Kamis, 10 Maret 2011

The Ghost Writer

Masih ingat dengan Film The Ghost Writer? Itu lho, film yang beredar tahun 2010 lalu yang disutradarai oleh Roman Polanski.

Film ini berkisah tentang seorang seorang mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang, yang diperankan oleh mantan bintang James Bonn, Pierce Brosnan.

Dikisahkan, Adam Lang menyewa seorang penulis bayangan dengan bayaran fantastis, untuk menlis autobiografinya. Atau lebih tepatnya, melanjutkan penulisan autobiografinya karena penulis sebelumnya tewas tenggelam di laut.

Saya sendiri tertarik dengan film ini karena judulnya itu, The Ghost Writer. Dari film inilah, saya akhirnya mengerti apa itu ghost writer. Ghost writer, yang kalau dibahasaindonesiakan artinya adalah penulis hantu, adalah orang yang menerima order untuk menulis buku atau yang lainnya. Namun, hasil tulisan itu nantinya akan diakui sebagai hasil tulisan orang lain. Rupanya, profesi seperti ini banyak lho pemainnya. Ini tentu karena banyak terjadi di dunia ini, karena banyak juga peminatnya. Pasalnya, tidak semua orang bisa menulis, tapi ingin dikenal sebagai penulis. Mmmm.....peluang ini pun disambar oleh para ghost writer atau si penulis hantu tadi. Ups....

Nah, hari ini saya bertemu dengan seorang teman. Ia lalu memperlihatkan sebuah buku yang baru saja dilaunching. Ia mengaku menjadi Ghost Writer buku bertema politik setebal sekitar 300 halaman itu. Akhirnya, kami ngobrol panjang lebar selama tiga jam. Banyak ide yang muncul dalam pertemuan ini, terutama tentang menulis buku. Bahkan, kami sepakat untuk kembali berdiskusi beberapa hari ke depan untuk mematangkan konsep penulisan buku yang kami rancang.

Aku banyak mendapatkan pengetahuan baru dari kawan ini mengenai dunia menulis buku, sebuah impianku yang hingga hari ini belum bisa terwujud. Herannya, temanku ini sebelumnya tidak pernah aku bayangkan bisa membuat buku, eh ternyata dia sudah mendahuluiku. Uh.... Memang, baru sebatas menjadi 'penulis hantu' sih. Tapi, pasti kawan ini sudah bangga, karena akupun akan demikian.

Pertanyaanku yang pertama kali kusampaikan kepada si kawan ini adalah, mengapa harus menjadi Ghost Writer? Apa ia tidak ingin nama yang muncul di sampul buku adalah namanya? Padahal, kalau dibahasaindonesiakan kan serem juga artinya. Ghost Writer alias penulis hantu. Hehehe... Menurut kawan ini, ia hanya memfasilitasi nama yang tercantum di sampul buku. Pasalnya, orang itu ingin menulis buku namun tidak punya kemampuan yang memadai untuk menulis. Karena itu, si kawan ini hadir untuk 'menolong' orang itu.

Memang tidak mengenakkan, ya. Kita yang menulis buku, tapi disebutkan sebagai karangan orang lain. Padahal, yang paling membanggakan dalam menulis sebuah buku adalah ketika nama kita muncul di sampul buku itu sendiri, disamping honor yang kita terima, tentunya. Hehehe....

Menurut kawan ini, honornya lumayan menarik. Ia menyebut angka puluhan juta. Memang, angka ini jauh lebih besar daripada honor menulis buku yang sering aku dengar. Biasanya, sebuah buku yang dibeli putus oleh penerbit, hanya dihargai Rp 5-10 juta. Si kawan ini mendapatkan honor yang begitu besar karena langsung negosiasi dengan si pemberi order. Tidak ada batasan harga di sini, karena yang ada hanyalah negosiasi dengan pendekatan yang mantap kepada si pemberi order.

Peluang menjadi ghost writer sangat besar. Menurut kawan ini, begitu banyak orang yang ingin dikenal sebagai penulis namun tidak punya kemampuan menulis. Bahkan, ada orang yang minta dibuatkan tulisan opini untuk kemudian dikirim ke media cetak. Yang namanya politisi, pejabat, artis, atau siapapun dia, pasti akan lebih bangga juga bila dikenal masyarakat sebagai seorang penulis. Nah, disinilah ghost writer hadir. Kehadirannya ini tentu bukan menghantui atau menakuti seperti ghost-ghost yang marak di film-film Indonesia. Hehehe....

Si kawan ini pun bercerita kalau sekarang sedang menyelesaikan sebuah buku lain, pesanan dari seorang anggota DPR. Ia tetap berperan sebagai seorang 'The Ghost Writer".

Giliranku kapan ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar