat, ia pernah menjabat Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kapiskodal Ops Polda Jawa Barat, Kapolwiltabes Bandung Polda Jawa Barat, Kakortarsis Dediklat Akpol, rwasda Polda Bali, Kapolda Banten, Kaselapa Lemdiklat Polri, Staf Ahli Bid Sospol Kapolri, Kapolda Jawa Barat, dan akhirnya Kapolda Metro Jaya.

Calon lain yang punya kans menjadi Kapolri adalah Irjen Pol Oegroseno yang kini menjabat Kapolda Sumut. Jenderal polisi ini juga teman satu angkatan dengan Nanan Soekarna dan Timor Pradopo, yakni sama-sama lulusan Akpol 1978. Kalau Nanan rangking satu, maka Oegroseno ranking dua lulusan terbaik.

Irjen Pol Oegroseno yang lahir pada 17 Februari 1956 juga memiliki karir yang cemerlang. Ia lama bertugas di bidang reserse, sama dengan Kapolri Jend Pol Bambang Hendarso Danuri. Ia pernah menjabat Kapolsek Metro Menteng, Reserse di Polda Metro Jaya, Wakil KP3 Polres Tanjung Priok, Kasat Reserse/kriminal Poltabes Surabaya, dan Kapolres Surabaya Timur.

Kemudian, Paban Madya Dakmin Ops, Dir Sabhara Polda Sulawesi Utara, Dir Samapta Polda Sulawesi Utara, Dir Pam Obsus Polda Metro Jaya, Karo Ops Polda Metro Jaya, Kapolda Kepulauan Bangka Belitung, Kapolda Sulawesi Tenggara, Kapus Telematika Mabes Polri, Kadiv Propam Mabes Polri, dan saat ini jadi Kapolda Sumut.

Lantas, siapa yang punya kans terbesar dari tiga nama itu? Nanan Soekarna, Timur Pradopo, atau Oegroseno?

Hasil obrolan warung kopi menyebutkan, kans yang terbesar adalah Oegroseno. Nama Nanan lagi-lagi bisa tersingkir oleh isu kedaerahan. Sedangkan nama Timur Pradopo masuk bursa nomor dua, karena ia baru saja dpromosikan ke Kapolda Metro Jaya. Sangat sulit baginya untuk kembali mendapatkan promosi ke jabatan bintang 3 dalam waktu dekat, agar semakin mulus menuju kursi TB1.

Kondisi ini berbeda dengan Irjen Oegroseno. Rumor yang berkembang menyebutkan, sebentar lagi Oegroseno akan dipromosikan ke posisi bintang 3 agar jalannya semakin mulus ke pososi orang nomor satu di Polri. Jabatan yang bakal diisinya adalah Kepala Badan Pembinaan dan Keamanan (Kababinkam) Polri yang kini dijabat Komjen Pol Imam Hariyatna. Sebentar lagi, Imam Hariyatna memang pensiun.

Sekali lagi, semua ini memang baru sebatas rumor di warung kopi. Jabatan Kapolri adalah jabatan politis. Kalau sudah berbau politis, di negeri ini biasanya apapun bisa terjadi.

Yang pasti, kita tunggu saja siapa yang bakal menggantikan Jend Pol Bambang Hendarso Danuri. Siapapun dia, sepantasnya adalah anggota polisi terbaik untuk rakyat dan bangsa Indonesia.
Selengkapnya...

Jumat, 11 Juni 2010

Ariel Peterpan & Luna Maya Diperiksa


Ada yang menghebohkan hari ini dalam perkembangan kasus video mesum mirip vokalis grup Peterpan, Ariel, dan artis cantik Luna Maya. Keduanya, hari ini datang ke Mabes Polri guna diperiksa terkait beredarnya video mesum yang sangat mirip wajah mereka. Yang ditunggu-tunggu adalah, benar kah itu video mereka? Apakah mereka mengakui video itu adalah milik mereka dan mereka-lah yang ada di video itu?

Aha, pertanyaan ini sangat menggelitik dan begitu menggoda. Namun, apa jawaban mereka? Mmm.... tidak ada yang mau menjawabnya, baik polisi, pengacara, apalagi kedua bintang itu?

Uh.....

Selengkapnya...

Pelajaran dari Jan Darmadi


Sebagai pengusaha properti papan atas dengan pengalaman hampir 50 tahun, Jan Darmadi telah terbukti mumpuni bergelut dengan bisnis. Apa ilmu yang bisa dipelajari dari bos PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk. ini? Bagaimana Jan membangun nilai-nilai bisnis dan menularkannya kepada anak-anaknya?

Bangunan vila di kawasan perbukitan Tapos, Bogor, itu cukup megah dan menjanjikan kenyamanan. Memasuki pintu gerbang menuju vila yang jaraknya beberapa ratus meter, tampak di kiri dan kanan jalan hamparan taman dan kebun serta sejumlah pekerja berseragam yang tengah merawat tanaman. Selain tanaman buah dan sayuran, terlihat pula di sana-sini kotak-kotak kayu tempat memelihara lebah madu. Beberapa bangunan vila modern bertengger di tanah yang lebih tinggi sehingga harus menaiki banyak anak tangga untuk mencapainya. Dari bangunan di atas lahan 40 hektare itu, kita bisa memandang desa-desa nun jauh di sekitarnya.

Di vila itulah pengusaha properti Jan Darmadi kini bermukim, menikmati masa pensiun setelah pada Juni 2009 menanggalkan jabatan Presiden Komisaris PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk. (JSI) – perusahaan yang ia dirikan dan besarkan, yang menjadi pemain kuat di bisnis perhotelan, real estate dan gedung perkantoran. Tugas bapak lima anak yang sekarang berusia 71 tahun ini juga semakin ringan karena putra sulungnya, Jefri Darmadi, yang mulai bergabung dengan JSI pada 1997, kini dipercaya menjadi Presdir JSI. Sebagai pemilik, Jan tinggal menerima laporan tentang jalannya perusahaan serta menjadi penasihat jika diperlukan. Ke kantor pun paling hanya dua kali dalam sebulan.

Untuk mengisi waktu senggangnya, pengusaha yang dulu hobi berburu ini mencurahkan perhatian pada olah raga karate aliran gojukai. Jan yang pernah menekuni beladiri kungfu kini menjabat Ketua Dewan Pembina Pengurus Besar Gojukai Indonesia. Di luar itu, ia rajin menjaga kebugaran dengan bermain bulu tangkis dan jalan kaki serta mengonsumsi banyak sayuran.

Ditemui di vilanya yang asri, Jan yang pagi 29 April 2010 itu ditemani putranya, Jefri, tampak santai dengan kemeja putih berlengan pendek yang dikeluarkan, dipadu dengan celana jins warna krem, kaus kaki putih dan sepatu pantofel cokelat bertali. Dalam suasana rileks di tengah embusan hawa sejuk pegunungan, Jan membeberkan kiat-kiatnya dalam menggeluti bisnis serta nilai-nilai kehidupan yang dia anut dan jalankan. Berikut ini petikan wawancara wartawan SWA Kemal Effendi Gani, Sujatmaka dan Kristiana Anissa dengan Jan.

Apakah sekarang Bapak sudah benar-benar bisa melepaskan pengawasan terhadap JSI dan menyerahkan operasionalnya secara penuh kepada putra Bapak, Jefri?
Sekarang di JSI telah ada beberapa komisaris yang saya kenal dan juga teman saya. Saya lebih banyak terlibat dalam hal renovasi dan pembangunan baru, karena kami harus mengawasi kontraktornya. Adapun Jefri berada di sistemnya. Saya ajarkan kepada dia soal kejujuran. Ke depan, dia akan diberi suatu proyek agar bisa belajar. Dia tentu akan berbuat kesalahan, tetapi kesalahan itu bukanlah dosa, melainkan pelajaran. Intinya, saya sebagai pemimpin tidak hanya berbicara, tetapi juga harus memberikan contoh.

Artinya Bapak masih akan terus menggembleng Jefri?
Ya, tentu saja, belajar itu tidak ada habisnya. Sampai mati pun kita masih belajar.

Bagaimana Bapak membimbing Jefri?
Sebenarnya yang memimpin JSI awalnya Amir Abdul Rachman. Jefri ada di bawah bimbingan Amir. Ketika baru mulai bergabung dengan JSI, anak saya juga suka memberikan laporan kepada saya. Saya nggak mau laporan lisan. Saya menyuruhnya bertindak profesional dengan memberikan laporan tertulis. Karena, orang tidak akan menulis apa yang tidak dia pikirkan. Dan jika dia menulis, kita bisa melihat perbendaharaan katanya dan tingkatan diri orang tersebut.

Mengapa Bapak lebih menyerahkan pendidikan anak Bapak kepada Amir Abdul Rachman?
Karena, pengalaman Amir lebih banyak daripada anak saya. Dan, tentu akan lebih sulit jika saya yang turun tangan langsung mendidiknya. Kalau kita yang mendidik anak kita secara langsung, secara tidak kita sadari kita ingin anak kita sempurna. Pada akhirnya nanti kita mengekangnya dan dia jadi tidak boleh berbuat salah. Cukup repot mendidik anak. Makanya, hanya anak-anak saya yang saya atur, sedangkan cucu saya biar diatur anak-anak saya. Saya tidak mau pusing.

Berapa putra dan cucu Bapak?
Jumlah anak tiga dari istri pertama dan dua dari istri kedua. Cucu ada 6.

Di JSI sekarang memang hanya ada satu anak. Sebelum bergabung, anak-anak saya justru saya suruh bekerja dulu di luar. Ini pula yang menjadi pertanyaan bagi ayah saya. Ayah saya bilang, “Bagaimana kalau perusahaan ini diambil orang lain? Kalau ada anak dan saudara di perusahaan, tentu akan lebih aman.” Saya katakan kepada ayah saya bahwa kalau ada saudara yang kesulitan, akan saya bantu, tetapi saya tidak ingin ada kerajaan di dalam kerajaan.

Mengapa anak perempuan tidak diberi kesempatan memimpin perusahaan?
Karena, mereka bilang ingin mendidik anak saja. Saya setuju. Saya ini selain menjadi ayah juga jadi ibu, jadi tahu betul kekurangan diri saya dalam mendidik anak. Tadinya anak-anak perempuan saya bekerja, ada yang di Citibank dan ada yang di Hyatt Singapura. Sekarang mereka mohon izin tidak bekerja dan mengurus keluarga saja. Saya sendiri merasa kurang dalam memperhatikan anak-anak semasa mereka kecil. Anak saya sejak umur 11 tahun sudah masuk asrama.

Apa saja yang Bapak ajarkan kepada anak-anak?
Dalam mengajarkan segala hal kepada anak, saya selalu menekankan untuk keep it simple. Kalau kita tidak bisa keep it simple, berarti kita bodoh. Karena, menjelaskan sesuatu kepada orang lain harus dengan cara yang mudah mereka mengerti. Jadi, harus disederhanakan.

Saya juga ajari mereka, kalau mau menjadi profesional, harus menguasai bidangnya. Saya juga berikan contoh dan sampaikan ajaran dari kitab-kitab suci bahwa kita harus peduli sesama.

Dulu orang tua saya Buddha, saya masuk Katholik, tetapi sekarang saya Islam. Dari ketiga agama, saya belajar bahwa kita harus peduli dan bertanggung jawab.

Apa lagi yang Bapak ajarkan?
Kepekaan. Dia harus tingkatkan the sense of observation. Misalnya, kalau orang pergi dari rumah ke kantor, mungkin mereka tidur di mobil. Saya tidak seperti itu. Saya melihat jalanan, di sana ada apa saja. Kalau ada iklan, mengapa itu diletakkan di situ, mengapa kata-katanya seperti itu. Ternyata itu adalah apa yang dipikirkan banyak orang, kita jadi tahu cara orang berpikir. Intinya, kita gunakan pertanyaan 5W + 1H. Kebanyakan orang itu tidak detail. Saya ajarkan kepada anak-anak saya untuk melihat yang mikro jadi makro, kita harus lihat secara keseluruhan.

Hidup itu seperti the big dot, titik besar. Hidup kita sebetulnya diisi titik-titik ini: kode etik, keterampilan, dan sebagainya. Sekarang bagaimana agar titik-titik tersebut bisa kita sempurnakan menjadi suatu kesatuan. Ini yang kita harus sadari. Makanya, kita harus selalu meng-update diri kita agar kita bisa selalu mengikuti zaman, reinvent continuously.

Sekarang banyak orang tua yang malas belajar TI. Misalnya, teman-teman saya, mereka ada yang berpikir untuk pakai sekretaris saja yang bisa membantunya mengirimkan surat via e-mail dan sebagainya daripada harus belajar sendiri. Berarti itu dia tidak punya kepekaan. Padahal, murid sekolah saja kalau mau sukses harus belajar. Mereka harus didorong untuk mau belajar. Jadi, nantinya ada dua tipe murid, ada murid yang memang ingin belajar, ada juga yang belajar karena memang harus belajar. Yang sukses pasti yang ingin belajar.

Dalam hidup ini, kita harus memiliki positive mental attitude. Ini sangat penting, dengan PMA ini suatu kegagalan bisa kita ambil hikmahnya. Semua itu ada di ajaran agama apa pun.

Bagaimana cara Bapak menjaga kerukunan di antara anak-anak Bapak?
Semua anak saya mendapat bagian yang sama. Semua bertugas untuk saling membantu secara otomatis. Jefri juga selalu melaporkan segala sesuatu yang terjadi di perusahaan kepada saudara-saudaranya. Saya tidak menetapkan yang tertua untuk memimpin dan selalu didengar. Siapa pun yang paling benar, itulah yang harus didengar. Dulu ada tiga anak saya yang terlibat di perusahaan, tetapi sekarang hanya Jefri.

Apakah Bapak rutin berkumpul dengan anak-anak, katakanlah sebulan sekali?
Tidak. Saya juga tidak ikut campur dalam pendidikan cucu-cucu saya, karena saya rasa zamannya sudah berbeda dan cara saya mendidik mungkin lebih ortodoks.

Bagaimana Bapak memberi kepercayaan kepada profesional?
Ketika perusahaan saya sudah jalan, saya serahkan saja ke profesional. Saya ingin lihat hasilnya. Mereka boleh datang kepada saya dengan membawa masalah, tetapi harus ada rekomendasinya. Jadi, jangan hanya membawa masalah dan minta solusi. Kalau seperti itu, gaji bulanannya juga harus dibagi dua dengan saya.

Kalau kita tidak memberi orang kesempatan mengambil keputusan, kapan kita akan dewasa? Keputusan itu bisa kita lihat dari berbagai sudut pandang, tetapi tujuannya sama. Jika keseluruhan tujuannya sama, tentu saya persilakan, tetapi kami tetap antisipasi, kalau ada masalah bagaimana jalan keluarnya.

Bagaimana cara Bapak mengambil keputusan?
Dalam kondisi apa pun, seorang leader harus bisa mengatasi masalah. Untuk itu, seorang pemimpin harus memahami pasar dan memiliki antisipasi. Contoh antisipasi itu kalau kita main tenis. Kalau kita hanya menunggu arah bola, tentu kita akan ketinggalan. Badminton pun demikian. Skill seperti itu harus sering dilatih. Seorang pemimpin juga harus pragmatis, kita harus melihat kenyataan dan bukan hanya mengkhayal. Kita harus berani mengambil risiko, tetapi juga harus bisa memperhitungkannya.

Bagaimana soal pengambilan keputusan untuk ekspansi di JSI?
Keputusan ekspansi terjadi di manajemen, bukan di saya. Namun saat mereka mengambil suara untuk ekspansi, saya masih dianggap sebagai orang yang dimintai nasihat. Jadi, saya ke perusahaan paling hanya dua kali sebulan. Kalau diminta saja. Di luar program kerja, biasanya pihak komisaris yang menghubungi saya.

Belakangan banyak perusahaan properti yang semakin aktif membangun, mengapa JSI sepertinya menahan diri?
Bukannya kami tidak ikuti arus. Akan tetapi kalau kami sudah meminjam dana lagi ke bank, sedangkan proyek yang ada saja belum selesai, nanti kami malah pusing membayar pinjaman ke bank. Itulah yang paling penting dalam dagang.

Ayah saya selalu mengajarkan bahwa kalau kita pinjam uang, uang itu bukanlah uang kita, jadi harus kita kembalikan. Makanya, biasanya kami bangun dulu suatu proyek sampai jadi dan sudah menghasilkan, tiga tahun berikutnya barulah kami meminjam lagi untuk membangun proyek baru. Jadi kalaupun proyek baru kami gagal, kami masih bisa bayar utang. Lebih konservatif.

Setelah krisis 1997-98, tidak adakah saham JSI yang untuk bayar utang?
Ada juga, karena saya harus bayar utang sampai 100% lebih. Akhirnya, saya minta teman saya yang dari Bank Panin untuk menyelesaikan urusan dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Ia menjadi pemegang saham 30% di JSI.

Bukannya waktu itu justru Bapak yang pernah membantu Bank Panin?
Ya, saya pernah membeli sahamnya sedikit. Kita memang harus membantu teman. Membantu teman itu bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga waktu. Agama juga mengajarkan itu, kita harus peduli lingkungan.

Mengapa kini Bapak lebih senang tinggal di Tapos?
Saya takut menjadi serakah. Dulu waktu masih sekolah cita-cita saya ingin punya uang US$ 1 juta. Saya sampai berdoa untuk hal itu. Sekarang saya sudah punya lebih dari itu. Sudah cukuplah. Jadi, saya tidak berani lagi minta diberi kekayaan lagi, sebab saya takut menjadi serakah. Yang saya minta sekarang hanyalah keturunan saya diberikan petunjuk agar dapat diterima di masyarakat. Itu saja. Soal rezeki, kita serahkan saja kepada Yang di Atas.

Apakah itu karena Bapak sudah punya tabungan yang cukup?
Bisa dikatakan begitu, tetapi mungkin juga ini karena saya tidak mulai dari nol. Ayah sayalah yang telah memulai usaha.

Kalau soal serakah ini, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan berapa banyak yang kita punya. Sebab, yang punya lebih banyak ketimbang saya juga ada yang masih serakah. Waktu saya dan Amir mengelola hotel, pendapatan terbanyak dari massage. Namun, yang kami tutup duluan justru jasa itu, karena tidak halal.

Keserakahan itu bukan hanya selalu menginginkan milik orang lain, tetapi juga membuat kita egois. Ibu saya dulu berpesan kepada saya tentang lima hal, yaitu belajar yang rajin dan kerja keras, harus jujur, jangan menipu, jangan sakiti hati orang, serta jangan main dengan istri orang.

Itu pesan ibu saya dan itulah dasar hidup saya. Saya sempat menanyakan, apa bedanya antara tidak jujur dan menipu. Beliau menjelaskan, tidak jujur itu terkait dengan diri kita sendiri. Kita bisa saja menceritakan sesuatu kepada orang lain dan mereka memercayai kita. Itu namanya kita tidak jujur. Adapun menipu berarti ada hak orang lain yang kita ambil.

Orang tua Bapak pengusaha juga?
Ya. Mereka dulu punya usaha di bidang kelontong, tekstil. Mereka berdua sudah meninggal. Ibu saya meninggal 11 bulan setelah ayah saya meninggal.

Apa yang diajarkan ayah Bapak?
Ayah saya pernah mengajarkan, bekerja itu bukan hanya untuk menerima gaji. Kita harus menganggap perusahaan itu milik kita sendiri agar kita bisa banyak belajar. Saat bekerja di sebuah department store di Amerika Serikat, saya sering membereskan sepatu-sepatu yang berantakan di gudang karena dilemparkan setelah dicoba, meskipun saya tidak disuruh. Akan tetapi, saya malah dituduh sebagai penjilat.

Saya bekerja di dept. store itu selama 8 bulan selepas lulus S-1 di AS. Setelah itu, saya melanjutkan ke S-2. Kemudian, saya bekerja di Hong Kong selama sekitar dua tahun, sebelum kembali ke Indonesia. Secara keseluruhan saya menyelesaikan kuliah S-1 dan S-2 hanya dalam 34,5 bulan. Hingga sekarang rekor ini tidak ada yang menyamai.

Pada 1965, di Indonesia sedang ada masalah. Orang Indonesia saat itu tidak boleh ke luar negeri. Tadinya ayah saya melarang saya pulang, tetapi akhirnya ia setuju dengan berbagai pertimbangan. Saat itu saya ingin pulang karena bercita-cita mendapatkan penghasilan US$ 10.000. Penghasilan saya saat bekerja di Hong Kong hanya US$ 6.500.

Di Indonesia, karena diperkirakan dolar akan naik, saya banyak membeli dolar, dan saya mendapat keuntungan dari itu. Ayah saya menegur saya agar jangan terlalu berspekulasi.

Saya juga sempat hampir berbisnis dengan orang pemerintah. Namun, ditentang ayah saya. “Tukang sepatu tetaplah pada keahliannya memegang tali sepatu. Kalau kamu mau berbisnis dengan orang pemerintah, saya ini kenal lebih banyak jenderal daripada kamu. Kamu hanya kenal satu,” begitu kata ayah saya.

Pada usia berapa Bapak mulai dilepas oleh ayah Bapak agar menjadi mandiri?
Sejak saya selesai kuliah dan mulai memimpin, sekitar usia 24 tahun. Saat itu saya hanya dibantu karyawan ayah saya. Dari sana saya belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik agar tidak menyakiti hati orang.

Waktu saya memulai itu sebenarnya adalah era economic of changes, dagang apa saja bisa. Saya memiliki banyak perusahaan. Namun karena sangat banyak, jadi sulit berkembang. Akhirnya, saya tutup beberapa.

Apa saja keinginan Bapak yang belum tercapai?
Keinginan saya adalah punya US$ 1 juta, berburu, dan anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang baik.

Semua sudah tercapai. Sekarang saya tidak berani meminta kekayaan lagi, karena saya takut menjadi serakah. Saya hanya berjanji bahwa saya akan berbuat baik. Dan jika perbuatan saya tidak sesuai dengan janji saya, biar Tuhan mengambil kembali kekayaan saya ini.

Apakah Bapak masih memiliki keinginan dalam bisnis, mungkin ingin menjadi raja properti?
Sekarang saya di perusahaan hanya mengawasi. Saya ingin memiliki usaha baru, tetapi berkongsi dengan orang lain yang bisa menjalaninya. Saya tidak menginginkan kuantitas, saya lebih menginginkan kualitas. Saya lebih mementingkan karyawan saya bahagia bekerja bersama saya.

Bidangnya apa, Pak?
Apa saja.

Tanah di Tapos ini luasnya berapa, Pak?
40 ha. Tadinya tanah saya tidak seluas ini, tetapi banyak orang di sekitar sini yang menawarkan tanah mereka dengan alasan butuh uang untuk sekolah anak/cucu ataupun untuk naik haji. Kepada mereka yang mau jual tanah dengan alasan untuk sekolah anak/cucu, saya tidak menawar lagi. Namun jika mereka berencana naik haji, saya suruh mereka mencari dulu tanah di tempat lain untuk membangun rumah di sana. Jadi, ketika kembali dari haji, mereka tetap punya rumah tinggal.

Bagaimana Bapak mengatur pola makan di usia sekarang?
Saya lebih banyak makan sayuran. Dari yang saya baca, daging membutuhkan 4,5 hari dalam usus untuk pembusukan, ikan dua hari, sedangkan sayuran hanya sehari. Jadi, jika sebelum 4,5 hari kita sudah makan daging lagi, pembusukan di dalam perut akan jalan terus-menerus. Saya juga minum satu sendok teh bubuk kayu manis dan dua sendok makan madu setiap pagi, itu berguna untuk menghindari berbagai macam masalah kesehatan.

Sumber: Majalah SWA edisi
NO 12/10 -23 JUNI 2010 Selengkapnya...

Kamis, 10 Juni 2010

Mari Memberitakan Ariel-Luna Maya-Cut Tari

Dalam 5 hari ini, sungguh heboh berita tentang beredarnya 3 video mesum yang mirip sekali dengan vokalis Peterpan, Ariel, presenter musik Luna Maya, dan presenter Infotainment merangkap pemain sinetron, Cut Tary. Semua media memberitakannya. Yang lebih dahsyat lagi, pemberitaan oleh program infotainment. Komplit banget, walau terkadang vulgar. Pemberitaan mereka sangat mengalahkan pemberitaan di program-program berita reguler semua stasiun TV. Ini bisa jadi karena akses dan lobi infotaiment memang jauh lebih luas daripada jurnalis berita biasa.


Yang menarik lagi untuk disimak adalah bagaimana semua TV memberitakan kasus video mesum ini. Luna Maya yang identik sebagai presenter acara musik Dahsyat di RCTI, rupanya tidak mendapatkan perlakukan istimewa di stasiun itu. RCTI tetap memberitakan kasus video mesum itu apa adanya. Bahkan, program SILET sudah beberapa kali mengupas habis kasus ini. Begitu juga dengan semua acara infotainment lain di stasiun TV milik grup MNC ini.

Hal lain dilakukan oleh Trans TV, tempat Cut Tari biasa memandu acara Insert. Pemberitaan kasus video mesum ini lebih banyak mengulas tentang Ariel-Luna Maya. Kalaupun Cut Tari tetap diberitakan, maka porsi gambar tetap lebih banyak Luna Maya. Entah ini menjadi kebijakan di Trans TV atau tidak, yang pasti bagi penonton yang kritis, mereka pasti akan merasakan keganjilan ini.

Apalagi saat melihat program Insert tadi pagi. Berita video mesum tidak ditempatkan di berita pertama. Berita ini baru ditampilkan di tengah. Sangat berbeda dengan dua acara infotainment lain yang sama-sama tayang pada jam yang sama, yakni WAS-WAS (SCTV) DAN GO SPOT (RCTI). Berita tentang Ariel-Luna Maya-Cut Tari langsung digeber sejak awal dan hampir mengambil seluruh segmen yang ada.
Selengkapnya...