Minggu, 27 Maret 2011

Menertawai Berita di "Beritawa"


Di tengah riuhnya berita di televisi, Trans7 menyodorkan ”Beritawa”, sebuah program hiburan yang dikemas mirip berita. Dalam ”Beritawa”, realitas berita dan panggung komedi terkesan berbeda tipis: hampir sama lucunya.”

Kurir pelaku pengirim paket bom berhasil ditangkap....” Itu bunyi sari berita yang dibacakan pembawa berita Metta Sagita pada acara Beritawa di Trans7. Anchor atau pembawa berita yang mengenakan pakaian formal berupa blazer warna marun itu lalu membacakan isi berita.

”Pemirsa, setelah beberapa waktu lalu mengalami rentetan kasus teror bom lewat paket buku yang sangat menggemparkan, satuan petugas keamanan berhasil mengamankan seorang pria yang diduga kurir pengantar buku berisi bom....”

Lalu di layar ditampilkan gambar rekaman CCTV berupa kurir yang menyerahkan paket kepada resepsionis. Resepsionis mencurigai isi paket yang berbunyi seperti detak jam. Karena curiga dengan ciri dan gerak-gerik kurir, sang resepsionis menghubungi petugas keamanan. Sketsa pelaku ditampilkan di layar dan terdengarlah bunyi berita, ”Dari ciri-ciri pelaku sketsa pelaku yang baru-baru ini disebarkan oleh tim penjinak bom jinak-jinak merpati....”

Di tengah kalimat terakhir itu terdengar latar suara berupa tawa. Pembacaan berita berlanjut dengan pengakuan dan penampilan gambar pelaku berinisial TNT. ”Saya cuma kurir mbak, sumpah. Saya tidak tahu itu isinya apa....”

Berita berlanjut dengan potongan laporan dari jumpa pers. Saat itu ketua tim penjinak bom membeberkan barang bukti berupa paket. Rupanya paket yang diduga bom itu berisi jam weker. Kembali terdengar efek tawa. Sampai di sini ketahuanlah bahwa Beritawa adalah acara hiburan berupa parodi berita.

Mirip berita
Beritawa dikemas mirip acara berita sebenarnya. Acara ini menggunakan pembawa berita yang bersikap formal. Metta Sagita, si anchor, menggunakan gaya bicara, intonasi, resmi. Tak ada pretensi sedikit pun untuk bercanda atau dilucu-lucukan.

Redaksional berita televisi juga tak beda dengan gaya pembawa berita. Simak saja bagaimana si anchor menutup program. Sambil membereskan kertas di meja, ia santun berucap: ”Pemirsa demikianlah informasi yang berhasil kami rangkum dalam Beritawa. Saya Metta Sagita bersama kru yang bertugas mengucapkan selamat malam dan sampai jumpa.” Persis pembawa berita bukan?

Metta kebetulan pernah menjadi presenter berita. ”Saya diminta serius membawakan hard news. Sikap saya waktu take, bacain berita juga serius,” kata Metta.

”Kalau sedang bawain berita pengin banget ketawa, tapi harus ditahan. Itu tantangan terbesar,” katanya menambahkan.

Set atau penataan ruang juga dirancang memberi kesan acara berita serius. Secara liatan (visual) dan dengaran, Beritawa tak berbeda dengan layaknya program berita televisi. Bahkan, musik pengantar pun terdengar sangat ”berita” yang serius itu. Penonton yang belum pernah menonton Beritawa mungkin bisa terkecoh. Pasalnya, realitas berita yang telah diketahui publik secara luas bersanding dengan ”realitas” komedik.

Pada berita ”Trend Wig Ala Gayus”, misalnya, ditampilkan foto Gayus dan orang yang ”mirip” Gayus menggunakan wig dan kacamata. Bahkan, ditampilkan pula materi gambar asli
saat Gayus dikawal polisi. Materi gambar asli itu dipadu dengan berita lain yang diperankan oleh para aktor yang dipacak sesuai materi komedi. Mereka berperan sebagai narasumber. Mereka diberi naskah.

Penampilan pelakon Beritawa tampak natural dan tidak tampak pretensi untuk berlucu-lucu. Interseksi antara realitas berita dan komedi ini menjadikan Beritawa hidup. Akan tetapi, program ini tetaplah sebuah hiburan. Sikap itu ditegaskan pada awal acara lewat semacam peringatan: ”program ini hanya untuk hiburan semata. Nama, lokasi, dan kejadian adalah rekayasa”.

Berangkat dari hiburan

Beritawa, seperti dipaparkan Bahar selaku Produser program tersebut, berangkat dari keinginan Trans7 membuat program hiburan untuk remaja yang tayang pada pukul 18.00 (Beritawa tayang setiap Senin dan Selasa pukul 18.00). Pada jam-jam antara pukul 18.00 dan 19.00, sebagian besar stasiun televisi gencar menyuguhkan hiburan. Setidaknya, pada kisaran jam itu, ada delapan stasiun televisi yang menyodorkan program hiburan. Adapun tiga stasiun televisi lain menampilkan berita. Trans7 memilih program hiburan berupa komedi. ”Kami diminta membuat bentuk komedi yang berbeda, yang unik dan nyentrik. Kami memilih konsep berita yang lucu,” kata Bahar.

Beritawa memperlakukan realitas berita televisi secara karikatural, komikal. Materi ”berita” diangkat dari isu aktual, maulai dari teror paket bom, penggerebekan narkotika sampai kasus Gayus. Penonton televisi, yang terus-menerus digelontori informasi visual yang sama tentang suatu peristiwa, kali ini mendapat plesetan info di Beritawa.

Kita simak bagaimana televisi menyodorkan berita paket bom secara berulang-ulang. Penonton bisa mengikuti proses meledaknya paket bom, mulai buku diguyur air, lalu petugas mencungkil buku dengan pisau, sampai detik-detik bom meledak. Realitas berita itu menjadi pengetahuan umum. Realitas berita itulah yang dikomedikan dalam Beritawa. Penonton secara emosi terlibat dan tertawa karena mereka merupakan bagian dari persoalan.

Satu hal yang sejauh ini belum disambar sebagai materi Beritawa adalah isu-isu politik. Produser acara mengakui bahwa secara kreatif ia terbatasi untuk masuk ke ranah isu politik karena dianggap berat bagi penonton hiburan remaja. Mungkin, Beritawa takut kalah lucu dengan isu politik yang memang sering membuat orang tertawa.

Sumber: Kompas edisi Minggu, 27 Maret 2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar