Rabu, 20 Oktober 2010

Ting, Deni sudah tidak Ada!

"Ginting, Deni Aminudin ini yang mana sih orangnya?" Begitu seorang kawan bertanya padaku pada hampir dua tahun lalu. Sang kawan ini wajar saja bertanya-tanya. Nama Deni Aminudin memang tiba-tiba saja menjadi akrab di kalangan lulusan SMA 1 TANGERANG angkatan 95, khususnya yang aktif di jaringan Facebook. Tiap hari ia menyapa lewat status-statusnya yang khas. Ia pun rajin mengomentari status kawan-kawan lain. Komentarnya tersebut pun sering menjadi bahan pancingan sehingga teman-teman lain ikut memberikan komen.

Sejak dua tahun lalu, kehadirannya telah memberikan 'kesegaran' baru dalam hubungan antaralumni SMA 1 Tangerang angkatan 95. Sikapnya yang humoris menjadikannya sebagai 'bintang' di sana. Barangkali, sebuah bintang yang fresh yang tiba-tiba saja hadir di tengah-tengah para alumni ini. Padahal, sejak lulus tahun 1995 silam, nama Deni Aminudin tidak termasuk dalam 'lingkaran' pergaulan. Karena itu, wajar saja tidak banyak yang mengenal nama itu.

Aku juga termasuk orang yang baru akrab dengan nama Deni Aminudin sejak aktif di facebook. Aku lupa tepatnya, namun mungkin sejak 2008 akhir lah kami berteman di situs komunitas ini. Kalau tidak salah, Deni duluan yang meminta berteman denganku. Seperti biasa, aku selalu melihat profil orang yang mengajak berteman. Dari fotonya, sepertinya aku tidak mengenal. Dari identitasnya, ia mengaku lulusan SMA 1 Tangerang. Dan, dari daftar mutual friends-nya, seluruhnya adalah teman-teman SMA-ku. Karena itu, aku yakin orang yang bernama Deni Aminudin ini adalah memang teman seangkatan di SMA, walau aku lupa siapa dia.

Waktu terus berjalan dan hampir setiap hari Deni rajin mengomentari statusku maupun status teman-teman SMA yang lain. Terkadang, komentarnya mengundang tawa. Rasanya, jari-jari ini akhirnya juga tergoda untuk menyambung komentarnya itu. Akhirnya, sering kali, terjadi saling berbalas-balasan komentar. Karena aku belum begitu mengenal siapa sebenarnya sosok orang yang bernama Deni Aminudin ini, maka komentarku hanya 'datar-datar' saja. Tapi, yang aku bisa tangkap dari komentar-komentarnya, orang yang bernama Deni ini sepertinya 'asyik'.

Beberapa teman di Facebook juga sempat aku tanya tentang siapa sebenarnya Deni Aminudin ini. Belakangan, aku merasa kalau ternyata tidak hanya aku seorang yang kurang begitu mengenalnya. Pada umumnya mengaku lupa dengan nama Deni Aminudin. Ada yang ingat, tapi hanya sekadar ingat tanpa ada kenangan bersamanya.

Karena masih penasaran, aku akhirnya mencari buku alumni SMA 1 Tangerang di rak bukuku. Dari deretan nama-nama lulusan jurusan Biologi, akhirnya kutemukan ada nama Deni Aminudin. Kulihat pasfoto hitam putih di sana. Kucoba ingat-ingat siapa dia. Biologi 1....mmmm....yang mana gerangan orangnya. Aha....sedikit demi sedikit akhirnya kenanganku saat SMA dulu kembali hadir. Gambaran nama Deni Aminudin pun hadir.

Dalam kenanganku itu, sosok Deni ini hadir sebagai seorang teman SMA yang tidak cukup aktif di pergaulan sesama teman satu angkatan. Ia hanya aktif di teman-teman sekelasnya. Memoriku mulai menayangkan rekaman bagaimana Deni duduk di bangku belakang kelas dan sering menyapa siapa saja saat lewat di depannya, termasuk diriku. Maklum saja, karena jendela kelasnya yang tidak lagi memiliki kaca, maka ia bebas berinteraksi dengan siapa saja melintas.

Jujur aku akui, aku tidak ingat dengan nama Deni Aminudin itu. Bahkan, mungkin pada saat SMA dulu, aku hanya kenal orangnya namun tidak tahu siapa namanya. Yang membuatku bingung juga, dalam kenangangku itu, sosok Deni adalah teman satu SMA dengan postur tubuh yang biasa-biasa saja. Karena itu, ketika melihat foto-foto yang ada di Facebook-nya, aku tidak menemukan sosok seperti yang aku ingat itu. Jadi, wajar saja aku percaya kalau Deni Aminudin ini adalah memang teman SMA-ku hanya berdasarkan mutual friends yang sama diantara kami.

Nama Deni Aminudin pun semakin akrab bagiku karena termasuk friend yang paling rajin membuat status di Facebook. Statusnya dari hal-hal yang ringan sampai hal pribadi yang mungkin tidak ada yang mengerti maksudnya kecuali si pembuatnya sendiri. Ia pun sering mengomentari statusku dengan kata-kata yang ringan namun menggelikan. Dari sana, aku bisa merasakan kalau Deni ini bukan tipe orang yang tertutup, pendiam, pemarah, dan sifat-sifat sekelas lainnya. Aku menilai, ia adalah sosok yang penuh humor dan menjunjung tinggi arti persahabatan.

Kesempatan untuk bertemu langsung dengan orang yang bernama Deni Aminudin ini akhirnya muncul pada 2009. Saat itu adalah bulan puasa, dan Deni menjadi motor penggerak untuk buka bersama bagi alumni SMA 1 Tangerang angkatan 95. Ia aktif mengontak baik lewat Facebook maupun lewat HP. Tempat buka puasa disepakati di D'cost Ocean Park BSD. Jelang buka puasa, aku pun meluncur ke sana bernama Yuliandi Kusuma, teman satu SMA lainnya.

"Den, duduk dimana?" tanyaku pada Deni via telepon ketika sudah berada di depan pintu masuk D'cost.
"Di sini. Di sebelah kanan pintu." jawabnya.

Aku dan Yuliandi pun berjalan masuk dan menatap ke seluruh penjuru ruangan rumah makan itu sambil tetap berkomunikasi dengan Deni via telepon. Sebentar kemudian, aku melihat ada seorang laki-laki yang melambai-lambaikan tangan pada kami. Sosoknya sempat membuatku terkejut. Benarkah itu Deni?

Kami pun segera berjalan menuju meja tempat Deni duduk. Dalam acara buka puasa itu, yang menjadi sentral obrolan adalah Deni. Rupanya bukan hanya aku yang belum pernah lagi bertemu dengan Deni sejak lulus SMA tahun 1995 silam. Semuanya penasaran dengan sosok Deni ini. Yang membuat semua heran adalah bagaimana postur tubuh Deni yang berubah drastis dari yang biasa-biasa saja saat SMA, menjadi 'tidak biasa' pada hari ini. Deni pun menjawab setiap pertanyaan kami dengan canda.

Malam itu begitu berkesan sampai akhir perjumpaan. Canda tawa selalu menyertai. Apalagi saat sesi foto-foto di halaman D'cost. Semua saling rebutan untuk berfoto dengan Deni. Atiek dan Ajrenk begitu puas menggoda Deni. Yang menarik lagi, Deni pun bisa menangkis setiap godaan itu lewat celetukan-celetukannya. Pokoknya, Deni menjadi bintang malam itu.

Pertemuan malam itu menjadi bekal untuk menambah keakraban dengan Deni di hari-hari berikutnya. Apalagi, foto-foto buka puasa itu di-posting di Facebook. Saling berbalas komentar terjadi dalam beberapa hari. Lagi-lagi, Deni menjadi topik pembicaraan. Dan, lagi-lagi pula, Deni mampu membalas setiap komentar dengan celetukan yang segar. Walau mungkin ada komentar yang tidak enak, namun Deni sepertinya tidak mempermasalahkannya. Ia tetap membalasnya dengan ceria.

Karena sosok Deni ini sudah semakin akrab pasca acara buka puasa itu, maka 'ritual' saling memberikan komentar di status Facebook pun bertambah ramai. Deni masih rajin membuat status di saat teman-teman lain justru semakin jarang membuatnya. Deni pun tetap rajin mengomentari status teman-teman lain. Walau Deni yang paling sering jadi bahan ledekan, namun ia tetap 'santai' menanggapinya. Ia membalas komentar itu dengan ledekan juga. Kalaupun ia akhirnya tersudut dalam acara ceng-cengan itu, Dani paling hanya berkomentar singkat, 'hehehehe' atau 'bisa aja lu'.

Sosok ramah, supel, dan humoris yang dimiliki Deni kembali terlihat saat acara halal-bihalal di sebuah rumah makan di Gading Serpong tahun lalu dan acara buka puasa di Lippo Karawaci, September 2010 lalu. Tampaknya semua teman-teman sangat menyukai pribadi Deni yang sangat friendly ini. Suasana akan semakin semarak dimana Deni hadir di situ. Canda tawa dipastikan selalu mewarnainya.

Deni benar-benar telah memberikan suasana baru di tengah-tengah akraban para alumni SMA 1 Tangerang angkatan 95. Boleh dikatakan, ia telah menjadi ikon. Ya..., sebuah ikon yang tiba-tiba saja hadir setelah mungkin 13 tahun nama Deni Aminudin tidak pernah berkibar dalam kancah 'pergaulan' alumni SMA 1 Tangerang angkatan 95.

Minggu, 17 Oktober 2010, sebuah status di Facebook menyebut kalau Deni sedang dirawat di RS Sari Asih, Tangerang. Deni dirawat di ruang ICU karena terkena demam berdarah. Kondisinya dikabarkan sudah kritis dan tidak mampu lagi mengenali keluarganya. Fungsi beberapa organ tubuhnya pun sudah terganggu.

"Ting, Deni sudah tidak ada," kata Nanto, seorang kawan, pada Senin sekitar pukul 17.00 WIB. Aku terkejut. Aku lemas. Aku tidak percaya. Padahal, sekitar lima jam sebelumnya aku masih melihat Deni di ruang ICU. Saat itu, kondisinya memang masih kritis. Ia tidak sadarkan diri dan hanya bisa menggerak-gerakkan kepala. Aku sempat menyentuh kaki kanannya, dan Deni sepertinya memberikan respons. Tiba-tiba saja kaki kanannya seperti digerakkan.

Kini, sahabat itu telah pergi selama-lamanya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar