Sabtu, 14 Agustus 2010

Persaudaraan di atas KRL Benteng Ekspress

Ada pengalaman unik saat ikut menikmati perjalanan di atas KRL Benteng Ekspress jurusan Kota-Tangerang. Penumpang tidak terlalu penuh di setiap gerbong, dengan hanya ada sekitar belasan orang yang berdiri di antara penumpang yang duduk. Dari pakaian mereka, mayoritas penumpang tampaknya adalah pekerja kantoran. Mereka sepertinya sudah saling kenal karena langsung terlibat obrolan-obrolan santai begitu mereka bertemu di dalam gerbong ini. Beberapa kali tawa pecah di antara obrolan itu. Aku hanya bisa melihat suasana ini sambil mencoba
memaknai apa yang ada di sekelilingku.

Ketika KRL mulai berjalan menyusuri rel menuju arah Tangerang, pemandangan lain aku lihat. Para penumpang tadi kemudian asyik berbisnis. Masing-masing mengeluarkan dagangan mereka dan menjualnya kepada sesama penumpang. Ada yang menjual tas, menjual kerupuk,
menjual perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik, menjual kue, atau menjual pakaian anak. Lucunya lagi, kerupuk yang dijual itu akhirnya dibagikan dan dimakan ramai-ramai oleh sesama penumpang.


Itulah yang aku lihat saat berada di gerbong 3 KRL Benteng Ekspress jurusan Kota-Tangerang yang lumayan dingin oleh AC ini. KRL berangkat dari Stasiun Kota pukul 18.10 WIB, dan tiba di Stasiun Tangerang sekitar pukul 19.00 WIB. Waktu tempuh ini jauh lebih singkat daripada
naik kendaraan umum, walau tarifnya lebih mahal dengan Rp 7.500 sekali naik. Karena itu, KRL ini sudah memiliki penumpang setia. Kesetian ini membuat mereka akhirnya menjadi saling kenal dan berujung pada persahabatan. Padahal nantinya mereka turun di stasiun yang tidak
sama. Aku berkesimpulan, mereka bisa seakrab ini karena mereka setiap hari bertemu dan akhirnya saling kenal dan bersahabat..

Selama tiga kali menggunakan angkutan massal ini dalam seminggu terakhir ini, sepertinya aku sudah familiar dengan wajah-wajah yang ada di gerbong 3 ini. Rata-rata mereka adalah karyawan yang berdomisili di sekitar Jakarta Barat dan Tangerang. Setidaknya mereka
kebanyakan turun di tiga stasiun, yakni Rawa Buaya, Poris, dan Tangerang. Umur mereka pun rata-rata sudah 30-an sampai 50an. Mayoritas adalah ibu-ibu. Hanya ada satu-dua pria yang sepertinya sudah menjadi bagian dari HPSBE alias Himpunan Penumpang Setia Benteng
Ekspress ini. Hehehe......

Beragam obrolan ringan yang mengundang tawa bermunculan semenjak berangkat dari Stasiun Kota. Bahkan, tawa seringkali meledak karena ada penumpang yang jail kepada penumpang lain. Misalkan saja dengan memasukkan koran bekas ke tas penumpang lain atau ada penumpang yang mengembalikan plastik bekas makanan kepada penumpang yang tadi membagikan makanan itu. “Ini kami kembalikan plastiknya lagi. Semoga bermanfaat,” kata seorang ibu kepada ibu lain yang kemudian mengundang tawa penumpang lain di sekitar mereka. Sifat jail ini seakan mengingatkan aku dengan masa-masa sekolah dulu, dan kini kembali dilakukan oleh orang-orang yang sudah berumur 40an yang ada di dekatku ini.

Satu rasa satu penanggungan memang terasa di gerbong ini. Bila ada penumpang yang membawa makanan, maka makanan itu juga dibagi ke penumpang lain sampai habis. Ini juga terjadi ketika ada penumpang yang menjual beberapa toples makanan kecil. Oleh penumpang yang membeli makanan itu, toples langsung dibuka dan memakan isinya. Setelah itu, ia menyerahkan toples ke penumpang lain agar ikut memakan isinya. Aku menyaksikan pemandangan ini dengan penuh rasa takjub. Dalam hati aku berujar, persaudaraan para penumpang setia KRL ini sepertinya sudah begitu kuat. Aku, yang bukan termasuk penumpang
setia, akhirnya hanya bisa menjadi penonton.

Sekitar 13 menit KRL melaju, datang seorang wanita yang berumur sekitar 36an dari arah gerbong nomor 4. Ia datang sambil membawa sebuah tas besar di tangan dan sebuah tas lebih kecil lagi tersangkut di punggung. Ia lantas duduk di lantai kereta persis di depan pintu
keluar dengan cueknya. Sejumlah penumpang lain segera menegur ibu ini. “Ini satu lagi datang yang mau jualan,” kata seorang ibu lain yang langsung disambut tawa penumpang lain.

Si ibu ini seperti tidak peduli dengan celetukan tadi, seperti kita sudah biasa mendengar celetukan seorang sahabat pada kita. Dengan sigapnya, ia pun mengeluarkan beberapa wadah-wadah plastik dari dalam tas besarnya. Sepertinya ibu ini adalah agen Tupperware. Wadah-wadah yang harganya sebenarnya jauh lebih mahal dari wadah plastik biasa, segera berpindah tangan ke beberapa penumpang. Mereka melihat-lihat, bertanya harganya, melihat-lihat lagi, dan akhirnya menawarnya. Ada yang akhirnya membeli dan lebih banyak yang sekadar melihat-lihat saja.

Sebentar kemudian, penglihatanku beralih pada seorang ibu yang sedang mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluhribuan. Lembaran uang itu lalu diserahkan ke seorang ibu yang ada di seberangnya. Sebagai penggantinya, ia mendapatkan beberapa ikat uang duaribuan baru.
Sepertinya, ibu yang memberikan uang dua ribuan itu adalah seorang karyawan bank. Hebatnya lagi, sepertinya stok uang dua ribuan di dalam tasnya lumayan banyak. Beberapa penumpang lain juga menukarkan uang mereka dengan lembaran uang dua ribuan. Dari obrolan yang aku dengar, hari sebelumnya sejumlah penumpang memang sudah memesan uang dua ribuan itu. Dan, transaksi money changer ala KRL ini, ternyata berlangsung saat aku juga ikut menjadi salah satu penumpang. Bisa jadi, pemandangan ini tidak terjadi setiap hari.

Satu persatu penumpang mulai turun di Stasiun Rawa Buaya. Kehebohan pun kembali terjadi saat kereta sudah berhenti. Seorang ibu yang mau turun, dihalang-halangi oleh beberapa penumpang yang belum turun. Mereka menahan si ibu sambil tertawa-tawa. Uniknya, si ibu ini juga berusaha melepaskan diri dengan sambil tertawa-tawa. Sebentar kemudian ia berhasil lepas dan segera turun dari gerbong. Dan, beberapa detik kemudian, pintu otomatis kereta, kembali tertutup. Kereta pun berangkat kembali menuju Tangerang.

Gerbong semakin sepi ketika tiba di Stasiun Poris, dan akhirnya benar-benar sepi sesampainya di Stasiun Tangerang. Aku pun turun dari KRL dan sejenak memandangi rangkaian KRL Benteng Ekspress ini, sebelum akhirnya keluar dari Stasiun Tangerang. “Unik juga pengalamanku menumpang KRL ini. Pantesan saja ada yang mengatakan, cinta bisa bersemi di atas KRL,” batinku berkata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar