Kamis, 23 September 2010

Gories Mere dan Kuda Hitam Kapolri

Suatu malam, sekitar tahun 2002 atau 2003, muncul rombongan kecil keluar dari dalam ruang tahanan Polda Metro Jaya. Jumlahnya sekitar lima atau enam orang. Dua orang di rombongan ini sangat aku kenal. Yang pertama, bernama Albertus Rachmad Wibowo. Aku mengenalnya saat ia menjadi Kasatseres Polres Tangerang sekitar tahun 2000. Yang satu lagi adalah Gorries Mere. Aku mengenalnya saat ia menjabat Kaditsere Polda Metro Jaya.

Karena rombongan kecil ini berjalan di dekatku, maka aku menyapa Rachmad Wibowo dan menyalaminya. Yang lain sempat memandangiku saat menyapa salah satu rekan mereka itu. Barangkali mereka heran dan tidak menyangka, mengapa ada wartawan malam-malam begini masih ‘nongkrong’ di Polda Metro Jaya. Hanya berbasa-basi satu-dua menit, sang mantan Kasatserse Polres Tangerang yang kini menjabat Kapolres KP3 Tanjung Priok tersebut pun akhirnya pamit pergi dan meninggalkanku.

Aku memandangi rombongan kecil ini yang bergegas pergi meninggalkan pelataran parkir di depan ruang tahanan Polda Metro Jaya. Aku mencoba mengenali siapa saja yang ada di rombongan itu. Namun, tidak ada yang aku kenal selain kedua orang tadi, Rachmad Wibowo dan Gorries Mere. Sebagai sebagai wartawan, sempat muncul pertanyaan dalam pikiran, untuk apa pejabat Polri sekelas Gorries Mere datang malam-malam ke sel tahanan. Sampai hari ini, pertanyaan itu belum terjawab.

Kenangan sesaat pada malam itu kembali muncul setelah nama Gories Mere ramai diperbincangkan sejak kemarin. Jenderal polisi berdarah NTT itu disebut-sebut ikut dalam rombongan Densus 88 yang melakukan serangkaian penggrebekan teroris di Sumatera Utara. Padahal, jabatannya adalah sebagai kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) dengan pangkat komisaris jenderal alias bintang tiga. Banyak yang bertanya-tanya apakah jaringan terorisme yang digerebek di Sumatera Utara berkaitan dengan jaringan narkotika sehingga kepala BNN pun harus ikut turun ke sana.

Awalnya, keberadaan Gories dalam penggerebekan teroris yang dilakukan oleh Densus 88 di Medan, terungkap saat wartawan mendapatkan berita tentang Danlanud Medan yang mengirim surat kepada Kapolda Sumatera Utara, tertanggal 16 September 2010. Danlanud itu memprotes 'penerobosan' rombongan Densus 88 di Bandara Polonia. TNI Angkatan Udara merasa keberatan karena rombongan itu tidak mengindahkan aturan yang berlaku di bandara sesuai dengan standar Internasional.

Kabarnya, petugas yang berjaga di pos bandara, sempat digertak oleh salah satu orang di rombongan tersebut. Orang itu mengatakan agar si petugas pos tidak menghalangi misi negara. Selain itu, orang di rombongan itu juga menyebut ada jenderal bintang tiga di rombongan itu. Kuat dugaan, kalau memang ada jenderal bintang tiga di dalam rombongan itu, maka Gories Mere-lah orangnya.

Cerita dari Polonia ini segera menjadi berita hangat. Apalagi, cerita ini muncul berbarengan dengan peristiwa penyerbuan Polsek Hamparan Perak di Medan dan menewaskan tiga polisi. Mabes Polri buru-buru menyanggah adanya kaitan penyerbuan polsek ini dengan insiden di Bandara Polonia. Menurut polisi, penyerbuan itu dilakukan oleh kelompok teroris. Beberapa hari sebelumnya, wilayah Hamparan Perak memang menjadi salah satu tempat yang digerebek pasukan Densus 88.

Komisaris Jenderal Polisi Gories Mere adalah alumnus Akpol 1977. Teman satu angkatannya antara lain Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi dan mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji. Nama Gories disebut-sebut sebagai salah satu kuda hitam kapolri pengganti Bambang Hendarso Danuri, bila nama Nanan Soekarna dan Imam Soejarwo mental.

Saat ini, perwira Polri berpangkat komisaris jenderal atau komjen adalah Wakapolri Jusuf Manggabarani (Akpol 75), Kabareskrim Ito Sumardi (Akpol 77), Kababinkam Imam Haryatna (Akpol 75), Irwasum Nanan Soekarna (Akpol 78), Kepala BNN Gorries Mere (Akpol 77), Komjen Pol Imam Soejarwo, dan mantan Kabareskrim Susno Duadji (Akpol 77).

Ada dua kandidat yang sudah ramai disebut-sebut dalam bursa kapolri. Mereka adalah Komisaris Jenderal Polisi Nanan Soekarna yang menjabat Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Mabes Polri dan Komisaris Jenderal Polisi Imam Soedjarwo, yang kini menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Kalemdiklatpol).

Setidaknya ada dua alasan untuk memercayai bocoran tersebut. Pertama, sesuai tradisi kapolri dipilih dari perwira tinggi berbintang tiga. Kedua, berdasarkan UU 2/2002 tentang Polri, kandidat kapolri paling tidak punya masa dinas aktif dua tahun ke depan. Usia pensiun anggota kepolisian adalah 58 tahun, dan dapat diperpanjang hingga 60 tahun jika memiliki keahlian khusus atau sangat dibutuhkan dalam tugas kepolisian.

Namun, tidak semua punya masa dinas aktif minimal dua tahun. Jusuf Manggabarani dan Imam Haryatna akan memasuki masa pensiun. Jusuf yang kelahiran 1953, akan pensiun tahun depan. Sementara kolega satu angkatannya, Imam Haryatna sudah lebih dulu pensiun, April lalu. Nasib Ito Sumardi juga tak beda jauh. Meski angkatannya dua tahun lebih muda dari Jusuf dan Imam, namun usia Kabareskrim Mabes Polri ini tidak lagi muda. Ito lahir 17 Juni 1953, dan ini berarti juga akan pensiun tahun depan.

Teman satu angkatan Ito, Susno Duaji sebenarnya punya peluang. Malangnya, Susno kini terjerat kasus suap. Jadi tersisa Komjen Gregorius Mere alias Gorries Mere, dari angkatan 77 yang punya peluang. Dari sisi usia, Gories masih muda (17 November 1954). Dari sisi karier, Gories juga sudah makan asam garam sebagai Kapolres, Direktur Reserse, Wakapolda, Kadensus 88, Wakabareskrim, dan kini Kalakhar BNN.

Namanya Gories semakin berkibar saat ikut serta dalam perang terhadap terorisme yang dikobarkan Indonesia sejak Bom Bali 1. Jejaknya pun sangat kentara dalam sejarah terbentuknya Densus 88. Karena itu, tidak heran kalau sampai saat ini, banyak yang menyebut, Gories masih aktif di pergerakan pasukan Anti-Teror itu.

Polri memang harus bangga memiliki seorang Gories Mere. Kabarnya, keahliannya dalam bidang reserse dan intelijen tidak perlu diragukan lagi. Tidak heran kalau ada yang menyebut Gories adalah LB Moedani-nya polisi. LB Moerdani adalah tentara yang begitu disegani pada jamannya. Bahkan, hanya dia yang mampu menasihati Presiden Soeharto, walau akhirnya hubungannya dengan sang penguasa Orde Baru itu berakhir tidak mulus.

Nah, seorang Gories Mere pun sangat disegani di lingkungan Polri. Bagaimana dengan nasib kuda hitam itu? Kita tunggu saja dalam beberapa hari ke depan....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar