Rabu, 13 April 2011

Cuci Otak

cuci otak
Kasus yang menimpa Laila Febriani alias Lian, 26 tahun, yang dituduh telah menjadi korban cuci otak oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII), mengingatkan saya kepada kisah beberapa teman lama. Sepertinya, saya bisa menerka-nerka apa yang telah dialami oleh CPNS Kementerian Perhubungan tersebut berdasarkan kisah teman-teman saya tadi. Saya tidak tahu apakah mereka memang direkrut oleh kelompok yang sama atau bukan. Namun, pengalaman mereka sepertinya mirip-mirip.

Laila Febriani, seorang ibu muda bersatu anak, dikabarkan menghilang sejak Kamis 7 April 2011 ketika pergi makan siang dari kantornya di Kementerian Perhubungan. Besoknya, wanita ini ditemukan petugas keamanan di Masjid Atta'awun, sebuah masjid menjelang Puncak Pas, Puncak, Bogor. Saat ditemukan, Lian terlihat linglung dan tidak ingat lagi di mana rumah dan asal usulnya. Lian ditemukan dalam keadaan telah memakai baju gamis dan memakai cadar. Ia pun mengaku bernama Maryam, dan bukan Laila Febriani.

Kisah Laila ini mengingatkan saya kepada seorang teman perempuan yang saya kenal semasa kuliah. Kami cukup akrab karena sering sama-sama aktif di sejumlah kegiatan kampus. Hingga kelar kuliah, saya sama sekali tidak menemukan ada yang janggal pada teman ini. Keanehan baru terasa ketika kami sudah lulus.

Suatu hari, beberapa bulan setelah kami lulus, teman ini menelepon ke rumah. Saya cukup terkejut karena tumben-tumbenan ia menelepon. Apalagi, ia menelepon pada jam yang seharusnya orang sudah bersantai di rumah. Kami tidak lama berbasa-basi, karena teman ini langsung mengutarakan maksudnya. Ia mengaku sedang kehabisan uang, dan minta ditransfer sejumlah uang. Karena saya sudah biasa mengorek-ngorek pengakuan orang, maka saat itu, saya pun berusaha mencari tahu dulu apa yang terjadi dengan teman ini.

Saat itu, saya merasakan ada yang aneh dengan penjelasannya. Pertanyaan saya selalu diarahkan ke permintaan uang. Bahkan, ia berharap dikirim uang Rp 20.000 saja tidak masalah, agar bisa pulang ke rumah. Namun, saya belum menduga yang macam-macam terhadap teman ini. Saya memang tidak jadi memberinya uang karena ternyata bank kami tidak sama, dan saat itu belum ada ‘ATM bersama’ atau sejenisnya. Sedangkan hari sudah malam sehingga tidak mungkin ada bank yang buka.

Saya semakin merasakan keanehan ketika teman ini kembali menelepon saya beberapa waktu kemudian, dan kembali meminta dikirimi uang. Bermacam-macam alasan yang ia sampaikan. Namun, pada umumnya ia mengaku sedang kepepet dan butuh sejumlah uang. Anehnya, ia selalu mengatakan jumlah uangnya bisa berapapun.

Saya baru tahu sepak terjang teman ini ketika saya menceritakan pengalaman saya ini kepada beberapa teman lain. Rupanya, bukan hanya saya yang sering ditelepon dan dimintai uang. Rupanya, teman-teman lain yang mengalaminya. Saya pun kemudian jadi tahu apa sebenarnya kegiatan teman saya tersebut. Rupanya, ia bergabung ke dalam sebuah kelompok tertentu. Saya tidak tahu persis kelompok apa, namun mungkin sama dengan kelompok yang merekrut Laila Febriani.

Mengapa saya mengatakan kelompok yang sama? Pasalnya, ada dua teman saya yang akhirnya tidak hanya dimintai uang dengan alasan kepepet, namun juga pernah diajak bergabung.

Begini ceritanya. Suatu hari, teman perempuan yang suka meminta uang tadi akhirnya mengajak bertemu dua teman saya. Karena sama-sama perempuan, dua teman saya tadi, mau saja diajak pergi ke sebuah rumah di kawasan Cileduk. Saya tidak tahu persis alamatnya. Namun, kata kedua teman saya itu, rumah tersebut memang berada di sekitar Cileduk.

Sesampainya di rumah, sudah ada beberapa orang lain. Mereka berpakaian sejenis dengan teman yang mengajak tadi. Yang pasti, kedua teman saya menjadi sangat tidak nyaman dan akhirnya memilih pergi dari rumah tersebut.

Menurut keduanya, mereka dicekoki oleh beragam doktrin-doktrin yang sangat menyesatkan. Mereka juga harus mempercayai dan menuruti apapun perkataan orang yang mereka sebut sebagai pemimpin. Kedua teman saya itu menduga, saat itu mereka sedang mau dibaiat. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup mereka bila tidak berhasil kabur saat itu. Bisa jadi, mereka akan mengalami cuci otak dan akhirnya takluk ke dalam kelompok itu.

Kisah Laila Febriani sepertinya mirip dengan pengalaman kedua teman saya itu. Laila awalnya mengaku pergi dengan temannya. Diduga, temannya itu membawa Laila ke sebuah tempat yang menjadi markas kelompok asal temannya itu. Disana akhirnya terjadi proses cuci otak. Laila pun dibaiat dan telah masuk ke dalam kelompok tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar