Sabtu, 04 September 2010

Kecoa-Kecoa Sok Jago dari Pangrango


Kecoa itu merayap di dekat tempat tidur. Kecoa itu bergerak di atas meja, di dekat piring yang penuh dengan makanan berbuka puasa. Kecoa itu terlihat di antara peralatan dapur. Kecoa itu menampakkan diri di pintu. Kecoa itu berpindah dari dinding ke lantai. Kecoa itu menempel di jendela kaca. Kecoa itu muncul di kamar mandi.

Ya, kecoa itu ada dimana-mana. Tanpa mengeluarkan suara apapun, mereka pun bebas pindah kemana saja sesuka hati. Mereka tidak peduli ada siapa di samping mereka. Padahal, orang-orang yang mereka dekati itu bukanlah orang sembarangan bila melihat dari jabatan yang sedang mereka sandang. Ada yang jadi direktur, profesor, calon jenderal, staf ahli menteri, hingga wakil menteri.

Kecoa-kecoa itu seakan ingin menunjukkan kalau penguasa Kapal Motor Pangrango ini adalah mereka. Akibat ulah mereka yang sok jago itu, terkadang memang fatal akibatnya. Hidup pun berakhir akibat ada manusia yang menginjak mereka secara tidak sengaja. Atau, ada manusia terkaget-kaget melihat kemunculan si kecoa, dan akhirnya memukulnya hingga terkapar untuk selama-lamanya di lantai.

Tapi, mati satu bukan jadi perkara yang menyusahkan bagi kecoa-kecoa di atas kapal milik Pelni ini. Mungkin masih ada ratusan atau bahkan ribuan kecoa lainnya yang siap kembali untuk menyapa siapa saja yang ada di atas kapal yang rutin berlayar dari Kupang hingga ke Ambon, dengan singgah di beberapa pulau kecil ini. Kali ini, aku dan para pejabat itu, bertemu dengan kecoa-kecoa itu untuk pergi berlayar menuju Pulau Kisar, sebuah pulau kecil di Maluku Barat Daya yang berbatasan dengan Timor Leste. Kapal berangkat dari Pelabuhan Kupang hari Minggu, 15 Agustus 2010.

Kecoa pertama menampakkan diri saat aku baru saja meletakkan tas di dalam Deck 3 kelas ekonomi. Seekor kecoa berwarna kecoklatan sepertinya mau menyapa kedatanganku dengan memunculkan diri di dinding lambung kapal. Ukurannya kecil dibandingkan dengan kecoa-kecoa yang sering ada di dapur rumah. Bisa jadi, jenis kecoa di kapal ini memang berbeda dengan kecoa di rumah, walau judulnya tetap sama, yakni kecoa. Kesimpulan ini dapat aku pastikan setelah tiga malam berada di atas kapal ini, sepertinya aku tidak pernah menjumpai kecoa berukuran sama dengan yang basa banyak di rumah.

Setelah kecoa pertama tadi muncul, sepertinya kecoa kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, sangat mundah ditemukan. Sepertinya mereka memang ada dimana-mana di dalam kapal pelni produksi PT PAL ini. Dan, seperti yang sudah disampaikan, ukurannya tidak ada yang sebesar kecoa di rumah. Uh, ternyata kecoa akan menjadi teman selama berada di atas Kapal Pelni produksi tahun 1995-an ini. Ya, sepertinya memang tiada jalan lain selain menganggapnya sebagai kawan karena entah berapa banyak jumlah kecoa di atas kapal ini. Sebuah pepatah mengatakan, bersekutulah bila engkau tidak bisa mengalahkan lawanmu.

Aku tiba-tiba teringat seorang kawan yang sangat takut dengan binantang-binantang yang sudah dicap sebagai binatang kotor seperti kecoa. Entah apa cerita yang terjadi bila ia ikut berada di kapal ini. Bisa jadi ia akan sakit parah kalau harus tinggal empat hari tiga malam di atas kapal ini seperti yang aku alami di pertengahan Agustus 2010 ini. Iya, aku bisa meyakinkan ini. Karena ia memang sangat alergi dengan kecoa, kutu, bangsat, dan semua binatang sejenisnya.

Suatu hari, kami naik buskota. Ia duduk di bangku dekat jendela dan aku duduk di sampingnya. Tiba-tiba muncul seekor binatang yang merayap di depannya. Aku menduga binatang itu mungkin seekor bangsat. Ini dugaanku saja, sebab jujur saja, sampai hari ini aku tidak tahu persis bagaimana wujud bangsat, walau aku sering mendengar kata-kata itu. Terakhir aku mendengar kata itu ketika seorang sopir angkot berteriak dengan mengucapkan nama binatang itu setelah seorang pengendara sepeda motor tiba-tiba mau menyerempetnya.

Kembali ke kisah kawanku itu. Seketika saja kawan ini seperti menjadi resah begitu ia menatap binatang yang bernama bangsat tadi. Aku memakai kata ‘menatap’ untuk mengatakan bahwa ia tidak sekadar melihat. Kalau hanya melihat, mungkin hanya sebatas memandangnya. Tapi, kawan ini sepertinya lebih dari itu. Buktinya, ia pun tiba-tiba menggaruk-garuk badannya seperti di punggung dan kedua tangan. Ia seperti kegatelan. Padahal, binatang tadi belum sempat bersentuhan dengan kulit mulus teman ini.

Tidak sampai lima menit kemudian, kedua lengannya sudah bentol-bentol berwarna merah. Ia pun semakin panik. Sepertinya ia masih saja membayangkan binatang itu berubah menjadi seekor monster yang siap menerkamnya. Padahal, binatang itu sejak pertama kali dilihatnya sudah langsung dibunuh dan sudah jatuh ke lantai buskota, tanpa terlihat lagi entah dimana jasadnya kini berada. Ia sangat panik dengan selalu menggaruk-garuk lengannya selama hampir setengah jam. Setelah itu, mungkin ia sudah lupa dengan binatang, karena ia terlihat kembali normal dan kulitnya juga sudah tidak bentol-bentol dengan warna merah.

Entah apa jadinya kalau teman itu juga ada di atas kapal Pangrango ini yang harus berbagi tempat dengan kecoa-kecoa. Memang, dari semua anggota tim yang berangkat bersamaku, sepertinya tidak ada yang alergi dengan kecoa seperti teman tadi. Sama sepertiku, mereka sepertinya menganggap kecoa itu adalah kawan yang juga punya hak untuk berlayar di atas kapal ini. Termasuk juga para pejabat-pejabat yang tadi aku sebutkan di atas. Padahal, mungkin saja, dengan jabatan yang mereka sandang, fasilitas yang mereka dapat kalau sedang tidak berada di atas kapal ini, pastinya selalu kelas 1 atau bahkan VVIP, yang kecoa tidak bisa menjangkaunya.

Seperti yang aku alami, para pejabat ini bersantap sahur atau buka puasa dengan ditemani beberapa ekor kecoa kecil di dekat mereka. Bahkan, beberapa kali ada kecoa yang berhasil berlari-lari di meja, hanya beberapa sentimeter dari piring sang pejabat tadi. Mereka hanya menyapu si kecoa dengan tangan kiri atau selembar tisu hingga binatang itu terjatuh ke lantai. Tapi, harus diingat, kecoa adalah raja di atas kapal ini. Satu hilang, maka muncul lagi kecoa yang lain.

Atau, jangan-jangan kami semua sedang berpura-pura dengan tidak menganggap masalah dengan keberadaan rombongan kecoa-kecoa itu. Padahal, bisa jadi dalam hati kami semua sebenarnya jijik dengan binatang itu. Mmmm..... entah lah.

Dalam beberapa kali perbincangan dengan teman-teman, kami memang membahas bagaimana kecoa bisa begitu berlimpah di atas kapal ini. Tidak kah mereka pernah dibasmi?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar