Jumat, 04 Maret 2011

Kenapa Harus Berdiri Lama di Bank

Yang merasa paling kaya, ternyata belum tentu bisa memberikan pelayanan paling memuaskan. Senyum memang selalu mengembang kepada setiap orang yang datang. Tapi, ini tentu akan lebih bagus lagi bila sisi lain juga diperbaiki. Apalagi, yang dijual adalah jasa. Maka, pelayanan tentu menjadi nomor satu.

Setidaknya ini yang saya rasakan hari ini ketika datang ke kantor cabang sebuah bank di Jakarta Barat. Saya terpaksa harus mengantre cukup lama. Ritual antre ini harus saya jalani dengan cara benar-benar mengantre alias berdiri berbaris sambil menunggu giliran dilayani. Entah mengapa, bank yang mengaku paling besar di republik ini, belum juga memakai sistem antrean memakai nomor, agar orang tidak perlu berdiri seperti sedang antre membeli minyak tanah jaman minyak langka beberapa tahun lalu.

Padahal, teknologi sebenarnya sudah sangat mendukung. Mesin-mesin pencatat nomor antrean sudah lama dipasarkan di Indonesia. Rasa-rasanya, tidak mungkin bank sebesar ini tidak mampu membeli mesin pencatat nomor antrean. Kan, laba tahunannya saja mencapai triliunan rupiah. Puih....kaya sekali yang punya saham bank ini ya. Hehehe....

Aku harus mengantre sekitar setengah jam untuk akhirnya bisa dilayani. Padahal, saat mulai antre di barisan antrean, aku sebenarnya berada di posisi nomor lima. Tapi, sepertinya empat orang yang ada di depanku ini, punya keperluan yang agak rumit dengan teller. Masing-masing cukup lama harus dilayani oleh petugas teller yang lumayan manis itu. Tidak seperti aku yang hanya perlu waktu tidak sampai lima menit untuk dilayani. Maklum saja, keperluanku hanya untuk setoran tunai. Jumlahnya pun sedikit pula. Hehehe....

Setahu aku, sistem antre memamai nomor, sudah diterapkan oleh Bank BNI. Dulu, ketika masih aktif sebagai nasabah BNI, aku tinggal mengambil nomor antrean di pintu masuk sesuai dengan keperluanku, mau ke teller, CS, atau yang lain. Usai mengambil nomor antrean, aku tinggal menuju ke tempat pelayanan. Kalau ternyata harus menunggu giliran dilayani, maka aku tidak perlu berdiri di belakang orang yang nomor antreannya ada di depanku. BNI sudah menyediakan bangku-bangku di dalam ruangan, sehingga kita bisa duduk santai sambil melihat papan nomor antrean. Pokoknya, enak lah. Apalagi, ada koran-koran yang bisa dibaca sambil duduk menunggu nomor kita mendapat giliran dilayani.

Nah, entah mengapa sistem ini tidak diadopsi oleh sejumlah bank-bank yang masuk dalam jajaran bank terbesar di negeri ini. Mandiri dan BCA misalnya. Kedua bank ini setahu aku, masih menerapkan antrean mengular di semua teller mereka. Kalau sedang ramai, antrean benar-benar mengular. Antrean dibuat berbelok-belok seperti antrean masuk ke ruang konser musik. Kadang-kadang, ada nasabah yang memilih jongkok sebentar karena mungkin sudah merasa lelah berdiri terlalu lama.

Rasa-rasanya, Bank Mandiri maupun BCA pasti mampu membeli mesin nomor antrean dan membeli kursi-kursi untuk duduk para nasabah mereka. Tahun 2010 lalu saja, laba Bank Mandiri ditaksir mencapai Rp 8,5 Triliun. Laba BCA tahun 2010 juga beda-beda tipis dengan laba Bank Mandiri, yang mencapai Rp 8,3 Triliun. Sepertinya laba mereka ini tidak akan tergerus banyak hanya karena memperbaiki sistem antrean nasabah di semua cabang mereka.

Bagaimana nih, Pak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar