Kamis, 05 Agustus 2010

Dimana kenyamanan naik Transjakarta?

Sebuah berita menyebutkan, kalau akhir-akhir ini jumlah penumpang bus Transjakarta melonjak tajam. Penyebabnya adalah banyak pemilik kendaraan bermotor yang beralih ke bus Transjakarta sejak 1 Agustus 2010. Lho, kenapa mereka beralih? Rupanya mereka semakin tidak tahan dengan kemacetan Jakarta. Sedangkan bus Transjakarta justru semakin cepat bisa melaju di jalurnya. Pasalnya, Pemda DKI melakukan sterilisasi jalur busway. Tak ayal, ribuan pemilik kendaraan ditilang ketika masih nekat menerobos jalur busway.

Memang, inilah kegagalan Pemda DKI yang acap kali digembor-gemborkan. Maksud hati membuat angkutan umum yang lebih manusiawi dengan membuat Transjakarta, namun nyatanya sistem yang dijalankan tidak bisa berjalan mulus di lapangan. Kendaraan non-busway tetap bebas melewati jalur busway. Akibatnya ya itu, tidak ada bedanya jalur biasa dengan jalur busway. Sama-sama macet!

Berbeda dengan sistem di Kota Bogota yang menjadi kiblat busway di Jakarta, yang di sana jalur busway benar-benar steril dari kendaraan lain. Bahkan, busway di sana punya flyover sendiri, tempat memutar sendiri, terminal besar sendiri, dan pom bensin sendiri. Nah, kalau di Indonesia, atau Jakarta tepatnya, semua itu tidak ada. Jalur Busway di Jakarta juga penuh sesak dengan kendaraan lain. Jalur busway itu juga hanya dibatasi separator yang biasa-biasa saja yang oleh sedan mini pun, bisa melintasinya untuk berpindah dari jalur biasa ke jalur busway. Heran juga, kenapa sih tidak dibuat separator yang cukup tinggi agar tidak bisa dilintasi antar jalur. Kenapa juga dibuat dibeton-beton yang mudah hancur atau copot. Kenapa tidak dibuat dengan mencor langsung di lapangan dengan tulangan baja super kuat. Heran deh. Benar-benar heran.

Lalu, di jalur busway di Jakarta juga tidak sepenuhnya dipisahi oleh seperator. Dengan alasan tidak ada lagi lahan, maka jalur biasa dan jalur busway hanya dipisahi oleh garis. terkadang garis yang masih putus-putus. Jadi, apa bedanya dong? "Ya, beda bisnya," kata seorang pedagang asongan di dekat Pondok Indah setengah becanda.

Kondisi separator yang ala kadarnya ini, semakin diperparah oleh banyaknya putaran di jalur busway. Jangan heran kalau akhirnya sering terjadi kecelakaan di putaran itu. Kecelakaan terjadi akibat tidak ada yang mau mengalah. Si pengendara yang ingin memutar tidak sabar menunggu busway lewat, dan si busway juga ogah berhenti. Akibatnya, brakkkk!!!!!

Jadi, Pemda DKI sepertinya harus benar-benar mengatur kembali manajemen Transjakarta. Sekarang sterilisasi memang sepertinya berhasil. Tapi, sampai kapan? Bukan kah kita sering hangat-hangat tahi ayam? Bukan kah peraturan di negeri kita ini dibuat untuk dilanggar? Ah..... itu mungkin dulu. Sekarang? Ya, sama saja. Hahaha.....

Dan, jakarta pun semakin tenggelam dengan kemacetan. Dari dalam bus PPD yang aku naiki, terlihat bus Transjakarta pun harus ikut mengikuti drama kemacetan ini.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar