Rabu, 30 Maret 2011

Negara Muslim Terbesar & Film Porno

Saya tergelitik dengan sebuah kalimat yang ada di situs gothamist.com, itu lho, sebuah blog yang khusus membahas mengenai segala hal di kota New York. Bunyi kalimatnya begini, 'Indonesia may be a very Muslim nation but its citizens love seeing porn stars in horror movies'.

Kalimat itu kalau dibahasaindonesiakan kira-kira menjadi ‘Indonesia mungkin sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar, namun penduduknya suka melihat bintang-bintang film porno yang ada di film-film horor’. Bagaimana, Anda tergelitik juga dengan kalimatnya tersebut?

Silahkan Anda klik blog gothamist.com untuk membaca sendiri kalimat yang saya kutip tadi. Rupanya, blog yang dikelola oleh Jake Dobkin itu, membuat kalimat itu berdasarkan sebuah artikel di situs The New York Times mengenai bintang film porno Jepang, Sora Aoi, yang akan bermain di sebuah film horor di Indonesia.

Saya sendiri tidak bisa membaca secara lengkap berita di The New York Times tersebut karena begitu saya klik dari gothamist.com, tampilan yang muncul hanya seperempat layar komputer. Dan, di layar muncul tulisan This page has been blocked by WinRoute Firewall ! Walah, rupanya saya telah terkena sensor situs-situs yang berbau pornografi. Heran juga ya. Padahal, saya hanya membaca sebuah artikel berita yang kebetulan membahas mengenai seorang bintang film porno. Kok, itu pun terkena sensor ya.

Saya juga baru tahu ada bintang film porno asal Jepang yang bernama Sora Aoi. Saking penasarannya, saya akhirnya bertanya ke Google tentang perempuan ini. Jawaban dari Google akhirnya membuat saya tersenyum geli. Rupanya nama Sora Aoi memang sudah begitu beken bagi Google. Begitu banyak artikel tentangnya, dan begitu banyak juga foto-fotonya. Mmm….rupanya
ini toh bintang film porno asal Jepang itu. Maklum, saya bukan pengkoleksi film-film blue film atau oleh beberapa media online disebut AV atau adult video (kabarnya agar tidak tersensor oleh mesin pensensor di dunia maya).

Kalau Anda penasa
rannya, saya pilihkan beberapa fotonya untuk Anda yang saya comot dari Google:



Tampaknya Sora Aoi bukan bintang film dewasa asal Jepang yang pertama main film di Indonesia. Kalau saya tidak salah, sebelumnya sudah ada nama lain, yakni Miyabi dan Rin Sakuragi.

Entah kenapa, para produser film di Indonesia kok sangat doyan ya menggunakan bintang film porno impor. Apa Indonesia kekurangan artis ya? Mmm…rasa-rasanya tidak juga. Atau, mungkin kehabisan artis yang mau berseksi-seksi ria di film? Ah, rasanya tidak juga. Atau, bayaran artis impor lebih murah? Tidak mungkin juga. Yang namanya barang impor sudah tentu bayarannya lebih tinggi daripada barang lokal. Jepang tidak mungkin melakukan dumping terhadap artis-artis film impor mereka.

Sora Aoi akan main di film ‘Suster Keramas 2’ yang diproduksi oleh Maxima Picture. "Yang pasti dia (Sola) lebih malah daripada Miyabi, Rin, Erika," ucap sang produser Ody Mulya Hidayat kepada detikhot belum lama ini.

Ody pun mengungkapkan alasan kenapa Maxima untuk menggandeng Sola yang kini berusia 27 tahun. Maxima memiliki rencana untuk merilis 'Suster Keramas 2' di luar Indonesia. "Nanti akan dirilis di Malaysia, Hong Kong, Thailand dan Taiwan, makanya itu kita pilih Sola karena lebih gampang jualnya. Dia sudah terkenal," jelasnya.

Ah, ada-ada saja alasan produser film ini…
Selengkapnya...

Selasa, 29 Maret 2011

Foto - Foto Jalur Sepeda di Kolombia



Warga Jakarta terus bermimpi untuk memiliki jalur khusus sepeda. Namun, sepertinya, mimpi ini hanya tinggal mimpi saja. Ibarat menggapai bintang di langit. Pasalnya, Pemerintah DKI Jakarta tampaknya kerepotan untuk membangun jalur khusus sepeda di ibukota negara ini.

Hanya satu kendalanya, dan ini adalah kendala yang sudah usang, alias hanya itu-itu saja alasan yang disampaikan pemerintah. Ya, tebakan Anda tepat sekali. Alasan pemerintah selalu mengaku tidak ada lagi lahan yang bisa dipakai untuk membangun jalur khusus sepeda di Jakarta.

Menurut pemerintah, menggunakan sebagian badan jalan yang sudah ada, tentu tidak mungkin. Bisa-bisa nantinya badan jalan akan semakin habis karena sebelumnya juga sudah dikurangi untuk jalur busway. Puih…susah kali ya memiliki jalur khusus sepeda di Jakarta ini. Masa iya tidak ada solusi lain.

Padahal, di negara lain, membuat jalur khusus sepeda sudah lama mereka dilakukan. Nyatanya, mereka sukses, kok. Memang, awalnya juga sulit diwujudkan. Namun, bukannya menyerah, tapi mereka terus mencari solusi. Misalnya saja apa yang terjadi di Bogota, Kolombia. Kini, ada ratusan kilometer jalur sepeda di sana.

Saya sudah pernah berkesempatan untuk melihat langsung jalur sepeda yang ada di ibukota negara Kolombia ini. Saya pun sudah membuat artikelnya di blog saya ini. Silahkan klik DI SINI untuk membaca artikel tersebut.

Untuk melengkapi artikel itu, kali ini saya menyajikan sejumlah foto-foto jalur sepeda yang ada di Bogota. Jangan ngiri ya melihat betapa indahnya jalur sepeda di sana. Kalau masih ngiri, mari kita desak pemerintah agar mau membangun jalur khusus sepeda di Jakarta.


Cara lain Pemerintah Kota Bogota untuk mempopulerkan sepeda yang paling mencengangkan, adalah dengan membuat jalur khusus sepeda di hampir seluruh kota terbesar di Kolombia ini.
Hingga kini saja, sudah dibangun jalur khusus sepeda sepanjang 400 km, dan kabarnya akan terus ditambah. Jalur sepeda di Bogota diklaim sebagai jalur sepeda terpanjang di dunia.

Pemerintah Bogota memang memasukkan sepeda sebagai salah satu sarana transportasi dalam sistem transportasi yang mereka kembangkan. Jangan heran kalau ada sekitar 2.000 tempat parkir sepeda di seluruh Bogota. Bahkan, tempat parkir sepeda juga dibuat menyatu dengan halte utama Trans Milenio. Hebatnya lagi, tarif parkir sepeda sudah termasuk ongkos naik Trans Milenio. Tidak mengherankan kalau sepeda semakin banyak penggemarnya di ibukota Kolombia ini.

Jalur sepeda di Bogota dibangun berdampingan dengan jalur pejalan kaki. Karena itu, acara bersepeda pun dijamin aman karena sudah memiliki jalur sendiri. Dua jalur lagi.

Jalur khusus sepeda, trotoar, dan jalan umum saling berdampingan. Masing-masing pemakainya begitu displin melewatinya. Kira-kira bisa tidak ya seperti ini bakal ada di Jakarta?

Pemerintah Kota Bogota membangun jalur khusus sepeda sebagian besar berdampingan dengan jalan raya dan trotoar. Lebarnya sekitar dua meter untuk dua arah dan dibuat tak ubahnya seperti jalan raya. Pengendara sepeda tidak perlu khawatir jalur mereka diserobot pejalan kaki atau pihak lain karena jalur sepeda dibatasi dengan garis putih. Sedangkan garis putih putus-putus menjadi tanda pemisah kedua jalur sepeda.


Lihat lah, para pejalan kaki begitu tertib. Mereka tidak mau menyerobot jalur khusus sepeda walau hanya ada satu sepeda yang melintas.

Bersepeda di Bogota semakin termanjakan karena begitu banyak rambu-rambu maupun marka jalan yang membuat bersepeda semakin nyaman dan aman. Tidak cukup hanya memasang rambu-rambu bergambar sepeda yang berarti jalur khusus sepeda, Pemerintah Bogota juga mencetak gambar sepeda ukuran besar di badan jalan jalur sepeda tersebut. Rambu larangan sepeda motor atau berjalan kaki sambil membawa hewan melintas, juga banyak dipasang di jalur khusus sepeda ini.

Foto - foto oleh Edi Ginting

Selengkapnya...

Senin, 28 Maret 2011

Si Cantik Selly Akhirnya Ditangkap Polisi

Hari ini, hampir semua TV memberitakan kasus penangkapan seorang perempuan (yang katanya) berparas cantik. Namanya Sally Yustiawati. Kalau Anda lupa dengan nama ini, coba Anda ingat-ingat lagi sebuah berita yang sangat hangat dibicarakan baik di TV, koran, majalah, atau di situs jejaring sosial, sekitar setahun lalu.

Saat itu, Sally menjadi tenar bak bintang sinetron karena dicap sebagai seorang penipu kelas ulung alias nomor wahid. Ia selalu berhasil lolos walau sudah dikejar-kejar. Kisah wanita ini sepertinya mirip dengan peran Leonardo Di Caprio di film 'Catch Me If You Can'. Di film ini, bintang film Titanic itu berperan menjadi penipu muda belia yang selalu lolos kejaran FBI.

Setelah berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun sukses lolos dari kejaran para korbannya dan tentu saja dari kejaran polisi, Sally akhirnya berhasil ditangkap. Kalau dulu orang hanya bisa menikmati foto-fotonya sambil membayangkan betapa lihai dan licinya perempuan ini, maka sejak hari ini orang-orang bisa melihat sosok Selly setelah ditangkap polisi.

Selly ditangkap di Hotel Amaris Kuta, Denpasar, Bali, hari Sabtu 26 Maret 2011. Kabarnya, perempuan beranak satu itu ditangkap saat sedang berduaan dengan kekasihnya yang bernama Bima, seorang mahasiswa PTN ternama di Yogyakarta.

Menurut Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gde Sugiayar, penangkapan Selly berawal saat Polsek Denpasar Selatan menerima laporan daftar pencarian orang kasus penipuan dari Polresta Bogor. "Kita mendapatkan info, tersangka berada di Hotel Amaris, Kuta Bali. Kemudian ditangkap, dicek identitasnya, ternyata cocok dengan DPO dari Polresta Bogor," kata Sugiayar seperti dikutip oleh Detikcom.

Selly dicari-cari oleh polisi karena diduga telah berhasil menipu ratusan korbannya sejak empat tahun lalu. Entah sudah berapa ratus juta rupiah uang yang berhasil direguknya. Selly memang bak aktris sejati. Dengan gayanya yang luwes, ceria dan supel, dia bisa keluar masuk sebuah institusi dengan berbagai jabatan. Sebut saja kampus, perusahaan, bahkan media massa pernah dia susupi untuk mencari korban.

Sekitar tahun 2009 silam, Selly melakukan aksi yang kesekian kali. Targetnya tidak tanggung-tanggung, Kompas Gramedia. Dengan gaya yang mencuri hati, dia menjadi petugas operator telepon redaksi Kompas. Selama bekerja di Kompas, dengan dalih bisnis pulsa murah, dia mulai menipu karyawan Kompas termasuk para wartawan di sana. Sebanyak Rp 30,6 juta berhasil dia sikat dari hasil cuap-cuapnya. Semua orang terpesona. Entah lah, mengapa begitu banyak orang yang tergoda dengan bujuk rayunya. Apakah karena terbuai oleh parasnya yang ayu atau gaya bicaranya sangat memikat. Atau, jangan-jangan, Selly punya ilmu hipnotis. Entah lah….

Yang pasti, Selly lalu menghilang dengan uang hasil menipunya setelah bekerja tiga bulan di Kompas. Ketika menghilang, barulah para karyawan Kompas sadar sudah dikerjai Selly, si penipu cantik tersebut. Perempuan ini lalu diburu karyawan Kompas selama 6 bulan. Perburuan berhasil dan akhirnya Selly digelandang ke Polsek Tanah Abang. Kantor Kompas Gramedia memang masuk ke dalam wilayah Polsek Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Namun apa yang terjadi di kantor polisi? Selly kembali menunjukan keahliannya bercuap-cuap. Dia berjanji mengembalikan uang dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Dia pun membuat surat perjanjian hitam di atas putih untuk mengembalikan uang. Kasus yang semestinya kriminal malah berujung damai.

Nah, saat itu Selly lalu melenggang meninggalkan kantor polisi. Rupanya, bebas dari jeratan kasus penipuan di Polsek Tanah Abang, Selly tidak kapok juga. Ia pun kembali beraksi lagi, sampai akhirnya tertangkap lagi hari Sabtu kemarin.
Selengkapnya...

Jalan - jalan ke Danau Sentani Papua


Rasa-rasanya, belum lengkap kalau tidak mampir ke Danau Sentani, bila berkunjung ke Jayapura, Papua. Sentani adalah sebuah danau paling besar di Papua. Danau ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Jayapura. Dari ibukota provinsi Papua, Danau Sentani dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam dari Jayapura, dengan kondisi jalan raya yang mulus dan cukup lebar.

Danau Sentani yang memiliki luas sekitar 9.360 hektar dan berada pada ketinggian kurang lebih 75 meter di atas permukaan laut (dpl). Danau ini adalah salah satu danau terbesar di Indonesia dan merupakan danau vulkanik. Pemandangan di Danau Sentani sangat indah. Apalagi, danau ini terletak diantara pegunungan Cyclops, sehingga di belakang danau tampak bukit-bukit yang tinggi.

Danau Sentani tidak pernah kekurangan pasokan air, karena ada 14 sungai besar dan kecil yang bermuara ke danau ini. Sedangkan hanya ada satu aliran sungai dari mengalir dari danau, yakni Sungai Jaifuri Puay.
Danau ini dihuni oleh ribuan penduduk yang berada di sekitar 24 kampung, yang tersebar di pesisir dan pulau-pulau kecil yang ada ditengah danau. Kalau Anda bangga mengetahui ada Pulau Samosir di tengah Danau Toba, maka jangan puas dulu. Sebab, di Danau Sentani ada puluhan pulau yang tersebar di tengah danau. Sungguh indah dipandang.

Sayangnya, pemerintah setempat tampaknya belum memaksimalkan danau ini sebagai lokasi wisata. Sama sekali belum terlihat tanda-tanda kawasan ini sebagai sebuah kawasan wisata. Padahal, potensinya sungguh-sungguh besar sekali. Memang, setiap tahun ada Festival Danau Sentani yang digelar di danau ini. Namun, tampaknya hasilnya belum terlihat menggembirakan untuk mengenalkan Danau Sentani.

Berikut ini saya bagikan beberapa foto yang berhasil saya jepret ketika berkesempatan mengunjungi Danau Sentani, beberapa waktu lalu

Pemandangan sebuah kampung yang mendiami sebuah pulau di Danau Sentani. Sarana transportasi perahu menjadi alat penghubung setiap kampung yang mendiami pulau-pulau di sana.


Anak-anak Danau Sentani yang bergembira menyambut kami. Mereka sebenarnya sudah terbuka dengan kedatangan orang asing ke daerah mereka. Ini tentu menjadi modal agar Danau Sentani mampu menjadi kawasan wisata yang dahsyat di masa akan datang.


Sebuah pemandangan dari salah satu sudut di Danau Sentani. Tampak sebuah dermaga kayu yang menjadi tempat bersandar perahu-perahu milik penduduk di sini.


Penduduk sebuah kampung di Danau Sentani yang berkumpul di dermaga. Mereka terbiasa bergotong-royong untuk membantu sesama masyarakat di sini.


Sebuah rumah kayu yang berdiri Danau Sentani. Pada umumnya, rumah di sekitar Danau Sentani memang berbentuk kayu. Ada yang berdiri di atas tanah, namun banyak rumah panggung seperti yang ada di gambar ini.


Pemandangan Danau Sentani yang dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi. Pemandangan ini membuat semakin indah danau ini. Apalagi ketika senja mulai datang.


Sebuah pulau di Danau Sentani yang tampak dari atas sebuah puncak di pulau yang lain. Entah ada berapa banyak pulau di tengah danau ini. Hampir seluruh pulau dihuni penduduk.

Foto-foto oleh Edi Ginting
Selengkapnya...

Minggu, 27 Maret 2011

Face to Face with Desi Anwar

Masih ingat dengan kedatangan Presiden Austria Heinz Fischer ke Indonesia tanggal 9 November 2010 lalu? Anda mungkin lupa-lupa ingat.

Namun, kalau saya tanyakan apakah Anda ingat dengan peristiwa kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia, jawaban Anda pasti masih ingat, ya. Nah, waktu kedatangan Presiden Austria ke Indonesia persis sama dengan kedatangan Obama.

Saat itu, banyak berita yang mengulas mengenai perbedaan sambutan Presiden Heisnz dan Presiden Obama. Kalau Obama disambut dengan sangat gegap gempita, maka orang nomor satu Austria itu disambut biasa-biasa saja. Bahkan, ketika Presiden SBY dan Presiden Austria ini mengadakan jumpa pers di Istana Negara, sempat ada insiden macetnya alat penerjemah yang dipakai oleh sang tamu negara itu. Akibatnya, saat itu presiden SBY tampak kesal.

Nah, Presiden Austria ini muncul lagi di layar TV hari Sabtu kemarin. Persisnya di layar Metro TV di dalam acara Face to Face with Desi Anwar. Selama satu jam penuh, Metro TV menayangkan liputan Desi Anwar ke negara kecil di benua Eropa itu, plus tentu saja, mewawancarai sang presiden.

Face to Face with Desi Anwar adalah sebuah program andalan Metro TV. Face to Face with Desi Anwar tayang sebulan sekali, dan biasa tayang pada hari Sabtu Pukul 19.00 WIB.

Saya termasuk penggemar berat acara Face to Face with Desi Anwar. Menurut saya, acara ini sangat ‘mahal’ sekali. ‘Mahal’ karena setiap kali tayang, menyuguhkan wawancara dengan para tokoh-tokoh besar di dunia ini. Pada umumnya sih, para kepala negara, kepala pemerintahan dari banyak negara, atau tokoh lain yang punya reputasi mengagumkan di level dunia. Desi Anwar mewawancari mereka mengenai banyak hal, mulai dari pribadi sang tokoh, sisi spiritual, isu-isu global, dan tentu saja hubungan dengan Indonesia.

Acara ini juga ‘mahal’ dalam arti sebenarnya. Bagaimana tidak mahal, Desi Anwar mewawancarai sang kepala negara langsung ke tempatnya berada. Ini tentu memerlukan biaya yang sangat besar. Kru yang berangkat saja minimal ada tiga orang. Akomodasinya tentu sangat besar. Perkiraan saya, butuh biaya puluhan hingga ratusan juta untuk setiap episodenya.

Selain Presiden Austria Heinz Fischer, sejumlah tokoh yang pernah muncul di Face to Face with Desi Anwar antara lain Pemimpin Tibet Dalai Lama, Presiden Kroasia Ivo Josipovic, Presiden Polandia Lech Walesa, Presiden Turki Abdullah Gul, Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama, dan masih banyak lagi.

Face to Face with Desi Anwar juga pernah menghadirkan wawancara dengan penulis buku terkenal Richard Greene, pemain bola Zinedine Zidane, George Soros, dan sejumlah nama lain. ‘

Saya yakin, tentu tidak mudah mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai semua tokoh-tokoh tadi, apalagi sekelas kepala negara dari negara-negara besar. Pasti butuh lobi-lobi yang panjang untuk mendapatkan kesempatan itu. Juga pasti butuh jaringan yang luas untuk mewujudkannya. Dan, Desi Anwar dengan Metro TV-nya, sudah memiliki modal itu semua.

Maka, kemudian yang muncul adalah sebuah acara yang berkelas. Ya, tentu berkelas tidak hanya dari narasumbernya, namun juga cara penyajiannya. Tidak heran kalau ada yang menyebut, Face to Face with Desi Anwar seperti sebuah program TV bergaya internasional namun hasil produk lokal.

Acara ini memang dikemas dengan full bahasa Inggris. Namun, jangan khawatir kita tidak bisa memahaminya, karena di setiap episode-nya sudah disediakan subtitle dalam bahasa Indonesia dengan format, yang menurut saya, sudah pas banget. Kabarnya, Metro TV sampai harus membayar orang untuk membuat terjemahan acara ini agar mudah dipahami. Terjemahan tadi akhirnya muncul di layar dengan pemotongan kalimat yang enak dibaca.

Di dalam acara ini, Desi Anwar kembali menunjukkan kelasnya sebagai seorang presenter berita yang sudah kenyang dengan asam garam dunia jurnalistik. Mantan Presenter RCTI ini mampu menyuguhkan teknik wawancara yang mengalir tanpa harus menggurui atau memotong omongan si narasumber. Ia tidak membuat si narasumber merasa tersudutkan, namun malah menggali pemikiran si narasumber tersebut.

Kalau boleh usul, acara Face to Face with Desi Anwar ini akan semakin dahsyat bila mampu mewawancari para kepala negara atau tokoh yang lebih besar lagi. Misalkan saja Presiden Amerika Serikat, Presiden Prancis, Presiden Korea Utara, dan sejumlah kepala negara lain.

Kalau dari kalangan non-kepala negara, Face to Face with Desi Anwar mungkin bisa mewawancarai Bill Gate, Warren Buffet, Anthony Robbins, dan sebagainya.
Selengkapnya...