Kamis, 17 Juni 2010

Chairul Tanjung: Tidak Mau seperti Alibaba


Selalu ada aksi bisnis yang mengejutkan dari seorang Chairul Tanjung. Paling akhir pada April 2010, saat PT Trans Retail miliknya mengakuisisi 40 persen saham PT Carrefour Indonesia. Sebuah kebanggaan nasional karena sebuah perusahaan nasional mengakuisisi perusahaan multinasional.

Presiden Komisaris Trans Corp, yang juga satu dari tujuh warga Indonesia yang masuk dalam daftar orang kaya sejagat versi majalah Forbes (edisi Maret 2010), mengakui akuisisi ini bukan semata unsur bisnis, melainkan juga ada misi idealisme di baliknya.

”Bisa menjadi tempat untuk memasarkan produk usaha kecil dan menengah. Tentu saja produk yang masuk dalam standar kualitas yang dibutuhkan konsumen,” ujarnya. Ada 82 gerai Carrefour di 27 kota di Indonesia. Berikut petikan wawancara dengan Chairul Tanjung yang berlangsung 31 Mei di Jakarta.

Apa misi idealisme, di balik akuisisi Carrefour?
Saya selalu percaya ada kaitan antara bisnis dan idealisme. Ada orang bilang kalau bicara bisnis ya bisnis saja, idealisme ya idealisme saja. Seperti minyak dan air. Bagi saya, bisnis dan idealisme bisa digabungkan dan kalau bisa digabungkan secara baik, maka memiliki sustainability, kemampuan bertahan jangka panjang. Ini kepercayaan yang saya anut sejak saya mulai berbisnis sampai hari ini. Makanya dalam setiap bisnis saya, selalu dibicarakan bisnisnya begini dan idealismenya begini. Jadi dengan begitu tidak perlu dipertentangkan antara bisnis dan idealisme.

Bagaimana dengan Carrefour. Carrefour ini perusahaan ritel terbesar di Indonesia. Tahun lalu omzetnya sekitar Rp 11,7 triliun (tahun 2009). Tadinya milik asing. Buat asing orientasinya jelas, prospek ekonomi bagus, konsumen besar, stabilitas ekonomi dan politik bagus. Mereka tak peduli distribusi itu penting untuk dijadikan alat memajukan perekonomian nasional, memajukan kesejahteraan rakyat. Kita lihat ritel ini sesuatu yang luar biasa. Tapi apa salahnya kita tumpangkan tanpa mengurangi bisnisnya dengan tujuan agar perekonomian nasional maju lebih baik dan sehat. Orang-orang yang selama ini belum mendapat kesempatan ke pasar, ekonomi, kemasan bisa numpang, sekaligus bermitra. Secara bisnis saya tidak merugi, tetapi secara idealisme saya bisa memberikan sesuatu kepada bangsa ini.

Sejak kapan terbesit akuisisi Carrefour?
Sebenarnya berpikir pun tak ada. Tidak berpikir karena Carrefour itu begitu besarnya. Carrefour ini bukan dicari, tapi mereka yang datang. Mereka sewa konsultan mencari mitra potensial yang baik dan strategis di Indonesia. Muncul 20 nama, ada kami. Menciut jadi 10, lima, dan dua ada nama kami. Mereka menjajaki kami. Saya setuju ambil alih Carrefour dengan catatan tak mau menjadi silent partner. Tak mau seperti Alibaba. Kalau mau, saya pemegang saham terbesar. Saya mau misi dan visi kita seperti pengembangan UKM, bermitra dengan pasar tradisional, hubungan dengan pemerintah pusat dan daerah, ke masyarakat kita berjalan. Juga bisa sinergi dengan usaha kita, yang ada juga bisa berjalan. Kalau mau oke, kalau tidak silakan cari mitra lain.

Mereka lihat memang bisnis seperti begini yang perlu di Indonesia. Jika tidak sustainability, tidak berjalan. Mereka bersedia, mulai berunding harga.

Berapa lama proses runding?
Proses perundingan tidak lebih dari tiga bulan. Sangat cepat. Biayanya sangat murah. Tak ada fee untuk pihak ketiga. Perundingan di beberapa negara, di India, Indonesia, Perancis, tapi penandatanganan kesepakatan beli di Perancis dan di Jakarta.

Inspirasi idealisme itu mulai dari mana?
Saya mulai berbisnis sejak kuliah tingkat satu di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Idealisme ini muncul karena keluarga saya tidak mampu. Ibu saya harus menggadaikan kain halusnya untuk membayar kuliah. Saya tidak bisa menerima. Intinya saya harus bisa membiayai diri sendiri. Syukur, bisnis informal yang saya kerjakan (di kampus jual stiker, tas, buku, penjilidan buku) sukses, dan bertahap bisa biayai keluarga. Kesulitan keuangan, aktivitas semasa SMP, SMA, dan kuliah menjadi pendorong utama. Ada akumulasi bahwa berbisnis itu harus cari untung, cari uang. Uang penting, tapi tak segalanya. Ini membuat saya bisa akumulasikan bisnis dan idealisme ini. Pengalaman batin. Kalau saya anak orang kaya tak bisa. Saya sangat paham akan bisnis dan idealisme ini.

Ingin menjadi penguasa?
Saya demonstran, mahasiswa teladan, dan kini pengusaha. Sampai hari ini saya selalu bisa mengendalikan diri untuk tetap sebagai pengusaha. Walaupun dorongan dan ajakan untuk ke politik sangat kuat, syukur sampai saat ini saya bisa meyakinkan semua pihak bahwa menjadi pengusaha itu juga penting.

Persisnya?
Karyawan saya kini lebih dari 50.000 orang. Ini yang langsung bukan yang terafiliasi. Kalau saya tetap berusaha, lima tahun lagi bisa di atas 100.000 orang dan mungkin 10 tahun lagi menjadi 500.000 orang. Kalau saya menjadi penguasa, mungkin saya tidak bisa melakukan ini, memberikan kesejahteraan langsung bagi begitu banyak orang. Sekonkret itu. Mungkin saya bisa berbuat lewat perbaikan regulasi dan sebagainya, tetapi efek langsungnya tidak bisa. Sebagai pengusaha bisa langsung.

Bagaimana hubungan yang pas antara pengusaha dan penguasa?
Persisnya kita harus bicara soal Indonesia Incorporated, jangan lagi bicara bahwa saya penguasa sehingga pengusaha harus datang untuk meminta-minta dan deal-deal tertentu. Sudah lewat masa itu. Juga pengusahanya jangan berpikir harus dekat dengan pejabat atau pemerintah biar dapat konsesi, dapat monopoli. Era-era seperti ini sudah lewat. Saat ini adalah pengusaha harus bilang bahwa pemerintah tugas Anda adalah membuat regulasi yang baik agar kami para pengusaha bekerja dengan baik. Dan saya akan melakukan tugas saya sebagai pengusaha sebaiknya. Saya bisa membuat keuntungan yang besar dan bisa bayar pajak sebesar-besarnya ke negara.

Saya akan membuat usaha ini memberikan manfaat bukan saja untuk saya, tetapi juga sebesar-besarnya bagi bangsa ini. Kalau semua bisa seiring sejalan seperti ini, maka isya Allah 10 tahun dari sekarang saya jamin Indonesia bisa sejahtera.

Yang ada saat ini bagaimana?
Problemnya masih ada pengusaha yang masih suka main-main dengan penguasa, minta konsesi, keistimewaan. Sementara ada juga penguasa yang senang bermain-main dengan pola itu. Nah, kalau kita bisa memutuskan mata rantai ini, sebagian permasalahan bangsa ini akan terselesaikan.

Pandangan soal pajak?
Bagi saya, kalau rugi memang tak perlu membayar pajak. Tetapi kalau untung, apalagi untung besar, ya harus bayar pajak. Karyawan saya saat pertama kali mendapat bonus besar, mereka diminta membayar pajak. Soalnya gaji yang diterima sudah dibayarkan pajaknya oleh perusahaan. Saat mendapat bonus saya bilang semua harus bayar pajak. Semua kaget karena selama ini pajak dibayar oleh perusahaan. Kini mereka membayar pajak.

Usaha bisnis ini sudah sebuah imperium?
Saya tak peduli dengan istilah atau sebutan apa. Tujuan saya pertama adalah bisa punya perusahaan yang bisa memberikan keuntungan dan maju. Dan tidak ada satu pun perusahaan dalam Trans Corp yang merugi. Kedua, perusahaan harus tumbuh dan tumbuhnya cepat. Mengapa? Karena makin tumbuh, makin banyak tenaga kerja yang bisa diserap dan bisa sejahtera. Bank Mega contohnya, setiap tahun membuka 50 sampai 100 cabang. Satu cabang butuh 30 orang. Ini baru satu perusahaan.

Ketiga, kalau saatnya nanti perusahaan ini harus menjadi jawara, paling tidak di Indonesia. Mengapa? sebagai persiapan pada saatnya nanti perusahaan ini harus bisa menjadi pemain global. Jangan bercita-cita menjadi pemain global kalau belum jawara di Indonesia. Jadi harus ada tahapan yang dilalui.

Gosip, ada orang lain di belakang bisnis Chairul Tanjung?
Ada yang bilang ini perusahaan Anthony Salim. Ada yang bilang keluarga mantan Presiden Soeharto di baliknya. Karena ada Bank Mega dibilang ada kaitan dengan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Juga ada kaitan dengan tentara segala. Saya pernah bilang, demi Allah tidak ada satu pun uang mereka. Kita belum dewasa. Begitu ada ”anak ajaib” kita tidak percaya.

Sumber: Kompas edisi Rabu, 16 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar