Senin, 18 April 2011

Terorisme Lewat Dunia Maya


Mungkinkah jaringan terorisme kini bergerak lewat dunia Maya?

Inilah pertanyaan yang mengusik saya, pasca peledakan bom di Masjid Polres Cirebon Kota, Jawa Barat, hari Jumat pekan lalu. Saya berpikir, jangan-jangan kelompok terorisme kini tidak lagi menggunakan media perekrutan konvensional seperti yang mereka pakai sejak bom Bali pertama hingga bom JW Marriot & Ritz Carlton. Kalau dulu mereka berjihad secara berkelompok-kelompok, maka kini mereka berjihad secara perorangan. Dan, apa yang dilakukan oleh Muhamad Syarif di Cirebon adalah mungkin salah satu contohnya.

Kelompok teroris kini membangun jaringan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti internet. Kalau dulu mereka merekrut anggota jaringan dari golongan berpendidikan rendah, ekonomi pas-pasan, maka kini malah justru sebaliknya. Mereka merekrut anggota baru yang sudah melek teknologi, jago komputer, jago matematika, atau jago kimia dan fisika.

Mereka tidak lagi saling berbagi ilmu, dicekoki doktrin-doktrin jihad yang menyesatkan, atau diberi ilmu merakit bom lewat pertemuan tatap mata. Namun, mereka kini memakai kecanggihan teknologi untuk saling berkomunikasi. Misalkan saja, mereka tinggal disatukan dalam sebuah forum di dunia maya. Kalau mau chatting, maka mereka tinggal janjian untuk berada di hadapan komputer pada jam yang sama. Ini tentu lebih hemat bila mereka harus berkumpul di satu tempat, sedangkan mereka berasal dari sejumlah kota di Indonesia.

Karena anggota baru ini adalah orang berpendidikan dan, bisa jadi, juga memiliki otak encer, maka transfer ilmu tidaklah rumit kalau lewat dunia nyata. Doktrin maupun ajaran jihad bisa langsung ditransfer saat mereka sedang chatting bersama. Ajaran-ajaran lain pun bisa dibagikan lewat forum di internet yang sudah disepakati bersama. Mereka tentu juga bisa dengan mudah membagikan teknik membuat bom lewat forum di internet tadi. Setiap anggota tinggal mempelajarinya, kapanpun dan dimanapun mereka mau. Praktis kan.

Dan, membangun jaringan terorisme via dunia maya tentu jauh lebih aman daripada lewat dunia nyata. Forum di internet yang mereka buat, bisa diseting hanya untuk anggota saja. Orang luar tidak boleh bergabung tanpa mereka setujui.

Memang, forum seperti ini bisa saja dibobol dan dicium oleh aparat. Tapi, kalaupun berhasil dibobol dan tercium, aparat hanya akan mendapatkan informasi dan tanpa bisa menangkap seketika anggota forum tadi. Apalagi, bila para terorisme ini menggunakan identitas palsu, yang tentu akan semakin sulit untuk melacak mereka. Sebab, mereka tidak hanya akan menyamarkan nama, namun juga semua info-info penting. Akibatnya, info-info yang mereka bahas hanya akan mudah dipahami oleh kalangan mereka saja. Ini semua tentu akan semakin mempersulit aparat untuk menemukan jejak mereka.

Perubahan gerakan terorisme lewat dunia internet ini juga mengubah bentuk serangan. Kalau biasanya mereka bergerak secara kelompok, maka kini tidak lagi. Jihad yang mereka percayai tidak lagi harus direncanakan dan dilaksanakan secara bersama-sama dalam kelompok yang sangat besar. Kini, mereka telah didoktrin untuk berjihad secara mandiri alias perseorangan. Kalau mereka hendak berjihad lewat peledakan bom, maka mereka tinggal belajar sendiri cara merakit bom lewat forum di internet. Mereka belajar bom sendiri, merakitnya sendiri, dan meledakkannya juga sendirian.

Bisa jadi, ini yang terjadi pada Muhammad Syarif di Cirebon. Dan, bisa jadi juga, ini yang dilakukan oleh Ahmad, 38 tahun, yang membawa bom dengan sepeda ontelnya di Kalimalang, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Tampaknya, bisa jadi, kelompok terorisme pun belajar dari kegagalan. Terorisme lewat dunia maya. Terorisme lewat Internet... Apapun namanya, tetap terorisme.

2 komentar: