Rabu, 27 April 2011

Friendster pun Harus Dibunuh

Friendster ditutup“Sudah lama gue ga buka friendster. Kangen juga melihatnya,” tulis seorang teman di status Facebooknya.

Saya yakin, bukan hanya teman ini yang sudah lama tidak membuka akun mereka di Friendster. Saya juga termasuk salah satunya, kok. Situs pertemanan ini memang sudah kehilangan penggemarnya. Ibarat rumah, Friendster kini seperti sebuah rumah hantu. Yang tadinya selalu hiruk-pikuh selama 24 jam sehari, kini menjadi sunyi senyap. Tidak ada lagi yang berhasyat untuk tinggal atau sekadar mampir.

Si pemilik rumah pun akhirnya sudah patah arang untuk mengelola Friendster. Usaha untuk memoles, memperbaiki, merenovasi, atau mempercantik, sepertinya tetap gagal. Akhirnya, daripada hanya menjadi rumah hantu yang menyeramkan, mereka pun sudah memutuskan untuk ‘meratakan’ Friendster.

Ya, situs ini akan dibunuh. Ibarat rumah, Friendster akan diratakan dengan tanah. Kalaupun nanti kembali ‘dibangun’ Friendster baru di atas lahan yang sama, wujudnya bukan lagi sebuah sebuah situs jejaring pertemanan. Isunya, Friendster yang baru akan lebih fokus pada layanan game dan musik.

Friendster pun mengaku telah merelakan kehilangan puluhan juta anggotanya yang terserak di seluruh dunia. Karena itu, seluruh data, baik foto, blog, pesan, testimoni, dan segala isi di akun setiap anggotanya, akan dihapus tanpa ampun.

Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah semua member Friendster akan merelakan kehilangan semua data mereka di situs ini? Bisa jadi tidak. Berjuta-juta kenangan indah milik para anggotanya pasti tersimpan di sana. Ada yang bertemu teman lama, mendapatkan banyak teman baru, mendapatkan pacar, atau mungkin mendapatkan jodoh lewat Friendster. Mmmmm…

Saya ingat, bagaimana dulu orang-orang untuk berlomba mendapatkan testimoni sebanyak-banyaknya. Mereka selalu berpesan kepada teman-temannya untuk meninggalkan testimoni di halaman Friendsternya. Bahkan, banyak orang yang mencari teman baru untuk sekadar mendapatkan testimoni. Sepertinya, semakin banyak testimoni akan meningkatkan harga diri mereka di mata para anggota Friendster.

Saya sendiri sudah mendapatkan pesan dari Friendster mengenai rencana mereka untuk menutup situs ini. Saya mendapatkan pesan ini pada tanggal 26 April lalu. Berikut ini adalah isi email dari Friendster tersebut:

Dear EdiG,

We are introducing a new and improved Friendster site in the coming weeks. As part of this change, we will remove a number of social networking functions in Friendster. This includes your existing account profile, photos, messages, blogs, and shoutouts. However, your list of friends will be preserved, along with your basic profile information.

We understand that your photos, blogs and other private data may be important to you. An application is available in the "Apps" section of the site, until May 31st 2011, to help you download or export them securely to third party sites, such as Flickr or Multiply. The application is available here.

If you do not wish to keep any of these information, you do not need to do anything. Your Friendster account will not be deleted. Your Friendster Wallet, along with the coins and chips in it, will remain unchanged in the new site as long as you use your existing login details.

For more information on the Exporter app, please visit the Friendster Help page.

Thank you for using Friendster, we look forward taking you to a brand new Friendster experience very soon!

Sincerely,
The Friendster Team

Friendster didirikan oleh Jonathan Abrams pada 2002. Situs Jejaring ini mampu menarik minat puluhan juta penggunanya di seluruh dunia. Indonesia menjadi salah satu negara terbesar yang penduduknya memiliki akun di Friendster. Saya adalah satunya.

Saya sendiri membuka akun di Friendster sekitar akhir 2003, karena diperkenalkan seorang teman. Saya sampai membuka tiga akun karena di awal-awal menjadi penggunaannya, saya sempat lupa cara masuk ke Friendster. Rupanya, ketiga akun saya tadi aktif, sehingga ada beberapa teman yang kecele karena meng-add akun yang tidak pernah saya singgahi.

Gemerlap Friendster mulai redup di sekitar 2008, ketika muncul Facebook. Situs jejaring sosial ciptaan Mark Zuckerberg ini bahkan bisa menyalip puncak ketenaran Friendster jauh lebih cepat daripada yang pernah diperbuat Friendster. Jumlah anggota Facebook meroket tajam dalam sekejab, termasuk di Indonesia, negara yang kini menempati posisi nomor dua di dunia sebagai asal pengguna Facebook terbesar.

Pada Desember 2009, MOL Malaysia membeli Friendster seharga US$ 100 juta. Wajah situs itu pun berusaha dipoles agar kembali didatangi penghuni lamanya. Sukur-sukur bisa merebut hati pengguna baru. Logo pun diubah menjadi lebih segar menjadi seperti ini:

logo baru FriendsterNamun, Friendster keburu menjadi rumah hantu. Puluhan juta anggota keburu pindah ke lain hati. Dan, akhirnya nasib Friendster sudah diketok palu. Dibunuh!

Selamat Jalan, Friendster!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar