Rabu, 02 Maret 2011

Wartawan itu pun Dikeroyok

Hari ini saya mendapatkan dua berita yang sangat tidak enak. Lokasi keduanya terpaut jauh, namun memiliki kemiripan. Dua orang yang saya kenal baru saja mengalami kekerasan akibat profesi yang mereka lakukan. Seorang teman di Poso babak belur dihajar gerombolan mahasiswa. Di Jakarta, seorang kawan lainnya mengalami penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Ahmad Dhani, si pentolan Grup Dewa 19.

Mengapa saya menyebut keduanyasebagai kabar yang sangat tidak enak? Ya... karena keduanya tidak hanya orang yang saya kenal, tapi keduanya adalah juga berprofesi sebagai wartawan, sama dengan saya. Ini adalah kekerasan kesekian kalinya bagi wartawan. Entah mengapa, masih saja ada orang yang memasukkan orang yang berasal dari profesi wartawan sebagai orang yang sangat tidak ramah dan harus diberikan kekerasan terhadapnya. Entah sudah berapa banyak wartawan di negeri ini yang harus tewas, babak belur, atau minimal diancam.

Subandi Arya diberitakan babak belur setelah dikeroyok sekelompok mahasiswa di sana, hari Senin (28/02/2001) sekitar pukul 13.30 Wita. Penculikan terkait dengan berita di Surat Kabar Harian Media Alkhairaat. Aku baru tahu kalau selain menjadi kontributor Metro TV, Subandi rupanya juga menjadi wartawan di media lain.

Sekitar 20 orang mahasiswa sebuah universitas di Poso membawa Subandi ke dalam kampus mereka dan kemudian mengeroyoknya. Kabarnya, pemukulan terhadap teman ini terjadi mulai dari halaman Kampus dan kemudian berlanjut ke ruangan Dekan Fisip. Di dalam ruangan, ia kemudian tetap dipukuli. Pemukulan berhenti ketika sejumlah mahasiswa lainnya menghentikan aksi pemukulan tersebut.

Pemukulan diduga terkait dengan berita yang dilansir oleh Media Alkhairaat edisi Jumat, 25 Februari 2011. Di dalam berita yang berjudul "Mahasiswa Rusak Fasilitas Kampus", Subandi menulis, sejumlah anggota Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam kampus itu telah menggelar aksi dengan membakar belasan kursi di halaman kampus dan melempari kaca-kaca jendela ruangan rektorat. Dalam aksi itu kelompok mahasiswa ini meminta sang rektor untuk mengundurkan diri dan tidak lagi mencalonkan diri pada pemilihan rektor periode 2011-2015.

Dalam berita tersebut Subandi mengutip seorang sumber mahasiswa yang mengatakan bahwa aksi tersebut tidak lagi murni untuk kepentingan mahasiswa, karena sudah mengarah kepada pembunuhan karakter si rektor. Berita itu menurut kelompok mahasiswa tadi keliru. Mereka menyebutkan bahwa aksi mereka murni untuk kepentingan mahasiswa.

Sedangkan berita tidak sedap kedua datang dari Noviandi Kuniawan, seorang kameraman dari Global TV. Aku mengenalnya ketika ia sedang menyusun skripsi berdasarkan program yang aku pegang di Metro TV. Saat itu ia beberapa kali datang ke Metro TV untuk meminta bantuan guna menyelesaikan skripsinya itu. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Yandi saja.

Aku baru tahu ia kini bekerja sebagai kameramen di Global TV setelah melihat sebuah tayangan gosip di TV, tadi pagi. Awalnya, aku tidak peduli dengan acara gosip yang sedang menayangkan kasus dugaan pemukulan yang dilakukan oleh Ahmad Dhani, si vokalis Dewa 19 itu. Namun, ketika di layar TV muncul wartawan yang sudah dipukul, aku langsung menontonnya hingga tuntas. Aku terperanjat ketika yang dipukul itu adalah Noviandi Kurniawan, orang yang aku kenal.

Menurut informasi, dugaan pengeroyokan itu terjadi pada Senin, 28 Februari 2011, sekira pukul 20.00 WIB di depan rumah Mulan Jameela di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Yang menjadi korban adalah Yandi bersama reporternya, Syahriani. Awalnya, Syahriani dan Yandi sedang mencari kebenaran gosip Mulan Jameela sudah melahirkan dengan menyambangi kediaman Mulan.

Rupanya, Dhani, duda tiga anak itu sepertinya tak suka dengan kehadiran wartawan. Bersama karyawannya, mantan suami Maia Estianty itu langsung mendatangi wartawan. Menurut Yandi, dirinya sudah menuruti permintaan Dhani dan karyawannya untuk tidak menyalakan kamera. Namun, pentolan band Dewa 19 itu malah meminta karyawannya untuk mengambil kaset milik Noviandi. Dhani juga mencoba mengambil kunci mobil. Dhani bahkan sempat mengambil tas pinggang milik Noviandi dan handphone milik Syahriani. Akibat kericuhan yang terjadi sekira 40 menit itu, Noviandi mengalami luka memar dan goresan di leher.

Kejadian ini pun sudah dilaporkan ke polisi. Namun, dalam perkembangannya, pihak Ahmad Dhani dan Global TV mencoba jalan di luar hukum untuk membereskan kasus ini. Kabarnya, kabar pemukulan oleh Ahmad Dhani pun sudah dibantah alias tidak ada. Nah lo!!!!

3 komentar:

  1. Anonim10:45 AM

    1. Liat-liat dulu bro temen NT ngomong sesuai fakta ato nambah2in bumbu aje (kaya berita2 selama ini di TV, banyakan bumbu...)
    2. Artis kan disukai masyarakat karena karyanya (dulu sebelum ada infotainment juga tetep pada tenar aja). Kaya gw, kalo lagunya enak gw mah beli aja kaset/CD-nya, bukan karena diangkat infotainment (jadi wartawan infotinment jangan ke PD-an deh)
    3. Piiis

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas kunjungan Anda.
    1. Yang namanya wartawan, tentu harus berbicara sesuai fakta. Kalau keluar dari fakta, maka itu namanya sudah fitnah. Kalau ini sudah dilakukan, maka tamatlah riwayat di wartawan itu dan juga mungkin termasuk media-nya. Boleh Anda sebutkan berita mana misalnya yang sudah kebayakan bumbu itu?

    2. Saya setuju dengan Anda. Artis memang disukai karena karyanya. Saya belum pernah mendengar ada artis yang banyak penggemarnya karena kelakuannya yang sering 'amburadul'. Hehehehe. Karena itu, acara infotainment akhirnya hadir untuk menyuguhkan ketenaran si artis tadi. Acara infotaiment memanfaatkan kondisi anda dan juga saya yang senang dengan sebuah lagu dengan cara mengupas si artis itu. Kalau akhirnya program infotainment berkembang ke segala hal, itu lain soal. Sebab, kabarnya, ada juga artis yang minta dibloap infotainment agar tetap dikenal masyarakat, padahal tidak ada karyanya.

    Saya pikir tidak ada kru infotainment yang ke-PD-an seperti yang Anda katakan. Ini semua hanya karena tuntutan profesi demi menghadirkan fakta yang sebenarnya. Seperti Anda katakan, tidak baik membuat berita yang hanya bumbu-bumbu melulu, ya kan? :-)

    3. Piss juga.... :-)

    BalasHapus
  3. Banyak omong1:56 AM

    Ikutan nimbrung ya....
    1. Yang namanya profesi Wartawan/Hakim/Jaksa/Pengacara/Polisi atau apalah tetap saja manusia. Jadi jelas masih punya sisi yang negatif, jadi tergantung kualitas si manusianya itu sendiri. Saya sih kurang setuju kata "wartawan tentu harus berbicara sesuai fakta".
    2. Kalo kru infotaintment yang ke-PD-an saya juga sering liat tuch di tv apalagi jamannya kasus2 Luna Maya. Ada yang bilang "jadi apa tuh artis kalo ngga ada kita" atau "kalo ngga diliput dia juga ngga setenar sekarang" (menurut saya belum tentu kaleee apalagi kalo memang berbakat). Jadi lagi-lagi saya kurang setuju kalo ada kru infotaintment yang bilang "artis butuh infotaintment" (mungkin bagi yg ngga punya bakat kali ya... :-P ). Dan barusan tadi siang kalo ngga salah di MetroTV Ahmad Dhani mengatakan "saya sudah tenar jauh sebelum ada acara infotainment di Indonesia".
    3. Sedikit saran dari kakek neh :-D boleh aja kita membela teman sejawat tapi tetep harus obyektif dan lihat pake nurani bener dan salahnya. Jadi nanti polisi ngga bela polisi yg salah, atau hakim dgn hakim yg korup, pegawai pajak dgn rekannya, atau anak sekolah dgn sesama satu sekolah(kalo tawuran), atau bla...bla..... he...he...ikutan piiiis aah.
    Btw bukan penggemar Ahmad Dhani lho....

    BalasHapus