Rabu, 20 Oktober 2010

Ting, Deni sudah tidak Ada!

"Ginting, Deni Aminudin ini yang mana sih orangnya?" Begitu seorang kawan bertanya padaku pada hampir dua tahun lalu. Sang kawan ini wajar saja bertanya-tanya. Nama Deni Aminudin memang tiba-tiba saja menjadi akrab di kalangan lulusan SMA 1 TANGERANG angkatan 95, khususnya yang aktif di jaringan Facebook. Tiap hari ia menyapa lewat status-statusnya yang khas. Ia pun rajin mengomentari status kawan-kawan lain. Komentarnya tersebut pun sering menjadi bahan pancingan sehingga teman-teman lain ikut memberikan komen.

Sejak dua tahun lalu, kehadirannya telah memberikan 'kesegaran' baru dalam hubungan antaralumni SMA 1 Tangerang angkatan 95. Sikapnya yang humoris menjadikannya sebagai 'bintang' di sana. Barangkali, sebuah bintang yang fresh yang tiba-tiba saja hadir di tengah-tengah para alumni ini. Padahal, sejak lulus tahun 1995 silam, nama Deni Aminudin tidak termasuk dalam 'lingkaran' pergaulan. Karena itu, wajar saja tidak banyak yang mengenal nama itu.

Aku juga termasuk orang yang baru akrab dengan nama Deni Aminudin sejak aktif di facebook. Aku lupa tepatnya, namun mungkin sejak 2008 akhir lah kami berteman di situs komunitas ini. Kalau tidak salah, Deni duluan yang meminta berteman denganku. Seperti biasa, aku selalu melihat profil orang yang mengajak berteman. Dari fotonya, sepertinya aku tidak mengenal. Dari identitasnya, ia mengaku lulusan SMA 1 Tangerang. Dan, dari daftar mutual friends-nya, seluruhnya adalah teman-teman SMA-ku. Karena itu, aku yakin orang yang bernama Deni Aminudin ini adalah memang teman seangkatan di SMA, walau aku lupa siapa dia.

Waktu terus berjalan dan hampir setiap hari Deni rajin mengomentari statusku maupun status teman-teman SMA yang lain. Terkadang, komentarnya mengundang tawa. Rasanya, jari-jari ini akhirnya juga tergoda untuk menyambung komentarnya itu. Akhirnya, sering kali, terjadi saling berbalas-balasan komentar. Karena aku belum begitu mengenal siapa sebenarnya sosok orang yang bernama Deni Aminudin ini, maka komentarku hanya 'datar-datar' saja. Tapi, yang aku bisa tangkap dari komentar-komentarnya, orang yang bernama Deni ini sepertinya 'asyik'.

Beberapa teman di Facebook juga sempat aku tanya tentang siapa sebenarnya Deni Aminudin ini. Belakangan, aku merasa kalau ternyata tidak hanya aku seorang yang kurang begitu mengenalnya. Pada umumnya mengaku lupa dengan nama Deni Aminudin. Ada yang ingat, tapi hanya sekadar ingat tanpa ada kenangan bersamanya.

Karena masih penasaran, aku akhirnya mencari buku alumni SMA 1 Tangerang di rak bukuku. Dari deretan nama-nama lulusan jurusan Biologi, akhirnya kutemukan ada nama Deni Aminudin. Kulihat pasfoto hitam putih di sana. Kucoba ingat-ingat siapa dia. Biologi 1....mmmm....yang mana gerangan orangnya. Aha....sedikit demi sedikit akhirnya kenanganku saat SMA dulu kembali hadir. Gambaran nama Deni Aminudin pun hadir.

Dalam kenanganku itu, sosok Deni ini hadir sebagai seorang teman SMA yang tidak cukup aktif di pergaulan sesama teman satu angkatan. Ia hanya aktif di teman-teman sekelasnya. Memoriku mulai menayangkan rekaman bagaimana Deni duduk di bangku belakang kelas dan sering menyapa siapa saja saat lewat di depannya, termasuk diriku. Maklum saja, karena jendela kelasnya yang tidak lagi memiliki kaca, maka ia bebas berinteraksi dengan siapa saja melintas.

Jujur aku akui, aku tidak ingat dengan nama Deni Aminudin itu. Bahkan, mungkin pada saat SMA dulu, aku hanya kenal orangnya namun tidak tahu siapa namanya. Yang membuatku bingung juga, dalam kenangangku itu, sosok Deni adalah teman satu SMA dengan postur tubuh yang biasa-biasa saja. Karena itu, ketika melihat foto-foto yang ada di Facebook-nya, aku tidak menemukan sosok seperti yang aku ingat itu. Jadi, wajar saja aku percaya kalau Deni Aminudin ini adalah memang teman SMA-ku hanya berdasarkan mutual friends yang sama diantara kami.

Nama Deni Aminudin pun semakin akrab bagiku karena termasuk friend yang paling rajin membuat status di Facebook. Statusnya dari hal-hal yang ringan sampai hal pribadi yang mungkin tidak ada yang mengerti maksudnya kecuali si pembuatnya sendiri. Ia pun sering mengomentari statusku dengan kata-kata yang ringan namun menggelikan. Dari sana, aku bisa merasakan kalau Deni ini bukan tipe orang yang tertutup, pendiam, pemarah, dan sifat-sifat sekelas lainnya. Aku menilai, ia adalah sosok yang penuh humor dan menjunjung tinggi arti persahabatan.

Kesempatan untuk bertemu langsung dengan orang yang bernama Deni Aminudin ini akhirnya muncul pada 2009. Saat itu adalah bulan puasa, dan Deni menjadi motor penggerak untuk buka bersama bagi alumni SMA 1 Tangerang angkatan 95. Ia aktif mengontak baik lewat Facebook maupun lewat HP. Tempat buka puasa disepakati di D'cost Ocean Park BSD. Jelang buka puasa, aku pun meluncur ke sana bernama Yuliandi Kusuma, teman satu SMA lainnya.

"Den, duduk dimana?" tanyaku pada Deni via telepon ketika sudah berada di depan pintu masuk D'cost.
"Di sini. Di sebelah kanan pintu." jawabnya.

Aku dan Yuliandi pun berjalan masuk dan menatap ke seluruh penjuru ruangan rumah makan itu sambil tetap berkomunikasi dengan Deni via telepon. Sebentar kemudian, aku melihat ada seorang laki-laki yang melambai-lambaikan tangan pada kami. Sosoknya sempat membuatku terkejut. Benarkah itu Deni?

Kami pun segera berjalan menuju meja tempat Deni duduk. Dalam acara buka puasa itu, yang menjadi sentral obrolan adalah Deni. Rupanya bukan hanya aku yang belum pernah lagi bertemu dengan Deni sejak lulus SMA tahun 1995 silam. Semuanya penasaran dengan sosok Deni ini. Yang membuat semua heran adalah bagaimana postur tubuh Deni yang berubah drastis dari yang biasa-biasa saja saat SMA, menjadi 'tidak biasa' pada hari ini. Deni pun menjawab setiap pertanyaan kami dengan canda.

Malam itu begitu berkesan sampai akhir perjumpaan. Canda tawa selalu menyertai. Apalagi saat sesi foto-foto di halaman D'cost. Semua saling rebutan untuk berfoto dengan Deni. Atiek dan Ajrenk begitu puas menggoda Deni. Yang menarik lagi, Deni pun bisa menangkis setiap godaan itu lewat celetukan-celetukannya. Pokoknya, Deni menjadi bintang malam itu.

Pertemuan malam itu menjadi bekal untuk menambah keakraban dengan Deni di hari-hari berikutnya. Apalagi, foto-foto buka puasa itu di-posting di Facebook. Saling berbalas komentar terjadi dalam beberapa hari. Lagi-lagi, Deni menjadi topik pembicaraan. Dan, lagi-lagi pula, Deni mampu membalas setiap komentar dengan celetukan yang segar. Walau mungkin ada komentar yang tidak enak, namun Deni sepertinya tidak mempermasalahkannya. Ia tetap membalasnya dengan ceria.

Karena sosok Deni ini sudah semakin akrab pasca acara buka puasa itu, maka 'ritual' saling memberikan komentar di status Facebook pun bertambah ramai. Deni masih rajin membuat status di saat teman-teman lain justru semakin jarang membuatnya. Deni pun tetap rajin mengomentari status teman-teman lain. Walau Deni yang paling sering jadi bahan ledekan, namun ia tetap 'santai' menanggapinya. Ia membalas komentar itu dengan ledekan juga. Kalaupun ia akhirnya tersudut dalam acara ceng-cengan itu, Dani paling hanya berkomentar singkat, 'hehehehe' atau 'bisa aja lu'.

Sosok ramah, supel, dan humoris yang dimiliki Deni kembali terlihat saat acara halal-bihalal di sebuah rumah makan di Gading Serpong tahun lalu dan acara buka puasa di Lippo Karawaci, September 2010 lalu. Tampaknya semua teman-teman sangat menyukai pribadi Deni yang sangat friendly ini. Suasana akan semakin semarak dimana Deni hadir di situ. Canda tawa dipastikan selalu mewarnainya.

Deni benar-benar telah memberikan suasana baru di tengah-tengah akraban para alumni SMA 1 Tangerang angkatan 95. Boleh dikatakan, ia telah menjadi ikon. Ya..., sebuah ikon yang tiba-tiba saja hadir setelah mungkin 13 tahun nama Deni Aminudin tidak pernah berkibar dalam kancah 'pergaulan' alumni SMA 1 Tangerang angkatan 95.

Minggu, 17 Oktober 2010, sebuah status di Facebook menyebut kalau Deni sedang dirawat di RS Sari Asih, Tangerang. Deni dirawat di ruang ICU karena terkena demam berdarah. Kondisinya dikabarkan sudah kritis dan tidak mampu lagi mengenali keluarganya. Fungsi beberapa organ tubuhnya pun sudah terganggu.

"Ting, Deni sudah tidak ada," kata Nanto, seorang kawan, pada Senin sekitar pukul 17.00 WIB. Aku terkejut. Aku lemas. Aku tidak percaya. Padahal, sekitar lima jam sebelumnya aku masih melihat Deni di ruang ICU. Saat itu, kondisinya memang masih kritis. Ia tidak sadarkan diri dan hanya bisa menggerak-gerakkan kepala. Aku sempat menyentuh kaki kanannya, dan Deni sepertinya memberikan respons. Tiba-tiba saja kaki kanannya seperti digerakkan.

Kini, sahabat itu telah pergi selama-lamanya....
Selengkapnya...

Kamis, 14 Oktober 2010

Timur Pradopo Kapolri Keberapa?

Timur Pradopo duduk sendirian di deretan bangku-bangku itu. Sebuah monitor komputer ada di sisi kanannya. Sedangkan di sisi kirinya terdapat sebuah laptop. Secara serius, ia mendengarkan satu-persatu pertanyaan yang dilontarkan oleh para anggota Komisi III DPR RI. Sebentar kemudian, ia pun menjawab semua pertanyaan itu. Si penanya puas dan akhirnya Timur pun lolos menjadi Kapolri baru, untuk menggantikan Bambang Hendarso Danuri yang bulan ini sudah harus pensiun.

Dari mukanya, anggota polisi berbintang 3 ini sepertinya murah senyum dan ceria selalu. Bahkan, dalam setiap kesempatan muncul di layar kaca, senyum itu sangat mudah terlihat. Namun, selama hampir tiga jam mengikuti 'ujian' di ruang Komisi III ini, aku sangat jarang menikmati senyum itu. Apakah sang calon kapolri pilihan Mister SBY ini sedang tegang, ataukah alasan lain, aku sendiri tidak mendapatkan jawabannya.

Yang pasti, Timur Pradopo lolos 'ujian' ini. Ia pun segera naik pangkat menjadi jenderal berbintang empat. Kalau tidak ada halangan, mantan Kapolda Jawa Barat dan Kapolda Metro Jaya ini, akan dilantik menjadi kapolri pada akhir Oktober ini.

Sebenarnya nama Timur Pradopo tidak muncul tiba-tiba dalam bursa calon kapolri. Memang, namanya muncul belakangan dan orang sering menyebutnya sebagai kuda hitam akibat kebuntuan dalam pencaloan nama Nanan Soekarna dan Iman Soejarwo. Tapi, sekali lagi, sejak awal, nama Timur Pradopo memang sudah menggema.

Nama mantan Kapolres Jakarta Barat dalam peristiwa Tragedi Trisakti 98 ini, sejak awal diprediksi sebagai salah satu dari tiga calon kapolri. Dua nama lainnya adalah Nanan Soekarna dan Oegroeseno. Silahkan baca tulisan saya berjudul Kapolri Pengganti Bambang Hendarso Danuri yang saya posting tanggal 13 Juni 2010 lalu.

Dalam tulisan saya itu, Timur Pradopo memang saya sebut punya kans lebih kecil daripada Oegroeseno maupun Nanan Soekarna. Pasalnya, Timur baru saja mendapatkan promosi sebagai Kapolda Metro Jaya. Saat itu, saya memperkirakan Oegro-lah yang akan dipromosikan menjadi bintang 3 sebagai Kababinkam. Namun, ternyata Timur-lah yang menempati posisi itu.

Selamat untuk Pak Timur Pradopo. Selamat Bertugas, Jenderal!!!!!
Selengkapnya...

Rabu, 13 Oktober 2010

Liburan ke Citra Raya

Ada salah satu ide yang sangat ingin aku kerjakan saat sedang menikmati hari libur. Yakni, 'liburan' ke Citra Raya. Itu lho, kawasan perumahan milik konglomerat Ciputra yang berada di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Aku penasaran bagaimana kondisi kawasan itu sekarang ini. Sepertinya, hanya Citra Raya yang gaungnya kurang 'keras' dalam kompetisi kawasan perumahan berlahan luas di seputaran Tangerang. Mmmmm....benarkah demikian?

Akhirnya, ide yang mungkin dianggap aneh oleh sebagian orang itu, bisa aku laksanakan hari Selasa ini. "Gue lupa kalo jadwal wartawan emang ga jelas. Gw pikir, lo bilang mau liburan ke Citra Raya itu, pasti pas hari libur seperti hari minggu," kata seorang kawan yang memang tinggal di kawasan itu. Beberapa hari sebelumnya, aku memang sempat mengatakan padanya ingin jalan-jalan ke Citra Raya.

Selama tiga jam aku mengelilingi seluruh kawasan Citra Raya. Seluruh kondisinya aku perhatikan. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan oleh kawan yang tinggal di kawasan yang memilih ikon 'kota Nuansa Seni' ini. Citra Raya kini sudah ramai. Padahal, beberapa tahun lalu, setahu aku, kawasan ini masih sepi dan hanya ramai oleh lalu-lalang penduduk kampung sekitar. Terlebih lagi di kawasan danau yang sepertinya menjadi tempat rekreasi murah-meriah.

Tapi itu dulu. Sekarang kawasan ini memang sudah ramai oleh penduduknya sendiri. Pertokoan di sekitar gerbang utama tampak sudah dibanjiri oleh bermacam-macam barang dagangan. Hanya bank yang sepertinya masih sedikit membuka cabang di sini. Aneka makanan dan keperluan sehari-hari ada di sini.

Dan, tampaknya dalam tahun-tahun mendatang, kawasan ini dipastikan akan semakin ramai. Pengembang Citra Raya terus membangun cluster-cluster baru dan pusat pertokoan. Hasil 'liburan' hari ini, tampak ada sekitar lima cluster yang sedang dikerjakan. Keempatnya berada di cluster Waterpoint, Graha Pratama, Park View, Chrysant, dan Green Vista. Yang paling menarik mungkin Waterpoint. Tampaknya cluster ini memang diperuntukkan bagi menengah atas. Harganya di atas 400 jutaan. Suasananya juga lebih oke dengan penataan taman yang indah dan adanya fasilitas sport center.

Aku tertarik dengan cluster Green Vista dan Graha Pratama yang harganya sekitar Rp 160 jutaan. Menurut aku, harga seperti itu masih tergolong murah untuk kondisi yang diberikan. Rumah dibangun dengan bata merah, rangka baja ringan, dan lokasinya masih berada di depan. Mmm.... bisa ga ya aku bisa memiliki satu rumah di sana? Hehehe...

Sepertinya Citra Raya memang mengambil posisi sebagai penyedia rumah yang dijual dengan harga Rp 200 jutaan. Padahal, pengembang besar di sekitarnya kini sudah tidak menyiadakan lagi rumah dengan harga segitu. Mulai dari BSD City, Lippo Karawaci, Summarecon, Alam Sutra, atau yang lainnya, tidak lagi menjual rumah di bawah Rp 300 juta. Rata-rata rumah termurah di sana mungkin di atas Rp 400 jutaan.

Memang, lokasi Citra Raya paling jauh diantara semuanya. Tapi, bukan kah itu sudah menjadi ciri dari group Ciputra? Mereka terbiasa untuk membangun kota baru yang memang jauh dari kota yang sudah ada. Strategi seperti ini membuat mereka bisa membeli lahan murah dan membangunnnya menjadi kota baru dalam jangka waktu puluhan tahun. Karena itu, kata orang, membeli properti milik ciputra sangat bagus untuk jangka panjang.

Apalagi, dengan luas lahan mencapai 1000 hektar di Cikupa Tangerang, Citra Raya sepertinya bisa berbuat apa saja di sana. Kalau sekarang hanya menjual rumah dengan harga 200 jutaan, maka pasti dua-tiga tahun lagi harga rumah baru di sana sudah di atas 400 jutaan. Harga tanah juga meningkat tajam di sana. Tahun 2000an lalu, tanah semeter baru sekitar 200 ribuan. Tahun 2005an menjadi 500 ribuan. "Dan, harga tanah sekarang mencapai Rp 1 jutaan per meter," kata kawan yang tinggal di sana tadi.

Ah, kenapa aku dari tadi memuji Citra Raya saja ya? Apa karena aku memang tertarik sekali dengan rumah di Cluster Green Vista tadi? Hahaha.....
Selengkapnya...

Kamis, 07 Oktober 2010

Pergulatan 30 Tahun Membesarkan Toko Roti Majestyk

Toko roti asli Medan ini tetap eksis di tengah gempuran toko roti modern saat ini. Kondisinya makin berkembang di tangan generasi kedua. Bagaimana Anderson Nyam membesarkannya?

“Majestyk Bakery & Cake Shop asli Medan, Bung!” kata seorang pria Medan yang sudah lama tinggal di Jakarta bangga. Ya, Majestyk Bakery & Cake Shop yang sudah tersebar di beberapa lokasi di Jakarta memang salah satu kebanggaan warga Medan. Di Ibukota Sumatera Utara itu, namanya sangat dikenal dan telah menjadi identitas kota itu.

Kekuatan itu bisa dimengerti karena Majestyk sudah lebih dari 30 tahun melayani pelanggannya. Eksis sejak 1976 sebagai toko yang menjual aneka roti, kue dan susu, awalnya namanya bukan Majestyk. Ketika itu, Farida Auw dan suaminya cuma mendirikan toko kelontong kecil-kecilan di pinggir jalan. Di tempat yang sama, mereka juga membuat serta menjual roti dan kue.

Barulah pada 1984, ketika Anderson Njam mengambil alih bisnis orang tuanya, dilakukan perubahan besar-besaran, termasuk mengganti nama. Anderson yang waktu itu berusia 18 tahun bersama orang tuanya nekat melakukan perombakan menyeluruh, mulai dari mengubah sistem pengelolaan agar lebih profesional, mengganti mesin produksi dengan yang lebih modern, menambah jenis produk yang diperdagangkan, hingga menggunakan nama dagang baru: Majestyk. “Majestyk berarti kebesaran, seperti kerajaan. Mudah-mudahan seperti itu,” ucap Anderson.

Keberanian Anderson mengambil alih bisnis roti orang tuanya tersebut tentu bukan sekadar bermodal nekat. Kebetulan, ia berminat menekuni bisnis roti dan punya keahlian membuat kue. Maklum, sejak kecil ia sudah diperkenalkan dengan bisnis roti oleh orang tuanya. Bahkan, setiap liburan sekolah ia selalu bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko. Selain mendapatkan tambahan uang saku, ia juga memperoleh pengetahuan tentang cara membuat roti dan cara berkomunikasi yang baik dengan konsumen.

Dengan semangat kuat ingin mengembangkan bisnis roti yang dirintis orang tuanya, Anderson pun membeli ruko di Jl. Gatot Subroto, Medan. Dari sinilah toko roti Majestyk mulai dikembangkan secara lebih serius, profesional dan modern.

Sistem manajemen yang lebih profesional diterapkan Anderson guna mengembangkan Majestyk. Berbeda dari orang tuanya, dalam menjalankan bisnis ia menanamkan prinsip “tidak boleh ada campur tangan anggota keluarga”. Artinya, jika suami terlibat, istri tidak boleh turut campur. Demikian pula sebaliknya. Hal ini untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan. Ia pun menerapkan sistem pendelegasian wewenang ke setiap departemen. “Sekarang tidak lagi one man show. Dengan perubahan ini, sudah ada delegasi untuk setiap tanggung jawab ke setiap departemennya,” Anderson menjelaskan.

Modernisasi dilakukan pula terhadap mesin produksi. Sebelumnya hampir 80% pengerjaan roti dilakukan secara manual (dengan tangan), sedangkan kini peran mesin mencapai 60%. “Hal ini terjadi karena sudah ada sebagian mesin yang lebih canggih dan otomatis,” kata Anderson. “Tetapi, base-nya dengan arah tradisional. Jadi, peran manusia masih tetap penting dalam produksinya.”

Kendati begitu, perubahan mesin dilakukan sesuai dengan keinginannya. Anderson biasa mengubah sendiri setingan alat itu untuk mendapatkan rasa produk yang sesuai dengan keinginannya. Jadi, ketika membeli mesin, ia tidak langsung menggunakannya, tetapi terlebih dulu dilakukan pengesetan sesuai dengan keinginannya. “Beberapa orang membuat dengan menggunakan machinery seperti tunnel oven, tetapi kualitasnya bisa berbeda. Karena itu, saya sesuaikan sendiri,” katanya memberi alasan.

Menurut Anderson, peralihan produksi dari manusia ke mesin memang sangat signifikan dalam hal peningkatan produksi. Misalnya, satu orang dalam satu jam hanya bisa memproduksi 9 loyang kue legit. Sementara lima orang yang bekerja dengan menggunakan mesin bisa memproduksi 360 loyang kue.

Selain menerapkan sistem manajemen terkontrol dan modernisasi mesin produksi, Anderson pun menstandardisasi mutu dan kualitas. Ini dilakukan seiring dengan bertambahnya cabang Majestyk, sehingga perlu adanya standardisasi mutu dan rasa di setiap cabang. Untuk itu, ia menerapkan sistem premix, yaitu dengan pembagian central purchasing dan central mix. Ini merupakan sentralisasi pembelian bahan baku dan pencampuran bahan baku sebelum dibuat

menjadi kue jadi. “Untuk purchasing saya menerapkan pembelian satu macam produk untuk produksi. Tidak bisa dibuat main-main. Jadi, misalnya, saya bilang di Jakarta belinya segini, di Medan beda lagi, tidak bisa. Jadi, pembeliannya satu sentral.”

Namun, walaupun pembelian dan pencampuran bahannya tersentral, tidak semua produksi kue dilakukan secara terpusat. Beberapa produksi bisa dilakukan di cabang. Untuk pengaturan pembuatannya, Anderson memberikan bagian-bagian yang khusus untuk kontrol mutu dan trial buat produksi kuenya. “Beberapa produksi di cabang ditentukan kapasitas buyers-nya. Maka, ada yang produksi sedikit, ada yang banyak,” katanya.

Sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan bisnis pun tak luput dari pembenahan. Misalnya, guna meningkatkan kinerja dan pengetahuan karyawannya, Anderson kerap mengirim mereka untuk mengikuti pelatihan atau event di luar negeri, antara lain pelatihan produksi. Pengiriman itu bukan hanya untuk peningkatan wawasan di bidang produksi roti, tetapi juga wawasan bisnis. Menurutnya, hal itu berkaitan erat karena tanpa sisi bisnis, pembuatan roti tidak akan berjalan baik.

Namun, pengiriman pelatihan karyawan tersebut hanya dikhususkan pada manajemen produksi dan pemasaran, tidak mencakup bagian administrasi. Pengiriman karyawan juga ditujukan untuk melihat perkembangan pasar kue di luar negeri. “Setiap negara seperti Malaysia, Hong Kong, Singapura dan Filipina kan tempatnya lain. Jadi, tidak melulu melihat dari bisnis roti saja, tetapi juga melihat perkembangan makanan secara keseluruhan. Nanti dari situ baru melihat aplikasi apa yang bisa diterapkan untuk bakery,” ujar Anderson sembari tersenyum.

Tak hanya itu. Sejak 2005 Anderson mengikutsertakan pegawainya di level manajemen produksi, operasional dan administrasi untuk ikut memiliki perusahaan dengan sistem pembagian saham. Pria kelahiran 1966 yang belakangan memasuki bisnis properti khusus RSS ini juga menawarkan rumah kepada karyawannya yang belum memiliki rumah. Mereka diberi subsidi uang muka dan keringanan mencicil. “Prinsip saya, jika karyawan makmur, sebagai atasan juga akan semakin makmur.”

Di luar itu, inovasi produk terus dilakukan. Setiap bulan sekitar empat jenis roti baru diperkenalkan. Kini, Majestyk memiliki ratusan jenis roti dan kue. Anderson pun sangat memperhatikan sensitivitas pembeli terhadap harga, sehingga harga kue dan rotinya pun sangat terjangkau, mulai dari Rp 1.500/potong hingga ratusan ribu. Harga yang dipatok sama di setiap gerai.

Berkat kerja keras dan kegigihan Anderson, kini Majestyk menjadi salah satu ikon Kota Medan. Didukung sekitar 500 karyawan, yang kebanyakan sudah bertahan puluhan tahun, kini Majestyk memiliki 41 gerai yang tersebar di Sumatera dan Jawa. Produktivitas Majestyk ditopang dua pabrik besarnya yang mempunyai kapasitas produksi 3.000 ton per jam. Juga, didukung beberapa pabrik kecil yang memiliki kapasitas kerja dan sistem distribusi berbeda. “Tahun ini kami targetkan jumlah outlet Majestyk mencapai 50. Saat ini kami juga sedang mempersiapkan sistem franchise,” ujar Anderson.

Selain itu, untuk menghadapi persaingan yang kian sengit, Majestyk telah mempersiapkan sistem integrasi terpadu sejak dua tahun lalu. Kini mereka memiliki kandang ayam sendiri yang mampu menyuplai kebutuhan telur, dan kebun buah untuk kebutuhan pembuatan aneka selai. Lalu, untuk memelihara loyalitas pelanggan, Majestyk juga menawarkan club member bagi pelanggan setia. Setiap tahun, pihak toko menyelenggarakan member gathering untuk melayani konsumen. “Dengan terus melakukan inovasi dan perbaikan di semua bidang, Majestyk mampu bertahan hingga sekarang,” ungkap ayah Tommy, Evelyn dan Andrew ini bangga.

Kendati begitu, diakui Anderson, tidak berarti upaya pengembangan Majestyk yang dilakukannya selalu berjalan mulus. Cukup banyak liku-liku yang dihadapi hingga Majestyk bisa seperti sekarang. Misalnya, ketika akan mengembangkan bisnis, ia mesti menjual rumah dan mobil demi menambah modal kerja. Itu terjadi pada 1987, ketika ia ingin membeli ruko yang ada di sebelah ruko pertamanya. “Setelah semua dijual, yang tersisa hanya satu unit sepeda motor untuk transportasi, dan itu masih ada di garasi hingga sekarang,” kata Anderson sambil tertawa.

Hal serupa juga dialaminya menjelang masa krisis 1998. Anderson mengakui saat itu merupakan masa tersulit yang harus dilaluinya. Menurunnya omset penjualan, karena berkurangnya pembeli, menyebabkan Majestyk hampir bangkrut. Namun, ia memutuskan tetap bertahan, tidak menutup usahanya. Salah satu cara yang dilakukannya adalah menjual aset. Ketika itu, ia menilai lebih aman memegang dana tunai untuk persiapan modal daripada menyimpan aset nonproduktif. Maka, ia menjual rumah dan mobil, kecuali rumah tinggal dan toko. Dan, dengan tambahan modal itu, pada 1999 ia mulai menambah gerai. “Momen 1998 saya pandang tepat saat itu karena saat orang mulai susah berbisnis, Majestyk justru merasa itu peluang emas untuk merebut pasar,” ujarnya bangga.

Menurutnya, pelajaran yang harus diingat dalam mengembangkan bisnis adalah jangan pernah memikirkan profit dulu, tetapi kembangkanlah profesionalitas. “Kebanyakan orang hanya

berpikir seperti itu. Seharusnya dikembangkan profesionalitasnya, nanti profit akan mengikuti,” ungkap Anderson. “Tentu saja masalah akan selalu ada, tetapi jangan sampai patah semangat. Problem is always a problem if you see as a problem, but if you can solve the problem you can finish that problem,” tambahnya mengingatkan.

Kepiawaian Anderson dalam mengelola dan mengembangkan Majestyk ini diakui ahli kewirausahaan Cahyo Pramono. Menurut Cahyo, karakter kewirausahaan Anderson adalah karakter berpola umum yang terjadi di Indonesia dalam tiga dasawarsa terakhir. “Ciri-cirinya, pertama, ada kenekatan karena faktor desakan, baik keluarga, ekonomi atau alasan lain. Kedua, mengandalkan kekuatan mental yang tinggi karena hampir tidak mendapat dukungan dari pihak luar. Ketiga, mewarisi gaya tertentu dari pendahulunya minimal pemahaman bahwa uang tidak datang begitu saja. Keempat, mulai mengenal inovasi. Dan kelima, mulai mencoba manajemen Barat walau kadang hanya kulitnya,” papar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara itu.

Cahyo menambahkan, era Anderson adalah era peralihan yang cukup berat dalam hal SDM. Pada pertengahan era tersebut muncul tantangan, jika ingin berkembang menjadi lebih banyak atau lebih besar, harus melibatkan banyak orang dan belajar memercayai orang. Karena itu, delegasi menjadi suatu keharusan. Di sinilah terjadi perubahan gaya, tidak lagi gaya one man show yang dulu menjadi budaya tunggal dalam alam bisnis di Medan umumnya.

Penilaian senada dikemukakan Sumarni, Kepala Pemasaran Majestyk. Menurut wanita yang bergabung dengan Majestyk sejak 1987 ini, bosnya merupakan orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. “Pak Anderson selalu penuh keyakinan dalam mengerjakan sesuatu. Di samping itu, dia juga mempunyai semangat yang tinggi dalam mewujudkan keinginannya,” kata Sumarni memuji. ”Selain tekun dalam bekerja, Pak Anderson juga orang yang loyal dan mempunyai rasa sosial tinggi, baik terhadap karyawan maupun pelanggannya,” tambahnya.

Sumber: Majalah SWA edisi September 2010
Selengkapnya...