Senin, 30 Agustus 2010

Terjebak Diplomasi Serumpun

Suatu hari pada tahun 1964, ribuan orang memadati Istana Negara, Jakarta. Mereka menunggu-nunggu pidato Presiden Soekarno yang akan melancarkan aksi ganyang Malaysia. Ajakan untuk meng-ganyang Malaysia oleh presiden pertama Indonesia ini, keluar setelah sang Presiden marah besar karena merasa Malaysia sudah melecehkan martabat Indonesia.

Sikap tegas Bung Karno yang berani menghadapi Malaysia ini dicatat dengan tinta emas di sejarah perjalanan bangsa ini. Pasalnya, baru Soekarno-lah yang berani menggertak negara Mahathir Muhammad itu lewat aksi ganyang Malaysia. Di era pemerintahan setelah Bung Karno, Indonesia pun dikenal bersikap jauh lebih lunak dalam menghadapi Malaysia

Akibat sikap lunak Indonesia ini, akhirnya Malaysia pun dituding sering bertindak arogan dan berani melecehkan Indonesia. Misalnya saja, tindakan Malaysia yang menangkap 3 petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan di Perairan Kepulauan Riau, Jumat 13 Agustus 2010 lalu. Mereka ditangkap polisi Diraja Malaysia saat sedang menggiring nelayan Malaysia yang dituduh mencuri ikan di wilayah laut Indonesia.

Pemerintah indonesia dinilai sangat lunak dalam mensikapi tindakan pelecehan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia oleh Malaysia itu. Pasalnya, dituding ada aksi barter dalam membebaskan ketiga petugas DKP. Mereka dibebaskan setelah Indonesia juga membebaskan tujuh nelayan Malaysia.

Sikap Indonesia dalam penangkapan petugas DKP oleh Malaysia, berbeda dengan zaman Soekarno yang berani menghadapi Malaysia. Bahkan, aksi ganyang Malaysia bukan hanya sebatas gertak sambal saja. Saat itu, Presiden Soekarno mengumpulkan seluruh komponen masyarakat untuk menggayang Malaysia. Mereka ditempa berani berperang dengan beragam latihan.

Untuk mensukseskan aksi ganyang Malaysia ini, Pemerintah di jaman itu juga mengadakan acara malam pengumpulan dana. Sekitar Rp 45 juta langsung terkumpul dalam sebuah acara malam dana.

Sikap Bung Karno yang langsung berada di garda terdepan dalam menghadapi Malaysia, dinilai berbeda jauh dengan kondisi sekarang. Pasalnya, untuk memprotes tindakan Malaysia yang berani menangkap 3 petugas indonesia di Riau saja, begitu lambat dilakukan pemerintah.

Banyak pihak yang merasa heran dengan sikap pemerintah yang sepertinya begitu takut menghadapi Malaysia. Padahal, Indonesia punya posisi tawar-menawar yang banyak untuk menekan negara bekas koloni Inggris itu. Misalnya saja soal keberadaan 2 juta TKI di Malaysia yang sangat dibutuhkan oleh Malaysia. Negeri asal Siti Nurhaliza itu juga memiliki banyak perkebunan sawit di Indonesia. Ini baru dua alat yang bisa dipakai untuk menekan negeri kecil itu.

Artikel ini sudah tayang di program Metro Realitas di Metro TV, Senin, 30 Agustus 2010 pukul 23.05 WIB.
Selengkapnya...

Selasa, 24 Agustus 2010

Nikmatnya Ikan Bakar di Kampung Solor Kupang

Pergi ke manapun, rasanya belum sah kalau belum mencicipi makanan di tempat itu. Demikian juga saat berada di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dan, di sana ada tempat makan yang selalu ramai pada malam hari. Lokasinya di Jalan Garuda. Orang-orang menyebut lokasinya dengan sebutan Kampung Solor, karena jalan itu memang berada di Kelurahan Solor.

Sepanjang jalan yang agak menurun ini, berjejer jajanan kaki lima memenuhi badan jalan. Tidak ada kendaraan yang boleh melintasi jalan ini karena sejak pukul enam sore memang sudah ditutup untuk kendaraan bermotor. Suasana wisata kuliner di Kampung Solor ini mirip dengan suasana Kia-kia di Surabaya atau Kesawan Square di Medan.

Setidaknya gerobak makanan berjejer memenuhi Jalan Garuda hingga sepanjang hampir seratus meter. Beragam jenis makanan ada di sini. Mulai dari nasi goreng, gorengan, beragam mie, sate, seafood, masakan padang, masakan Jawa Timur, dan masih banyak lagi. Nah, makanan wajib orang-orang yang datang ke sini adalah menikmati ikan bakar. Ada banyak pedagang yang menyajikan menu ikan bakar di sepanjang Kampung Solor ini. Namun, yang paling rame adalah di ujung sebelah bawah. Di sini, ikan-ikan laut yang disajikan jauh lebih banyak daripada pedagang lain, sehingga kita bisa lebih puas memilih ikan yang mau disantap. Ada banyak ikan yang disajikan yang kabarnya semuanya adalah hasil tangkapan nelayan Kupang.

Puas menyantap makanan, maka kita bisa menutup makan dengan memesan beragam jenis minuman. Yang khas di sini mungkin es jeruknya. Pasalnya, jeruk yang digunakan adalah jeruk Kupang yang mungkin tidak ada di tempat lain. Jeruk Kupang umumnya berukuran lumayan besar dan rasanya lumayan manis dengan warna kuning yang memancing selera.

Soal harga tidak usah khawatir. Harganya cukup terjangkau dan sepertinya tidak ada sistem 'merampok' pengunjung dengan menaikkan harga makanan kepada pengunjung tertentu seperti yang mungkin banyak di jumpai di jajanan kaki lima tempat lain.

Kampung Solor mulai buka sejak pukul enam sore dan akan buka sampai pukul dua dinihari. "Bahkan kalau malam minggu buka sampai menjelang pagi. Pengunjung juga tetap ramai ke sini," kata Hapsari, seorang pegang minuman yang begitu ramahnya diajak ngobrol. Wanita separuh baya yang mengaku berasal dari Flores Timur ini, mengaku sudah lama berjualan di Kampung Solor.

Nah, jangan lupa untuk mampir ke Kampung Solor kalau Anda berada di Kupang!
Selengkapnya...

Sabtu, 14 Agustus 2010

Persaudaraan di atas KRL Benteng Ekspress

Ada pengalaman unik saat ikut menikmati perjalanan di atas KRL Benteng Ekspress jurusan Kota-Tangerang. Penumpang tidak terlalu penuh di setiap gerbong, dengan hanya ada sekitar belasan orang yang berdiri di antara penumpang yang duduk. Dari pakaian mereka, mayoritas penumpang tampaknya adalah pekerja kantoran. Mereka sepertinya sudah saling kenal karena langsung terlibat obrolan-obrolan santai begitu mereka bertemu di dalam gerbong ini. Beberapa kali tawa pecah di antara obrolan itu. Aku hanya bisa melihat suasana ini sambil mencoba
memaknai apa yang ada di sekelilingku.

Ketika KRL mulai berjalan menyusuri rel menuju arah Tangerang, pemandangan lain aku lihat. Para penumpang tadi kemudian asyik berbisnis. Masing-masing mengeluarkan dagangan mereka dan menjualnya kepada sesama penumpang. Ada yang menjual tas, menjual kerupuk,
menjual perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik, menjual kue, atau menjual pakaian anak. Lucunya lagi, kerupuk yang dijual itu akhirnya dibagikan dan dimakan ramai-ramai oleh sesama penumpang.


Itulah yang aku lihat saat berada di gerbong 3 KRL Benteng Ekspress jurusan Kota-Tangerang yang lumayan dingin oleh AC ini. KRL berangkat dari Stasiun Kota pukul 18.10 WIB, dan tiba di Stasiun Tangerang sekitar pukul 19.00 WIB. Waktu tempuh ini jauh lebih singkat daripada
naik kendaraan umum, walau tarifnya lebih mahal dengan Rp 7.500 sekali naik. Karena itu, KRL ini sudah memiliki penumpang setia. Kesetian ini membuat mereka akhirnya menjadi saling kenal dan berujung pada persahabatan. Padahal nantinya mereka turun di stasiun yang tidak
sama. Aku berkesimpulan, mereka bisa seakrab ini karena mereka setiap hari bertemu dan akhirnya saling kenal dan bersahabat..

Selama tiga kali menggunakan angkutan massal ini dalam seminggu terakhir ini, sepertinya aku sudah familiar dengan wajah-wajah yang ada di gerbong 3 ini. Rata-rata mereka adalah karyawan yang berdomisili di sekitar Jakarta Barat dan Tangerang. Setidaknya mereka
kebanyakan turun di tiga stasiun, yakni Rawa Buaya, Poris, dan Tangerang. Umur mereka pun rata-rata sudah 30-an sampai 50an. Mayoritas adalah ibu-ibu. Hanya ada satu-dua pria yang sepertinya sudah menjadi bagian dari HPSBE alias Himpunan Penumpang Setia Benteng
Ekspress ini. Hehehe......

Beragam obrolan ringan yang mengundang tawa bermunculan semenjak berangkat dari Stasiun Kota. Bahkan, tawa seringkali meledak karena ada penumpang yang jail kepada penumpang lain. Misalkan saja dengan memasukkan koran bekas ke tas penumpang lain atau ada penumpang yang mengembalikan plastik bekas makanan kepada penumpang yang tadi membagikan makanan itu. “Ini kami kembalikan plastiknya lagi. Semoga bermanfaat,” kata seorang ibu kepada ibu lain yang kemudian mengundang tawa penumpang lain di sekitar mereka. Sifat jail ini seakan mengingatkan aku dengan masa-masa sekolah dulu, dan kini kembali dilakukan oleh orang-orang yang sudah berumur 40an yang ada di dekatku ini.

Satu rasa satu penanggungan memang terasa di gerbong ini. Bila ada penumpang yang membawa makanan, maka makanan itu juga dibagi ke penumpang lain sampai habis. Ini juga terjadi ketika ada penumpang yang menjual beberapa toples makanan kecil. Oleh penumpang yang membeli makanan itu, toples langsung dibuka dan memakan isinya. Setelah itu, ia menyerahkan toples ke penumpang lain agar ikut memakan isinya. Aku menyaksikan pemandangan ini dengan penuh rasa takjub. Dalam hati aku berujar, persaudaraan para penumpang setia KRL ini sepertinya sudah begitu kuat. Aku, yang bukan termasuk penumpang
setia, akhirnya hanya bisa menjadi penonton.

Sekitar 13 menit KRL melaju, datang seorang wanita yang berumur sekitar 36an dari arah gerbong nomor 4. Ia datang sambil membawa sebuah tas besar di tangan dan sebuah tas lebih kecil lagi tersangkut di punggung. Ia lantas duduk di lantai kereta persis di depan pintu
keluar dengan cueknya. Sejumlah penumpang lain segera menegur ibu ini. “Ini satu lagi datang yang mau jualan,” kata seorang ibu lain yang langsung disambut tawa penumpang lain.

Si ibu ini seperti tidak peduli dengan celetukan tadi, seperti kita sudah biasa mendengar celetukan seorang sahabat pada kita. Dengan sigapnya, ia pun mengeluarkan beberapa wadah-wadah plastik dari dalam tas besarnya. Sepertinya ibu ini adalah agen Tupperware. Wadah-wadah yang harganya sebenarnya jauh lebih mahal dari wadah plastik biasa, segera berpindah tangan ke beberapa penumpang. Mereka melihat-lihat, bertanya harganya, melihat-lihat lagi, dan akhirnya menawarnya. Ada yang akhirnya membeli dan lebih banyak yang sekadar melihat-lihat saja.

Sebentar kemudian, penglihatanku beralih pada seorang ibu yang sedang mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluhribuan. Lembaran uang itu lalu diserahkan ke seorang ibu yang ada di seberangnya. Sebagai penggantinya, ia mendapatkan beberapa ikat uang duaribuan baru.
Sepertinya, ibu yang memberikan uang dua ribuan itu adalah seorang karyawan bank. Hebatnya lagi, sepertinya stok uang dua ribuan di dalam tasnya lumayan banyak. Beberapa penumpang lain juga menukarkan uang mereka dengan lembaran uang dua ribuan. Dari obrolan yang aku dengar, hari sebelumnya sejumlah penumpang memang sudah memesan uang dua ribuan itu. Dan, transaksi money changer ala KRL ini, ternyata berlangsung saat aku juga ikut menjadi salah satu penumpang. Bisa jadi, pemandangan ini tidak terjadi setiap hari.

Satu persatu penumpang mulai turun di Stasiun Rawa Buaya. Kehebohan pun kembali terjadi saat kereta sudah berhenti. Seorang ibu yang mau turun, dihalang-halangi oleh beberapa penumpang yang belum turun. Mereka menahan si ibu sambil tertawa-tawa. Uniknya, si ibu ini juga berusaha melepaskan diri dengan sambil tertawa-tawa. Sebentar kemudian ia berhasil lepas dan segera turun dari gerbong. Dan, beberapa detik kemudian, pintu otomatis kereta, kembali tertutup. Kereta pun berangkat kembali menuju Tangerang.

Gerbong semakin sepi ketika tiba di Stasiun Poris, dan akhirnya benar-benar sepi sesampainya di Stasiun Tangerang. Aku pun turun dari KRL dan sejenak memandangi rangkaian KRL Benteng Ekspress ini, sebelum akhirnya keluar dari Stasiun Tangerang. “Unik juga pengalamanku menumpang KRL ini. Pantesan saja ada yang mengatakan, cinta bisa bersemi di atas KRL,” batinku berkata.
Selengkapnya...

Jumat, 13 Agustus 2010

Maaf, Bahan Bakar Bus Habis!

Lewat setengah jam, akhirnya datang sebuah bus Transjakarta dari arah lampu merah Grogol. Para penumpang di halte Busway depan Trisakti bersiap-siap untuk menyambutnya. Mereka merapatkan diri ke arah pintu. Namun, ternyata dari puluhan orang yang sudah berjejalan, hanya sekitar lima orang yang berhasil masuk ke dalam bus. Yang lainnya terpaksa bersabar lagi menunggu kedatangan bis berikutnya, dan itu berarti harus menunggu lagi belasan menit.

Itulah pemandangan yang dialami oleh para penumpang Transjakarta Koridor 3 jurusan Kalideres-Harmoni sepanjang hari Kamis kemarin. Tumpukan penumpang terjadi di setiap halte karena kedatangan bus sangat lama. Celakanya lagi, jarak kedatangan bus yang lama tadi akhirnya membuat tumpukan penumpang tidak terangkut. Suara orang kesal, jengkel, hingga memaki-maki, acap kali terdengar. Belum lagi aroma beranekaragam yang tercium dari para penumpang. Udara panas pun membuat keringat bercucuran. Ada apa gerangan?

Begitu bis yang ketiga datang setelah menunggu sekitar setengah jam, para penumpang saling mendorong untuk bisa masuk ke dalam bus. Demikian juga aku yang posisiku berada sekitar di barisan ketiga. Entah, siapa yang mendorong dari belakang, tiba-tiba saja aku sudah masuk ke dalam bus. Padahal, kondektur bus sebelumnya sudah berteriak hanya enam orang yang bisa masuk. Rupanya, teriakan itu diabaikan dan dorong-mendorong pun terjadi. Bahkan, si kondektur akhirnya ikut terdorong semakin menjauh dari pintu.

Suasana pun bisa terkendali ketika si kondektur bisa kembali 'menguasai' dirinya dan berdiri di posisi biasanya di dekat pintu. Ia pun mengarahkan penumpang yang di dekat pintu untuk keluar dari bus, karena pintu tidak bisa lagi ditutup akibat sudah kepenuhan. Bus pun akhirnya dapat melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Raya Kiai Tapa, Jalan Raya Hasim Ashari, dan akhirnya tiba di Harmoni.

Karena posisi si kondektur berada di sebelahku, maka aku pun mengajaknya berdialog.
"Mas, ada gangguan apa? Kok jarang banget bisnya?" tanyaku.
"Bahan bakarnya habis," kata si kondektur.
"Maksudnya BBG-nya habis, Mas."
"Iya. Dari pagi. makanya dari pagi bisnya sedikit."

Edan. Ini yang tepat ditujukan pada kejadian ini. Mengapa BBG bisa habis? Katanya Indonesia adalah penghasil gas terbesar di dunia. Tapi, mengapa suplai BBG ke buskota di Jakarta ini bisa kehabisan? Ini-lah potret Indonesia yang akan berulangtahun ke-65 tanggal 17 Agustus 2010 ini, yang membenahi sektor transportasi saja tidak becus. Menyuruh orang beralih dari transportasi umum, tapi tidak diberikan pelayanan yang nyaman dan aman.

Dan, dan ketika bus memasuki halte besar Harmoni, tampak antrean penumpang ke arah Kalideres sangat sangat panjangggggggggggggggg..... Selamat datang di Jakarta. Selamat datang di Indonesia.


Selengkapnya...

Kamis, 12 Agustus 2010

Boyke Gozali: Beri Anak Keleluasaan Memilih Bisnis

Bagi kalangan pengusaha nasional, Boyke Gozali bukanlah nama asing. Kelahiran 1957 ini pendiri Plaza Indonesia dan turut membesarkan perusahaan ritel premium, Grup Mitra Adiperkasa yang memegang lisensi merek-merek terkemuka dunia: Calvin Klein, Emporio Armani, Ninewest, Starbucks, Kinokuniya, Zara, Mark Spencer, Lacoste, Samsonite, Swatch, dan sederet lainnya.

Pada masa-masa sebelum krisis moneter 1998, nama Boyke identik dengan Grup Ometraco. Maklum, dia memang didaulat mertuanya, Ferry Teguh Sentosa, untuk memimpin bisnis keluarga mertuanya itu. Tak mengherankan, saat itu dia menjadi presdir untuk hampir semua bisnis Ometraco, mulai dari bisnis manufacturing, distributor elektronik, perdagangan, properti hingga pakan ternak (Japfa Comfeed). Namun setelah membantu mertua pada kurun 1982-98, Boyke memutuskan fokus di bisnis yang menjadi passion-nya: gaya hidup. Adapun bisnis Ometraco, kecuali properti, diserahkan ke adik iparnya.

Tangan dingin Boyke terasa nyata di bisnis properti dan gaya hidup, khususnya yang menyasar high class society. Lihatlah bagaimana dia sukses membesarkan Plaza Indonesia (PI) bersama Franky Widjaja (Sinarmas) dan Rosano Barack (Bimantara) yang tetap kokoh sebagai pusat ritel kelas atas. Meski banyak pesaing, PI tetap eksis. Boyke in charge penuh dalam pengelolaan PI sehingga tahu secara detail dan sangat bersemangat ketika menjelaskan konsep PI. “Bisnis ini memang passion saya. Saya tak suka kerja ngurusin pabrik ke daerah-daerah. Demen-nya bisnis yang perlente begini, shopping. Maunya kerja di metropolitan,” papar lelaki yang meraih gelar Master of Public Administration dari University of Southern California dan Sarjana Business Administration dari Pepperdine University ini.

Cerita sukses Boyke tak hanya di PI. Belakangan dia juga mengibarkan FX Plaza di Jl. Sudirman. Boyke merejuvenasi Sudirman Place yang dulu mangkrak menjadi FX Plaza yang kini menjadi pusat entertainment baru di seputar Bursa Efek Indonesia. Di sini, dia mereplikasi kisah suksesnya ketika membangun EX Plaza di samping PI beberapa tahun sebelumnya. Tak hanya itu, dia juga turut membesut lahirnya jaringan hotel baru, Hotel Harris.

Meski sibuk mengelola puluhan perusahaan baik yang menjadi aset pribadinya maupun perusahaan keluarga, Boyke tetap menyempatkan diri terlibat dalam kegiatan sosial, termasuk juga mengader putrinya, Amelia Gozali, agar memperlajari manajemen bisnis.

Awal Mei lalu, Kemal E. Gani, Rias Andriati dan Wisnu Tri Raharjo dari SWA berkesempatan mewawancarai Boyke di Kafe Luwak Plaza Indonesia Extension. Dengan ramah Boyle menceritakan perkembangan beberapa bisnisnya termasuk PI, dan bagaimana mengader anaknya. Wawancara ini terbilang langka. Maklum, taipan yang kini juga menjabat Wapresdir PT Plaza Indonesia Realty Tbk. ini memang sangat low profile dan tak pernah berbicara dengan media. Berikut ini petikan wawancara dengannya.

Bagaimana perkembangan PI?

Kami ini bisa dibilang tua di PI. Saya bergabung mulai dari PI lahir, ikut up and down seiring dengan perkembangan pasar. Kami menguasai produk “who are you”, “what are you”. Dari sisi pemiliknya, dari dulu juga masih sama, tidak berubah. Pak Franky Widjaja, saya dan Pak Rosano Barack yang eks Bimantara. Ketika krisis pun kami tetap gabung. Kami di sini mendapatkan blessing. Tidak semua orang bisa mendapatkan tanah di lokasi ini (Jl. Thamrin). Kami tidak pernah berpikir akan meninggalkan tempat ini. Secara operasional, kami sudah jalan 20 tahun. Namun kalau dari pembuatan konsep, sudah dari enam tahun sebelumnya. Jadi, sudah 26 tahun. Sebetulnya we’re not aggressive, justru konservatif. Sejak awal kami memilih jadi pionir di properti utama, high-end retailed. Itu sudah menjadi passion.

Bagaimana dengan kehadiran Grand Indonesia (GI), seberapa dampaknya?

Sejak awal kami tidak menganggap pemain lain sebagai kompetitor. Kami ingin bersinergi. Kami sadar tak mungkin bisa menguasai semua. Kami tidak punya kekuatan seperti itu. Untuk menangangi proyek 7 hektare saja baru bisa dikembangkan selama 26 tahun. Kami tahu waktu itu ada tender untuk Hotel Indonesia, tetapi tidak willing to participate. Saat itu kami masih punya tanah yang belum selesai dibangun untuk extension. Kalau greedy dengan ikut tender untuk size proyek yang hampir sama, kapan mau membangunnya? Kami tak melihat pemain sebagai kompetitor. Sebagai pemain properti, kalau you sendirian di mana lingkungan you kumuh, maka percuma properti you bagus. Sama saja dengan rumah you mewah, tetapi di belakang rumah you kampung. Secara sosial dan bisnis tidak benar. Kami sudah punya filosofi itu. Let’s other people take.

Sepertinya konsep GI head to head dengan PI?

Soal konsep, dia (Djarum) yang punya. Kami tidak bisa bilang apa-apa. Dia head to head dengan kami, menurut saya, itu salah. Seharusnya sinergi (antara PI dan GI). Karena kami sudah berdiri puluhan tahun. Kami pernah minta supaya dibuat jembatan penghubung antara GI dan PI. Saya berani bilang begini karena Pak Franky mengajak makan siang untuk membicarakan itu. Kami sudah ngomong dua atau tiga kali, tetapi mereka (Djarum) never come back, ya sudah. Nanti dikira kami yang butuh dia. Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa. Kami bisa survive. Kami tahu mereka punya tanah dan mau membangun dengan size sangat besar. Saat itu kami punya area cuma 44 ribu m2. Adapun GI 140 ribu m2, tiga kali lipat kami. Bedanya, dia memanjang dan ke atas bangunannya. Itu kelemahan dia yang pertama. Kelemahan kedua, mereka terbagi dua (split) bangunannya karena ada jalanan umum, Jl. Teluk Betung.

Sogo kok tidak ada di PI lagi, ada kaitannya dengan GI?

Sogo waktu itu tidak kami perpanjang. Memang logikanya Sogo itu anchor brand, tetapi mengapa saya nggak perpanjang karena saya tidak mau head on (dengan GI). Dengan kami menghindar, itu akan men-differentiate produk. Itu teori pemasaran.

Bukankah Sogo anchor yang sangat besar?

Pasar kami menengah-atas. Kalau main di anchor, berarti kami main di middle. Waktu itu kami sudah tanya ke Sogo, “What’s your vision?” Dijawab, visinya seperti Sogo yang sudah ada. Kami bilang bahwa kami ingin Sogo tetap di sini, tetapi harus menciptakan the new Sogo yang high end. Kami mengusulkan Sogo yang specialty, kalau bahasa hotel, yang grand. Bukan berarti kami tidak butuh Sogo, tetapi pada saat itu Sogo sudah memburuk. Kami lihat Sogo buka gerai baru di Plaza Senayan dan lainnya. Mereka juga memasukkan brand baru: Seibu. Walaupun sebetulnya segmennya sama, kalau kita bandingkan antara barang lama dan baru, orang pasti lebih memilih barang baru. Ternyata, SOGO nggak menangkap visi kami, ya sudah. SOGO sudah 15 tahun di sini, dua kali perpanjangan.

Bagaimana dampak keluarnya Sogo?

Ini menjadi blessing in disguise. Dengan keluarnya Sogo, maka ada 10 ribu m2 (tiga lantai) yang bisa dipakai. Lahan kosong tersebut diganti butik-butik. Yang kami keep cuma supermarket. Blessing in disguise-nya, market is coming back. Jadi, kami bisa memasukkan lagi lebih banyak brand baru. Ini bukan kecelakan, tetapi lebih disebut berkat, bless. We’ve to survive ourselves. Kami juga berkeliling dunia, ada juga shopping center yang nggak perlu anchor tenant. Saya lihat butik-butik seperti Neiman Marcus, itu kan bukan dept. store, tetapi merupakan butik-butik di dalamnya. Jadi selama butik itu big and complete, they also become our anchor. Louis Vuitton is our anchor. Makanya, sekarang kami bikin yang besar. Kami juga membaca majalah luar negeri, tren dept. store is climbing down. Sekarang orang lebih suka ke specialty store. Kami maunya juga specialty store, butik besar. Dept. store cocok untuk suburban.

Dulu waktu ada dept. store (Sogo), hanya satu untungnya: dia bawa traffic. Namun, saya rugi secara income, ditambah lagi, saya mendapatkan traffic yang tidak saya mau. I loose double. Nah, sejak saya pecah-pecah menjadi butik, yang datang ke sini betul-betul traffic yang datang untuk kami. Sekarang, jelek-jelek traffic-nya bisa dirasakan tenant lainnya. Apalagi, saya bisa dapat dari penyewaan tenant. Jadi, saya happy, tenant juga happy. Tadinya saya cuma bisa menjual US$ 12, sekarang bisa US$ 30-40 per m2. Capital gain saya di situ. Orang yang datang yang betul-betul belanja. Dengan kehadiran Louis Vuitton dan Zarra, orang makin happy.

