Jumat, 01 April 2011

Wendy Chandra, Penguasa Media “Mainan” yang Bukan Main-main

Boleh saja disebut mainan, tetapi tak selamanya menjadi ajang main-main. Buktinya Wendy Chandra, pria kelahiran Bandung ini justru menjadikan mainan sebagai inspirasi bisnisnya. Ia mengembangkan media game mulai dari Animonster, Cinemags dan Gamestation. Di luar itu ada juga majalah Gadget dan Kiddo serta majalah lisensi MacWorld.

Mulanya Wendy adalah pehobi game dan komik Jepang. “Tahun 1991, saya bersama teman-teman kuliah sangat menggandrungi game,” ucap Wendy sembari mengenang awalnya bersentuhan dengan bisnis yang membesarkan namanya itu.

Ketika itu ia merasakan informasi tentang game masih kurang banyak, apalagi pasokan kaset game di Bandung hampir tidak ada. “Dari situlah kami berempat mulai merintis bisnis gerai game yang bernama Vega,” kata Wendy, Sarjana Manajemen dari Universitas Parahyangan dan Master Pemasaran dari San Francisco State University, Amerika Serikat, yang memulai usaha tahun 1994. Dengan modal awal sekitar Rp 20 juta yang dibagi rata, mereka pun eksis berbisnis.

Gerai di bawah bendera PT Vegindo Tunggal Perkasa yang berlokasi di Jl. Ranggamalela ini menjual game Super Nintendo, komputer dan komik asal AS seperti DC, Marvell, sekaligus alat permainan game. Momentum berkembang diraih saat era konsol game Sony Playstation hadir di Indonesia. Saat itu CD permainan Sony Playstation sangat laris.

Sejak itu bisnis mereka membesar dengan anggota sebanyak 1.000 orang lebih. Berawal dari sinilah langkah ke bisnis media diayunkan. Guna memberikan pelayanan dan informasi terbaru seputar game, Wendy membuat sebuah buletin yang berisi daftar game, preview, walkthrough dan cheats game dengan nama Mega Game Indonesia (Megindo).

Buletin tersebut perlahan-lahan berbiak dari 8 halaman menjadi 16 halaman lalu naik lagi jadi 32 halaman, hingga akhirnya berubah nama menjadi Majalah Gamestation pada 1996 di bawah naungan PT Megindo Tunggal Sejahtera. Promosi majalah ini selanjutnya digencarkan bukan hanya menggaet komunitas, tetapi juga menawarkan ke toko game dengan lebih dulu membuat sampling, ke forum di Internet seperti KasKus dan Kafegaul. Acara pun digelar untuk membangun citra perusahaan dan majalah. Contohnya penyelenggaraan kompetisi game Winning Eleven. “Itu paling besar, di Mall Ambassador, tahun 1995. Pesertanya mencapai 1.000 orang,” katanya.

Untuk mengisi kontennya Wendy berhasil mengembangkan jaringan hingga ke pengembang game di AS. Keberhasilan membangun jaringan ini selain karena Wendy pernah bekerja di penerbit game Konami selama dua tahun selulus dari San Francisco State University, juga karena dirinya sering nongkrong di Silicon Valley, tempat berkumpulnya para penerbit game.

Wendy pun kemudian mulai membuka kantor distribusi di Jakarta karena memang 70% dari total eksemplar Majalah Gamestation beredar di Jakarta. Wendy menuturkan, kendala ketika pertama kali menghadirkan majalahnya adalah di bidang distribusi hingga ke seluruh penjuru Indonesia. Awalnya majalah ini disalurkan hanya ke toko game, lalu berkembang hingga ke agen, toko buku dan lapak penjual koran di jalan.

Kerja sama distribusi pernah pula dilakukan Megindo dengan Grup Mugi Rekso Abadi (MRA) untuk mengantisipasi kebocoran distribusi. Namun, karena masalah internal, pegawai dari MRA ditarik untuk membidani distribusi independen milik Megindo. “Lalu dengan tim yang ada, kami mencoba melakukan ekspansi dengan menerbitkan dua majalah lagi yaitu Cinemags dan Animonster,” ungkapnya.

Dalam mempromosikan Cinemags yang mengulas film terkini, Wendy bekerja sama dengan jaringan bioskop 21 untuk mengadakan nonton bareng. Bagi Animonster yang menyasar penggemar komik Jepang, Wendy mencari kerja sama dengan televisi berbayar AXN untuk program Animax dan penerbit komik di Jepang yang lantas memberikan preview produk-produknya.

Sampai sekarang, Wendi dkk. telah memiliki 6 majalah dengan tambahan Gadget dan Kiddo tahun 2000, MacWorld tahun 2004, serta menerbitkan berbagai macam buku dan komik.

Wendy mengklaim Gamestation kini oplahnya mencapai 50 ribu eksemplar, dan Cinemags 50-100 ribu eksemplar per edisi tergantung offer dan event film tertentu. Lalu berturut-turut, rata-rata penjualan Animonster sebanyak 20 ribu, Gadget 20 ribu, Kiddo 10 ribu, dan MacWorld 10 ribu eksemplar. Wendy menyebutkan, Animonster pernah memperoleh predikat dari AC Nielsen sebagai majalah yang paling banyak dibaca di segmen anak-anak.

Meski kini memiliki banyak bisnis, perjalanan Wendy tak selalu mulus. Dia bahkan pernah menelan kerugian sampai Rp 7 miliar. Musibah itu terjadi saat dirinya mengambil S-2 di AS tahun 1996 dan tampuk kepemimpinan diserahkan kepada temannya. Saat itulah terjadi kerugian yang bersumber dari distribusi dan percetakan.

Sepulang ke Indonesia tahun 2000 Wendy berbenah-benah dan mencari investor baru. Dirinya juga lantas mencopot orang-orang yang tidak kompeten. Maka, lanjut Wendy, dirinya berhasil mengembalikan arus keuangan perusahaan setelah dua tahun. Kegigihan Wendy yang kini memegang 45% saham Megindo itu selain membuahkan bisnis yang relatif mapan, juga menghasilkan sebuah gedung berlantai empat di gerai pertama Vega. “Lantai satu untuk gerai game, ini yang terbesar di Bandung, sedangkan lantai dua, tiga dan empat merupakan kantor,” kata Wendy yang bisnisnya kini diawaki 200 karyawan dengan omset sekitar Rp 5 miliar per bulan.

Charly Himawan, Direktur Produk Megindo yang teman dekat Wendy menuturkan, sosok Wendy adalah pemimpin yang kreatif. “Sering kami berbicara tentang suatu konsep yang akhirnya ternyata dapat menjadi sebuah produk bisnis,” ujarnya. Adapun Nadya Tamara, Direktur Penjualan Megindo mengklaim, oplah berbagai majalah Megindo dari tahun ke tahun meningkat 5%-10%.

Meski usahanya sudah berjalan stabil di bawah kendali para profesional, Wendy belum puas. Salah satu rencananya yang sedang berjalan yakni mengembangkan sarana pembayaran online bagi penggemar game. Selain itu, Wendy ingin menjadikan medianya sebagai majalah gratis atau freemagz. Maka, Wendy berusaha menyasar jenis media baru yaitu media digital yang sekarang memang sedang booming. “Dalam satu-dua bulan ke depan kami akan mengeluarkan satu konsep majalah baru di dunia elektronik.

Sumber: SWA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar