Senin, 30 Mei 2011

Memanen Salak Pondoh di Lereng Merapi

buah salak pondoh
Untuk pertama kalinya, saya merasakan bagaimana kenikmatan memanen buah salak. Pengalaman yang sangat menyenangkan ini, saya alami saat berada di Jogjakarta pada pekan lalu.

Berawal ketika seorang teman mengajak mampir ke rumah sanak saudaranya di Kabupaten Sleman, yang masuk dalam area lereng gunung Merapi. Rupanya, di depan rumahnya ada kebun Salak Pondoh. Tidak luas memang. Saya perkirakan, luasnya sekitar 200 meter persegi. Menurut Ibu Madhuri, Bu De dari teman tadi, kebun yang lebih luas mereka miliki di luar desa. “Yang lebih luas ada di sawah. Tidak jauh dari rumah,” kata Ibu Madhuri saat berbincang-bincang di teras rumah.

Ia pun mengajak saya ke kebun Salak Pondoh yang ada di depan rumah tadi. Sambil memetik buah salak yang sudah bisa dipanen, Bu Madhuri berbagi cerita mengenai pengalaman bercocok tanam buah Salak.

“Saat ini, harga salak di sini sekitar Rp 4.000 perkilo. Ini termasuk yang mahal. Yang paling mahal pernah mencapai Rp 6.000 perkilo. Harga memang tidak pernah stabil. Bahkan, suatu saat, harga pernah hanya Rp 900 perkilo. Padahal, petani akan mencapai titik impas biaya produksi pada harga Rp 2.000 perkilo,” cerita bu Madhuri di tengah pohon-pohon salak yang tinggi tersebut.

Sambil mendengar cerita soal harga tadi, pikiran saya melayang ke Jakarta. Kalau tidak salah, saat ini harga Salak Pondoh di tukang buah mencapai Rp 12.000 perkilo. Bahkan, kalau membelinya di supermarket, harganya bisa mencapai Rp 15.000. Saya memang termasuk orang yang agak sering membeli salak pondoh, sehingga hapal fluktuasi harganya di tingkat pengecer di seputaran Jakarta.

Mahalnya harga Salak Pondoh saat ini, bisa jadi akibat letusan Gunung Merapi, akhir tahun lalu. Perkebunan Salak memang salah satu usaha yang cukup parah terkena dampak letusan. Pasalnya, Perkebunan Salak Pondoh umumnya berada di Kabupaten Sleman, yang berada di zona lereng Gunung Merapi.

Hasil pantauan saya, beberapa ratus meter lagi ke atas dari rumah bu Madhuri, semua areal di sana memang telah habis terkena erupsi Gunung Merapi. Saya mendapati beberapa perkebunan salak yang telah rusak, atau bahkan kering, yang mungkin disebabkan oleh awan panas merapi kala itu.

Menurut pemerintah, kerugian yang dialami oleh petani Salak pondoh di Jogjakarta akibat erupsi Gunung Merapi sekitar Rp 200 miliar.

salak pondohSalak pondoh yang siap dipanen

“Untuk menghasilkan buah salak yang banyak, setiap pohon harus diberikan pupuk. Kami menggunakan pupuk kimia dan organik,” kata bu Madhuri lagi. Pupuk diberikan secara rutin dalam kurun waktu tertentu. Selain diberi pupuk, tanah pun harus selalu dibersihkan dari tanaman liar. Daun yang sudah kering pun harus dipotong dan dibuang.

Dari ‘kursus’ singkat dengan Bu Madhuri, saya pun tahu kalau ada teknik khusus dalam menghasilkan buah salak yang banyak. Rupanya, bunga salak tidak dibiarkan begitu saja tumbuh menjadi buah. Perlu ada bantuan tangan manusia. Caranya adalah, di setiap bunga yang bakal menjadi buah, harus diberikan potongan bunga salak jenis jantan. Kalau bunga jantan ini tidak diberikan, maka di setiap tandan hanya akan jadi tiga atau empat buah salak. Sedangkan bila diberikan bunga jantan, maka tandan akan penuh oleh buah, yang jumlahnya bisa mencapai puluhan buah.
bunga salakBunga salak pondoh yang siap 'dikawinkan'

salak jantanBunga jantan salak pondoh

Bu Madhuri lalu pergi ke dalam rumah. Sebentar kemudian, ia kembali dengan membawa sesuatu. “Ini bunga jantan itu. Kami simpan persediannya di dalam rumah,” katanya pada saya.

Bu Madhuri lalu mempraktekkan cara ‘mengawinkan’ bunga salak. Bunga jantan tadi ia potong sekitar satu sentimeter. Ia lalu mengajak saya mencari bunga salak yang sedang mekar. Setelah menemukannya, Bu Madhuri meletakkan potongan bunga jantan tadi di tengah bunga salak yang sedang mekar tadi. Proses ini tidak sulit. Yang sulit adalah mencari bunga jantan. Pasalnya, hanya sedikit yang bermunculan di pohon-pohon salak. Karena itu, para petani biasa menyimpannya di dalam rumah untuk bekal yang cukup lama.

Selama sekitar satu jam berkunjung, membuat saya mendapatkan cukup banyak penjelasan mengenai salak pondoh dari Bu Madhuri. Selain penjelasan, tentu saja saya mendapatkan cukup banyak salak untuk dibawa pulang. Hehehe....

Selain itu, hasyat untuk memakan salak hasil memetik sendiri langsung dari pohonnya juga sudah tercapai. Entah berapa banyak salak yang telah saya makan. Yang pasti, cukup mengenyangkan. Hehehe......

Saya juga akhirnya tahu perbedaan buah salak yang baru dipetik dengan yang biasa dijual di tukang buah. Pada salak yang baru dipetik, akan dijumpai duri-duri yang memenuhi kulit buah. Duri ini harus disingkirkan bila kita hendak mengupasnya. Caranya bermacam-macam. Yang paling umum adalah dengan menggosok-gosokkan salak ke benda lain sampai duri tadi berjantuhan. Bila sudah ‘aman’, baru salak dikupas, deh...
pohon salak pondohDereten pohon salak pondoh

Hasil riset saya, salak pondoh dari Jogjakarta memang fenomenal. Tanaman yang masuk dalam jenis palma ini, mulai dikembangkan di kota gudeg ini sejak 1980an. Akhirnya, jenis buah yang nama ilmiahnya adalah Salacca zalacca ini, segera menjadi buah primadona yang penting di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta.

Bahkan, kini salak pondoh menjadi jenis salak yang paling populer di Indonesia. Ketenaran ini tidak lepas dari aroma dan rasanya yang manis segar tanpa rasa sepat, meski pada buah yang belum cukup masak sekalipun. Berbeda dengan jenis salak lain yang rasanya masih terasa sepat atau asam.

Asal-usuk salak tidak diketahui persis darimana. Yang pasti, salak pertama kali ditemukan tumbuh liar di alam Pulau Jawa dan Sumatera. Bisa jadi, ini yang membuat salak dalam bahasa Inggris pun disebut ‘salak’. Ada juga yang menyebut dengan kata snake fruit karena kulitnya yang mirip sisik ular.

F
oto-foto by Edi Ginting
Selengkapnya...

Minggu, 29 Mei 2011

Maaf, Premium (Bukan) Untuk Orang Miskin



Foto ini hasil jepretan saya ketika berada di kota Jogjakarta, pekan lalu. Saat sedang mengisi BBM di sebuah Pom Bensin di tengah kota gudeg ini, saya melihat spanduk kecil ini terpasang di tembok pembatas pom bensin. Jepret...jepret...jepret... Saya pun mengabadikan tulisan ini dari atas mobil. Dan, salah satu hasilnya adalah yang saya posting ini.

"Premium adalah BBM bersubsidi. Hanya untuk golongan tidak mampu.Terima kasih telah menggunakan BBM non Subsidi," begitu bunyi tulisan di poster ini.

Saya tergelitik dengan bunyik kalimat itu. Pertanyaan yang segera muncul di kepala saya saat pertama kali membaca isi poster itu adalah, untuk apa orang tidak mampu membeli premium alias bensin? Benarkah golongan tidak mampu membutuhkan bensin?

Saya pikir, pemerintah sudah salah membuat poster ini. orang tidak mampu tidak membutuhkan bensin. orang tidak mampu tidak mungkin memiliki sepeda motor, apalagi mobil. Bensin cuma dibutuhkan oleh orang-orang berada, yang memiliki kendaraan atau mesin yang berbahan bakar bensin. Bensin tidak mungkin dipakai untuk bahan bakar kompor atau membakar kayu bakar. Bensin juga tidak mungkin dipakai orang tidak mampu untuk bahan bakar penerangan di gubuk-gubuk mereka.

Saya menduga, bunyi poster ini muncul karena pemerintah semakin khawatir dengan semakin membengkaknya subsidi BBM. Harga minyak dunia terus meranjak naik, dan sudah lama bercokol di atas US$100 perbarrel. Subsidi BBM semakin menggerogoti anggaran pemerintah. Dan, pemerintah tentu sangat gamang untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Urusan bisa semakin runyam bila kebijakan tidak populer itu terpaksa diambil. Salah satunya adalah bakal tidak terkendalinya inflasi, yang akhirnya akan mempengaruhi perekonomian nasional. Citra pemerintah pun akan semakin buruk di mata rakyatnya.

Karena itu, cara yang paling aman untuk menekan beban subsidi tadi adalah dengan mengurangi pemakaian BBM bersubsidi. Sayangnya, pemerintah pun setengah hati bertindak. Padahal, caranya sangat gampang kok. Tinggal mengeluarkan aturan berisi larangan kendaraan dengan kriteria tertentu untuk menggunakan BBM subsidi. Misalkan, kendaraan di atas 1.300cc harus menggunakan pertamax. Sayangnya, belum tentu seluruh SPBU di negeri ini menjual pertamax juga. Nah, lo!

Selamat berpusing ria untuk pemerintah. Dan, mohon bunyi tulisan di poster itu, digantilah.....
Selengkapnya...

Sabtu, 28 Mei 2011

Menembus Jalur Selatan Jawa


Jumat, 20 Mei 2011.

Jarum jam menunjukkan pukul empat sore, ketika mobil Panther warna perak yang kami tumpangi, mulai meninggalkan kantor di kawasan Kedoya, Jakarta Barat. Reynaldi duduk di belakang sopir, dan ditemani oleh Jopal di sisi kirinya. Aku duduk di belakang Reynaldi, sedangkan Dini duduk di belakang Jopal.

Kemacetan segera menemani perjalanan begitu mobil memasuki jalan tol dalam kota dari arah Tomang. Mobil hanya bisa dipacu sekitar 20 sampai 50 kilometer perjam. Rupanya, larangan truk melintasi jalan tol ini pada siang hari, tidak begitu tokcer menghilangkan macet. Menurut orang, pengaruhnya memang ada. Namun, menurutku, kok sepertinya tidak ada ya.

Kemacetan benar-benar hilang begitu kami sudah memasuki jalan tol Cikampek. Mobil mulai dapat dipacu lebih cepat menyusuri jalan tol yang terkenal dengan angka kecelakaan yang tinggi ini. Truk dan bis mendominasi jalan tol ini. Maklum saja, bis-bis antarkota tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur, memang biasa berangkat sore hari dan sampai di kota tujuan pada pagi harinya.

Begitu memasuki jalan tol Cipularang, suasanan jalanan semakin lengang. Mobil pun semakin lincah menyusuri jalan tol yang berbelok-belok dan naik turun ini. Perjalanan semakin bertambah asyik dengan pemandangan di kiri-kanan jalan yang memanjakan mata. Apalagi, saat itu waktu sedang dalam peralihan dari sore ke malam. Langit pun terlihat berwarna kuning. Dan, tidak lama kemudian, yang terlihat hanya lampu-lampu dari rumah penduduk. Malam pun sudah meliputi kawasan Tol Cipularang ini.

Perjalanan relatif aman dan nyaman sampai kami keluar di pintu tol Cileunyi. Hari pun sudah berganti gelap. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Persimpangan Cileunyi terlihat cukup ramai. Kepadatan semakin menjadi-jadi oleh ulah bis-bis yang ngetem di pinggir jalan raya untuk menunggu penumpang.

Dari Cileunyi, kami pun berbelok ke arah Tasikmalaya, dan menyusuri Jalan Raya Rancaekek.

Baru beberapa kilometer bergerak dari Cileunyi, kami sepakat untuk makan malam dulu. Kami segera memperlambat laju mobil untuk melihat tempat makan yang cocok di kiri-kanan jalan.

Pilihan pun jatuh pada Rumah Makan Ampera yang ada di Jalan Raya Rancaekek No 23. Rumah makan yang menyajikan beragam masakan khas Sunda ini menjadi pilihan kami, karena kami sudah familiar dengan menu dan rasanya. Kami tentu tidak mau membeli kucing dalam karung untuk mengisi perut yang sudah mulai memberontak ini.

Kami segera memilih menu masing-masing yang dipajang di dekat pintu masuk. Ada yang memilih bebek goreng, ayam goreng, dan pilihan menu lainnya. Ada juga yang memilih jengkol balado. Sedangkan aku memilih sayur gule siput sawah, ditambah dengan bakwan jagung dan lalapan, plus beberapa potong jengkol balado untuk menambah selera makan. Aku langsung tertarik dengan siput sawah ini karena sudah lama juga tidak menikmatinya. Biasanya, jenis makanan yang mungkin masih asing bagi kebanyakan orang ini, sering aku santap saat pulang kampung ke Sumatera Utara.

Setelah istirahat sambil bersantap malam sekitar sejam, kami pun melanjutkan perjalanan. Penyakit asli orang Indonesia pun mulai menyerangku, yakni ngantuk setelah makan. Karena itu, aku langsung tertidur begitu mobil semakin mendekati Nagrek. Hanya sesekali aku terbangun karena posisi duduk yang sudah tidak nyaman atau karena mobil yang mengerem mendadak.

Misalkan saja, ketika mobil tiba-tiba mengerem mendadak dengan posisi sudah berhadap-hadapan dengan sebuah bis, di persimpangan Nagrek. Kejadian ini berawal ketika Reynaldi salah berbelok. Ia sudah sempat mengarahkan posisi mobil ke arah Garut. Begitu sadar salah arah, Reynaldi langsung membanting stir ke kiri untuk kembali ke jalur ke arah Ciamis. Rupanya, dari depan muncul sebuah bis. Keduanya pun berhenti dalam posisi sudah berhadapan. Klekson bis terdengar begitu nyaring. Dan, kejadian ini akhirnya hanya menjadi bahan tertawaan kami di jalan.

Menjelang tengah malam, kami kembali berhenti di sebuah warung di daerah Banjar. Warung kecil di pinggir jalan sengaja kami pilih. “Untuk berbagi rupiah ke pedagang kecil,” begitu kata Reynaldi ketika membelokkan ke kiri jalan dan akhirnya berhenti di depan warung.


Ibu Ika, si penjaga warung segera melayani kami. Ia membuat kopi dan cofeemix pesanan kami sesegera mungkin. Matanya tampak mengantuk. Namun, ia sangat ramah melayani. Bahkan, ketika aku meminta ia mengupas dua buah mangga harum manis yang dijual di samping warungnya, ia segera melakukannya.

Hampir satu jam kami istirahat di sini. Selain duduk-duduk sambil ngobrol, kami pun mengisi waktu dengan kegiatan lain. Jopal asik mengabadikan kamera Handycam-nya, Reynaldi asyik dengan telepon genggamnya, dan Dini asik dengan rokoknya. Sedangkan aku asyik dengan kamera foto sakuku. Ini adalah beberapa hasil jepretanku. Sengaja angle foto aku buat berantakan untuk menimbulkan kesan tertentu pada gambar-gambar ini.


Selepas Banjar, perjalanan menjadi lebih tidak nyaman. Memasuki wilayah Jawa Tengah, kondisi jalan lebih rusak. Mulai dari lubang kecil, lubang besar, atau jalan yang bergelombang. Bahkan, di beberapa titik sedang ada perbaikan jembatan atau gorong-gorong sehingga mobil harus bergantian melintas. Beberapa orang terlihat menggunakan situasi ini dengan meminta sumbangan ala kadarnya dari para pelintas.

Tiba di Jogja menjelang pagi

Akhirnya, kami memasuki kota Jogjakarta sekitar pukul 05.15. Saat itu, aktivitas masyarakat mulai terlihat. Dan, menjelang pukul enam pagi, kami pun tiba di hotel yang sudah dipesan.

Selesai sudah melintas jalur selatan Jawa….

Foto-Foto by Edi Ginting
Selengkapnya...

Jumat, 27 Mei 2011

Pencuri, Pembobol, Atau Perampok Mesin ATM

Tawa geli muncul ketika menyaksikan berita soal pembobolan ATM di layar kaca. Si pembaca berita menggunakan kata ‘perampok’ ketika menyampaikan berita ini. Setelah berita disimak sampai tuntas, ternyata yang terjadi bukan perampokan, namun (hanya) pencurian. Atau, mungkin tepatnya pembobolan ATM.

Keteledoran yang memalukan ini semakin menjadi-jadi dengan CG yang muncul di layar TV. Isi CG adalah ‘Perampok Gasak Uang Rp 100 juta’. Wah, si produser program berita ini juga mengamini kalau berita yang ia sampaikan adalah berita perampokan.

Padahal, gambar yang muncul di TV juga mendukung kalau yang terjadi di ATM tadi adalah pencurian. Si pelaku yang diduga berjumlah tiga orang masuk ke dalam ATM pada malam hari. Mereka kemudian merusak mesin ATM dan menggasak uang yang ada di dalamnya.

Lantas, mengapa berita yang muncul kemudian adalah telah terjadi ‘perampokan?

Kuat dugaan (ah, kalimat ini biasanya dipakai dalam kasus-kasus hukum), si pembuat naskah tidak paham dengan arti perampokan tadi. Celakanya lagi, si produser program juga tidak paham perbedaan antara perampok dengan pencuri. Akhirnya, si pembaca berita yang sama tidak pahamnya, membawakan berita yang salah.

Bagi wartawan yang biasa liputan di bidang hukum atau kriminal, tentu sudah sangat paham membedakan makna perampokan dan pencurian. Mereka juga pasti paham kalau pencurian juga bisa dibedakan menjadi dua, yakni pencurian biasa dan pencurian dengan pemberatan.

Bahkan, wartawan di bidang ini biasanya juga sudah hafal dengan pasal-pasalnya. Pencurian biasa diatur di pasal 362 KUHP, pencurian dengan pemberatan di pasal 363, dan perampokan di pasal 365.

Pencurian biasa adalah mengambil barang milik orang lain tanpa merusak apapun. Misalnya, mencuri seekor ayam di jalanan, mengambil sebuah durian dari tukang penjual buah, dan sebagainya.

Sedangkan pencurian dengan pemberatan yang ada di pasal 363 KUHP adalah pencurian dengan ada benda yang dirusak. Misalnya, mencuri TV di rumah orang dengan merusak teralis. Contoh lain, mengambil uang di laci meja bos di kantor dengan merusak laci menggunakan linggis (wah, nekat ya!). Nah, pembobolan ATM tadi juga masuk dalam kategori ini.

Sedangkan perampokan sangat beda dengan kedua macam pencurian tadi. Perampokan biasa disebut juga dengan istilah pencurian dengan kekerasan. Maksud kekerasan di sini adalah kekerasan terhadap manusia. Artinya, ada orang lain yang menyaksikan aksi si pelaku dan bahkan melakukan pengancaman.

Contoh jelasnya begini. Bila ada orang masuk ke dalam rumah dengan cara mencongkel jendela, lalu membawa kabur TV, maka ia terkena pasal pencurian dengan pemberatan. Bila, saat sudah masuk ke dalam rumah, lalu mengancam orang di dalam rumah yang memergoki aksinya, maka ini sudah masuk tindak pidana pencurian dengan kekerasan alias perampokan.

Ancaman hukuman perampokan tentu lebih berat daripada pencurian.

Aneh juga kalau ada stasiun TV yang masih membiarkan kesalahan yang sepertinya kecil dan sepele ini. Sebab, di sana tentu ada kredibilitas yang dipertaruhkan.
Selengkapnya...

Kamis, 26 Mei 2011

Santapan Rohani dari M Nur Maulana

M Nur MaulanaTampaknya pengganti Aa Gym kini sudah hadir. Namanya Muhammad Nur Maulana. Ia hadir tiap pagi untuk menyapa penonton Trans TV. Lewat program bertajuk ‘Islam itu Indah’, juru dakwah ini selama sejam sejak pukul 05.30 WIB, membawakan satu tema tiap hari.

Pagi tadi, tema yang ia bawakan adalah ‘malam’. Da’i Nur Maulana mengulas arti malam bagi umat Islam. Seperti biasa, ia membawakan kisah ‘malam’ ini dengan penuh humor, dan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siapapun. Bahasa tubuhnya juga ikut mendukung humornya itu. Karena itu, tampaknya siapa pun pasti tertawa melihatnya. Akhirnya, waktu sejam pun tidak terasa berlalu untuk mendengarkan ceramahnya.

Saya awalnya tidak begitu peduli dengan acara ini. Bagi saya, acara TV seperti ini sama saja dengan program sejenis di TV lain. Sebab, program bernuansi agama memang sudah jamak muncul di pagi hari di beberapa stasiun TV. Dan, biasanya, acara semacam ini penuh kekakuan. Maksudnya memang bagus, yakni untuk memberi semangat dan motivasi pagi penonton. Namun, acap kali justu menjemukan.

Namun, seorang Muhammad Nur Maulana rupanya bisa membalik semuanya.

Saya mulai tertarik menyimak isi dakwah ustad Maulana ini, ketika Trans TV menayangkan satu episode ‘Islam itu Indah’ pada malam hari. Kalau tidak salah, episode ini muncul pada pukul 20.00 WIB sekitar dua minggu lalu. Saat itu, Nur Maulana sedang berdakwah di dalam LP Sukamiskin Bandung. Ia berada di tengah sejumlah napi dan petugas LP yang berkumpul di satu ruangan. Saya tidak tahu persis, apakah ruangan itu adalah masjid atau bukan. Tema yang ia bawakan saat itu adalah ‘Bapak’

Saat itu, saya sempat berpikir ini adalah salah satu acara baru Trans TV. Dan, yang membuat saya heran, berani sekali Trans TV menayangkan acara semacam ini pada waktu primetime alias jam utama.

Saya mencoba menerka-nerka apa kira-kira alasan Trans TV berani melakukannya. Pertama, karena saat itu, ada Ariel Peterpan yang ikut menjadi salah satu napi yang menjadi peserta. Ariel duduk di barisan depan diantara para napi lain. Sedangkan di seberang vokalis grup musik Peterpan ini, duduk Aming. Saya tidak tahu dalam kapasitan apa komidian itu turut hadir. Rasa-rasanya, ia bukan napi di LP Sukamiskin, kok. Hadirnya Ariel tentu sangat bisa ‘menjual’ acara ini.

Islam itu IndahEpisode ‘Bapak’ ini menarik bagi saya, karena istri pun kebetulan ikut menonton di rumah. Bahkan, istri yang lebih konsen menyimak kata demi kata dari dai asal Makassar ini. Saat sedang asyik di depan laptop, saya mendengar suara istri yang sedang sesenggukan di depan TV. Saya heran, sebab rasa-rasanya istri tidak sedang pilek. Saya lalu menghampirinya, dan kemudian melihat air matanya menetes di pipi.

“Temanya menarik sekali, Yah. Cara mengulasnya pas banget. Emosi kita jadi terbawa,” kata istri sambil mencoba tersenyum.

Saya pun lantas ikut menonton acara ‘Islam itu Indah’ ini bersama istri sampai tuntas.
Saya kagum dengan cara M Nur Maulana membawakan dakwahnya. Dengan cara yang penuh humor segar, ia mampu membangkitkan motivasi para penontonnya. Sejenak saya berpikir, bagaimana Trans TV bisa menemukan dai seperti ini. Padahal, Nur Maulana bukan siapa-siapa. Wajahnya juga tidak bisa disebut ganteng. Namun, Trans TV kok berani menjadikannya ‘bintang’ ya.

Namun, setelah beberapa kali menonton acara ‘Islam itu Indah’, baru saya tahu jawabannya. Dua jempol saya berikan untuk dai ini.

"Jamaah.... Oo, Jamaaaaahhhhh!" begitulah kata-kata yang menjadi ciri khas dari setiap ceramah M Nur Maulana. Dan, begitu selesai ia mengucapkan kalimat ini, ia membuat sebuah gerakan yang juga menjadi ciri khasnya. Bagaimana gerakan itu, silahkan lihat sendiri aksinya ini setiap hari di "Islam itu Indah'.

Dari cara bicaranya, saya sempat berpikir M Nur Maulana adalah orang Medan. Namun, rupanya, pria kelahiran 20 September 1974 ini adalah orang Makassar. Ia adalah seorang guru di sana, dan mengaku sudah mendakwah sejak berusai 14 tahun. Kabarnya, untuk wilayah Makassar, nama M Nur Maulana sudah sangat ngetop. Dan, bisa jadi, sekarang ia sudah ngetip di seantero Indonesia.
Selengkapnya...

Kamis, 19 Mei 2011

Eva Julianti Menyapa lagi di Metro Realitas

Eva Julianti Metro TV
Pemirsa, apa sebenarnya peran Nazaruddin dalam kasus suap wisma atlet? Dan, bagaimana Nazaruddin yang lahir dan besar di Siantar, Sumatera Utara, bisa menjabat posisi teras Partai Demokrat di usia muda, yakni 32 tahun? Inilah Metro Realitas, dalam episode ‘Dari Siantar Menuju Senayan'...

Begitulah kata-kata tegas yang diucapkan Eva Julianti, di tayangan Metro Realitas edisi Senin, 16 Mei 2011 malam. Setelah sekitar lima bulan absen, Eva kembali muncul dan menjadi host program berita investigasi di layar Metro TV ini. Sekian lama ia memang ‘menghilang’, karena Presenter ini baru saja mengambil cuti panjang dalam rangka kelahiran anak keduanya.

“Wah, masih bisa tegas ga ya? Sudah lima bulan tidak tampil nih,” celetuk Eva saat taping Metro Realitas hendak dimulai di ruang Green room Metro TV, Senin siang.

Ucapan tadi memang hanya kelakar saja. Nyatanya, walau sudah lima bulan tidak tampil, wanita cantik ini tetap bisa membawakan gaya khasnya sebagai presenter Metro Realitas. Suaranya tetap tegas, mimik mukanya serius, dan sesekali tangannya digerakkan untuk menambah ketegasan kata-katanya.

“Tuh kan, gayanya tetap kelihatan. Bahkan, sepertinya semakin mantap setelah libur panjang,” kataku yang disambut tawa khas seorang Eva Julianti.

Mungkin Anda penasaran bagaimana tawa khas dari mantan Presenter SCTV ini. Tampil di layar TV membawakan program berita memang menuntut seorang presenter untuk selalu serius. Jadi, menemukan mereka tertawa lepas, rasa-rasanya akan sangat jarang bisa dijumpai. Pokoknya, wanita ini punya tawa yang khas sekali. Hehehe…

Tidak sampai satu jam, sesi taping pun selesai dengan hanya sesekali harus melakukan take ulang. Eva Julianti tetap tampil prima. Buktinya, beberapa orang sempat kaget juga setelah melihat Metro Realitas kembali tayang dengan presenter ‘lamanya’ ini. Selama ini, memang banyak orang yang bertanya-tanya kemana saja Eva sehingga tidak muncul di layar Metro TV lagi.

Eva pun menyampaikan kata-kata penutup yang telah menjadi gaya-nya Metro Realitas:

Dalam kasus suap Wisma Atlet, beranikah KPK menyentuh orang-orang yang memiliki pengaruh kekuasaan politik? Publik berharap, jawaban dari KPK adalah berani, dan segera bertindak. Saya Eva Julianti, tim Metro Realitas, sampai jumpa….

Ya….Eva Julianti kembali akan membawakan program Metro Realitas di layar Metro TV, setiap hari Senin dan Rabu, pukul 23.05 WIB. Jangan lupa tonton ya…
Selengkapnya...

Jumat, 06 Mei 2011

Berburu Foto Seksi Chantal di FHM

foto syur chantal della concetta
“Saya tadi membawa 25 biji FHM. Sekarang tinggal dua. Rupanya banyak yang penasaran dengan foto-foto Chantal di majalah FHM ini,” kata Kirno kepada saya, tadi siang. Kirno adalah pengecer majalah yang rutin datang ke kantor tempat saya bekerja.

Menurut Kirno, para pembeli FHM edisi terbaru tadi bukan pelanggan majalah pria dewasa itu yang rutin memesan kepadanya tiap bulan. Mereka membeli hanya karena penasaran dengan foto-foto Chantal Della Concetta, yang kebetulan memang pernah bekerja di kantor saya. “Yang beli sebelumnya tidak pernah beli majalah seperti itu,” ungkap pedagang majalah yang sudah belasan tahun ‘buka cabang’ di kantor saya.

Dari Kirno, saya mendapatkan penjelasan kalau agen langganannya juga sempat heran mengapa banyak pengecer yang mengambil FHM edisi Mei 2011 dalam jumlah yang tidak biasa. “Setelah diberi tahu kalau Chantal menjadi salah satu model di majalah itu, si agen baru maklum,” cerita Kirno sambil asyik membereskan tumpukan majalahnya.

Kemunculan Chantal yang sangat ‘berani’ di FHM memang telah mengejutkan banyak orang. Masyarakat telanjur mengenal Chantal sebagai seorang pembaca berita di TV. Citra presenter berita yang selalu tampil kaku dan tegas, akhirnya juga melekat pada wanita cantik ini. Kalau sekarang Chantal tampil di sebuah majalah pria dengan pakaian serba mini, sudah pasti mengagetkan orang.

“Tapi, sepertinya peminat FHM ini hanya di kantor-kantor media saja kok. Seperti di kantor ini. Mungkin karena dia pernah bekerja di sini, kali ya. Makanya, kemarin banyak yang pesan. Dan, sekarang tinggal dua dari 25 majalah yang saya bawa,” kata Kirno lagi.

Ketika saya sedang bercakap-cakap dengan Kirno, melintas seorang teman yang rupanya adalah salah satu dari 23 orang yang telah membeli FHM dari Kirno. “Mau lihat majalahnya, gak?” tanya teman itu. Saya pun tidak mensia-siakan tawaran itu. Sedetik kemudian, teman tadi mengeluarkan FHM dari dalam tasnya dan memberikannya kepada saya.

“Sebenarnya biasa-biasa saja pengambilan foto-fotonya. Padahal, modelnya sudah oke punya,” celetuk teman itu setelah majalah berpindah ke tangan saya, sambil tertawa…
Selengkapnya...

Berfoto dengan Para Tokoh Terkenal


Dua hari lalu, saya bertemu dengan seorang teman. Dalam obrolan beberapa jam itu, muncul sebuah ide. Teman tadi menantang saya apakah bisa mewujudkan ide tadi menjadi kenyataan. Ia memberikan saya batas waktu selama dua bulan. Tidak hanya itu, ia pun menawarkan sejumlah bantuan bila saya memang serius ingin menjalankan ide tadi. Saya tidak berani memberikan jawaban tegas kepadanya, selain mengatakan akan pikir-pikir dulu sambil membuat coret-coretan soal ide tadi.

Saya tidak akan mengungkapkan apa ide tadi, yang menurut saya, ini adalah sebuah ide yang cemerlang dan bisa maju pesat bila digarap serius. Namun, kali ini saya akan menceritakan sebuah penyesalan terhadap sesuatu yang selama ini jarang saya lakukan walau kesempatan selalu datang. Pasalnya, bila hal ini saya tempuh sejak dulu, maka akan bisa saya gunakan untuk mendukung pelaksanaan ide kami tadi. Penyesalan tadi adalah; ogah berfoto dengan para tokoh terkenal.

Sebagai seorang jurnalis sejak 1998, saya berkesempatan untuk bertemu dengan banyak orang. Mulai dari tukang becak hingga pejabat penting. Mulai yang tinggal di emperan toko, sampai yang tinggal di rumah besar bak istana. Mulai dari tengah kota Jakarta, sampai ke pedalaman Papua. Namun, saya sangat jarang mengajak berfoto bersama kepada para orang-orang yang saya temui tadi. Saya malah lebih suka memoto mereka atau berburu foto yang unik dan langka di setiap daerah yang saya kunjungi.

Saya memang tidak seperti banyak teman saya lain, yang hobi berfoto dengan para tokoh dan kemudian meng-upload foto tadi ke facebook atau blog mereka. Bahkan, ada juga teman yang memajang foto bersama si tokoh tadi di kamar atau bahkan di ruang tamu rumah mereka. Saya malah hanya memajang foto beberapa hasil jepretan saya yang berisi keindahan di beberapa kota di dinding ruang tamu rumah.

Saya baru menyadari kalau berfoto dengan para tokoh terkenal rupanya bisa juga bermanfaat, selain memajangnya di rumah makan, seperti yang banyak dilakukan para pemilik rumah makan. Hehehe….

“Berfoto dengan para tokoh akan bisa menaikkan gengsi kita. Orang tidak akan percaya begitu saja atas cerita kita kalau kenal dengan tokoh si A, si B, atau yang lain. Tapi, begitu ada foto kita dengan si tokoh tadi, maka tanpa memberi penjelasan bertele-tele, orang pun akan langsung percaya kepada kita. Harga kita juga langsung naik,” kata teman tadi yang memang jago dalam urusan bisnis.

saya pun hanya bisa mengiyakan argumen teman ini.

“Menang, lu pernah ketemu tokoh siapa saja?” tanya teman ini lagi.

Saya pun menceritakan beberapa pengalaman liputan sejak menjadi jurnalis. Saya ceritakan pengalaman mewawancarai beberapa tokoh nasional di Indonesia. Saya juga berbagi cerita mengenai pengalaman liputan bersama beberapa tokoh yang ternyata di kemudian hari menjadi pejabat penting. Beberapa nama saya sebut, seperti Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Bambang Hendarso Danuri, dan beberapa nama tokoh lan.

Ah, rupanya berfoto dengan para tokoh itu berguna juga ya…
Selengkapnya...

Kamis, 05 Mei 2011

Foto - Foto Seksi Chantal Della Concetta

foto seksi chantal
People can keep talking, and I will keep walking. Head high.

Demikian kata Chantal Della Concetta dalam statusnya di Facebook. Orang pasti menduga-duga, mengapa perempuan cantik ini membuat status itu. Dan, saya yakin, orang pasti menghubungkan status di Facebook tadi dengan berita hangat yang sedang menyinggahi mantan presenter berita di Metro TV dan RCTI ini. Saya pastikan, Anda sudah sangat kurang gaul kalau mengaku belum tahu apa berita hangat terbaru dari perempuan yang sempat aktif di ormas Nasional Demokrat (Nasdem) ini.

Chantal Della Concetta menjadi model di majalah FHM edisi Mei 2011. Yang mengejutkan adalah, foto-foto Chantal menghiasi beberapa halaman FHM edisi terbaru itu dengan pose yang seksi sekali, khas majalah pria dewasa tersebut. Di dalam foto-foto seksi itu, Chantal tampak antara lain, hanya mengenakan bra berwarna hitam dan merah, dengan terusan rok, dan juga celana pendek ketat. Ada juga foto Chantal yang mengenakan lingeri warna merah dengan renda-renda warna hitam.

Saya yakin, pria mana saja pasti tidak mengedipkan mata menikmati suguhan foto-foto seksi Chantal di FHM yang diberi judul ‘Behind The News’ ini.

Ketika pertama kali melihat foto-foto di majalah FHM ini, yang tersebar lewat Blackberry, saya juga tidak yakin kalau itu adalah foto asli dari seorang Chantal Della Concetta, bekas rekan kerja saya. Namun, konfirmasi yang dapat dipertanggungjawabkan dari seseorang yang tahu betul mengenai kehidupan Chantal, memang membenarkan kalau yang ada di semua foto-foto yang aduhai tadi, memang Chantal Della Concetta.

Karena penasaran, saya pun browsing di internet. Yap, ternyata memang betul. Wanita yang muncul dengan foto-fotonya yang super seksi di majalah FHM edisi Mei tadi memang Chantal. Kepada sejumlah media yang mengontaknya, wanita cantik yang beberapa tato
ini, memang mengakui itu adalah dirinya.

Keberanian Chantal berpose ‘menantang’ lewat serangkaian foto-fotonya di FHM akhirnya menjadi ramai dibahas masyarakat, karena barang kali, baru kali ini ada presenter berita yang melakukan hal ini. Kalau bintang film, artis sinetron, penyanyi, model, atau presenter nonberita, mungkin sudah biasa tampil berpakaian mini di majalah-majalah pria dewasa seperti FHM, Popular, ME, atau yang lain. Tapi, tidak demikian dengan presenter berita.

Presenter berita dikenal masyarakat sebagai sosok yang kaku di layar TV. Maklum saja, seorang presenter berita harus terlihat sangat pintar, berwibawa, rapi, tegas, dan berani. Kalau sifat-sifat itu tidak ada, masyarakat tidak akan percaya dengan berita yang sedang disampaikan.

Narasumber yang sedang diwawancarai juga tidak akan bisa ‘ditaklukkan’ bila presenter yang mewawancarainya tidak punya wibawa. Akibat sifat dan sikap yang harus dimiliki tadi, akhirnya presenter berita pun dicap sangat kaku di mata pemirsa.

Nah, kalau kemudian Chantal muncul dengan foto-fotonya seperti yang ada di FHM, sudah pasti akan mengejutkan masyarakat. Bagaimanapun, mereka mengenal sosok Chantal Della Concetta sebagai seorang presenter berita, terlepas ia kini bukan lagi bekerja di stasiun TV sebagai presenter berita.

Chantal Della Concetta
Chantal mengawali karir jurnalistiknya di Metro TV sebagai seorang reporter, sekitar tahun 2002. Tidak lama kemudian, ia menjadi presenter dan mulai dikenal masyarakat. Chantal termasuk presenter handal di Metro TV. Karena itu, ia pun dipercaya menjadi host di sejumlah program berita di stasiun televisi berita pertama di Indonesia itu.

RCTI pun akhirnya kepincut dengan sosok perempuan berwajah oriental ini, dan mengajaknya bergabung di sana. Di RCTI, Chantal dipercaya menjadi presenter di program Seputar Indonesia. Lambat laun, ia pun semakin dikenal masyarakat dan menjadi salah satu presenter berita favorit pemirsa TV di tanah air.

Di tengah kejayaannya menjadi presenter berita, Chantal memilih untuk hengkang dari RCTI dan bergabung ke ormas Nasional Demokrat (Nasdem). Orang pun menduga, ia sedang merintis karirnya di dunia politik. Namun, rupanya langkahnya tidak lama di Nasdem. Kabarnya, wanita yang kini menjadi single-parent ini, sudah memilih mundur dari Nasdem.

Lalu, kemana Chantal kalau memang sudah keluar dari Nasdem? Rupanya, wanita cantik ini sedang merintis sebuah TV online bernama INITV. Ia menjabat sebagai Deputy CEO di sana. Saya mendapatkan kabar ini beberapa waktu lalu dari seorang teman yang juga telah bergabung di INITV. Beberapa awaknya memang ‘alumni’ Metro TV, termasuk orang nomor satunya.
Selengkapnya...