Jumat, 11 Juni 2010

Pelajaran dari Jan Darmadi


Sebagai pengusaha properti papan atas dengan pengalaman hampir 50 tahun, Jan Darmadi telah terbukti mumpuni bergelut dengan bisnis. Apa ilmu yang bisa dipelajari dari bos PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk. ini? Bagaimana Jan membangun nilai-nilai bisnis dan menularkannya kepada anak-anaknya?

Bangunan vila di kawasan perbukitan Tapos, Bogor, itu cukup megah dan menjanjikan kenyamanan. Memasuki pintu gerbang menuju vila yang jaraknya beberapa ratus meter, tampak di kiri dan kanan jalan hamparan taman dan kebun serta sejumlah pekerja berseragam yang tengah merawat tanaman. Selain tanaman buah dan sayuran, terlihat pula di sana-sini kotak-kotak kayu tempat memelihara lebah madu. Beberapa bangunan vila modern bertengger di tanah yang lebih tinggi sehingga harus menaiki banyak anak tangga untuk mencapainya. Dari bangunan di atas lahan 40 hektare itu, kita bisa memandang desa-desa nun jauh di sekitarnya.

Di vila itulah pengusaha properti Jan Darmadi kini bermukim, menikmati masa pensiun setelah pada Juni 2009 menanggalkan jabatan Presiden Komisaris PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk. (JSI) – perusahaan yang ia dirikan dan besarkan, yang menjadi pemain kuat di bisnis perhotelan, real estate dan gedung perkantoran. Tugas bapak lima anak yang sekarang berusia 71 tahun ini juga semakin ringan karena putra sulungnya, Jefri Darmadi, yang mulai bergabung dengan JSI pada 1997, kini dipercaya menjadi Presdir JSI. Sebagai pemilik, Jan tinggal menerima laporan tentang jalannya perusahaan serta menjadi penasihat jika diperlukan. Ke kantor pun paling hanya dua kali dalam sebulan.

Untuk mengisi waktu senggangnya, pengusaha yang dulu hobi berburu ini mencurahkan perhatian pada olah raga karate aliran gojukai. Jan yang pernah menekuni beladiri kungfu kini menjabat Ketua Dewan Pembina Pengurus Besar Gojukai Indonesia. Di luar itu, ia rajin menjaga kebugaran dengan bermain bulu tangkis dan jalan kaki serta mengonsumsi banyak sayuran.

Ditemui di vilanya yang asri, Jan yang pagi 29 April 2010 itu ditemani putranya, Jefri, tampak santai dengan kemeja putih berlengan pendek yang dikeluarkan, dipadu dengan celana jins warna krem, kaus kaki putih dan sepatu pantofel cokelat bertali. Dalam suasana rileks di tengah embusan hawa sejuk pegunungan, Jan membeberkan kiat-kiatnya dalam menggeluti bisnis serta nilai-nilai kehidupan yang dia anut dan jalankan. Berikut ini petikan wawancara wartawan SWA Kemal Effendi Gani, Sujatmaka dan Kristiana Anissa dengan Jan.

Apakah sekarang Bapak sudah benar-benar bisa melepaskan pengawasan terhadap JSI dan menyerahkan operasionalnya secara penuh kepada putra Bapak, Jefri?
Sekarang di JSI telah ada beberapa komisaris yang saya kenal dan juga teman saya. Saya lebih banyak terlibat dalam hal renovasi dan pembangunan baru, karena kami harus mengawasi kontraktornya. Adapun Jefri berada di sistemnya. Saya ajarkan kepada dia soal kejujuran. Ke depan, dia akan diberi suatu proyek agar bisa belajar. Dia tentu akan berbuat kesalahan, tetapi kesalahan itu bukanlah dosa, melainkan pelajaran. Intinya, saya sebagai pemimpin tidak hanya berbicara, tetapi juga harus memberikan contoh.

Artinya Bapak masih akan terus menggembleng Jefri?
Ya, tentu saja, belajar itu tidak ada habisnya. Sampai mati pun kita masih belajar.

Bagaimana Bapak membimbing Jefri?
Sebenarnya yang memimpin JSI awalnya Amir Abdul Rachman. Jefri ada di bawah bimbingan Amir. Ketika baru mulai bergabung dengan JSI, anak saya juga suka memberikan laporan kepada saya. Saya nggak mau laporan lisan. Saya menyuruhnya bertindak profesional dengan memberikan laporan tertulis. Karena, orang tidak akan menulis apa yang tidak dia pikirkan. Dan jika dia menulis, kita bisa melihat perbendaharaan katanya dan tingkatan diri orang tersebut.

Mengapa Bapak lebih menyerahkan pendidikan anak Bapak kepada Amir Abdul Rachman?
Karena, pengalaman Amir lebih banyak daripada anak saya. Dan, tentu akan lebih sulit jika saya yang turun tangan langsung mendidiknya. Kalau kita yang mendidik anak kita secara langsung, secara tidak kita sadari kita ingin anak kita sempurna. Pada akhirnya nanti kita mengekangnya dan dia jadi tidak boleh berbuat salah. Cukup repot mendidik anak. Makanya, hanya anak-anak saya yang saya atur, sedangkan cucu saya biar diatur anak-anak saya. Saya tidak mau pusing.

Berapa putra dan cucu Bapak?
Jumlah anak tiga dari istri pertama dan dua dari istri kedua. Cucu ada 6.

Di JSI sekarang memang hanya ada satu anak. Sebelum bergabung, anak-anak saya justru saya suruh bekerja dulu di luar. Ini pula yang menjadi pertanyaan bagi ayah saya. Ayah saya bilang, “Bagaimana kalau perusahaan ini diambil orang lain? Kalau ada anak dan saudara di perusahaan, tentu akan lebih aman.” Saya katakan kepada ayah saya bahwa kalau ada saudara yang kesulitan, akan saya bantu, tetapi saya tidak ingin ada kerajaan di dalam kerajaan.

Mengapa anak perempuan tidak diberi kesempatan memimpin perusahaan?
Karena, mereka bilang ingin mendidik anak saja. Saya setuju. Saya ini selain menjadi ayah juga jadi ibu, jadi tahu betul kekurangan diri saya dalam mendidik anak. Tadinya anak-anak perempuan saya bekerja, ada yang di Citibank dan ada yang di Hyatt Singapura. Sekarang mereka mohon izin tidak bekerja dan mengurus keluarga saja. Saya sendiri merasa kurang dalam memperhatikan anak-anak semasa mereka kecil. Anak saya sejak umur 11 tahun sudah masuk asrama.

Apa saja yang Bapak ajarkan kepada anak-anak?
Dalam mengajarkan segala hal kepada anak, saya selalu menekankan untuk keep it simple. Kalau kita tidak bisa keep it simple, berarti kita bodoh. Karena, menjelaskan sesuatu kepada orang lain harus dengan cara yang mudah mereka mengerti. Jadi, harus disederhanakan.

Saya juga ajari mereka, kalau mau menjadi profesional, harus menguasai bidangnya. Saya juga berikan contoh dan sampaikan ajaran dari kitab-kitab suci bahwa kita harus peduli sesama.

Dulu orang tua saya Buddha, saya masuk Katholik, tetapi sekarang saya Islam. Dari ketiga agama, saya belajar bahwa kita harus peduli dan bertanggung jawab.

Apa lagi yang Bapak ajarkan?
Kepekaan. Dia harus tingkatkan the sense of observation. Misalnya, kalau orang pergi dari rumah ke kantor, mungkin mereka tidur di mobil. Saya tidak seperti itu. Saya melihat jalanan, di sana ada apa saja. Kalau ada iklan, mengapa itu diletakkan di situ, mengapa kata-katanya seperti itu. Ternyata itu adalah apa yang dipikirkan banyak orang, kita jadi tahu cara orang berpikir. Intinya, kita gunakan pertanyaan 5W + 1H. Kebanyakan orang itu tidak detail. Saya ajarkan kepada anak-anak saya untuk melihat yang mikro jadi makro, kita harus lihat secara keseluruhan.

Hidup itu seperti the big dot, titik besar. Hidup kita sebetulnya diisi titik-titik ini: kode etik, keterampilan, dan sebagainya. Sekarang bagaimana agar titik-titik tersebut bisa kita sempurnakan menjadi suatu kesatuan. Ini yang kita harus sadari. Makanya, kita harus selalu meng-update diri kita agar kita bisa selalu mengikuti zaman, reinvent continuously.

Sekarang banyak orang tua yang malas belajar TI. Misalnya, teman-teman saya, mereka ada yang berpikir untuk pakai sekretaris saja yang bisa membantunya mengirimkan surat via e-mail dan sebagainya daripada harus belajar sendiri. Berarti itu dia tidak punya kepekaan. Padahal, murid sekolah saja kalau mau sukses harus belajar. Mereka harus didorong untuk mau belajar. Jadi, nantinya ada dua tipe murid, ada murid yang memang ingin belajar, ada juga yang belajar karena memang harus belajar. Yang sukses pasti yang ingin belajar.

Dalam hidup ini, kita harus memiliki positive mental attitude. Ini sangat penting, dengan PMA ini suatu kegagalan bisa kita ambil hikmahnya. Semua itu ada di ajaran agama apa pun.

Bagaimana cara Bapak menjaga kerukunan di antara anak-anak Bapak?
Semua anak saya mendapat bagian yang sama. Semua bertugas untuk saling membantu secara otomatis. Jefri juga selalu melaporkan segala sesuatu yang terjadi di perusahaan kepada saudara-saudaranya. Saya tidak menetapkan yang tertua untuk memimpin dan selalu didengar. Siapa pun yang paling benar, itulah yang harus didengar. Dulu ada tiga anak saya yang terlibat di perusahaan, tetapi sekarang hanya Jefri.

Apakah Bapak rutin berkumpul dengan anak-anak, katakanlah sebulan sekali?
Tidak. Saya juga tidak ikut campur dalam pendidikan cucu-cucu saya, karena saya rasa zamannya sudah berbeda dan cara saya mendidik mungkin lebih ortodoks.

Bagaimana Bapak memberi kepercayaan kepada profesional?
Ketika perusahaan saya sudah jalan, saya serahkan saja ke profesional. Saya ingin lihat hasilnya. Mereka boleh datang kepada saya dengan membawa masalah, tetapi harus ada rekomendasinya. Jadi, jangan hanya membawa masalah dan minta solusi. Kalau seperti itu, gaji bulanannya juga harus dibagi dua dengan saya.

Kalau kita tidak memberi orang kesempatan mengambil keputusan, kapan kita akan dewasa? Keputusan itu bisa kita lihat dari berbagai sudut pandang, tetapi tujuannya sama. Jika keseluruhan tujuannya sama, tentu saya persilakan, tetapi kami tetap antisipasi, kalau ada masalah bagaimana jalan keluarnya.

Bagaimana cara Bapak mengambil keputusan?
Dalam kondisi apa pun, seorang leader harus bisa mengatasi masalah. Untuk itu, seorang pemimpin harus memahami pasar dan memiliki antisipasi. Contoh antisipasi itu kalau kita main tenis. Kalau kita hanya menunggu arah bola, tentu kita akan ketinggalan. Badminton pun demikian. Skill seperti itu harus sering dilatih. Seorang pemimpin juga harus pragmatis, kita harus melihat kenyataan dan bukan hanya mengkhayal. Kita harus berani mengambil risiko, tetapi juga harus bisa memperhitungkannya.

Bagaimana soal pengambilan keputusan untuk ekspansi di JSI?
Keputusan ekspansi terjadi di manajemen, bukan di saya. Namun saat mereka mengambil suara untuk ekspansi, saya masih dianggap sebagai orang yang dimintai nasihat. Jadi, saya ke perusahaan paling hanya dua kali sebulan. Kalau diminta saja. Di luar program kerja, biasanya pihak komisaris yang menghubungi saya.

Belakangan banyak perusahaan properti yang semakin aktif membangun, mengapa JSI sepertinya menahan diri?
Bukannya kami tidak ikuti arus. Akan tetapi kalau kami sudah meminjam dana lagi ke bank, sedangkan proyek yang ada saja belum selesai, nanti kami malah pusing membayar pinjaman ke bank. Itulah yang paling penting dalam dagang.

Ayah saya selalu mengajarkan bahwa kalau kita pinjam uang, uang itu bukanlah uang kita, jadi harus kita kembalikan. Makanya, biasanya kami bangun dulu suatu proyek sampai jadi dan sudah menghasilkan, tiga tahun berikutnya barulah kami meminjam lagi untuk membangun proyek baru. Jadi kalaupun proyek baru kami gagal, kami masih bisa bayar utang. Lebih konservatif.

Setelah krisis 1997-98, tidak adakah saham JSI yang untuk bayar utang?
Ada juga, karena saya harus bayar utang sampai 100% lebih. Akhirnya, saya minta teman saya yang dari Bank Panin untuk menyelesaikan urusan dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Ia menjadi pemegang saham 30% di JSI.

Bukannya waktu itu justru Bapak yang pernah membantu Bank Panin?
Ya, saya pernah membeli sahamnya sedikit. Kita memang harus membantu teman. Membantu teman itu bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga waktu. Agama juga mengajarkan itu, kita harus peduli lingkungan.

Mengapa kini Bapak lebih senang tinggal di Tapos?
Saya takut menjadi serakah. Dulu waktu masih sekolah cita-cita saya ingin punya uang US$ 1 juta. Saya sampai berdoa untuk hal itu. Sekarang saya sudah punya lebih dari itu. Sudah cukuplah. Jadi, saya tidak berani lagi minta diberi kekayaan lagi, sebab saya takut menjadi serakah. Yang saya minta sekarang hanyalah keturunan saya diberikan petunjuk agar dapat diterima di masyarakat. Itu saja. Soal rezeki, kita serahkan saja kepada Yang di Atas.

Apakah itu karena Bapak sudah punya tabungan yang cukup?
Bisa dikatakan begitu, tetapi mungkin juga ini karena saya tidak mulai dari nol. Ayah sayalah yang telah memulai usaha.

Kalau soal serakah ini, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan berapa banyak yang kita punya. Sebab, yang punya lebih banyak ketimbang saya juga ada yang masih serakah. Waktu saya dan Amir mengelola hotel, pendapatan terbanyak dari massage. Namun, yang kami tutup duluan justru jasa itu, karena tidak halal.

Keserakahan itu bukan hanya selalu menginginkan milik orang lain, tetapi juga membuat kita egois. Ibu saya dulu berpesan kepada saya tentang lima hal, yaitu belajar yang rajin dan kerja keras, harus jujur, jangan menipu, jangan sakiti hati orang, serta jangan main dengan istri orang.

Itu pesan ibu saya dan itulah dasar hidup saya. Saya sempat menanyakan, apa bedanya antara tidak jujur dan menipu. Beliau menjelaskan, tidak jujur itu terkait dengan diri kita sendiri. Kita bisa saja menceritakan sesuatu kepada orang lain dan mereka memercayai kita. Itu namanya kita tidak jujur. Adapun menipu berarti ada hak orang lain yang kita ambil.

Orang tua Bapak pengusaha juga?
Ya. Mereka dulu punya usaha di bidang kelontong, tekstil. Mereka berdua sudah meninggal. Ibu saya meninggal 11 bulan setelah ayah saya meninggal.

Apa yang diajarkan ayah Bapak?
Ayah saya pernah mengajarkan, bekerja itu bukan hanya untuk menerima gaji. Kita harus menganggap perusahaan itu milik kita sendiri agar kita bisa banyak belajar. Saat bekerja di sebuah department store di Amerika Serikat, saya sering membereskan sepatu-sepatu yang berantakan di gudang karena dilemparkan setelah dicoba, meskipun saya tidak disuruh. Akan tetapi, saya malah dituduh sebagai penjilat.

Saya bekerja di dept. store itu selama 8 bulan selepas lulus S-1 di AS. Setelah itu, saya melanjutkan ke S-2. Kemudian, saya bekerja di Hong Kong selama sekitar dua tahun, sebelum kembali ke Indonesia. Secara keseluruhan saya menyelesaikan kuliah S-1 dan S-2 hanya dalam 34,5 bulan. Hingga sekarang rekor ini tidak ada yang menyamai.

Pada 1965, di Indonesia sedang ada masalah. Orang Indonesia saat itu tidak boleh ke luar negeri. Tadinya ayah saya melarang saya pulang, tetapi akhirnya ia setuju dengan berbagai pertimbangan. Saat itu saya ingin pulang karena bercita-cita mendapatkan penghasilan US$ 10.000. Penghasilan saya saat bekerja di Hong Kong hanya US$ 6.500.

Di Indonesia, karena diperkirakan dolar akan naik, saya banyak membeli dolar, dan saya mendapat keuntungan dari itu. Ayah saya menegur saya agar jangan terlalu berspekulasi.

Saya juga sempat hampir berbisnis dengan orang pemerintah. Namun, ditentang ayah saya. “Tukang sepatu tetaplah pada keahliannya memegang tali sepatu. Kalau kamu mau berbisnis dengan orang pemerintah, saya ini kenal lebih banyak jenderal daripada kamu. Kamu hanya kenal satu,” begitu kata ayah saya.

Pada usia berapa Bapak mulai dilepas oleh ayah Bapak agar menjadi mandiri?
Sejak saya selesai kuliah dan mulai memimpin, sekitar usia 24 tahun. Saat itu saya hanya dibantu karyawan ayah saya. Dari sana saya belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik agar tidak menyakiti hati orang.

Waktu saya memulai itu sebenarnya adalah era economic of changes, dagang apa saja bisa. Saya memiliki banyak perusahaan. Namun karena sangat banyak, jadi sulit berkembang. Akhirnya, saya tutup beberapa.

Apa saja keinginan Bapak yang belum tercapai?
Keinginan saya adalah punya US$ 1 juta, berburu, dan anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang baik.

Semua sudah tercapai. Sekarang saya tidak berani meminta kekayaan lagi, karena saya takut menjadi serakah. Saya hanya berjanji bahwa saya akan berbuat baik. Dan jika perbuatan saya tidak sesuai dengan janji saya, biar Tuhan mengambil kembali kekayaan saya ini.

Apakah Bapak masih memiliki keinginan dalam bisnis, mungkin ingin menjadi raja properti?
Sekarang saya di perusahaan hanya mengawasi. Saya ingin memiliki usaha baru, tetapi berkongsi dengan orang lain yang bisa menjalaninya. Saya tidak menginginkan kuantitas, saya lebih menginginkan kualitas. Saya lebih mementingkan karyawan saya bahagia bekerja bersama saya.

Bidangnya apa, Pak?
Apa saja.

Tanah di Tapos ini luasnya berapa, Pak?
40 ha. Tadinya tanah saya tidak seluas ini, tetapi banyak orang di sekitar sini yang menawarkan tanah mereka dengan alasan butuh uang untuk sekolah anak/cucu ataupun untuk naik haji. Kepada mereka yang mau jual tanah dengan alasan untuk sekolah anak/cucu, saya tidak menawar lagi. Namun jika mereka berencana naik haji, saya suruh mereka mencari dulu tanah di tempat lain untuk membangun rumah di sana. Jadi, ketika kembali dari haji, mereka tetap punya rumah tinggal.

Bagaimana Bapak mengatur pola makan di usia sekarang?
Saya lebih banyak makan sayuran. Dari yang saya baca, daging membutuhkan 4,5 hari dalam usus untuk pembusukan, ikan dua hari, sedangkan sayuran hanya sehari. Jadi, jika sebelum 4,5 hari kita sudah makan daging lagi, pembusukan di dalam perut akan jalan terus-menerus. Saya juga minum satu sendok teh bubuk kayu manis dan dua sendok makan madu setiap pagi, itu berguna untuk menghindari berbagai macam masalah kesehatan.

Sumber: Majalah SWA edisi
NO 12/10 -23 JUNI 2010

1 komentar: