Kamis, 28 April 2011

Apa pun Impor, Indonesia Sebenarnya Kaya Apa?

Film Suster Keramas 2 kini sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Yang menarik dari film produksi Maxima Pictures ini adalah, bintang filmnya. Salah satu artis yang bermain di sini bernama Sola Aoi. Dari namanya, sudah ketahuan ini bukan nama Indonesia. Ya, wanita ini memang bukan orang Indonesia. Wanita yang juga beken dengan nama Sora Aoi ini, adalah orang Jepang. Dan, Anda tahu siapa dia? Di negaranya, Sola Aoi dikenal sebagai salah satu bintang film dewasa papan atas.

Sola Aoi adalah bintang film esek-esek luar negeri yang kesekian yang main di film Indonesia. Sebelumnya, ada nama Maria Ozawa alias Miyabi, Rin Sakuragi, Sasha Grey, dan Tera Patrick. Wuih, banyak sekali ya.

Entah bintang film dewasa mana lagi yang nanti bakal main di film Indonesia. Bersabar saja menunggunya. Sebab, kabarnya, para produser film yang memakai bintang film esek-esek tersebut, mengaku selalu kebanjiran untung. Karena itu, mereka tidak kapok mengimpor bintang film dewasa lain lagi.

Ya, alasan keuntungan selalu menjadi magnet bagi para pengusaha untuk mengimpor apapun. Demi meraup keuntungan jumbo, mereka membeli apapun di luar negeri dan memasoknya ke Indonesia. Padahal, stok serupa belum tentu tidak ada di dalam negeri. Alasan harga lebih mahal selalu mereka pakai untuk menolak produk dalam negeri.

Dan, celakanya, pemerintah yang seharusnya melindungi produk dalam negeri, justru ikut-ikutan memberi izin. Dengan alasan persedian dalam negeri tidak mencukupi, mereka pun berkolusi dengan para pengusaha untuk mengeluarkan izin impor. Saya tidak yakin, Indonesia kekurangan artis cantik, seksi, dan berani tampil vulgar di film. Saya yakin, stok seperti ini berlimpah di sini.

Hal yang sama juga terjadi di sektor lain. Barang-barang yang seharusnya berlimpah di Indonesia, kini telah diimpor dari negara di seluruh dunia. Mulai dari buah-buahan, beras, ikan, tomat, cabai, daging, dan lain-lain, kini mulai diimpor dengan alasan produksi dalam negeri tidak mencukupi. Kalau sudah begini,
Indonesia pantas mendapat julukan baru sebagai ‘negeri serba impor’. Sebab, hampir berbagai kebutuhan hidup rakyatnya bergantung dari impor.

Di bawah ini, saya posting beberapa potongan artikel mengenai hal-hal yang memalukan ini.

Indonesia mengimpor ikan dori dari vietnam 200 ton per bulan atau 2.500 ton per tahun. Selain itu, Indonesia juga mengimpor ikan teri dari Myanmar, ikan lele dari Malaysia dan ikan Kembung dari pakistan. Volume impor tersebut secara keseluruhan mencapai 143.000 ton per tahun atau 2,5% dari kebutuhan ikan nasional. (sumber: bisnis.com)
Sementara menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) impor garam yang pada Oktober 2010 sebanyak 154.782,6 ton (7,9 juta dolar AS) naik menjadi 275.027,2 ton (15,2 juta dolar AS) pada November 2010. BPS juga mencatat selama Januari-November 2010 impor garam sebanyak 1,8 juta ton dengan nilai 96,4 juta dolar AS. Utamanya garam diimpor dari Australia, India dan China. (sumber: tvonenews.com)
Kepala AMARTA (Agribusiness Market and Support Activity) USAID, William Levine mengatakan, sekitar 80% dari buah-buahan yang dijual di pasar Indonesia adalah buah-buahan impor. "Ke-80% dari buah-buahan dan 20% dari sayur-sayuran di Indonesia adalah impor," kata Levine di Jakarta, Rabu (sumber: investor.co.id)
Ratusan petani tomat di wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, menjerit menyusul harga tomat kini mendadak anjlok hingga Rp 2000/Kg. Buntut dari penurunan itu, tak sedikit petani malas memanen tomat tadi sehingga membusuk di kebunnya. “Kami menduga anjloknya harga tomat diakibatkan banyak beredar tomat luar negeri yang masuk ke Indonesia,” kata seorang petani Mumun,45, asal Desa Langensari, Bandung Barat, Senin (31/5). (sumber: poskota.co.id)
Untuk menutupi kekurangan stok cabai dalam negeri, impor cabai sekitar 15.000 ton dari luar negeri pun menggunakan pesawat. Langkah impor cabai ini, menurut Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI Gunaryo, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (1/2/2011), dilakukan dalam rangka mencukupi stok dan membantu menurunkan harga cabai yang kian meroket di pasar dalam negeri. (sumber: kompas.com)
Saya sangat heran mengapa Indonesia harus mengimpor semua barang di atas. Apalagi, yang namanya garam dan ikan. Bukankah, lautan Indonesia salah satu terluas di dunia. Matahari juga bersinar sepanjang tahun di negeri ini. Tapi, mengapa Indonesia bisa kekurangan garam? Atau, mengapa harus mengimpor ikan dari negara yang justru lautnya kalah luas dari negara kita. Memalukan sekali.

Kalau garam dan ikan saja, sudah diimpor, mana julukan Indonesia sebagai negara yang memiliki kakayaan alam yang luar biasa berlimpah? Saya pikir, pelajaran di sekolah-sekolah sudah saatnya diganti. Kepada para pelajar, tidak boleh lagi diajarkan Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyaknya. Mereka harus diajarkan kalau Indonesia adalah negara yang miskin sumber daya, termasuk sumber daya bintang film. Akibatnya, seorang Maria Ozawa maupun Sola Aoi pun harus diimpor.
Selengkapnya...

Rabu, 27 April 2011

Friendster pun Harus Dibunuh

Friendster ditutup“Sudah lama gue ga buka friendster. Kangen juga melihatnya,” tulis seorang teman di status Facebooknya.

Saya yakin, bukan hanya teman ini yang sudah lama tidak membuka akun mereka di Friendster. Saya juga termasuk salah satunya, kok. Situs pertemanan ini memang sudah kehilangan penggemarnya. Ibarat rumah, Friendster kini seperti sebuah rumah hantu. Yang tadinya selalu hiruk-pikuh selama 24 jam sehari, kini menjadi sunyi senyap. Tidak ada lagi yang berhasyat untuk tinggal atau sekadar mampir.

Si pemilik rumah pun akhirnya sudah patah arang untuk mengelola Friendster. Usaha untuk memoles, memperbaiki, merenovasi, atau mempercantik, sepertinya tetap gagal. Akhirnya, daripada hanya menjadi rumah hantu yang menyeramkan, mereka pun sudah memutuskan untuk ‘meratakan’ Friendster.

Ya, situs ini akan dibunuh. Ibarat rumah, Friendster akan diratakan dengan tanah. Kalaupun nanti kembali ‘dibangun’ Friendster baru di atas lahan yang sama, wujudnya bukan lagi sebuah sebuah situs jejaring pertemanan. Isunya, Friendster yang baru akan lebih fokus pada layanan game dan musik.

Friendster pun mengaku telah merelakan kehilangan puluhan juta anggotanya yang terserak di seluruh dunia. Karena itu, seluruh data, baik foto, blog, pesan, testimoni, dan segala isi di akun setiap anggotanya, akan dihapus tanpa ampun.

Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah semua member Friendster akan merelakan kehilangan semua data mereka di situs ini? Bisa jadi tidak. Berjuta-juta kenangan indah milik para anggotanya pasti tersimpan di sana. Ada yang bertemu teman lama, mendapatkan banyak teman baru, mendapatkan pacar, atau mungkin mendapatkan jodoh lewat Friendster. Mmmmm…

Saya ingat, bagaimana dulu orang-orang untuk berlomba mendapatkan testimoni sebanyak-banyaknya. Mereka selalu berpesan kepada teman-temannya untuk meninggalkan testimoni di halaman Friendsternya. Bahkan, banyak orang yang mencari teman baru untuk sekadar mendapatkan testimoni. Sepertinya, semakin banyak testimoni akan meningkatkan harga diri mereka di mata para anggota Friendster.

Saya sendiri sudah mendapatkan pesan dari Friendster mengenai rencana mereka untuk menutup situs ini. Saya mendapatkan pesan ini pada tanggal 26 April lalu. Berikut ini adalah isi email dari Friendster tersebut:

Dear EdiG,

We are introducing a new and improved Friendster site in the coming weeks. As part of this change, we will remove a number of social networking functions in Friendster. This includes your existing account profile, photos, messages, blogs, and shoutouts. However, your list of friends will be preserved, along with your basic profile information.

We understand that your photos, blogs and other private data may be important to you. An application is available in the "Apps" section of the site, until May 31st 2011, to help you download or export them securely to third party sites, such as Flickr or Multiply. The application is available here.

If you do not wish to keep any of these information, you do not need to do anything. Your Friendster account will not be deleted. Your Friendster Wallet, along with the coins and chips in it, will remain unchanged in the new site as long as you use your existing login details.

For more information on the Exporter app, please visit the Friendster Help page.

Thank you for using Friendster, we look forward taking you to a brand new Friendster experience very soon!

Sincerely,
The Friendster Team

Friendster didirikan oleh Jonathan Abrams pada 2002. Situs Jejaring ini mampu menarik minat puluhan juta penggunanya di seluruh dunia. Indonesia menjadi salah satu negara terbesar yang penduduknya memiliki akun di Friendster. Saya adalah satunya.

Saya sendiri membuka akun di Friendster sekitar akhir 2003, karena diperkenalkan seorang teman. Saya sampai membuka tiga akun karena di awal-awal menjadi penggunaannya, saya sempat lupa cara masuk ke Friendster. Rupanya, ketiga akun saya tadi aktif, sehingga ada beberapa teman yang kecele karena meng-add akun yang tidak pernah saya singgahi.

Gemerlap Friendster mulai redup di sekitar 2008, ketika muncul Facebook. Situs jejaring sosial ciptaan Mark Zuckerberg ini bahkan bisa menyalip puncak ketenaran Friendster jauh lebih cepat daripada yang pernah diperbuat Friendster. Jumlah anggota Facebook meroket tajam dalam sekejab, termasuk di Indonesia, negara yang kini menempati posisi nomor dua di dunia sebagai asal pengguna Facebook terbesar.

Pada Desember 2009, MOL Malaysia membeli Friendster seharga US$ 100 juta. Wajah situs itu pun berusaha dipoles agar kembali didatangi penghuni lamanya. Sukur-sukur bisa merebut hati pengguna baru. Logo pun diubah menjadi lebih segar menjadi seperti ini:

logo baru FriendsterNamun, Friendster keburu menjadi rumah hantu. Puluhan juta anggota keburu pindah ke lain hati. Dan, akhirnya nasib Friendster sudah diketok palu. Dibunuh!

Selamat Jalan, Friendster!

Selengkapnya...

Kamis, 21 April 2011

Duh, Polwan Cantik itu Ternyata sudah Menikah

Briptu Eka FrestyaBriptu Eka Frestya memang tidak setenar Briptu Norman Kamaru. Namun, coba Anda ketik nama perempuan ini di Google, maka Anda akan menemukan banyak sekali artikel yang memuat nama Briptu Eka Frestya. Hasil pencarian saya, setidaknya ada sekitar 12.200 artikel yang memuat nama Polwan tersebut. Sedangkan untuk Briptu Norman Kamaru ada sekitar 343.000 artikel. Wow, pak polisi itu memang benar-benar tenar ya!

Yang pasti, Briptu Eka Frestya dan Briptu Norman Kamaru adalah dua anggota Polri yang telah sukses memoles wajah institusinya. Berkat keduanya, citra polisi semakin kinclong di mata masyarakat. Wajah polisi yang dikenal sangar dan bermental korup, setidaknya ditutupi oleh aksi keduanya. Briptu Eka Frestya dan Briptu Norman Kamaru pun telah menjadi idola baru masyarakat.

Briptu Eka Frestya adalah salah satu Polwan yang acap kali muncul di layar Metro TV lewat laporan lalulintas. Polwan yang berwajah ayu ini, menyapa pemirsa Metro TV dari ruang pemantauan National Traffic Management Center (NTMC) Korps Polisi Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia di Gedung Pusat Data Lalu Lintas, Jalan Letjen MT Haryono, Jakarta.

Bersama belasan rekannya, Briptu Eka bergantian menjadi penyiar dari sana setiap hari. Mereka muncul di beragam acara di Metro TV. Mulai program Metro Pagi, 8-11, Metro Siang, Metro Sore, dan sejumlah program lain. Briptu Eka pun tampil bak seorang presenter berita yang sudah mahir. Tidak salah kalau banyak orang yang awalnya menyangka, polwan kelahiran 15 Juli ini adalah memang presenter berita benaran yang sedang siaran dengan memakai pakaian polisi.

Selain Briptu Eka Frestya, rekannya yang bergantian tampil melaporkan situasi lalulintas dari berbagai kota, antara lain adalah Brigadir Avvy Olivia, Brigadir Astri Rachmadanie, AKP Desmont, AKP Christanto, dan Ipda Eny Kusdiyanti.

Brigadir Avvy OliviaDari kiri ke kanan: Brigadir Avvy Olivia, Ajun Komisaris Desmont Harjendro, Brigadir Satu Eka Frestya, Brigadir Astri Widya Rachmadani

Nah, yang paling tenar memang sosok penyiar dari kalangan polwan. Pasalnya, seluruhnya memiliki wajah yang enak untuk dipandang. Ada yang bilang mereka manis, cantik, ayu, dan sebutan lainnya. Mungkin ini yang membuat nama mereka menjadi dikenal masyarakat. Sebab, polisi yang biasa muncul dengan wajah sangar dan kaku, kini malah tampil dengan cantik, manis, dan murah senyum.

"Ditangkap polisi, waduh senang sekali kalau yang nangkap polwan cantiq begini. sering2 aja buat kesalahan biar sering ditangkap, sukur2 dapat nangkap hati jadi suami, gitu loh..........." komentar seorang pembaca artikel mengenai Briptu Eka Frestya di Yahoo News.

"Briptu eka engkau telah menilang hatiku.. :)," tulis pembaca lain yang bernama Fajar. Dari 315 komentar, memang hampir seluruhnya memuji penampilan Briptu Eka Frestya. Dan, komentarnya rata-rata mengundang tawa. Banyak yang mengajak kenalan, dan lucunaya lagi, mereka sampai menulis nonor telepon mereka di komentar itu.

Silahkan Anda klik di sini untuk membaca semua komentar tentag Briptu Eka Frestya tersebut, termasuk wawancara Yahoo News dengan Briptu Eka Frestya. Oya, polwan berwajah cantik ini mengaku belum punya pacar lho, alias masih single. Hehehe....

Brigadir Avvy Olivia dan Brigadir Astri RachmadanBrigadir Avvy Olivia dan Brigadir Astri Rachmadani

Berbeda dengan Brigadir Avvy Olivia dan Brigadir Astri Widya Rachmadani yang ternyata sudah berkeluarga. Brigadir Avvy, yang lahir Jakarta, 16 April ini, telah menikah tahun 2006 lalu, dan kini memiliki satu anak. Melihat wajahnya, saya yakin, banyak yang tidak menyangka polwan ini sudah memiliki anak.

Sedangkan Brigadir Astri Widya Rachmadani lahir di Palangkaraya, 2 Juni. Ia telah menikah tahun 2005 lalu dan kini memiliki dua orang anak.

Brigadir Avvy mengaku sejak SMP memang bercita-cita ingin menjadi polisi. Ia mengaku sangat benar tertarik setiap kali melihat polisi wanita. Karena itu, begitu ada kesempatan, ia pun langsung mendaftar.

“Waktu itu tahun 2002, sekitar bulan April atau Mei ada penerimaan polisi wanita dari Polda Metro Jaya. Lalu saya mendaftar di Polsek Pasar Rebo, karena saya memang tinggal di daerah Pasar Rebo. Setelah mendaftar, saya mengikuti ujian seleksi dan dinyatakan lulus. Kemudian ikut pendidikan selama enam bulan di Sekolah Polisi Wanita,” kata Brigadir Avvy, yang saya kutip dari wawancara polwan berwajah cantik ini dengan Yahoo News.

Brigadir Astri dan Brigadir Avvy adalah teman satu angkatan di Sekolah Polisi Wanita, yakni angkatan 26 tahun 2002. Keduanya dilantik menjadi anggota Polwan pada 23 Desember 2002. Menurut keduanya, keluarga mereka sangat mendukung ketika mereka memilih menjadi anggota Polri.

Ketika Yahoo News memuat wawancara dengan kedua polwan ini, ratusan komentar segera berdatangan. Sama dengan komentar di wawancara dengan Briptu Eka Frestya, komentar untuk Brigadir Astri dan Brigadir Avvy pun rata-rata berisi pujian terhadap penampilan mereka.

"ooo Astry dan Avvy kau telah menilang hatiku, pelurumu telah menembus jantungku, dan peluitmu mengalir keseluruh tubuhku," tulis seorang pembaca. "gw pengen curhat nih sama bu Astri.. apalagi curhatnya pas di tengah kemacetan jalan. langsung freshh lagi deh.. wkwkwk," tulis pembaca lain yang bernama Satrio.
Selengkapnya...

Rabu, 20 April 2011

Seharusnya Menjual Unit Reksa Dana pada IHSG Tinggi

reksa dana
Melihat penutupan IHSG hari ini, ada sedikit kekecewaan dalam diri saya. Sebenarnya bukan kekecewaan sesungguhnya, sih. Mungkin hanya perasaan 'keki' saja. Pasalnya, baru kemarin saya mencairkan sebagian reksa dana milik saya. Kalau saja saya baru mencairkannya hari ini, pasti keuntungan yang saya dapat lebih besar. Hehehehe....

"Ah, ayah ga boleh begitu. apapun harus disyukuri," pasti begitu kata istri bila saya ungkapkan kekesalan saya ini. Istri saya memang jagonya memberi semangat. Hehehe....

Hari ini, indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin mendekati level 3.800. Hari ini juga, rekor baru akhirnya kembali tercipta lagi. Mengakhiri perdagangan hari ini, IHSG ditutup pada level 3.794,762. Level ini naik 62,112 poin (1,66%) dari level penutupan hari Selasa yang ada di angka 3.732,650.

Posisi IHSG hari ini merupakan rekor baru sepanjang bursa Indonesia berdiri. Rekor tertinggi sebelumnya didapat akhir tahun 2010 lalu. Saat itu, saya berpikir IHSG memang akan mampu mencapai 3.800. Namun, nyatanya begitu begitu berada di level 3.700an, indeks kembali terkoreksi. Barangkali, sepanjang tahun 2011 ini, indeks hanya muter-muter di level 3.500 - 3.700an. Nah, bisa jadi, sekaranglah kesempatan IHSG untuk menembus 3.800 dan akhirnya mencapai 4.000. Semoga saja ini bukan sekadar mimpi di siang bolong.

Kembali ke cerita kekesalan saya tadi.

Jadi, kemarin saya telah mencairkan sebagian reksa dana milik saya yang ada di BNP Paribas Ekuitas dan Manulife Saham Andalan. Pikiran saya, kini adalah saat yang tepat untuk melakukan redempt karena IHSG sudah cukup lama bercokol di angka 3.700an.

Entah mengapa, saya kurang yakin indeks bisa menembus 3.800 dalam waktu dekat ini. Saya malah khawatir, indeks bisa terkoreksi cukup dalam karena sepertinya sudah sekali melalui 3.700an. Apalagi, saya melihat banyak kondisi yang tidak mendukung market. Salah satunya adalah harga minyak dunia dan bayang-bayang inflasi.

Dengan sejumlah alasan itu, akhirnya, saya pun memilih untuk redempt unit reksa dana saya yang ada di kedua produk reksa dana saham (RDS) tadi. Selain memang kondisi pasar yang menurut saya sedang pas, saya memang sedang ada keperluan mendesak sehingga butuh duit cash. hehehe....

Sebenarnya, saya kemarin sempat khawatir indeks akan minus. Pasalnya, pada pembukaan market di pagi hari, IHSG langsung turun begitu dibuka. Namun, saya memaksakan redempt karena jadwal saya memang hanya bisa mengurusnya pada hari Selasa kemarin. Di luar itu, saya disibukkan oleh rutinitas pekerjaan di kantor.

Tapi, rupanya kehawatiran saya ini tidak terjadi. IHSG justru positif walau tipis sekali. Kemarin, indeks ditutup naik tipis 5,577 poin (0,14%) ke level 3.732,650.

Hasilnya memang lumayan. Nilai Aktiva Bersih (NAB) RDS BNP Paribas Ekuitas yang dulu bernama Fortis Ekuitas, naik 0,18% menjadi 13.581,53. Sedangkan NAB RDS Manulife Saham Andalan naik 0,04% menjadi 1.518,55.

Saya dulu membeli unit Fortis Ekuitas saat NAB-nya masih berada di sekitar 9.000an. Sedangkan NAB Manulife Saham Andalan sekitar 1.000an, karena saat itu RDS ini memang baru dilaunching. Sayangnya, sebagian besar unit milik saya di kedua RDS itu, sudah saya jual akhir 2009 untuk modal menikah. Jadi, yang masih ada sekarang, hanyalah sisa-sisa. Padahal, kalau saja dulu tidak ada unit yang saya jual, pasti besar sekali keuntungan yang saya dapat bila saya menjualnya sekarang, ya? Hehehe.... lagi-lagi kekecewaan yang tidak berarti.
Selengkapnya...

Senin, 18 April 2011

Terorisme Lewat Dunia Maya


Mungkinkah jaringan terorisme kini bergerak lewat dunia Maya?

Inilah pertanyaan yang mengusik saya, pasca peledakan bom di Masjid Polres Cirebon Kota, Jawa Barat, hari Jumat pekan lalu. Saya berpikir, jangan-jangan kelompok terorisme kini tidak lagi menggunakan media perekrutan konvensional seperti yang mereka pakai sejak bom Bali pertama hingga bom JW Marriot & Ritz Carlton. Kalau dulu mereka berjihad secara berkelompok-kelompok, maka kini mereka berjihad secara perorangan. Dan, apa yang dilakukan oleh Muhamad Syarif di Cirebon adalah mungkin salah satu contohnya.

Kelompok teroris kini membangun jaringan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti internet. Kalau dulu mereka merekrut anggota jaringan dari golongan berpendidikan rendah, ekonomi pas-pasan, maka kini malah justru sebaliknya. Mereka merekrut anggota baru yang sudah melek teknologi, jago komputer, jago matematika, atau jago kimia dan fisika.

Mereka tidak lagi saling berbagi ilmu, dicekoki doktrin-doktrin jihad yang menyesatkan, atau diberi ilmu merakit bom lewat pertemuan tatap mata. Namun, mereka kini memakai kecanggihan teknologi untuk saling berkomunikasi. Misalkan saja, mereka tinggal disatukan dalam sebuah forum di dunia maya. Kalau mau chatting, maka mereka tinggal janjian untuk berada di hadapan komputer pada jam yang sama. Ini tentu lebih hemat bila mereka harus berkumpul di satu tempat, sedangkan mereka berasal dari sejumlah kota di Indonesia.

Karena anggota baru ini adalah orang berpendidikan dan, bisa jadi, juga memiliki otak encer, maka transfer ilmu tidaklah rumit kalau lewat dunia nyata. Doktrin maupun ajaran jihad bisa langsung ditransfer saat mereka sedang chatting bersama. Ajaran-ajaran lain pun bisa dibagikan lewat forum di internet yang sudah disepakati bersama. Mereka tentu juga bisa dengan mudah membagikan teknik membuat bom lewat forum di internet tadi. Setiap anggota tinggal mempelajarinya, kapanpun dan dimanapun mereka mau. Praktis kan.

Dan, membangun jaringan terorisme via dunia maya tentu jauh lebih aman daripada lewat dunia nyata. Forum di internet yang mereka buat, bisa diseting hanya untuk anggota saja. Orang luar tidak boleh bergabung tanpa mereka setujui.

Memang, forum seperti ini bisa saja dibobol dan dicium oleh aparat. Tapi, kalaupun berhasil dibobol dan tercium, aparat hanya akan mendapatkan informasi dan tanpa bisa menangkap seketika anggota forum tadi. Apalagi, bila para terorisme ini menggunakan identitas palsu, yang tentu akan semakin sulit untuk melacak mereka. Sebab, mereka tidak hanya akan menyamarkan nama, namun juga semua info-info penting. Akibatnya, info-info yang mereka bahas hanya akan mudah dipahami oleh kalangan mereka saja. Ini semua tentu akan semakin mempersulit aparat untuk menemukan jejak mereka.

Perubahan gerakan terorisme lewat dunia internet ini juga mengubah bentuk serangan. Kalau biasanya mereka bergerak secara kelompok, maka kini tidak lagi. Jihad yang mereka percayai tidak lagi harus direncanakan dan dilaksanakan secara bersama-sama dalam kelompok yang sangat besar. Kini, mereka telah didoktrin untuk berjihad secara mandiri alias perseorangan. Kalau mereka hendak berjihad lewat peledakan bom, maka mereka tinggal belajar sendiri cara merakit bom lewat forum di internet. Mereka belajar bom sendiri, merakitnya sendiri, dan meledakkannya juga sendirian.

Bisa jadi, ini yang terjadi pada Muhammad Syarif di Cirebon. Dan, bisa jadi juga, ini yang dilakukan oleh Ahmad, 38 tahun, yang membawa bom dengan sepeda ontelnya di Kalimalang, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Tampaknya, bisa jadi, kelompok terorisme pun belajar dari kegagalan. Terorisme lewat dunia maya. Terorisme lewat Internet... Apapun namanya, tetap terorisme.
Selengkapnya...

Jumat, 15 April 2011

Sepeda Motor pun Berkuasa di Jalanan

Macet Sepeda Motor
Foto di atas adalah foto utama di harian Kompas hari ini. Saya sangat tergelitik begitu melihat foto ini. Tidak sadar, saya pun tersenyum geli memandangi foto ini. Menurut saya, ini adalah sebuah foto yang sangat bercerita banyak.

Kompas memberi judul foto ini dengan judul 'Raja Jalanan'. Di caption foto, Kompas menulis "Rombongan pengendara sepeda motor melawan arah di Jalan Raya Bekasi Km 22, Cakung, Jakarta, Kamis (14/4). Pengendara sepeda motor tesebut secara bersama-sama melawan arah di jalur kanan, karena jalur kiri yang tersedia sudah tidak mampu lagi menampung jumlah sepeda motor, terutama pada jam sibuk berangkat dan pulang kerja."

Saya cukup lama menikmati foto hasil jepritan Ujang Zaelani, seorang fotografer Kantor Berita Antara ini. Saya membayangkan, betapa semrawutnya lalulintas di jalan tersebut. Saya yakin, kondisi ini terjadi hampir tiap hari di sana. Entah bagaimana perasaan para pengendara mobil yang terjebak situasi ini. Mereka mungkin jengkel, marah, dan atau bahkan frustasi. Atau, mungkin mereka sudah terbiasa ya, karena menikmatinya setiap hari?

Kira-kira, siapa ya yang harus disalahkan? Si pengendara sepeda motor, pengendara mobil, Pak Polisi, atau Pak Gubernur, atau Pak Presiden ya? Apa semuanya bersalah?

Yang pasti, jumlah kendaraan beroda dua ini memang semakin menggurita tiap hari di Indonesia. Saat ini, jumlah sepeda motor di Indonesia ditaksir telah mencapai 60 juta unit. Di Jakarta saja, jumlah sepeda motor diperkirakan sudah mencapai 8 juta unit. Angka ini nyaris sama dengan jumlah penduduk Jakarta. Wow!

Semoga saja, serbuan sepeda motor di jalan raya ini sebagai tanda peningkatan perekonomian penduduk Indonesia...
Selengkapnya...

Rabu, 13 April 2011

Serangan Pasukan Ulat Bulu ke Indonesia, Ulah Siapa?

ulat bulu
Tiba-tiba saja, Indonesia diserang ulat bulu. Bak penjajah di jaman perang, mereka mengepung Indonesia dari segala penjuru. Mereka tampaknya telah menguasai teknik peperangan paling jitu di dunia ini. Awalnya, mereka menyerbu dari perkampungan yang mereka anggap lemah pertahanannya. Setelah menguasai perkampungan, serangan berlanjut dan semakin gencar untuk menusuk ke jantung pertahananan yang ada di kota-kota besar.

Indonesia tampaknya harus waspada. Pasalnya, bisa jadi, sasaran utama mereka adalah menguasai Jakarta, kota yang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, bisnis, dan pusat hiburan di Indonesia. Tidak terbayangkan apa yang bakal terjadi bila ulat bulu ini akhirnya menguasai Jakarta.

Serangan ulat bulu, yang di Inggris dipanggil dengan nama Caterpillar, pertama kali dilaporkan terjadi di Probolinggo, Jawa Timur, pada akhir Maret lalu. Serangan terjadi secara sporadis ke banyak titik. Akibatnya, masyarakat ketakutan. Korban pun berjatuhan. Ratusan warga yang tinggal di sepuluh desa merasa resah akibat ulat bulu yang menimbulkan rasa gatal di sekujur tubuh mereka.

Penduduk di sana akhirnya memilih tinggal di dalam rumah saja agar tidak menjadi korban berikutnya. Bagi mereka rumah yang akan keluar rumah, terpaksa mengunakan payung karena takut dan jijik dengan ulat yang tersebar di sekitar rumah. Bahkan, sekolah pun terpaksa diliburkan demi keamanan anak-anak.

Kabarnya, jenis ulat bulu yang menyerang secara sporadis di Probolinggo merupakan jenis ulat yang berbeda dengan tempat lainnya. Ulat yang bernama arctornis submarginata ini baru terlihat lagi setelah 70 tahun terakir.

Setelah sukses menebar teror di Probolinggo, pasukan ulat bulu bergerak ke titik penyerangan lain. Kabar datang dari sejumlah daerah lain kalau pasukan ulat bulu sudah terlihat di sana. Misalkan saja laporan dari Malang, Bali, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan daerah-daerah lain. Entah berapa ribu atau bahkan buta jutaan, ulat bulu mengerahkan pasukannya untuk menginvasi Indonesia. "Mari kita serang Indonesia!" Mungkin begitu kata Panglima Perang Ulat Bulu kepada jutaan anak buahnya untuk menyerang Indonesia.

Ulat bulu atau Caterpillar ini pun mencoba memasuki kota Medan, Sumatera Utara. Ratusan ulat bulu dijumpai di sebuah pohon Mahoni besar yang tumbuh di depan Masjid Agung, Jalan Diponegoro, Medan. Ulat bulu berwarna coklat kemerah-merahan itu bergerombol di pohon kayu mahoni yang ditaksir sudah berusia puluhan tahun itu. Mereka terlihat di sana sejak hari Senin, 11 April lalu.

Masyarakat mulai khawatir bila ulat bulu di atas pohon mahoni itu hanyalah pasukan mata-mata ulat bulu. Serangan yang lebih besar lagi bisa saja terjadi di seluruh kota Medan setelah pasukan mata-mata ulat bulu ini mengirim informasi intelijin mengenai situasi kota asal Bika Ambon ini, ke markas besar mereka. Kalau ini terjadi, maka siap-siapkan pasukan infantri ulat bulu yang sangat besar, bakal menyerang bakal Medan.

Karena itu, masyarakat mendesak Pemerintah Kota Medan untuk segera membasmi habis ulat bulu tersebut, agar tidak meluas ke tempat lain. “Ulat bulu di Medan ini tubuhnya kecil dan bulunya tidak begitu lebat sedangkan ulat bulu di Probolinggo besar dan bulunya sangat lebat,” kata seorang warga Medan.

Ulat bulu juga sudah menyerang Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Sejak beberapa hari terakhir, ribuan ulat bulu terlihat muncul di kawasan permukiman warga. Walau ulat bulu tidak mengerahkan pasukan sebanyak serangan ke Probolinggo, namun serbuan ulat bulu ini membuat penduduk di Banjarmasin ketakutan.

Ulat bulu menyerang di lahan pekarangan dan permukiman warga setempat. Ulat bulu juga memakan daun pepohonan dan rumput sekitar. Akibatnya, warga menjadi ketakutan dan tidak berani membuka pintu dan jendela rumah. Mereka khawatir ulat bulu akan menyerang masuk ke dalam rumah.

Namun, Indonesia tampaknya sudah terlambat mengantisipasi serangan ulat bulu. Pasalnya, serangan sudah memasuki kota Jakarta, pusat segala aktivitas di Indonesia. Laporan serangan ulat bulu di Jakarta datang antara lain dari Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Sepuluh warga dilaporkan sudah menjadi korban, dan terserang gatal-gatal.

”Saya sudah instruksikan Kepala Dinas Peternakan untuk koordinasi dengan lembaga yang berwenang agar jika terjadi wabah sudah bisa diambil langkah-langkah,”kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Orang nomor satu di Jakarta ini pun meminta warga untuk segera melaporkan ke aparat yang berwenang dan terdekat bila menjumpai serangan ulat bulu di daerah mereka.

Sejarah mencatat, serangan ulat bulu sudah sering terjadi di Indonesia. Kabarnya, Probolinggo, daerah yang pertama kali dilaporkan mendapatkan invasi dari ulat bulu, juga sebelumnya pernah mendapatkan serangan serupa pada 1936 silam. Dampaknya hampir sama yaitu menimbulkan kerugian pada para pemilik kebun mangga di daerah tersebut.

"Setelah kami melakukan investigasi, ternyata pada tahun 1936 lalu juga terjadi kasus yang hampir sama, yakni serangan ulat bulu. Kali ini terjadi lagi dan menyerang lebih banyak lagi perkebunan mangga di Probolinggo," kata Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf.

Ayo, jangan sampai ulat bulu menguasai Indonesia. Kita lawan mereka sampai titik darah penghabisan…
Selengkapnya...

Cuci Otak

cuci otak
Kasus yang menimpa Laila Febriani alias Lian, 26 tahun, yang dituduh telah menjadi korban cuci otak oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII), mengingatkan saya kepada kisah beberapa teman lama. Sepertinya, saya bisa menerka-nerka apa yang telah dialami oleh CPNS Kementerian Perhubungan tersebut berdasarkan kisah teman-teman saya tadi. Saya tidak tahu apakah mereka memang direkrut oleh kelompok yang sama atau bukan. Namun, pengalaman mereka sepertinya mirip-mirip.

Laila Febriani, seorang ibu muda bersatu anak, dikabarkan menghilang sejak Kamis 7 April 2011 ketika pergi makan siang dari kantornya di Kementerian Perhubungan. Besoknya, wanita ini ditemukan petugas keamanan di Masjid Atta'awun, sebuah masjid menjelang Puncak Pas, Puncak, Bogor. Saat ditemukan, Lian terlihat linglung dan tidak ingat lagi di mana rumah dan asal usulnya. Lian ditemukan dalam keadaan telah memakai baju gamis dan memakai cadar. Ia pun mengaku bernama Maryam, dan bukan Laila Febriani.

Kisah Laila ini mengingatkan saya kepada seorang teman perempuan yang saya kenal semasa kuliah. Kami cukup akrab karena sering sama-sama aktif di sejumlah kegiatan kampus. Hingga kelar kuliah, saya sama sekali tidak menemukan ada yang janggal pada teman ini. Keanehan baru terasa ketika kami sudah lulus.

Suatu hari, beberapa bulan setelah kami lulus, teman ini menelepon ke rumah. Saya cukup terkejut karena tumben-tumbenan ia menelepon. Apalagi, ia menelepon pada jam yang seharusnya orang sudah bersantai di rumah. Kami tidak lama berbasa-basi, karena teman ini langsung mengutarakan maksudnya. Ia mengaku sedang kehabisan uang, dan minta ditransfer sejumlah uang. Karena saya sudah biasa mengorek-ngorek pengakuan orang, maka saat itu, saya pun berusaha mencari tahu dulu apa yang terjadi dengan teman ini.

Saat itu, saya merasakan ada yang aneh dengan penjelasannya. Pertanyaan saya selalu diarahkan ke permintaan uang. Bahkan, ia berharap dikirim uang Rp 20.000 saja tidak masalah, agar bisa pulang ke rumah. Namun, saya belum menduga yang macam-macam terhadap teman ini. Saya memang tidak jadi memberinya uang karena ternyata bank kami tidak sama, dan saat itu belum ada ‘ATM bersama’ atau sejenisnya. Sedangkan hari sudah malam sehingga tidak mungkin ada bank yang buka.

Saya semakin merasakan keanehan ketika teman ini kembali menelepon saya beberapa waktu kemudian, dan kembali meminta dikirimi uang. Bermacam-macam alasan yang ia sampaikan. Namun, pada umumnya ia mengaku sedang kepepet dan butuh sejumlah uang. Anehnya, ia selalu mengatakan jumlah uangnya bisa berapapun.

Saya baru tahu sepak terjang teman ini ketika saya menceritakan pengalaman saya ini kepada beberapa teman lain. Rupanya, bukan hanya saya yang sering ditelepon dan dimintai uang. Rupanya, teman-teman lain yang mengalaminya. Saya pun kemudian jadi tahu apa sebenarnya kegiatan teman saya tersebut. Rupanya, ia bergabung ke dalam sebuah kelompok tertentu. Saya tidak tahu persis kelompok apa, namun mungkin sama dengan kelompok yang merekrut Laila Febriani.

Mengapa saya mengatakan kelompok yang sama? Pasalnya, ada dua teman saya yang akhirnya tidak hanya dimintai uang dengan alasan kepepet, namun juga pernah diajak bergabung.

Begini ceritanya. Suatu hari, teman perempuan yang suka meminta uang tadi akhirnya mengajak bertemu dua teman saya. Karena sama-sama perempuan, dua teman saya tadi, mau saja diajak pergi ke sebuah rumah di kawasan Cileduk. Saya tidak tahu persis alamatnya. Namun, kata kedua teman saya itu, rumah tersebut memang berada di sekitar Cileduk.

Sesampainya di rumah, sudah ada beberapa orang lain. Mereka berpakaian sejenis dengan teman yang mengajak tadi. Yang pasti, kedua teman saya menjadi sangat tidak nyaman dan akhirnya memilih pergi dari rumah tersebut.

Menurut keduanya, mereka dicekoki oleh beragam doktrin-doktrin yang sangat menyesatkan. Mereka juga harus mempercayai dan menuruti apapun perkataan orang yang mereka sebut sebagai pemimpin. Kedua teman saya itu menduga, saat itu mereka sedang mau dibaiat. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup mereka bila tidak berhasil kabur saat itu. Bisa jadi, mereka akan mengalami cuci otak dan akhirnya takluk ke dalam kelompok itu.

Kisah Laila Febriani sepertinya mirip dengan pengalaman kedua teman saya itu. Laila awalnya mengaku pergi dengan temannya. Diduga, temannya itu membawa Laila ke sebuah tempat yang menjadi markas kelompok asal temannya itu. Disana akhirnya terjadi proses cuci otak. Laila pun dibaiat dan telah masuk ke dalam kelompok tersebut.
Selengkapnya...

Senin, 11 April 2011

Apa Sih Enaknya Buah Kiwi


Ketika berada di sebuah Hypermarket di Lippo Karawaci, rasa penasaran itu datang saat melihat tumpukan buah Kiwi di salah satu sudut rak buah-buahan. Saya pun melihat, dan kemudian memegang beberapa buah itu secara bergantian. Bulu-bulu yang memenuhi permukaan kulit buah itu, memberikan sebuah sensasi tertentu ketika saya memegangnya. Buah Kiwi tersebut tidak lembek, namun tidak juga keras.

Saya kemudian melihat harganya. Terpampang sebuah angka Rp 5.000/ buah. Saya menatap angka itu dan sesaat kemudian mengalihkan tatapan kepada sebuah buah Kiwi yang ada di genggaman tangan kanan saya. Semahal inikah harga buah ini, pikir saya dalam hati. Apa istimewanya buah yang bentuknya, menurut saya, tidak terlalu bagus ini, sehingga dihargai lima ribu perak untuk satu bijinya.

Untuk menjawab semua rasa penasaran itu, saya akhirnya memasukkan dua buah Kiwi ke dalam plastik. Saya lalu membawanya ke petugas yang biasa menimbang buah-buahan yang dibeli pengunjung. Tidak sampai satu menit, si petugas sudah mencetak harga buah Kiwi yang saya ambil tadi. Tertulis Rp 10.000. Begitulah yang terpampang di secarik kertas yang sudah menempel di plastik.

Sesampainya di rumah, saya pun memotong satu buah Kiwi. Saya lalu memakannya dengan menyendok daging buah Kiwi agar terpisah dengan kulitnya yang penuh bulu-bulu. Saya butuh waktu sesaat untuk menikmati rasanya. Dan, kesimpulan yang saya dapat, buah Kiwi tidak senikmat harganya. Bagi saya, rasa buah Kiwi sangat biasa-biasa saja. Bahkan, bagi saya, lebih nikmat makan buah Jambu Klutuk atau Jambu Bol. Dan, jauh lebih manis buah Sawo, buah yang ukuran dan warnanya sangat mirip dengan buah Kiwi.

Lantas, mengapa harga buah Kiwi begitu mahal? Bayangkan, harga satu buah Kiwi tadi sama dengan harga satu kilo Jambu Klutuk di pasar-pasar tradisional. Saya perkirakan, ada sekitar 10 sampai 15 buah Kiwi untuk satu kilogram. Artinya, harga buah Kiwi 1 kg bisa mencapai Rp 50.000. Wow!

Dugaan saya, buah Kiwi mahal karena masih diimpor. Kalau saya tidak salah, buah ini berasal dari Selandia Baru. Saya belum dapat informasi apakah sudah ada petani buah Kiwi di Indonesia. Mungkin saja sudah ada, namun belum sukses menghasilkan buah.

Katanya, buah Kiwi juga mengandung sejuta khasiat. Sebuah penelitian menyebutkan, buah Kiwi banyak mengandung gizi, dan menjadi sebagai sumber berbagai vitamin, mineral dan antioksidan yang tinggi. Katanya lagi, buah Kiwi juga menjadi sumber asam folat yang baik untuk wanita yang hamil atau tengah mempersiapkan kehamilan. Buah kiwi juga baik untuk untuk mencegah cacat lahir pada otak atau syarat tulang belakang.

Nah, Anda tahu siapa yang paling gencar mengkampanyekan segala macam khasiat buah Kiwi tadi. Namanya Zespri International. Sayangnya, perusahaan asal Selandia Baru itu bukan semacam lembaga penelitian yang khusus meneliti kandungan segala macam makanan. Zespri International juga merupakan perusahaan yang memasarkan buah kiwi ke lebih dari 70 negara di dunia. Pantas saja perusahaan ini mengkampanyekan manfaat buah Kiwi, wong, mereka juga sebagai pengekspor buah itu.

Kabarnya, mereka telah menginvestasikan jutaan dollar dana riset untuk mengetahui manfaat buah kiwi. Hasil penelitian mereka membuktikan bahwa buah kiwi memiliki kandungan serat, vitamin C, vitamin E, potasium, asam folat, carotenoid, kalsium, fosfor, magnesium, selenium, tembaga, zat besi, seng, dan antioksidan lain yang cukup tinggi. Buah dengan rasa manis sedikit asam ini juga memiliki kandungan glycaemik index (GI) dan kandungan lemak dan kolesterol yang rendah.

Buat saya, sah-sah saja perusahaan itu mengklaim buah Kiwi mengandung banyak khasiat. Namun, saya percaya, masih banyak buah-buah lain yang juga mengandung segala macam khasiat yang ada di buah Kiwi itu. Dan, buah-buah itu bisa saya peroleh dengan harga yang jauh lebih murah di Indonesia. Ya, tidak perlu buah impor, buah lokal pun banyak yang mengandung khasiat yang sama, atau bahkan mungkin lebih tinggi, daripada buah Kiwi.

Biar lah hanya para pembuat kue yang menyukai buah Kiwi. Anda tahu mengapa saya mengatakan ini? Karena buah ini memiliki bentuk yang cantik pada bagian dalamnya. Coba Anda iris buah Kiwi ini, maka biji-biji kecel pada bagian dalam dagingnya membuat daging buah ini terlihat cantik dipandang mata. Tidak heran, bila irisan daging buah kiwi biasa digunakan sebagai hiasan kue tart atau minuman.

Hingga hari ini, masih ada satu buah Kiwi lagi di dalam kulkas saya di rumah. Mungkin akan saya habiskan bila tidak ada lagi buah lain di dalam kulkas....
Selengkapnya...

Jumat, 08 April 2011

Briptu Norman Kamaru, Mendadak Tenar Karena YouTube

Brimob Gorontalo Briptu Norman
Namanya Norman Kamaru. Sehari-hari, pria ini adalah seorang anggota Polri. Saat ini, ia bertugas di Satuan Brimob Polda Gorontalo. Pangkatnya Brigadir Satu alias briptu. Pangkat boleh rendah, tapi bisa jadi, Norman kini lebih terkenal daripada bosnya sendiri, Kapolda Gorontalo. Saya sendiri bahkan tidak tahu siapa sekarang yang menjadi kapolda di provinsi hasil pemekaran Sulawesi Utara itu. Tapi, saya tahu siapa salah satu anggota Brimob di sana. Ya, siapa lagi kalau bukan Briptu Norman Kamaru. Bahkan, jangan-jangan, Briptu Norman Kamaru kini menjadi anggota Polri yang paling terkenal di Indonesia. Mmmm... bisa jadi tuh.

Briptu Norman Kamaru mendadak tenar. Ini semua gara-gara sebuah video di YouTube. Video yang berdurasi sekitar enam menit tersebut berisi adegan Briptu Norman Kamaru yang sedang melakukan lips sync lagu Chaiyya Chaiyya yang dilantunkan oleh Shahrukh Khan, seorang bintang tenar asal India.

Video tersebut menjadi perhatian banyak orang karena Norman melakukan lip sync sambil kepala, tangan, dan badannya, melakukan gerakan tarian khas India, sama dengan gerakan Shahrukh Khan di video klip lagu tersebut. Seketika saja, video yang berjudul ‘Polisi Gorontalo Menggila’ itu ditonton oleh ribuan orang di YouTube.

Anggota Brimob ini semakin tenar ketika sejumlah media, baik cetak maupun televisi, ikut-ikutan mengulas video tersebut. Video yang memang kocak dan sangat menghibur itu, diputar berkali-kali di hampir semua TV. Akhirnya, tidak heran kalau semakin banyak saja orang yang mengunduh video tadi di YouTube. Norman pun mendadak terkenal di seantero negeri ini. Orang-orang memperbincangkannya. Sepertinya, Norman pun seketika berubah menjadi seseorang bak artis yang sedang naik daun. Mirip ketika duet Sinta dan Jojo yang tenar berkat lip sync lagu dangdut 'Keong Racun'.

Akhirnya, pro kontra pun berdatangan. Yang pro mengacungkan jempol bagi Norman karena dinilai sudah bisa menghibur masyarakat. Yang kontra justru menghujatnya. Pasalnya, seorang anggota Polri seharusnya tidak boleh bercanda ketika sedang bertugas. Mungkin saja, bagi kelompok pengecam ini, polisi harus selalu displin dan berwajah dibuat sangar. Kecaman ini tidak kalah banyak dengan pujian. Bahkan, saya sempat membaca sebuah artikel di portal berita yang mengatakan Briptu Norman Kamaru bisa terkena hukuman.

Namun, sebagian besar publik tidak sependapat. Mereka menilai justru Norman sudah berperilaku benar. Polisi bukan lagi bagian militer. Polisi adalah bagian dari masyarakat yang tidak boleh ada kekakuan pada diri mereka. Kalau hanya gara-gara menyanyi di waktu bertugas saja harus dihukum, lantas bagaimana dengan polisi-polisi yang dituduh memiliki rekening gendut, bagaimana dengan polisi yang masih suka memeras, bagaimana dengan polisi yang masih suka berkolusi dengan orang yang berperkara, atau bagaimana dengan polisi lalulintas yang masih suka ‘main mata’ dengan para pelanggar lalu lintas.

Dukungan publik bagi seorang Norman Kamaru akhirnya membuat sang anggota Brimob itu di berada atas angin. Institusi Polri malah kemudian mendukungnya. Norman pun datang ke Jakarta dan diundang ke Mabes Polri, yang mungkin tidak pernah diinjaknya sebelumnya. Briptu Normam pun bertemu dengan sejumlah jenderal di sana. Dan, tidak lupa, ia pun didaulat menyanyikan lagu India seperti yang ada di videonya di YouTube.

Oya, menurut Briptu Norman Kamaru, ia membuat video yang akhirnya menghebohkan masyarakat itu, karena ingin menghibur seorang temannya yang sedang ada masalah dengan istrinya. "Ketika sedang piket, teman sepiket saya sedang stres sama istrinya. Seharian dia tidak pernah senyum. Jadi saya inisiatif membuat video itu," kata Norman dalam jumpa pers di Mabes Polri. Tidak tanggung-tanggung, Norman yang berseragam Brimob warna gelap itu, berbagi cerita dengan wartawan sambil diapit oleh dua jenderal, Kadiv Humas Irjen Anton Bachrul Alam dan Brigjen Ketut Untung Yoga Ana.

Di Video, tampak teman Norman yang duduk di sebelahnya sama sekali tidak bereaksi dengan ulah Norman yang sedang lip sync lagu India sambil berjoget. Teman Norman tampak cuek dan terus hanya memainkan ponsel. Tak lama kemudian, datang lagi satu anggota Brimob. Dia juga cuek, dan tidak memperhatikan Norman yang asyik berdendang India. Sesekali, Norman berusaha menggoda temannya yang serius menatap ponsel di tangannya. Namun, respons tetap nihil.

Ketika video rekaman lip sync Norman sudah terekam dengan kamera ponselnya, dia lantas menunjukkan kepada rekannya yang sedang bersedih itu. "Jadi saya ingin menghibur dia, saya rekam saja. Setelah itu saya tunjukkan ke dia, eh ternyata dia senyum dan nggak sedih lagi," kata Norman.

Norman mengaku tidak tahu siapa yang mengupload videonya itu ke YouTube. Namun, yang pasti, siapapun orang yang mengupload, Norman mendapatkan berkahnya. Ia mendadak tenar bak artis papan atas.
Selengkapnya...

Selasa, 05 April 2011

Andrie Wongso, Motivator yang Tidak Lulus SD

Kegemaran Andrie Wongso merangkai kata mutiara membuahkan hasil manis. Setelah sempat sukses di bisnis kartu ucapan lewat bendera Harvest, berbekal keterampilan yang sama, saat ini, Andrie mendulang sukses sebagai motivator.

Anda mungkin mengenal produk kartu ucapan merek Harvest yang banyak dijajakan di toko buku. Di era 1990–2000, Harvest terkenal sebagai kartu ucapan yang berisi kata-kata mutiara. Belakangan, bisnis Harvest melebar ke produk tas, buku catatan kecil (memo), buku tulis, dan stiker.

Pemilik PT Harvindo Perkasa, pemegang merek Harvest, adalah Andrie Wongso. Pria 57 tahun ini mengaku, di masa jayanya, produksi kartu Harvest bisa sampai 10 juta lembar semusim. Musim kartu ucapan adalah saat Lebaran, Natal, tahun baru, serta Valentine. Saat ini, bisnis kartu ucapan memang meredup, meski permintaan produk lain masih banyak.

Pada tahun 1985, Andrie memulai bisnis kartu ucapan dari nol. Bermodal duit tabungan pribadi, dia membuat kartu ucapan di atas kertas kecil. Kertas yang semula berfungsi sebagai pembatas buku tersebut ia tulisi kata-kata mutiara karangannya sendiri.

Andrie menawarkan kartunya ke sejumlah toko di Jakarta. Tapi, tidak mudah memasarkan produk yang masih dianggap remeh itu. Banyak toko menolaknya. Untung, akhirnya, ada toko di Pasar Pagi, Mangga Dua, yang bersedia menerima produknya. Saat itu, produk bermerek Harvest tersebut ia jual seharga Rp 100 per lembar.

Tak disangka, kartu tersebut mendapat sambutan positif dari pasar dan cepat menjadi tren di kalangan anak muda. Roda bisnis Andrie pun makin kencang berputar. Produk Harvest mulai masuk ke toko-toko besar. Saking banyaknya penggemar, Andrie sampai mendirikan Harvest Fans Club, wadah bagi para pecinta produk ini.

Tapi, sebelum sukses membesarkan Harvest di Indonesia, Andrie harus melalui jalan hidup yang terjal. Pria asal Malang, Jawa Timur, ini tidak pernah lulus sekolah dasar (SD). Sebab, SD Mandarin tempatnya belajar dulu ditutup ketika pecah kerusuhan politik tahun 1965. Andrie yang berasal dari keluarga miskin tak mampu pindah ke SD umum. Ia harus puas menghabiskan masa kecil dengan membantu orang tuanya membuat aneka kue yang dititipkan di pasar.

Berniat ingin sukses, tahun 1974, Andrie merantau ke Ibukota dan bekerja sebagai penjual sabun detergen keliling. Dia lalu berganti pekerjaan menjadi penjaga toko listrik di Kenari Jaya, Jakarta Pusat. “Upah saya saat itu sekitar Rp 30.000 per bulan,” kenangnya.

Tahun 1976, anak kedua dari tiga bersaudara ini mendirikan perguruan kungfu Hap Kun Do. Ini bukan kebetulan. Andrie memang memiliki kecakapan ilmu bela diri yang ia pelajari secara autodidak sejak kanak-kanak. Uang hasil mengajar kungfu ia kumpulkan untuk mewujudkan cita-citanya: menjadi bintang film kungfu.

Cita-cita Andrie itu tercapai. Pada tahun 1980–1982, dia dikontrak oleh perusahaan Eterna Film, Hongkong. Cuma, kariernya sebagai bintang film tak menjanjikan. Ia tidak pernah menjadi pemeran utama. Dia hanya bisa puas lantaran cita-cita masa kecil tercapai.

Andrie lantas memutuskan kembali ke Indonesia. Ia kembali mengelola perguruan kungfu. Di tengah aktivitas mengajar ini, bapak tiga anak ini sering menuangkan hobi menulis kata-kata mutiara yang ia ambil dari kisah hidupnya. Kumpulan kata-kata mutiara itulah yang kemudian memberi inspirasi untuk berbisnis kartu ucapan.

Namun, torehan manis Harvest tak langgeng. Ketika Indonesia terkena krisis moneter pada 1998, Andrie merasakan bisnis kartu ucapannya mulai porak-poranda. Namun, bukan cuma faktor ekonomi biang keladi satu-satunya. Sejak 2000, saat penggunaan telepon seluler (ponsel) mulai marak, bisnis kartu ucapan memang makin terpuruk. “Kirim ucapan lewat SMS tentu lebih murah ketimbang kirim kartu,” ujar Andrie.

Produk sama, media beda
Alhasil, sejak 10 tahun silam, bisnis kartu ucapan Harvest mulai meredup. Kini, produk Harvest yang tersisa tinggal kertas isi ulang (looseleaf), kertas kado, dan tas sekolah anak. Namun, Andrie tetap menghadapi kondisi tersebut secara bijak dan pantang menyerah.

Andrie lantas mengalihkan bisnisnya ke bidang motivasi. Kebetulan, sejak menggarap Harvest, dia kerap diundang menjadi pembicara untuk membagikan kisah hidupnya. Lama-lama, namanya mulai dikenal sebagai motivator.

Andrie lantas memaksimalkan peran sebagai motivator dengan membuat buku, majalah, dan compact disc (CD). Enam bukunya sempat menjadi best seller. Majalah Luar Biasa buatannya dicetak hingga 30.000 eksemplar per bulan. Di jaringan tokonya, AW Success Shop, ia juga menjual aneka pernik, seperti kaus dan bantal bertuliskan kata motivasi. “Dulu, saya pakai media kartu, sekarang lewat aneka produk ini,” ujarnya. Sekali diundang sebagai motivator, tarif Andrie bisa di atas Rp 50 juta.

Tahun ini, Andrie akan melebarkan bisnisnya dengan membuka sekolah motivasi di Central Park, Jakarta Barat. Sayang, Andrie enggan mengungkapkan penghasilannya saat ini.

Sumber: Kontan
Selengkapnya...

Senin, 04 April 2011

Cara Jitu Bawa Durian Naik Pesawat


Membawa durian naik pesawat? Ah, tidak mungkin. Banyak orang yang malas melakukannya. Pasalnya, sering kali petugas bandara menyita durian kita, karena ada larangan membawa durian ke dalam pesawat.

Lho, memang kenapa dilarang? Apa bisa mengganggu navigasi pesawat, sehingga harus dilarang seperti pelarangan menggunakan HP di dalam kabin? Rasa-rasanya sih iya.

Durian adalah buah dengan bau yang sangat khas. Bila ada di ruang tertutup, maka bau durian akan terjebak di dalamnya. Semakin lama terjebak, maka semakin tajam baunya. Karena tidak tahan dengan baunya, maka orang-orang di dalamnya bisa mual-mual, muntah, atau bahkan pingsan. Bayangkan bila yang mengalami ini adalah pilot pesawat. Kalau pilot pingsan akibat tidak tahan dengan bau durian yang dibawa penumpang ke dalam kabin, entah apa yang kemudian terjadi dengan pesawat. Durian berarti telah menjadi alat pembunuh.

Mengapa saya menceritakan ini?

Tulisan ini merupakan sambungan dari artikel saya sebelumnya yang berjudul Durian Medan Ada Sepanjang Tahun. Ada beberapa teman yang bertanya, bagaimana caranya menjadikan durian medan sebagai oleh-oleh ke rumah. Pasalnya, mereka selalu gagal melewati pemeriksaan bandara. Bahkan, teman saya sendiri juga pernah gagal ketika saya memesan oleh-oleh durian dibawakan durian ketika ia ke Medan. Akhirnya, durian tadi ditinggalkan di Medan.

Nah, saya akan berbagi tips bagaimana membawa durian naik pesawat. Tips ini merupakan hasil pengalaman saya selama ini. Saya sudah sering membawa durian sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah, dan belum pernah gagal. Memang beberapa kali nyaris gagal karena ketahuan oleh petugas bandara, namun akhirnya bisa lolos juga setelah sedikit ‘bersilat’ lidah. Hehehe…

Bila kita berangkat dari kota yang menjadi produsen durian, petugas bandara memang pasti akan mencurigai setiap barang bawaan kita. Salah satunya terjadi di Bandara Polonia, Medan. Maklum saja, Medan terkenal sebagai salah satu produsen durian di Indonesia. Sudah banyak laporan penumpang lolos membawa durian ke pesawat dan akhirnya menganggu kenyamanan di di pesawat.

Bahkan, jatuhnya pesawat Mandala Air di ujung landasan Bandara Polonia, 5 September 2005 silam, kabarnya gara-gara kebanyakan mengangkut durian. Wah, saya sih tidak percaya dengan pernyataan ini. Namun, isu ini berkembang terus sampai hari ini.

Karena itu, berhati-hatilah Anda saat berniat membawa buah beraroma khas itu dari bandara ini. Bisa jadi, Anda akan gagal meloloskannya. Pasalnya. Petugas di sana akan meneliti secara ketat semua barang kita lewat x-ray maupun penciuman. Bila ketahuan ada durian, maka sudah pasti petugas akan melarang kita membawanya. Kalau tidak ada lagi sanak keluarga yang masih menunggu keberangkatan kita di bandara, maka tidak ada jalan lain, kecuali membuang durian itu, atau memberikannya kepada si
petugas bandara tersebut. Alangkah ruginya kita.

Yang harus diingat, petugas hanya akan memeriksa barang bawaan kita dari pemeriksaan x-ray dan penciuman. Karena itu, agar lolos dari pemeriksaan, maka durian harus kita samarkan. Caranya banyak, kok. Yang paling sering dipakai adalah membawa durian tanpa kulit. Daging durian diambil dan dimasukkan ke dalam wadah plastik. Agar bau durian tidak tercium, maka kita harus tutup rapat-rapat. Ada orang menaburkan kopi untuk mengaburkan bau durian, namun saya tidak pernah memakainya. Saya cukup menutup rapat-rapat wadah plastik tadi dengan lakban.

Mungkin Anda ketawa ketika saya mengatakan jangan membawa durian dengan kulitnya. Sebab, menurut Anda, ini pasti tidak mungkin. Namun, saya dan teman-teman lain, pernah melakukannya. Dan, lolos!.

Jadi, ceritanya, beberapa tahun lalu sedang musim durian di Medan. Usai bertugas di sana, kami pun ingin memberikan oleh-oleh durian kepada teman-teman di kantor. Dengan modal Rp 50.000, kami sudah mendapatkan durian sangat banyak. Maklum, durian dibeli langsung ke sumbernya di Kabupaten Langkat.

Saat itu, kami pun nekat membawa durian utuh bersama kulit-kulitnya. Caranya adalah dengan menyelundupkannya ke dalam tumpukan peralatan kerja yang banyaknya hampir satu mobil box. Durian kami bungkus dengan sebuah gulungan plastik yang cukup tebal. Seluruh barang lalu kami paketkan lewat sebuah perusahaan pengiriman paket. Dalam hari yang sama, rombongan kami pun pulang ke Jakarta. Sesampainya di kantor, sebuah pesta durian pun berlangsung di kantor. Ini bukti nyata kalau durian yang masih utuh pun bisa lolos naik ke pesawat. Hehehe….

Tapi, saran saya, sebaiknya durian memang jangan dibawa bersama kulit-kulitnya. Lebih baik masukkan saja ke dalam wadah plastik agar lebih terjamin bisa lolos dari pemeriksaan.

Saat diperiksa dengan x-ray, petugas masih akan mencurigai durian kita. Nah, kita harus sudah menyiapkan alasan ketika petugas bertanya. Pertanyaan yang paling sering dilontarkan adalah, “membawa durian, Pak? Saya pasti menjawab, ‘Tidak, Pak!” Kalau akhirnya si petugas ngotot agar kita mengaku, maka kita harus punya argumentasi lain. Misalkan, menyebut barang yang kita bawa adalah biji pala, buah kedongdong, atau apapun yang menyerupai biji durian.

Kalau Anda tidak siap ‘bersilat lidah’, maka Anda harus rela membawa durian tidak dengan bijinya. Memang, cara ini semakin menyita waktu karena harus memisahkan daging dari biji durian. Tapi, demi niat Anda untuk membawa durian sebagai oleh-oleh dari Medan, maka tidak salahnya cara ini pun harus Anda tempuh. Tapi, harus tetap diingat, bau durian harus tetap disamarkan.

Tapi, kalau Anda tetap malas melakukan cara ini, namun tetap ingin membawa durian medan sebagai oleh-oleh, maka Anda bisa membeli pancake durian. Ini bukan pancake seperti pada umumnya. Pancake durian ini terbuat dari durian asli yang sudah ditambahi semacam krim. Produsen membuat makanan ini dengan cara melepas daging durian dari bijinya, lalu durian digulung dengan krim di bagian tengahnya. Jadi, rasanya tetap durian asli.

Pancake durian banyak dijual di toko oleh-oleh di Medan. Harganya sekitar Rp 50.000 per bungkus, dengan isi sekitar 12 potong durian. Rasanya dijamin asli rasa durian medan. Apalagi, dimakan dalam kondisi dingin. Mmmm….sedapnya. Salah satu toko yang menjual pancake ini, ada di Jl. Rasak No.9 (simpang Kruing) Medan.

Nah, apapun cara yang Anda pilih, satu yang harus selalu diingat. Anda tidak boleh menenteng oleh-oleh durian tadi. Anda harus selalu menyamarkannya ke dalam barang bagasi Anda. Sebab, di pemeriksaan pertama di pintu masuk ruang check in, mungkin barang tentengan Anda bisa lolos. Namum, jangan harap di pemeriksaaan kedua yang menuju ruang tunggu keberangakat. Biasanya, petugas di sini akan memeriksa semua barang bawaan kita dengan lebih ketat lagi.

Saya juga tidak paham mengapa demikian. Tapi, dugaan saya, karena barang yang melewatu pemeriksaan kedua ini akan masuk ke ruang kabin, maka tentu pemeriksaan harus diperketat. Bau durian yang sangat menyengat tentu akan menganggu semua orang di kabin. Jadi, walau Anda bisa mengelabui petugas di sini, namun kasian sekali para penumpang yang ada di kabin pesawat. Durian Anda pasti menyebarkan bau. Sebab, bau durian akan beraksi dengan udara dan menyebar lewat pendingin. Bisa-bisa, kisah pilot yang pingsan karena bau durian yang menyengat di dalam kabin pesawat, menimpa Anda.

Jadi, sekali lagi, durian haru selalu masuk ke dalam bagasi. Apapun cara Anda menyamarkan durian, harus tetap masuk bagasi dan jangan dibawa masuk ke kabin. Sekali lagi, masuk bagasi!

Nah, itulah tips dari saya untuk Anda yang ingin menjadikan durian sebagai oleh-oleh dari kota yang berlimpah-ruah dengan durian, seperti Medan. Selamat menikmati durian…..


Selengkapnya...

Minggu, 03 April 2011

Maera A. Panigoro, Impresario Baru Pertunjukan Teater Musikal

Nama belakang perempuan ini mengingatkan orang pada sosok pendiri Grup Medco Energi, Arifin Panigoro. Ya, ia memang putri sulung orang yang sedang ngetop berkat isu persepakbolaan nasional itu.

Nama Maera kerap disebut-sebut media lantaran lulusan Perth Australia Edward’s College di bidang Human Resources Management ini sukses menghelat pertunjukan teater musikal Gita Cita Anak SMA pada Agustus 2010.

Mungkin karena keberhasilan itu, dalam waktu dekat ia akan meluncurkan pertunjukan teater musikal keduanya, Ali Topan Anak Jalanan, pada April 2011. “Saya nggak ikut bisnis Bapak (Arifin),” ujarnya di tempat latihan drama musikal. Alasannya, ia lebih tertarik di bidang seni ketimbang pertambangan. “Saya suka menyanyi dan menari,” ungkap wanita kelahiran Bandung 4 April 1973 ini.

“Impian saya sederhana, industri seni pertunjukan di Indonesia yang dimiliki dan dikembangkan oleh anak bangsa bisa berkembang baik dan diterima oleh bangsanya sendiri di tengah maraknya pertunjukan asing menyerbu Indonesia. Kesannya idealis, ya,” ujar wanita 38 tahun ini seraya tersenyum.

Toh, seni bukan hal baru bagi Maera. Diceritakannya, sejak kecil, ia sudah diperkenalkan dengan berbagai macam jenis musik mulai dari Billy Holiday sampai The Beatles; mulai dari genre jazz, pop, slow, rock, sampai opera. Dan, bisa dikatakan keluarganya adalah pencinta seni musik. “Tiada hari tanpa musik dalam hidup saya. Sewaktu sekolah pun, untuk dapat menghafal pelajaran, akan lebih mudah bagi saya apabila kata-katanya dijadikan musik,” ujar sulung dari dua bersaudara ini.

Film musikal pertama yang ia tonton adalah Easter Parade yang dibintangi Judy Garland, Fred Astaire, Peter Lawford dan Ann Miller. Sejak itu, ia mengaku jatuh cinta pada drama musikal, Sound of Music dan Oklahoma. Terlebih lagi setelah ia mendapatkan kesempatan melihat langsung pertunjukan West End dan Broadway, seperti Phantom of The Opera, Les Miserables dan Miss Saigon. Menurut Maera, pertunjukan semacam itu indah karena memadukan tiga unsur sekaligus, yakni musik, tari dan akting. Di sini, bernyanyi tidak sekadar bernyanyi, tetapi berdialog dengan lagu sekaligus harus bisa berakting dengan ekspresi yang memengaruhi emosi penonton. “Kadang, saya terbang ke London hanya untuk menonton seni pertunjukan teater musikal,” tuturnya tanpa pretensi.

Kata Maera, karena seringnya menyaksikan pertunjukan semacam itu, akhirnya timbul keinginannya untuk menampilkan pertunjukan semacam Broadway di Indonesia. Dari sini ia bertemu dengan Ari Tulang, koreografer tari ternama di Jakarta, dan Dian HP, komposer musik beken di Indonesia. “Saya ajak mereka ke London. Untuk studi banding dulu. Dan, sepulang dari sana, saya putuskan menampilkan pertunjukan teater musikal yang mudah diterima,” katanya. Dan praktis kedua rekan ini terlibat dalam pendirian usaha impresariatnya yang bernama Artswara.

Lantas, mengapa temanya percintaan melankolis? Diakuinya, tema pertama yang dipilih agar mudah diterima penonton adalah tema percintaan yang everlasting yang sudah dikenal baik oleh kalangan penonton seni pertunjukan. Ia lantas teringat cerita cinta anak SMA yang sangat ngetop tahun 1980-an karya novelis Eddy D. Iskandar dan filmnya dibintangi Rano Karno dan Yessi Gusman itu, yaitu Gita Cita Anak SMA.

“Acuan pertunjukan teater musikal saya tentu tetap pada Broadway, namun saya kemas dalam konsep bisnis pertunjukan yang mudah dicerna dan dinikmati penonton,” ujarnya. Ia butuh waktu sekitar lima bulan untuk memantapkan konsep bisnis pertunjukan teater musikal ini sampai deal pada pilihan tema, naskah dan pemerannya. Untuk pertunjukan musikal Gita Cinta dari SMA ini, seluruh prosesnya memakan waktu sekitar 9 bulan sampai hari H pertunjukan.

Menurut Maera, tantangan pada produksi bisnis pertunjukan ini ada pada memilih talent dan mencari sponsor pihak ke-3. Alasannya, mencari sosok yang punya keterampilan menyanyi, akting dan menari sekaligus tidak mudah. Sebagai jalan keluar, “Saya menggandeng perusahaan yang punya CSR yang peduli dengan perkembangan seni budaya di Indonesia.”

Meski berkiprah dalam bidang seni, Maera mengaku tak melupakan aspek bisnisnya. Terbukti untuk memayungi idealisme seninya itu, ia mendirikan PT Artistika Mahaswara Indonesia (Artswara) pada Agustus 2009. Perusahaan ini bergerak di bisnis rumah produksi musik dan hiburan, khususnya di bidang performing arts. Visi-misinya adalah membuat pertunjukan drama musikal yang mempunyai nilai edukasi yang berkualitas.

Nah, selain pertunjukan drama musikal, Artswara juga akan terjun dalam bisnis recording dengan nama Artswara Recording. Dalam Artswara Recording ini ada artist management, recording project dan recording studio. “Saya sedang pelan-pelan mengembangkan bisnis produksi seni ini,” katanya merendah. “Soal modal atau investasi awal, jangan ditanya-tanya, ya!” tambahnya seraya tertawa.

Sumber: SWA
Selengkapnya...

Sabtu, 02 April 2011

Jangan Percaya pada Wanita Cantik


Judul di atas memang cukup menyeramkan. Kalimat ini saya kutip dari celetukan seorang teman dalam sebuah perbincangan ringan tadi sore. Saya sendiri sudah pasti tidak setuju dengan ucapan teman tersebut.

Sampai detik ini, saya masih mengagumi kecantikan yang dimiliki para perempuan. Saya percaya, Tuhan memberikan anugrah itu, tentu, untuk bisa dikagumi semua orang. Karena saya masih percaya dengan perempuan cantik ataupun kecantikan perempuan, saya akhirnya memasukkan kecantikan sebagai salah satu syarat ketika dulu hunting istri. Alhamdulillah, syarat itu pun terpenuhi, dan nyata-nyata tidak ada masalah, tuh. Artinya, perempuan cantik bukan musibah.

Lantas, mengapa celetukan teman tadi bisa muncul?

Celetukan tidak sedap dari seorang teman tadi keluar karena seminggu belakangan ini, publik memang dikejutkan oleh beragam berita yang menyangkut perempuan berparas cantik. Celakanya, berita ini bukan karena prestasi para perempuan cantik tadi, melainkan muncul di pemberitaan karena mereka dituduh berbuat kejahatan. Duh, sayang sekali ya.

Wanita pertama bernama Inong Melinda atau beken dengan nama Melinda Dee, dan sering disingkat menjadi MD saja. Dia adalah pelaku pencucian uang sebesar Rp 17 miliar milik para nasabah prioritas Citibank. Melinda sehari-sehari menjabat sebagai senior relations manager di bank yang beken dengan kartu kreditnya itu. Mungkin karena jabatannya itu yang membuat ia begitu leluasa ‘bermain-main’ dengan uang nasabah.

Saya juga awalnya penasaran dengan sosok wanita yang kabarnya sudah berumur 47 tahun itu. Seberapa cantik sih dia, sampai-sampai mendadak terkenal begitu. Rasa penasaran saya tidak butuh waktu lama untuk menjawabnya. Sepanjang hari ini, hampir semua TV menayangkan berita si manajer Citibank itu, lengkap dengan sejumlah fotonya. Mmmm....saya akhirnya paham mengapa banyak judul beritanya adalah ‘Si Cantik Penipu Miliaran Rupiah’, atau ada judul lain yakni, ‘Si Seksi yang menjadi Penipu’. Dari hasil melihat foto-fotonya, saya juga paham mengapa dipilih kata ‘seksi’. Hehehe....


Si manajer cantik (oke lah, saya sepakat saja menyebut si Melinda ini cantik) ini ditangkap polisi pada Rabu, 23 Maret 2011, setelah pihak Citibank melaporkannya ke polisi. Sejumlah harta Melinda sudah disita Polisi. Seperti sebuah mobil Hummer H3, Mercedes-Benz, dan 2 Ferrari. Wow, selera mobilnya sangat tinggi sekali. Rasa-rasanya semua mobil tersebut berharga di atas Rp 1 miliar.

Modus yang digunakan perempuan berusia 47 tahun ini adalah dengan menyulap blanko investasi kosong yang ditandatangani nasabah untuk pencairan dana, namun uang tersebut tidak diinvestasikan. Melinda lantas mengalirkan duit sejumlah Rp 17 miliar ke rekening perusahaan pribadinya. Kabarnya, perbuatan busuknya ini mulus berkat bantuan seorang teller di Citibank.

Modus ini kabarnya tergolong kategori baru. Namun, karena Melinda adalah manajer yang mengurusi nasabah kelas kakap di Citibank, tentu sangat mudah baginya untuk beraksi. Penampilan yang aduhai, tutur kata yang sopan dan menyakinkan, dan jabatan yang mendukung, tentu menjadi modal utama bagi Melinda untuk mengambil kepercayaan para korbannya.

Perempuan cantik kedua yang membuat heboh adalah berita penangkapan
Sally Yustiawati, seorang perempuan muda yang disebutkan juga berparas cantik. Penangkapan Sally menghebohkan karena ia sempat tenar bak bintang sinetron sekitar setahun lalu. Ia dicap sebagai seorang penipu kelas ulung alias nomor wahid. Pasalnya, Sally selalu berhasil lolos walau sudah dikejar-kejar. Kisah wanita ini sepertinya mirip dengan peran Leonardo Di Caprio di film 'Catch Me If You Can'. Di film ini, bintang film Titanic itu berperan menjadi penipu muda belia yang selalu lolos kejaran FBI.

Setelah berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun sukses lolos dari kejaran para korbannya dan tentu saja dari kejaran polisi, Sally akhirnya berhasil ditangkap di Hotel Amaris Kuta, Denpasar, Bali, hari Sabtu 26 Maret 2011.

Perempuan cantik beranak satu itu dituduh menjadi penipu puluhan atau mungkin ratusan orang. Sama dengan Melinda, orang pun percaya kepada Sally karena ia berparas ayu, bertutur kata menyakinkan, dan pandai bergaul. Orang percaya saja meminjamkan sejumlah uang kepadanya. Bahkan, banyak orang tertipu oleh bujuk rayunya dalam bisnis pulsa.

Dua wanita cantik yang kini berakhir di ruang tahanan polisi. Dua wanita cantik dengan satu kasus yang sama: dituduh menipu!

“Makanya, jangan percaya sama wanita cantik!” ucapan teman itu masih terngiang-ngiang. Namun, saya tetap tidak setuju dengannya...
Selengkapnya...

Jumat, 01 April 2011

Wendy Chandra, Penguasa Media “Mainan” yang Bukan Main-main

Boleh saja disebut mainan, tetapi tak selamanya menjadi ajang main-main. Buktinya Wendy Chandra, pria kelahiran Bandung ini justru menjadikan mainan sebagai inspirasi bisnisnya. Ia mengembangkan media game mulai dari Animonster, Cinemags dan Gamestation. Di luar itu ada juga majalah Gadget dan Kiddo serta majalah lisensi MacWorld.

Mulanya Wendy adalah pehobi game dan komik Jepang. “Tahun 1991, saya bersama teman-teman kuliah sangat menggandrungi game,” ucap Wendy sembari mengenang awalnya bersentuhan dengan bisnis yang membesarkan namanya itu.

Ketika itu ia merasakan informasi tentang game masih kurang banyak, apalagi pasokan kaset game di Bandung hampir tidak ada. “Dari situlah kami berempat mulai merintis bisnis gerai game yang bernama Vega,” kata Wendy, Sarjana Manajemen dari Universitas Parahyangan dan Master Pemasaran dari San Francisco State University, Amerika Serikat, yang memulai usaha tahun 1994. Dengan modal awal sekitar Rp 20 juta yang dibagi rata, mereka pun eksis berbisnis.

Gerai di bawah bendera PT Vegindo Tunggal Perkasa yang berlokasi di Jl. Ranggamalela ini menjual game Super Nintendo, komputer dan komik asal AS seperti DC, Marvell, sekaligus alat permainan game. Momentum berkembang diraih saat era konsol game Sony Playstation hadir di Indonesia. Saat itu CD permainan Sony Playstation sangat laris.

Sejak itu bisnis mereka membesar dengan anggota sebanyak 1.000 orang lebih. Berawal dari sinilah langkah ke bisnis media diayunkan. Guna memberikan pelayanan dan informasi terbaru seputar game, Wendy membuat sebuah buletin yang berisi daftar game, preview, walkthrough dan cheats game dengan nama Mega Game Indonesia (Megindo).

Buletin tersebut perlahan-lahan berbiak dari 8 halaman menjadi 16 halaman lalu naik lagi jadi 32 halaman, hingga akhirnya berubah nama menjadi Majalah Gamestation pada 1996 di bawah naungan PT Megindo Tunggal Sejahtera. Promosi majalah ini selanjutnya digencarkan bukan hanya menggaet komunitas, tetapi juga menawarkan ke toko game dengan lebih dulu membuat sampling, ke forum di Internet seperti KasKus dan Kafegaul. Acara pun digelar untuk membangun citra perusahaan dan majalah. Contohnya penyelenggaraan kompetisi game Winning Eleven. “Itu paling besar, di Mall Ambassador, tahun 1995. Pesertanya mencapai 1.000 orang,” katanya.

Untuk mengisi kontennya Wendy berhasil mengembangkan jaringan hingga ke pengembang game di AS. Keberhasilan membangun jaringan ini selain karena Wendy pernah bekerja di penerbit game Konami selama dua tahun selulus dari San Francisco State University, juga karena dirinya sering nongkrong di Silicon Valley, tempat berkumpulnya para penerbit game.

Wendy pun kemudian mulai membuka kantor distribusi di Jakarta karena memang 70% dari total eksemplar Majalah Gamestation beredar di Jakarta. Wendy menuturkan, kendala ketika pertama kali menghadirkan majalahnya adalah di bidang distribusi hingga ke seluruh penjuru Indonesia. Awalnya majalah ini disalurkan hanya ke toko game, lalu berkembang hingga ke agen, toko buku dan lapak penjual koran di jalan.

Kerja sama distribusi pernah pula dilakukan Megindo dengan Grup Mugi Rekso Abadi (MRA) untuk mengantisipasi kebocoran distribusi. Namun, karena masalah internal, pegawai dari MRA ditarik untuk membidani distribusi independen milik Megindo. “Lalu dengan tim yang ada, kami mencoba melakukan ekspansi dengan menerbitkan dua majalah lagi yaitu Cinemags dan Animonster,” ungkapnya.

Dalam mempromosikan Cinemags yang mengulas film terkini, Wendy bekerja sama dengan jaringan bioskop 21 untuk mengadakan nonton bareng. Bagi Animonster yang menyasar penggemar komik Jepang, Wendy mencari kerja sama dengan televisi berbayar AXN untuk program Animax dan penerbit komik di Jepang yang lantas memberikan preview produk-produknya.

Sampai sekarang, Wendi dkk. telah memiliki 6 majalah dengan tambahan Gadget dan Kiddo tahun 2000, MacWorld tahun 2004, serta menerbitkan berbagai macam buku dan komik.

Wendy mengklaim Gamestation kini oplahnya mencapai 50 ribu eksemplar, dan Cinemags 50-100 ribu eksemplar per edisi tergantung offer dan event film tertentu. Lalu berturut-turut, rata-rata penjualan Animonster sebanyak 20 ribu, Gadget 20 ribu, Kiddo 10 ribu, dan MacWorld 10 ribu eksemplar. Wendy menyebutkan, Animonster pernah memperoleh predikat dari AC Nielsen sebagai majalah yang paling banyak dibaca di segmen anak-anak.

Meski kini memiliki banyak bisnis, perjalanan Wendy tak selalu mulus. Dia bahkan pernah menelan kerugian sampai Rp 7 miliar. Musibah itu terjadi saat dirinya mengambil S-2 di AS tahun 1996 dan tampuk kepemimpinan diserahkan kepada temannya. Saat itulah terjadi kerugian yang bersumber dari distribusi dan percetakan.

Sepulang ke Indonesia tahun 2000 Wendy berbenah-benah dan mencari investor baru. Dirinya juga lantas mencopot orang-orang yang tidak kompeten. Maka, lanjut Wendy, dirinya berhasil mengembalikan arus keuangan perusahaan setelah dua tahun. Kegigihan Wendy yang kini memegang 45% saham Megindo itu selain membuahkan bisnis yang relatif mapan, juga menghasilkan sebuah gedung berlantai empat di gerai pertama Vega. “Lantai satu untuk gerai game, ini yang terbesar di Bandung, sedangkan lantai dua, tiga dan empat merupakan kantor,” kata Wendy yang bisnisnya kini diawaki 200 karyawan dengan omset sekitar Rp 5 miliar per bulan.

Charly Himawan, Direktur Produk Megindo yang teman dekat Wendy menuturkan, sosok Wendy adalah pemimpin yang kreatif. “Sering kami berbicara tentang suatu konsep yang akhirnya ternyata dapat menjadi sebuah produk bisnis,” ujarnya. Adapun Nadya Tamara, Direktur Penjualan Megindo mengklaim, oplah berbagai majalah Megindo dari tahun ke tahun meningkat 5%-10%.

Meski usahanya sudah berjalan stabil di bawah kendali para profesional, Wendy belum puas. Salah satu rencananya yang sedang berjalan yakni mengembangkan sarana pembayaran online bagi penggemar game. Selain itu, Wendy ingin menjadikan medianya sebagai majalah gratis atau freemagz. Maka, Wendy berusaha menyasar jenis media baru yaitu media digital yang sekarang memang sedang booming. “Dalam satu-dua bulan ke depan kami akan mengeluarkan satu konsep majalah baru di dunia elektronik.

Sumber: SWA
Selengkapnya...