Minggu, 06 Maret 2011

Wajah Polisi di Televisi


Polisi yang cakep-cakep itu kini tampil di layar televisi untuk memberi info tentang situasi lalu lintas. Dan rupanya pemirsa terkesan.

Mata Ajun Komisaris Desmont Harjendro Agitson Putra terpejam, badannya sedikit membungkuk agar sang perias tidak kesulitan mengusapkan bedak ke wajah Desmont. Ketika digoda apakah merias wajah seperti itu diajarkan di Akademi Kepolisian, taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia angkatan 1997 itu tertawa terbahak.

”Ya enggaklah. Kalau lagi pendidikan, bisa-bisa malah tidak mandi dua hari,” katanya terkekeh.

Badannya sedikit membungkuk lagi, menyambut kuas pencerah bibir yang ada di tangan Anna. Seperti setiap penyiar televisi lainnya, Desmont harus rela berpoles bedak demi wajah yang cerah dan ber-lipgloss demi bibir yang tidak pucat.

Lalu, Desmont mengambil sabak elektronik dari meja, mempelajari data situasi lalu lintas yang harus ia laporkan dalam program 8 Eleven Show MetroTV pada Rabu (2/3) pagi. ”Pak Des siap ya, sehabis berita ini langsung, presenter di studio Prabu Revolusi,” terdengar teriakan dari belakang ruang pemantauan National Traffic Management Center (NTMC) Korps Polisi Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia di Gedung Pusat Data Lalu Lintas, Jalan Letjen MT Haryono, Jakarta.

”Oke,” sahut Desmont sambil membetulkan earphone handsfree di telinganya. Ia berdiri tegak di depan kamera, menanti sapaan Prabu dari studio MetroTV di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Beberapa detik kemudian, ia berbicara kepada kamera di depannya, ”Ya Prabu, pagi hari ini kita langsung mengarah ke wilayah Bali, di simpang Jalan Cokroaminoto….” Luwes ia melaporkan situasi kemacetan di Bali, Sidoarjo, Yogyakarta, Kosambi, sampai jalan dalam kota Jakarta dan Tangerang. ”Saya sendiri tidak pernah membayangkan akan didandani seperti itu,” katanya seusai siaran langsungnya.

”Susah ternyata menjadi penyiar. Apa yang dipikirkan di awal acara sering kali terlupa saat laporan dimulai,” kata perwira yang sehari-hari bertugas di bagian registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor Pusat Data Lalu Lintas itu.

Selain Desmont, ada lima polisi lalu lintas lainnya yang secara rutin bertugas melaporkan situasi lalu lintas dalam siaran MetroTV. September lalu, Korps Lalu Lintas dan MetroTV menyelenggarakan seleksi polisi lalu lintas untuk disulap menjadi penyiar situasi lalu lintas. Enam orang di antaranya—termasuk empat polisi lalu lintas perempuan—kini rutin menjadi ”penyiar dadakan” di MetroTV.

Kehadiran para polisi wanita cantik di layar televisi mengundang perbincangan di dunia maya. Cobalah ketikkan nama ”Brigadir Avvy Olivia Atam” di kolom pencarian di situs mikroblogging twitter, maka akan muncul ratusan kicau yang menyinggung keayuan Avvy. Simak saja komentar @adinakamura pada Kamis (3/3) siang. ”Brigadir Avvy Olivia. Briptu Eka Frestya. Klo tau ada polwan model begini sih gw masuk akpol..HaHa,” tulisnya.

”Gara-gara siaran itu, memang banyak orang menyapa di Twitter,” kata Avvy yang harus bersiaga di NTMC sejak pukul 04.00 WIB jika kebagian piket siaran. Desmont pun diserbu para wanita peselancar dunia maya.

Rating televisi

Manajer Produksi Berita MetroTV Dadi Sumaatmadja menuturkan, sejak satu setengah tahun lalu, MetroTV terus mengangkat berita kemacetan Jakarta. Belakangan disadari bahwa rating berita soal kemacetan lalu lintas tidak kalah dari rating berita soal politik. Sejak September 2010, polisi pun diajak ikut bersiaran di MetroTV.

”Kami mencari format baru pemberitaan kemacetan dan situasi lalu lintas dengan memanfaatkan peralatan canggih NTMC. Ide menampilkan polisi lalu lintas melaporkan situasi lalu lintas muncul karena kebutuhan penyampaian informasi yang lebih cepat oleh pihak yang lebih menguasai masalah. Dan sebagai show, menampilkan polisi sebagai pelapor lalu lintas ternyata menarik,” ujar Dadi.

Hingga akhir tahun 2010 setiap kali akan siaran, MetroTV harus mengirimkan mobil Satellite News Gathering untuk siaran langsung itu. ”Sejak Januari, NTMC sudah memiliki fasilitas kabel fiber optik dan siaran cukup dilakukan dengan kabel fiber optik,” kata Dadi.

Hebatnya, para polisi itu bisa menjadi penyiar hanya dengan mengikuti dua hari materi kelas yang diberikan MetroTV. Wayan Eka Putra, Deputi Manager Produksi Berita MetroTV, menuturkan, 15 polisi lalu lintas yang mengikuti pelatihan itu cepat menyerap teori menjadi penyiar.

”Yang paling susah, membiasakan para polisi itu rileks, dan membuang istilah polisi, seperti istilah ’Ambon-Tegal’ atau ’mohon izin melaporkan’, yang biasa mereka pakai. Siaran pertamanya pada September 2010 memang masih kaku, tetapi sekarang sudah luwes. Lama-lama, keluwesan mereka menyampaikan informasi bisa sejajar dengan kemampuan penyiar MetroTV,” kata Wayan tertawa.

Selebriti

Wakil Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia Brigadir Jenderal (Pol) Didik Purnomo menyatakan, pihaknya belajar banyak dari kerja sama dengan MetroTV itu. ”Kami sejak lama menjadi pemilik ladang informasi soal lalu lintas. Namun, kami masih terus belajar bagaimana mengemas informasi itu menjadi informasi yang bermanfaat bagi pengguna jalan,” kata Didik.

Ia menyatakan, salah satu manfaat utama kerja sama itu adalah mengubah etos kerja para polisi lalu lintas dalam menjalankan pelayanan kepada publik. Pihaknya sedang belajar bagaimana mengomunikasikan informasi lalu lintas dalam media komunikasi dua arah. NTMC akan terus mengembangkan pola pendistribusian informasi bagi publik melalui beberapa media, termasuk Twitter, Youtube, dan layanan pesan singkat. Saat ini, menurut Didik, sudah ada dua televisi lain yang juga menjajaki kerja sama.

Kendati mulai menjadi idola di jagat maya, kehidupan Desmont dan Avvy tak banyak berubah. ”Kalau bepergian, wajah saya belum dikenali publik. Mungkin karena tampang berseragam dinas dan tanpa seragam dinas berbeda. Daripada menjadi selebriti, saya masih lebih memilih menjadi polisi,” kata Avvy.

Sumber: Kompas
Foto:
Kompas/ Wawan H Prabowo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar