Kamis, 16 September 2010

Pelajaran Penting dari Sang Pencerah

“Bang, sepertinya film Sang Pencerah, bagus tuh. Kita nonton, yuk!,” demikian sang mantan pacar berbisik di pagi hari, dua hari lalu. Karena memang tidak ada kegiatan, aku pun segera menyambut ajakan itu dengan penuh semangat. Walau aku belum tahu persis bagaimana para kritikus film mengomentari film ini, namun aku jadi penasaran juga setelah iklannya kerap muncul di layar TV.

Akhirnya, kami pun berangkat ke Supermal Karawaci dengan tujuan utama nonton film, sebuah kegiatan yang sebenarnya sangat jarang kami lakukan. Aku melihat begitu banyak orang-orang yang ingin menonton film ini. Banyak yang membawa keluarga mereka. Kaum perempuannya pun banyak memakai pakaian muslim. Dalam hati aku berbisik, produser film kembali berhasil menghipnotis masyarakat yang selama ini mungkin alergi datang ke bioskop, akhirnya mau juga singgah di sana.

Tepat pukul 18.45 WIB, film akhirnya mulai diputar. Aku pun duduk santai sambil terpancing juga melihat beberapa orang yang datang terlambat. Film dibuka dengan kisah kelahiran Darwis, seorang bocah yang kelak berganti nama menjadi Ahmad Dahlan, dan menjadi pendiri organisasi Muhammadiyah.

Sepanjang film ini berseting pada abad 19-an. Sebagai orang yang cukup jeli mengamati apapun, aku pun selalu memperhatikan apapun yang ada di layar. Dalam hati aku berharap bisa menemukan benda-benda yang seharusnya ada di zaman sekarang, namun bisa muncul di abad 19-an. Kalau saja bisa menemukannya, aku punya bahan untuk menertawakan film ini. Sebuah pikiran yang tampaknya tidak bagus, ya. Hehehe…..

Harus aku akui, Hanung Bramantyo, sang sutradara SANG PENCERAH, sangat jeli untuk menghadirkan setting abad 19 di film ini. Menurutku, untuk sekelas film Indonesia, Hanung sudah sangat berhasil. Apalagi film ini berlatar belakang kota Jogjakarta. Di film ini, suasana Malioboro masih digambarkan sebagai tempat yang masih rimbun dengan pepohonan. Belakangan, aku dapat informasi kalau Hanung harus menyulap Kebun Raya Bogor untuk membangun suasana ini.

Sedangkan untuk ceritanya, menurut aku juga sangat bagus. Apalagi kisahnya tentang KH Ahmad Dahlan yang mencoba mendobrak kekakuan kehidupan orang-orang Islam di Jogjakarta, yang menurutnya, sudah salah. Kelakuan Pak Kiai ini langsung ditentang oleh para kiai Kauman di sana. Ia dan seluruh pengikutnya pun dituduh kafir. Langgar miliknya dihancurkan. Masyarakat menjauhi mereka.

Hanung berhasil menyederhanakan dialog-dialog pemainnya. Padahal, yang dibahas adalah soal agama yang pada kenyataannya penuh dengan perdebatan yang tak pernah tuntas. Bisa jadi, ini bertujuan agar siapapun masyarakat yang menonton film ini, bisa mencernanya dengan enteng tanpa perlu berpikir-pikir sampai lupa memakan popcorn yang sudah dibeli.

Film ini hadir tepat ketika serangkaian peristiwa akibat perbedaan pandangan soal agama, hadir di tengah masyarakat Indonesia. KH Ahmad Dahlan digambarkan sebagai tokoh yang dengan gigih dan cerdas, bisa menyakinkan masyarakat tentang apa itu agama dan bagaimana seharusnya menerapkannya dalam sendi kehidupan. Saat seorang muridnya bertanya pada Sang Pencerah mengenai apa itu agama, KH Ahmad Dahlan menjawabnya dengan bermain biola dengan suara yang begitu merdu. “Itulah agama, yang seharusnya memberikan kesejukan, kedamaian,” katanya pada muridnya.

Film ini harus ditonton oleh orang-orang yang selama ini mengaku mengerti agama, namun malah membuat keonaran. Atas nama agama, mereka merusak tempat ibadah hanya karena menganggap umat di sana sudah melenceng dari ajaran. Atas nama agama, mereka merusak tempat usaha saudara se-imannya karena dituduh menjual miras ada kegiatan maksiat. Atas nama agama juga, mereka menusuk perut saudara sebangsanya sendiri. Mari ajak mereka menonton Sang Pencerah, agar mereka menjadi cerah dalam menjalani hidup mereka.

Kebon Jeruk, 16 September 2010, pukul 15.25 WIB

2 komentar:

  1. Jadi penasaran juga sama film ini, ulasannya bagus bang..

    BalasHapus
  2. terima kasih atas komentarnya, bung anaklaba2... Silahkan liat filmnya deh. Ditunggu komentarnya setelah menonton ya.
    hehehe....

    BalasHapus