Apakah juga disebabkan pengembangan di lini lain?

Ya, physically kami improve. Segmen pasar lebih fokus. Operation service juga di-improve agar lebih berkulitas. Kami lebih selektif memilih tenant. Dulu kami tidak bisa membuat perluasan karena ruangan terbatas, sekarang kami bisa membuat extension (Plaza Indonesia Extention/PIE). Mau tidak mau size itu perlu. Dulu hanya 44 ribu m2 area yang bisa disewa, sekarang 70 ribu m2, itu belum termasuk EX Plaza. Sekarang bisa lebih fleksibel mengatur. Contohnya, sekarang kami bisa mendirikan Miniapolis, tempat bermain anak-anak. Lantai 3 juga ada Home. Segmen pasarnya masih sama, tetapi kebutuhan mereka kami penuhi sekarang. Semuanya semakin lebih baik. Kompetisi sudah semakin ketat. Misalnya, pelanggan Louis Vuitton, dia mau makannya di sini, anaknya main di sini. Kami selalu fokus di segmen menengah-atas. Lantai 4-6, untuk anak muda yang baru saja berkeluarga, umur 25-35 tahun, tidak semuanya membeli Louis Vuitton. Lalu, kami kasih seperti Apple, yang penting masih dalam konsep butik. Untuk PE, segmennya lebih dewasa ketimbang EX.

Bagaimana cerita berdirinya EX Plaza?

Terus terang, sebenarnya itu kecelakaan. Waktu itu krisis, kami punya tanah tetapi tidak diapa-apain. Bayangkan, yang di PI saja pembangunannya kami hentikan. Waktu itu kami menganggur, semua tidur. Akan tetapi kami berpikir, tidak boleh nggak membangun apa-apa lagi karena 3-4 tahun mendatang pasar akan bangkit. Kalau untuk membangun full, risikonya besar karena lagi krisis. Karena itu, kami buat bangunan untuk sementara. Lalu, kami berdebat. Ada pemikiran untuk membuat konsep family entertainment. Makanya, di sana terdapat boling, bioskop dan entertainment seperti Hard Rock. Celebrity Fitness masuk belakangan. Waktu itu kami tidak berpikiran memasukkan fitness menjadi bagian dari entertainment. Kami pikir fitness serius. Kehadiran bioskop, boling dan Hard Rock saling melengkapi. Dulu kami mendesain sebetulnya hanya untuk pemakaian 8 tahun yang jatuh pada 2012.

Berarti konsep yang dirancang di EX Plaza memang bisa jalan?

Kebetulan itu yang dibutuhkan konsumen kami. Ketika itu, entertainment center belum ada. Namun, sekarang semua shopping mall membuat hal serupa. Jadi, sekarang pihak yang mau mendirikan pusat belanja harus menyediakan dept. store dan entertainment center. Sekarang itu di-copy-paste Central Park Plaza, Mal Taman Anggrek.

Seandainya EX sudah dibongkar, apakah ada penggantinya?

Sebetulnya yang di lantai 5-6 (PIE) didedikasikan untuk menggantikan EX, agar tidak terlalu kehilangan. Ada yang bertanya, “Kok di PIE ada bioskop lagi?” Sebetulnya kami mengantisipasi EX dibongkar. Hal yang belum bisa diakomodasi adalah boling. Itu karena boling memakan tempat atap yang tinggi. Selain itu, untuk boling tidak boleh ada pilar. Pengganti Hard Rock (di PIE) sudah ada, Immigrant. Kasus Hard Rock sama seperti Sogo dulu. Kami sudah bilang pada Hard Rock agar melakukan upgrade karena pasarnya terlalu rendah. Makanya, kami masukkan Immigrant. Kami masih missing satu, boling.

Sukses dengan EX Plaza, Anda dipercaya membenahi FX. Bagaimana ceritanya?

FX Plaza itu kami bikin konsep untuk hiburan lainnya. Kalau di Orchard, kan tidak perlu ada shopping. Namun, kami lebih pada tipe dewasa, yaitu yang ada studio rekaman. Untuk kelas eksekutif, entertainment-nya tidak akan ke EX dan mungkin juga tidak mau di PIE. Sayangnya begitu buka, FX langsung jatuh karena krisis, saham banyak merugi. Waktu itu kami masukkan sejumlah tenant baru. Sebetulnya, konsep itu bagus sekali. Bisa belajar dansa, cha-cha. Juga saya pikir nostalgia Hotel Indonesia waktu dulu: ada grup Tango, cha-cha. Kami juga mulai melirik hal-hal yang belum ada. Seperti konsep tutoring, kelas-kelas, playgroup, day care.

Apa kunci untuk mengelola branded shop ini?

You musti punya orang yang knowledgeable dan prudent. Prudent maksud saya, kalau membuat janji, harus ditepati. Harus profesional dan capable. You tidak bisa bilang ke mereka hari ini kekuatan AC dan listrik sekian power. Besoknya, listrik byaar-pet (mati). Hal kedua, masalah servis. Servis bukan hanya pada toko-nya, tetapi juga treatment kepada pelanggan. Kami buka toko bintang lima, pelanggannya bintang lima. Kalau manajemennya tidak bintang lima, ya gimana! Kalau di swasta, kami harus berpikir semua adalah ambassador. Mengapa? Karena you deal with people.

Di atas PIE kabarnya dibangun apartemen dan perkantoran, bagaimana perkembangannya?

Perkantoran nggak terlalu banyak jumlahnya, kami kelola sendiri, pemasaran kami join dengan Collier. Apartemen nanti operasionalnya bekerja sama dengan Hyatt. Kami bikin apartemen yang high-end. Kalau asal cari, gampang, biasa saja masukin office 10-20 lantai. Pertamina juga mencari. Namun, kami tidak mau. Kami ingin sinergi. Saya tidak mau membangun Louis Vuitton di sini, tetapi nanti isinya gedung karyawan Pertamina. Ya.. sorry to say, karyawan Pertamina kan tidak bakal belanja di sini. Saya maunya butik-butik. Makanya, saya masukin seperti BMW. Jadi, corporate punya traffic ada. Jadi, itu memang by design. Begitu juga apartemen. Ujung-ujungnya kami mau create lingkungan menengah-atas. Dan mereka sangat nyaman bekerja, serta hidup bersama komunitas mereka: anak-anak, bahkan cucu mereka.

Berapa persen tingkat okupansi hingga sekarang?

Office sudah tersewa 60%, sedangkan apartemen 50%. Harga per m2-nya US$ 4.000. Mereka boleh mengubah-ubah desainnya. Akan tetapi, kami beri petunjuk desain. Itu keuntungannya dibanding apartemen lain. Namun, kami berpikir tidak mau dong dibandingkan dengan harga pasar. Saya mau perbandingannya dengan internasional. Kalau dengan internasional sangat murah, coba bandingkan dengan Armor dan Four Season di Singapura. Saya bilang ke mereka, harga saya ini murah. Namun kalau dibandingkan Ritz-Carlton punya Tan Kian, saya mengerti Anda bilang apartemen saya lebih mahal. Akan tetapi, you’re not my customer. Saya memang mencari orang-orang yang biasa membeli apartemen di Singapura.

Akan tetapi, meyakinkan pasar dengan harga seperti itu kan tidak mudah.

Tidak mudah. You need confidence, persistence and stamina. Makanya, office tidak kami jual. Kalau dulu kami jual, kami sudah tidak ada cash flow. Bayar cicilan bank dari mana? Ya dari sini. Tetapi kalau you bangun baru, padahal you belum ada cash flow, makanya banyak yang cepat-cepat menjual apartemen. Karena itu, kami harus investasi banyak. We lucky have the same vision three of us (Franky, Boyke dan Rosano).

Anda tampak masih sangat bersemangat?

Kami sudah 26 tahun dan masih selalu berkembang. Bukannya dengan usia sekarang kami berhenti. Sebetulnya kalau dibilang capek, ya capek. Kami harus selalu harus menciptakan kreativitas baru. Kalau kita kerja dengan hati, punya adrenalin dan passion, kreativitas kita tumbuh.

Apakah sudah punya kader?

Kadernya ya manajemen kami. Makanya, anak saya tidak ada di manajemen. Memang anak saya, Lia (panggilan akrab Amelia), sekarang mengelola Miniapolis, di PI. Namun, dia tidak ada urusan dengan manajemen. Miniapolis itu bagian dari apresiasi saja. Itu bagian dari training dia, tetapi saya tidak men-training dalam arti kata “saya groom dia”, ke mana-mana ikut saya. Tidak. Saya tidak bilang PI nanti harus dikelola anak-anak saya. Bisa saja nanti (regenerasi) pada anak-anaknya Arnes (nama direktur di PI). Kalau anak saya tidak mampu, tidak usah di sini. Itu sudah prinsip. Saya nggak mau gara-gara anak saya tidak mampu, jadinya malah seperti Ratu Plaza. Saya mau siapa pun itu bisa memajukan PT Plaza Indonesia Realty Tbk.

Mengapa tidak di-groom seperti itu? Bukankah itu biasa?

Saya lihat bakat orang berbeda. Soalnya kalau dia tidak mempunyai jiwa di situ, saya train, nanti malah buang-buang waktu.

Anda belum melihat siapa putra-putri Anda yang kira-kira bakatnya di sini?

Itu belum. Saya pikir dia harus mempunyai karier dan ekspetasi sendiri. Daripada nanti saya masukkan di sini ternyata tidak cocok. Dia rugi, saya juga rugi. Nah, Lia kebetulan punya passion untuk anak-anak dan saya juga mau membuat area untuk anak-anak. Soalnya kalau ternayata dia tidak cocok di fashion atau pemasaran, nanti buang waktu. Sekarang saya dan dia happy. Orang saya juga tidak merasa stres karena khawatir dengan anaknya Boyke. Kalau saya tempatkan di pemasaran, orang-orang saya bisa stres. Kalau mendengarkan, salah. Kalau nggak, juga salah. Dulu saya suruh dia magang di AT Kearney. Saya tarik dia dari sana.

Putra Anda juga ada yang di grup Hotel Harris?

Cuma namanya pakai nama anak saya (Harris Gozali). Manajemennya independen. Branding-nya saya yang ciptakan. Saya kerja sama dengan orang Prancis. Hotel itu sebetulnya operatornya orang asing, tetapi sudah lama tinggal di Indonesia. Dulu kepala Accor Asia Pasifik. Jadi, itu pure lokal yang dibuat oleh orang asing yang tinggal di Indonesia. Nama perusahaannya Tausyang, orangnya Mark Steinmeyer. Saya pernah membuka Novotel Surabaya dan Mercure, makanya kenal dia. Ketika pensiun, dia bilang mau bikin usaha konsultansi hotel, dia minta bisnis ke saya. Kebetulan, saya juga suka hotel, lalu saya tanya “What’s your concept? I trust you, but I want to have my own brand, Harris. You yang managed.” Saya investasi waktu pertama (awal). Sekarang dia sudah mengelola hotel. Di Kelapa Gading bukan saya yang punya, juga yang di River Bali, River View dan di Solo, bukan milik saya. Saya punya empat: di Tuban, Kuta (Bali) Batam dan Tebet-Jakarta. Di Harris Tebet saya join dengan Rachmat Gobel. Anak saya tidak ada yang ikut-ikutan walau brand-nya pakai nama anak saya.

Bagaimana Anda mengarahkan anak?

Saya percaya setiap anak punya bakat dari Tuhan. Tidak bisa dipaksa. Basic-nya pendidikan. Anak saya pertama jurusannya bisnis. Yang kedua kuliah psikologi. Adapun anak ketiga, laki-laki, kami belum tahu. Saya lihat saja dulu. Kalau nanti sudah lulus, saya minta dia magang yang mirip dengan jurusannya. Seperti anak pertama yang saya minta magang di AT Kearney. Baru dari situ, kami coba memberikan kesempatan. Lalu, Lia juga kami beri kesempatan membuat area anak-anak karena dia suka anak-anak. Saya bilang ke Lia, “Tapi ini within PI. You cuma atur area publiknya. Bukan bisnis-nya.” Toko-toko-nya tetap menjadi tenant saya (PI). Kami sama-sama mengembangkan (desain) area. Pertama-tama pasti dibantu. Lama-lama dia sudah independen. Sekarang dia sedang mengembangkan konsep publik area untuk anak-anak di FX. Kontribusinya di Miniapolis sudah membantu saya. Kalau tidak, saya pusing mencari orang untuk mengembangkannya.

Prinsip apa yang Anda pakai dalam melatih anak?

Yang penting, anak harus happy dan mempunyai kekuatan sendiri karena suatu hari kami tidak ada. Anak harus membangun they own legacy. Syukur dia bisa bersama kami. Namun, yang penting anak harus punya punya legacy dan willingness sendiri. Dulunya ketika Lia belum di Miniapolis, saya bilang, “Lebih bagus you di kerja di luar, di AT Kearney, Citibank atau apalah. You bisa menjadi top executive di sana, lalu saya juga besar di sini. Nah, nanti tinggal kita bargaining kalau lagi membutuhkan direktur.” Jadi, betul-betul profesional, tetapi kami family. Syukur kalau match. Saya bisa bayar anak saya sendiri, dan anak saya bisa bantu ayahnya sendiri. Itu kondisi yang sempurna. Saya tambahkan, "Kalau tidak, lebih bagus kalau you di luar dan saya juga di luar. Supaya you tidak ngeselin saya dan saya tidak ngeselin you."

Waktu Lia pulang ke Indonesia saya katakan ke dia, ada dua skenario kalau dia kemudian saya perintah. Dia akan enjoy atau tidak enjoy. Kalau tidak enjoy, dia menyesal seumur hidup, kami sebagai orang tua juga rugi. Namun kalau berhasil, dikatakan itu gara-gara dia. Kalau tidak berhasil, itu gara-gara orang tua. Kita selalu dikasih yang negatif. Saya tidak mau. Saya bilang, "Kalau you sudah berhasil, saya beli you. Itu berarti saya butuh. Tapi kalau you’re not worth that much, I don’t want to buy!"

Itu Anda bicara terus terang?

Ya. Karena itu, dia mau kerja di AT Kearney. Dia garap Miniapolis itu kan bukan karena saya, tetapi karena dia sehingga mau kerja siang-malam. Dia puas. Namun, tentu saja saya membimbing. Nah, sekarang di FX itu banyak tempat kosong, dia lagi kembangkan Kalau di FX dia berhasil, di mana-mana dia akan berhasil. Jangan gara-gara legacy kita, dia mesti menderita sampai tua. Karena, dulu saya mengalami seperti itu. Dulu saya nggak happy. Anak-anak mertua saya masih kuliah. Sebagai menantu pertama yang sudah selesai kuliah, saya lalu dipanggil. Ya, saya nurut. Saya disuruh pegang semua bisnis, pabrik, trading, dll. Japfa Comfeed dulu saya yang pegang. Saya melakukan itu karena kewajiban ke mertua (pemilik Grup Ometraco).

Namun, bukankah di situ Anda belajar?

Ya. Saya belajar trading, belajar di Ometraco yang membuat mesin. Belajar dari anak buah untuk jualan roti. Saya mengalaminya. Tidak apa-apa. Saya happy kalau soal itu. Itu membuat saya menjadi tahu di mana yang membuat saya suka. Japfa Comfeed dulu masih kecil. Itu dulu saya yang membangun. Lalu, saya juga pergi ke pabrik, tetapi saya tidak suka kerja di pabrik, banyak debu. Aduh.

Sampai seberapa lama Anda mengurusi bisnis-bisnis itu di Ometraco?

Sampai ketika adik ipar saya kembali ke Indonesia, tahun 1995-96. Sekitar tujuh tahun saya di situ. Waktu itu saya jadi dirut mana-mana (di anak-anak usaha Ometraco): ya di Japfa Comfeed, di Ometraco, di properti. Namun, saya sudah selesaikan sampai go public. Lalu, saya minta di posisi komisaris saja. Mertua saya bilang, “Gak bisa, jangan.” Namanya anak, kadang harus mau menjadi baby terus. Saya sendiri dengan Lia kadang-kadang juga bersikap begitu. Namun, itu mulai saya kurangi.

Waktu itu (1997) saya bilang ke mertua, “Sekarang kondisi sudah mulai krisis. Saya mesti konsentrasi. Kita punya banyak urusan.” Dan kebetulan ada ipar saya yang suka ngurus pabrik ke daerah-daerah. Waktu itu semua anggota keluarga meminta saya mengurus perusahaan keluarga. Saya bilang, “Nggak bisa.” Bayangin, saya harus ke daerah, ke bank minta kredit, ke pemerintah, lihat tanah untuk properti, buruh, lalu ada prinsipal soal mesin-mesin. Saya suka yang kerja perlente, shopping, di kota. Ke tempat kumuh saya suka, tetapi untuk urusan sosial. Kalau untuk tempat kerja, saya nggak suka. Kehidupan saya di metropolitan. It is a given.

Bagaimana sikap mertua?

Kebetulan mertua orangnya liberal. Saya katakan bahwa saya tidak suka trading. Namun, saya berkata demikian dengan tanggung jawab karena saya tahu ada adik ipar dan keponakan. Sekarang yang mengelola trading adalah keponakan saya, seperti Max Widjaja dan Pieter Djatmiko. Kebetulan karena dari keluarga nggak ada yang suka properti, sayalah yang pegang properti.

Bagaimana Anda menjaga agar passion tidak luntur dan bisa ditularkan ke anak buah?

Saya harus menjadi contoh dari sisi positif. Harus jadi contoh leader. Itu menjadi kepuasan saya. Kalau orang mau mengopi keberhasilan saya, tidak apa-apa. Bukannya saya besar kepala. Ini adalah berkat dari Tuhan. Jadi, saya harus menjaganya. Kalau tidak menjaganya, bukan malu kepada manusia, tetapi seharusnya kepada Tuhan. Kami mau karyawan di sini bangga menjadi karyawan PI. Kebanyakan karyawan yang pindah merasa nggak happy. Kecuali yang dipromosikan gila-gilaan. Karena, di sini hubungannya sangat dekat, family, apresiatif, manajemennya tidak kasar, treatment very well, dan insentifnya oke.

Apa yang belum tercapai baik dalam sisi bisnis maupun pribadi?
Saya pikir secara relatif sudah tercapai. Namun, selalu ada tugas baru. Pertama, jelas dari segi proyek, yang ini (PIE) juga baru selesai. Begitu pun FX. Selain itu, perlu ada regenerasi. Sekarang memang ada Pak Arnes dan lainnya. Tim manajemen baru pun perlu mempunyai manajemen yang lebih bagus. PI sekarang sudah bertransformasi. Dulu bisa membangun PI saja sudah amazing. (***)

Sumber: SWA edisi 23 Juni 2010
Selengkapnya...

Rabu, 11 Agustus 2010

Kelakuan Para Konglomerat

Namanya FX Boyke Gozali. Kalau anda tidak mengenalnya, saya coba untuk memperkenalkan siapa dia. Rasa-rasanya sebagian dari anda-anda mungkin pernah berkongkow-kongkow ria di salah satu gerai Starbucks Coffe di Indonesia, bukan? Atau Anda mungkin pernah mampir ke gerai Zara dan membeli satu stel jas untuk hari pernikahan Anda setelah meminum secangkir kopi di Starbucks tadi? Dan, ternyata semua itu anda alami di Plaza Indonesia. Aha... Tahu kah Anda siapa pemilik semua itu? Yup, tebakan Anda sudah benar. Dia memang FX Boyke Gozali. Dan, kemarin aku berkesempatan untuk bertemu dengannya.

Di lorong itu, aku melihat salah satu pengusaha papan atas Indonesia itu seperti sedang kebingungan mencari sebuah ruangan. Karena aku memang sudah tahu maksud kedatangannya, maka aku pun langsung menegurnya. "Ruangannya di sini, Pak Boyke," sapaku padanya. Dia seperti sedikit bingung dengan teguranku ini. Tapi, kulihat dia mengikutiku dari belakang.

Bersama Boyke, ikut seorang pria lain. Umurnya terlihat lebih muda dan gayanya lumayan oke. Dia adalah Rosanno Barack, yang juga seorang pengusaha di republik ini. Kedua pengusaha itu pun aku antar ke ruangan bosku. "Bang, Pak Boyke sudah datang," jawabku.

Rupanya, penampilan seorang Boyke Gozali sama dengan yang ada di foto-foto yang sering aku lihat. Orangnya tidak terlalu besar dengan rambut warna putih. Dilihat dari wajahnya, susah untuk menebak umurnya karena terlihat selalu berseri-seri, terawat, dan muda. Padahal, kalau tidak salah, pengusaha yang juga pemilik Hotel Harris ini, lahir pada 1957. Berarti sekarang umurnya sudah 53 tahun. Mmmm...memang benar apa yang sering ditulis di media cetak, kalau pengusaha ini kental dengan bisnis dunia gaya hidup ini. Penampilannya memang bergaya.

Tak lama kemudian, aku pun ikut dalam pertemuan itu. Selain dua pengusaha itu, tampak tiga orang lain yang ikut hadir. Satu orang sangat familiar bagiku, sedangkan dua lainnya masih asing. Satu orang yang familiar itu adalah Dibyo Widodo. Anda pasti tidak asing dengan nama itu. Ya, memang benar. Nama yang saya sebut tadi adalah Dibyo Widodo yang mantan kapolri itu. Tapi, ia bukan datang sebagai seorang pensiunan Jenderal dan mantan orang nomor satu di tubuh Polri. Rupanya, setelah menggantungkan baju dinas polri alias pensiun, Dibyo menjadi komisaris di perusahaan patungan Boyke dan Rosanno.

Selama hampir sejam aku ikut menikmati suasana di dalam ruangan itu. Sedikit demi sedikit, aku menjadi tahu bagaimana karakter pada tokoh-tokoh itu. Bahkan, aku jadi tahu bagaimana pengusaha kalau sedang berdebat atau setidaknya berkumpul. Suasananya ternyata jauh dari kesan formal. Bahkan, mereka hanya memanggil nama untuk menyebut yang lain, dan tidak perlu memakai kata 'pak', 'mas', atau yang lain. Sama persis kalau kita sedang berkumpul dengan teman-teman sepermainan.

Memang, baru pertama ini aku bertemu atau melihat dengan Boyke Gozali dan Rosanno Barack. Nama mereka memang sangat familiar padaku. Karena itu, pertemuan kemarin sungguh memberikan kesan mendalam buatku. Aku pun tahu bagaimana kalau para konglomerat berkumpul dan membahas sebuah masalah.
Selengkapnya...

Kamis, 05 Agustus 2010

Dimana kenyamanan naik Transjakarta?

Sebuah berita menyebutkan, kalau akhir-akhir ini jumlah penumpang bus Transjakarta melonjak tajam. Penyebabnya adalah banyak pemilik kendaraan bermotor yang beralih ke bus Transjakarta sejak 1 Agustus 2010. Lho, kenapa mereka beralih? Rupanya mereka semakin tidak tahan dengan kemacetan Jakarta. Sedangkan bus Transjakarta justru semakin cepat bisa melaju di jalurnya. Pasalnya, Pemda DKI melakukan sterilisasi jalur busway. Tak ayal, ribuan pemilik kendaraan ditilang ketika masih nekat menerobos jalur busway.

Memang, inilah kegagalan Pemda DKI yang acap kali digembor-gemborkan. Maksud hati membuat angkutan umum yang lebih manusiawi dengan membuat Transjakarta, namun nyatanya sistem yang dijalankan tidak bisa berjalan mulus di lapangan. Kendaraan non-busway tetap bebas melewati jalur busway. Akibatnya ya itu, tidak ada bedanya jalur biasa dengan jalur busway. Sama-sama macet!

Berbeda dengan sistem di Kota Bogota yang menjadi kiblat busway di Jakarta, yang di sana jalur busway benar-benar steril dari kendaraan lain. Bahkan, busway di sana punya flyover sendiri, tempat memutar sendiri, terminal besar sendiri, dan pom bensin sendiri. Nah, kalau di Indonesia, atau Jakarta tepatnya, semua itu tidak ada. Jalur Busway di Jakarta juga penuh sesak dengan kendaraan lain. Jalur busway itu juga hanya dibatasi separator yang biasa-biasa saja yang oleh sedan mini pun, bisa melintasinya untuk berpindah dari jalur biasa ke jalur busway. Heran juga, kenapa sih tidak dibuat separator yang cukup tinggi agar tidak bisa dilintasi antar jalur. Kenapa juga dibuat dibeton-beton yang mudah hancur atau copot. Kenapa tidak dibuat dengan mencor langsung di lapangan dengan tulangan baja super kuat. Heran deh. Benar-benar heran.

Lalu, di jalur busway di Jakarta juga tidak sepenuhnya dipisahi oleh seperator. Dengan alasan tidak ada lagi lahan, maka jalur biasa dan jalur busway hanya dipisahi oleh garis. terkadang garis yang masih putus-putus. Jadi, apa bedanya dong? "Ya, beda bisnya," kata seorang pedagang asongan di dekat Pondok Indah setengah becanda.

Kondisi separator yang ala kadarnya ini, semakin diperparah oleh banyaknya putaran di jalur busway. Jangan heran kalau akhirnya sering terjadi kecelakaan di putaran itu. Kecelakaan terjadi akibat tidak ada yang mau mengalah. Si pengendara yang ingin memutar tidak sabar menunggu busway lewat, dan si busway juga ogah berhenti. Akibatnya, brakkkk!!!!!

Jadi, Pemda DKI sepertinya harus benar-benar mengatur kembali manajemen Transjakarta. Sekarang sterilisasi memang sepertinya berhasil. Tapi, sampai kapan? Bukan kah kita sering hangat-hangat tahi ayam? Bukan kah peraturan di negeri kita ini dibuat untuk dilanggar? Ah..... itu mungkin dulu. Sekarang? Ya, sama saja. Hahaha.....

Dan, jakarta pun semakin tenggelam dengan kemacetan. Dari dalam bus PPD yang aku naiki, terlihat bus Transjakarta pun harus ikut mengikuti drama kemacetan ini.....
Selengkapnya...