Minggu, 03 April 2011

Maera A. Panigoro, Impresario Baru Pertunjukan Teater Musikal

Nama belakang perempuan ini mengingatkan orang pada sosok pendiri Grup Medco Energi, Arifin Panigoro. Ya, ia memang putri sulung orang yang sedang ngetop berkat isu persepakbolaan nasional itu.

Nama Maera kerap disebut-sebut media lantaran lulusan Perth Australia Edward’s College di bidang Human Resources Management ini sukses menghelat pertunjukan teater musikal Gita Cita Anak SMA pada Agustus 2010.

Mungkin karena keberhasilan itu, dalam waktu dekat ia akan meluncurkan pertunjukan teater musikal keduanya, Ali Topan Anak Jalanan, pada April 2011. “Saya nggak ikut bisnis Bapak (Arifin),” ujarnya di tempat latihan drama musikal. Alasannya, ia lebih tertarik di bidang seni ketimbang pertambangan. “Saya suka menyanyi dan menari,” ungkap wanita kelahiran Bandung 4 April 1973 ini.

“Impian saya sederhana, industri seni pertunjukan di Indonesia yang dimiliki dan dikembangkan oleh anak bangsa bisa berkembang baik dan diterima oleh bangsanya sendiri di tengah maraknya pertunjukan asing menyerbu Indonesia. Kesannya idealis, ya,” ujar wanita 38 tahun ini seraya tersenyum.

Toh, seni bukan hal baru bagi Maera. Diceritakannya, sejak kecil, ia sudah diperkenalkan dengan berbagai macam jenis musik mulai dari Billy Holiday sampai The Beatles; mulai dari genre jazz, pop, slow, rock, sampai opera. Dan, bisa dikatakan keluarganya adalah pencinta seni musik. “Tiada hari tanpa musik dalam hidup saya. Sewaktu sekolah pun, untuk dapat menghafal pelajaran, akan lebih mudah bagi saya apabila kata-katanya dijadikan musik,” ujar sulung dari dua bersaudara ini.

Film musikal pertama yang ia tonton adalah Easter Parade yang dibintangi Judy Garland, Fred Astaire, Peter Lawford dan Ann Miller. Sejak itu, ia mengaku jatuh cinta pada drama musikal, Sound of Music dan Oklahoma. Terlebih lagi setelah ia mendapatkan kesempatan melihat langsung pertunjukan West End dan Broadway, seperti Phantom of The Opera, Les Miserables dan Miss Saigon. Menurut Maera, pertunjukan semacam itu indah karena memadukan tiga unsur sekaligus, yakni musik, tari dan akting. Di sini, bernyanyi tidak sekadar bernyanyi, tetapi berdialog dengan lagu sekaligus harus bisa berakting dengan ekspresi yang memengaruhi emosi penonton. “Kadang, saya terbang ke London hanya untuk menonton seni pertunjukan teater musikal,” tuturnya tanpa pretensi.

Kata Maera, karena seringnya menyaksikan pertunjukan semacam itu, akhirnya timbul keinginannya untuk menampilkan pertunjukan semacam Broadway di Indonesia. Dari sini ia bertemu dengan Ari Tulang, koreografer tari ternama di Jakarta, dan Dian HP, komposer musik beken di Indonesia. “Saya ajak mereka ke London. Untuk studi banding dulu. Dan, sepulang dari sana, saya putuskan menampilkan pertunjukan teater musikal yang mudah diterima,” katanya. Dan praktis kedua rekan ini terlibat dalam pendirian usaha impresariatnya yang bernama Artswara.

Lantas, mengapa temanya percintaan melankolis? Diakuinya, tema pertama yang dipilih agar mudah diterima penonton adalah tema percintaan yang everlasting yang sudah dikenal baik oleh kalangan penonton seni pertunjukan. Ia lantas teringat cerita cinta anak SMA yang sangat ngetop tahun 1980-an karya novelis Eddy D. Iskandar dan filmnya dibintangi Rano Karno dan Yessi Gusman itu, yaitu Gita Cita Anak SMA.

“Acuan pertunjukan teater musikal saya tentu tetap pada Broadway, namun saya kemas dalam konsep bisnis pertunjukan yang mudah dicerna dan dinikmati penonton,” ujarnya. Ia butuh waktu sekitar lima bulan untuk memantapkan konsep bisnis pertunjukan teater musikal ini sampai deal pada pilihan tema, naskah dan pemerannya. Untuk pertunjukan musikal Gita Cinta dari SMA ini, seluruh prosesnya memakan waktu sekitar 9 bulan sampai hari H pertunjukan.

Menurut Maera, tantangan pada produksi bisnis pertunjukan ini ada pada memilih talent dan mencari sponsor pihak ke-3. Alasannya, mencari sosok yang punya keterampilan menyanyi, akting dan menari sekaligus tidak mudah. Sebagai jalan keluar, “Saya menggandeng perusahaan yang punya CSR yang peduli dengan perkembangan seni budaya di Indonesia.”

Meski berkiprah dalam bidang seni, Maera mengaku tak melupakan aspek bisnisnya. Terbukti untuk memayungi idealisme seninya itu, ia mendirikan PT Artistika Mahaswara Indonesia (Artswara) pada Agustus 2009. Perusahaan ini bergerak di bisnis rumah produksi musik dan hiburan, khususnya di bidang performing arts. Visi-misinya adalah membuat pertunjukan drama musikal yang mempunyai nilai edukasi yang berkualitas.

Nah, selain pertunjukan drama musikal, Artswara juga akan terjun dalam bisnis recording dengan nama Artswara Recording. Dalam Artswara Recording ini ada artist management, recording project dan recording studio. “Saya sedang pelan-pelan mengembangkan bisnis produksi seni ini,” katanya merendah. “Soal modal atau investasi awal, jangan ditanya-tanya, ya!” tambahnya seraya tertawa.

Sumber: SWA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar