Senin, 30 Agustus 2010

Terjebak Diplomasi Serumpun

Suatu hari pada tahun 1964, ribuan orang memadati Istana Negara, Jakarta. Mereka menunggu-nunggu pidato Presiden Soekarno yang akan melancarkan aksi ganyang Malaysia. Ajakan untuk meng-ganyang Malaysia oleh presiden pertama Indonesia ini, keluar setelah sang Presiden marah besar karena merasa Malaysia sudah melecehkan martabat Indonesia.

Sikap tegas Bung Karno yang berani menghadapi Malaysia ini dicatat dengan tinta emas di sejarah perjalanan bangsa ini. Pasalnya, baru Soekarno-lah yang berani menggertak negara Mahathir Muhammad itu lewat aksi ganyang Malaysia. Di era pemerintahan setelah Bung Karno, Indonesia pun dikenal bersikap jauh lebih lunak dalam menghadapi Malaysia

Akibat sikap lunak Indonesia ini, akhirnya Malaysia pun dituding sering bertindak arogan dan berani melecehkan Indonesia. Misalnya saja, tindakan Malaysia yang menangkap 3 petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan di Perairan Kepulauan Riau, Jumat 13 Agustus 2010 lalu. Mereka ditangkap polisi Diraja Malaysia saat sedang menggiring nelayan Malaysia yang dituduh mencuri ikan di wilayah laut Indonesia.

Pemerintah indonesia dinilai sangat lunak dalam mensikapi tindakan pelecehan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia oleh Malaysia itu. Pasalnya, dituding ada aksi barter dalam membebaskan ketiga petugas DKP. Mereka dibebaskan setelah Indonesia juga membebaskan tujuh nelayan Malaysia.

Sikap Indonesia dalam penangkapan petugas DKP oleh Malaysia, berbeda dengan zaman Soekarno yang berani menghadapi Malaysia. Bahkan, aksi ganyang Malaysia bukan hanya sebatas gertak sambal saja. Saat itu, Presiden Soekarno mengumpulkan seluruh komponen masyarakat untuk menggayang Malaysia. Mereka ditempa berani berperang dengan beragam latihan.

Untuk mensukseskan aksi ganyang Malaysia ini, Pemerintah di jaman itu juga mengadakan acara malam pengumpulan dana. Sekitar Rp 45 juta langsung terkumpul dalam sebuah acara malam dana.

Sikap Bung Karno yang langsung berada di garda terdepan dalam menghadapi Malaysia, dinilai berbeda jauh dengan kondisi sekarang. Pasalnya, untuk memprotes tindakan Malaysia yang berani menangkap 3 petugas indonesia di Riau saja, begitu lambat dilakukan pemerintah.

Banyak pihak yang merasa heran dengan sikap pemerintah yang sepertinya begitu takut menghadapi Malaysia. Padahal, Indonesia punya posisi tawar-menawar yang banyak untuk menekan negara bekas koloni Inggris itu. Misalnya saja soal keberadaan 2 juta TKI di Malaysia yang sangat dibutuhkan oleh Malaysia. Negeri asal Siti Nurhaliza itu juga memiliki banyak perkebunan sawit di Indonesia. Ini baru dua alat yang bisa dipakai untuk menekan negeri kecil itu.

Artikel ini sudah tayang di program Metro Realitas di Metro TV, Senin, 30 Agustus 2010 pukul 23.05 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar