Sabtu, 05 Maret 2011

Kegigihan Roby Besut Paragon Village

Di usianya yang baru 36 tahun, Roby Irwanto berkibar sebagai pengusaha properti potensial. Salah satu karyanya: Apartemen Paragon Village yang terdiri dari empat menara di Karawaci, Tangerang. Inilah sepak terjangnya.

Jika melihat kemegahan apartemen di mana pun, yang terbayang tentulah sosok konglomerat raksasa di baliknya. Namun tidak yang satu ini. Jika nanti, mulai akhir 2011, Anda melihat tiga dari empat menara megah Apartemen Paragon Village di kawasan Karawaci, Tangerang, jangan bayangkan grup pengembang besar di baliknya. Ia justru tonggak pembuktian bahwa pengembang kecil pun bisa membangun apartemen megah.

Sosok di balik Paragon Village adalah Roby Irwanto. Jika kebetulan Anda melihat pria berusia 36 tahun ini jalan-jalan di mal, bisa jadi Anda menyangkanya profesional muda berpangkat manajer. Ditambah sosoknya yang ramah dan doyan bercanda, segala bayangan kuno tentang sosok pengusaha sukses yang kaku dan formal langsung buyar.

Itulah Roby, putra pengusaha Basril Djabar, pemilik Harian Singgalang, koran terbesar di Padang sekaligus Komisaris Semen Padang. Roby sebetulnya bisa saja memilih bergabung di kerajaan bisnis ayahnya. Namun dia unik. Bukannya menikmati berbagai fasilitas yang ada, Roby lebih memilih tertatih-tatih menjadi sales properti di Lippo Karawaci selepas kuliah Ekonomi Pembangunan di Universitas Trisakti.

Bahkan sebetulnya, sejak masih di bangku SMP, jiwa bisnisnya sudah tumbuh. Roby remaja saat itu sering berjualan es lilin dan donat di sekolahnya. Sepulang sekolah di sore hari, ia berbelanja lalu membuat adonan es dan donat, barulah di kala subuh ia bangun dan menggoreng donat serta menyiapkan es lilin.

Kegigihannya berlanjut hingga lulus kuliah ketika ia memilih berkarier di dunia properti. “Soalnya, saya baca biografi orang-orang kaya itu kebanyakan dari bisnis properti, energi, dan keuangan. Itu juga sebabnya saya bergabung di Lippo, demi belajar jadi pengusaha properti,” tuturnya.

Dengan niat itulah, seusai jam kantor, dengan sepeda motornya, Roby menyusuri kawasan pinggiran Jakarta dan Tangerang hanya demi mengendus sebidang lahan yang hendak dijual. “Lama-lama orang di daerah hafal. Kalau musim daftar masuk sekolah, mengawinkan anak atau naik haji tiba, banyak orang mencari saya untuk menjual tanah, sampai-sampai saya dipanggil Pak Haji, hahaha,” Roby terkekeh mengenang masa lalunya. Meski membeli kecil-kecilan 100-1.000 m2, lambat laun dari hasil perburuannya itu ia memiliki tabungan tanah berhektare-hektare di kawasan Bintaro, Karawaci, Ciputat, Bendungan Hilir, dan sebagainya.

Di tempat kerjanya, karier Roby pun terus meningkat. Bergabung pada 1997 sebagai staf penjualan, ia lantas menduduki posisi Manajer Senior Penjualan dan Pemasaran Lippo pada 2000. Ia sempat terlibat dalam penjualan proyek perumahan Beverly Golf di Lippo Karawaci, WTC Serpong dan Gowa Trade Centre (GTC) di Makassar. Lippo pula yang menjadi guru besarnya dalam properti. “Saya belajar menjual rumah hanya dengan kertas, dari konsep saja. Serta belajar dari James Riady saat dia berjualan langsung di Jl. Sudopu, di kawasan toko emas di Makassar. Secara tak langsung, James mengajarkan sebagai pengusaha haruslah terjun langsung dan bergaul akrab dengan karyawan tanpa jarak,” ia menguraikan seraya menyampaikan hormat kepada almamaternya itu.

Roby lantas ditawari mengelola penjualan GTC di Makassar. Namun, karena tawaran tersebut mengharuskannya tinggal jauh dari keluarga, dengan berat hati ia mengambil program pensiun dini pada 2003. Meski demikian, dengan bekal ilmu properti dan tabungan lahan yang cukup, ia merasa sudah saatnya menyambut panggilan hatinya menjadi pengusaha properti. Ia mengawali langkahnya dengan menjadi kontraktor kecil-kecilan lewat PT Broadbiz Asia, bendera yang belakangan terus dikibarkannya saat memasarkan Paragon Village.

Diawali dengan membangun rumah seorang kliennya di Lippo Karawaci seluas 150 m2 dan uang muka 40% dari nilai proyek, pekerjaan itu berhasil dirampungkan dalam waktu 10 bulan. “Ibu Edo, itu nama klien pertama saya. Sampai kapan pun saya tidak akan lupa,” ujarnya. Bahkan dari Ibu Edo pula, Roby mendapat keringanan menyewa kantor di Lippo Karawaci. Dari satu klien yang puas, kemudian 200 rumah klien lainnya mampu dibangun hingga 2008.

Di sela-sela bisnis kontraktornya, Roby juga menjadi pengembang kecil-kecilan. Tercatat ia bersama mitranya membangun Perumahan Gintung Residence, kompleks yang terdiri dari 42 town house alias rumah bandar di kawasan Situ Gintung, Ciputat. Ia juga membangun Girimukti Residence, kompleks berisi 205 rumah sederhana di Desa Sumedang, Jawa Barat. “Saya membeli lahan 2,2 ha di Desa Girimukti dari lelang Bank Yudha Bakti hanya senilai Rp 275 juta. Murah ya. Kini tanahnya disisakan 6.000 m2 menunggu dibangun tol Bandung-Cirebon. Kalau tolnya rampung, baru saya bangun agar harganya naik, hehehe,” Roby memaparkan salah satu trik bisnisnya.

Selain itu, Roby pernah membangun indekosan 22 unit yang dibuat tiga tingkat di Vila Permata Lippo, Karawaci. Pada 2008, ia sempat berencana membangun perumahan di kawasan Binong, Karawaci, di atas lahan miliknya seluas 1,1 ha. Namun, rumah susun sederhana hak milik tengah booming, ia mengalihkan fokus tetapi tidak lantas membuat Rusunami. “Saya lihat apartemen menengah milik (anami) lebih cocok melihat lokasinya ada kampus, Rumah Sakit Siloam dan sebagainya, makanya saya membangun anami Paragon Village,” papar Roby.

Setelah dihitung-hitung, ia butuh sekitar Rp 5 miliar sebagai modal awal membuat proyek apartemen empat menara dengan total 1.000 unit kamar lebih itu. Akhirnya, ia menjaminkan aset rumahnya di Bendungan Hilir, Karawaci, Bintaro, Sumedang, empat mobil yang terdiri dari Mercedes tahun 1990, Honda Stream, Kijang Kapsul dan Toyota Avanza. Tidak cukup, ia mengontak teman-temannya hingga terkumpul dana dari lima teman plus dari satu koperasi di Sumatera Barat.

Setelah IMB, BKPRD, Amdal, rampung pada 2009, ia memulai pembangunan dengan bantuan kredit pembangunan apartemen dari BTN. Maret 2010 ia melakukan prapenjualan dan tak disangka dua menara, C dan B sebanyak 600 unit terjual habis di awal Mei. Sementara menara ketiga, A, sebanyak 384 unit kini tersisa 15%, dan menara keempat, D, akan dipasarkan mulai Januari 2011. Adapun nilai total seluruh proyeknya sebesar Rp 240 miliar. Direncanakan, dua menara pertama akan rampung Juni 2011, sedangkan menara ketiga akhir 2011.

Paragon Village sendiri memiliki fasilitas layaknya apartemen menengah. Di apartemen seharga Rp 80-300 juta/unit itu tersedia kolam renang, jogging track dan berbagai fasilitas hiburan.

Salah satu investor Roby, sebut saja Anwar, memaparkan, dirinya yakin pada pengalaman dan insting bisnis Roby. “Membangun apartemen di wilayah Karawaci saya rasa memang segmennya tepat seiring pertumbuhan ekonomi yang membaik,” ujarnya optimistis.

Agar survive di bisnis properti yang terkadang sangat keras, Roby memasukkan nama ayahnya yang memiliki koneksi politik tingkat tinggi sebagai komisaris di Paragon. “Saya harus ada pelindung dari tangan jahat. Saya bukan mau main kotor, tapi hanya ingin dilindungi dari penjahat,” katanya tegas.

Ali Hanafiah dari perusahaan broker Century 21 memaparkan bahwa membangun apartemen merupakan bisnis berisiko tinggi. “Namun semakin tinggi risiko, semakin tinggi pula labanya. Apartemen memang haruslah hati-hati. Karena, kalau sudah terjual 50%-60% maka dia harus membangun satu menara,” ujarnya.

Ali menyarankan Roby agar memprediksi risiko kenaikan harga bahan bangunan. “Dia juga harus minimal membuat studi kelayakan untuk menyasar target pasar yang pas, apakah mahasiswa, keluarga, orang yang tinggal di Jakarta, atau siapa. Dia bisa saja berpromosi di radio sesuai targetnya, lalu memasang spanduk-spanduk, berpromosi di Internet dan sebagainya,” papar Ali.

Ali juga mewanti-wanti, sebagai pengusaha muda yang masih memiliki banyak ambisi, Roby harus mengelola rencananya dengan baik. “Investasinya jangan berlebihan. Proyek dirampungkan satu per satu. Memang, kredit pembangunan apartemen bisa diperoleh dari bank. Namun, uang muka dari nasabah sebaiknya diinvestasikan dalam proyeknya, jangan di tempat lain dulu, kalau proyek lainnya gagal, bisa berbahaya,” ujar Ali.

Adapun Anwar menyarankan agar Roby lebih fokus dan jeli menganalisis segala peluang bisnis apartemen supaya bisa menghasilkan yang optimal.

Roby, yang ternyata juga memiliki sebuah perusahaan desain interior dan mebel, menyatakan masih memiliki banyak mimpi. Di antaranya pada 2011 ingin membangun satu lagi anami di sekitar kawasan Tangerang seluas 1,8 ha dengan lima menara. Tak ketinggalan, sebuah perumahan berkonsep alam di kawasan Pondok Cabe, Limo, sudah berada di dalam benak Roby. Di Limo, suami dr. Elsi Puspadewi dan ayah dari dua anak itu akan membangun 300-400 unit rumah.

Sumber: Majalah SWA

3 komentar:

  1. Mantab Boss....
    SUKSES TERUS POKOKNYA...
    Salam dari Div.BDD

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. sepakat. kisahnya sangat menginspirasi....

      Hapus