Senin, 30 Mei 2011

Memanen Salak Pondoh di Lereng Merapi

buah salak pondoh
Untuk pertama kalinya, saya merasakan bagaimana kenikmatan memanen buah salak. Pengalaman yang sangat menyenangkan ini, saya alami saat berada di Jogjakarta pada pekan lalu.

Berawal ketika seorang teman mengajak mampir ke rumah sanak saudaranya di Kabupaten Sleman, yang masuk dalam area lereng gunung Merapi. Rupanya, di depan rumahnya ada kebun Salak Pondoh. Tidak luas memang. Saya perkirakan, luasnya sekitar 200 meter persegi. Menurut Ibu Madhuri, Bu De dari teman tadi, kebun yang lebih luas mereka miliki di luar desa. “Yang lebih luas ada di sawah. Tidak jauh dari rumah,” kata Ibu Madhuri saat berbincang-bincang di teras rumah.

Ia pun mengajak saya ke kebun Salak Pondoh yang ada di depan rumah tadi. Sambil memetik buah salak yang sudah bisa dipanen, Bu Madhuri berbagi cerita mengenai pengalaman bercocok tanam buah Salak.

“Saat ini, harga salak di sini sekitar Rp 4.000 perkilo. Ini termasuk yang mahal. Yang paling mahal pernah mencapai Rp 6.000 perkilo. Harga memang tidak pernah stabil. Bahkan, suatu saat, harga pernah hanya Rp 900 perkilo. Padahal, petani akan mencapai titik impas biaya produksi pada harga Rp 2.000 perkilo,” cerita bu Madhuri di tengah pohon-pohon salak yang tinggi tersebut.

Sambil mendengar cerita soal harga tadi, pikiran saya melayang ke Jakarta. Kalau tidak salah, saat ini harga Salak Pondoh di tukang buah mencapai Rp 12.000 perkilo. Bahkan, kalau membelinya di supermarket, harganya bisa mencapai Rp 15.000. Saya memang termasuk orang yang agak sering membeli salak pondoh, sehingga hapal fluktuasi harganya di tingkat pengecer di seputaran Jakarta.

Mahalnya harga Salak Pondoh saat ini, bisa jadi akibat letusan Gunung Merapi, akhir tahun lalu. Perkebunan Salak memang salah satu usaha yang cukup parah terkena dampak letusan. Pasalnya, Perkebunan Salak Pondoh umumnya berada di Kabupaten Sleman, yang berada di zona lereng Gunung Merapi.

Hasil pantauan saya, beberapa ratus meter lagi ke atas dari rumah bu Madhuri, semua areal di sana memang telah habis terkena erupsi Gunung Merapi. Saya mendapati beberapa perkebunan salak yang telah rusak, atau bahkan kering, yang mungkin disebabkan oleh awan panas merapi kala itu.

Menurut pemerintah, kerugian yang dialami oleh petani Salak pondoh di Jogjakarta akibat erupsi Gunung Merapi sekitar Rp 200 miliar.

salak pondohSalak pondoh yang siap dipanen

“Untuk menghasilkan buah salak yang banyak, setiap pohon harus diberikan pupuk. Kami menggunakan pupuk kimia dan organik,” kata bu Madhuri lagi. Pupuk diberikan secara rutin dalam kurun waktu tertentu. Selain diberi pupuk, tanah pun harus selalu dibersihkan dari tanaman liar. Daun yang sudah kering pun harus dipotong dan dibuang.

Dari ‘kursus’ singkat dengan Bu Madhuri, saya pun tahu kalau ada teknik khusus dalam menghasilkan buah salak yang banyak. Rupanya, bunga salak tidak dibiarkan begitu saja tumbuh menjadi buah. Perlu ada bantuan tangan manusia. Caranya adalah, di setiap bunga yang bakal menjadi buah, harus diberikan potongan bunga salak jenis jantan. Kalau bunga jantan ini tidak diberikan, maka di setiap tandan hanya akan jadi tiga atau empat buah salak. Sedangkan bila diberikan bunga jantan, maka tandan akan penuh oleh buah, yang jumlahnya bisa mencapai puluhan buah.
bunga salakBunga salak pondoh yang siap 'dikawinkan'

salak jantanBunga jantan salak pondoh

Bu Madhuri lalu pergi ke dalam rumah. Sebentar kemudian, ia kembali dengan membawa sesuatu. “Ini bunga jantan itu. Kami simpan persediannya di dalam rumah,” katanya pada saya.

Bu Madhuri lalu mempraktekkan cara ‘mengawinkan’ bunga salak. Bunga jantan tadi ia potong sekitar satu sentimeter. Ia lalu mengajak saya mencari bunga salak yang sedang mekar. Setelah menemukannya, Bu Madhuri meletakkan potongan bunga jantan tadi di tengah bunga salak yang sedang mekar tadi. Proses ini tidak sulit. Yang sulit adalah mencari bunga jantan. Pasalnya, hanya sedikit yang bermunculan di pohon-pohon salak. Karena itu, para petani biasa menyimpannya di dalam rumah untuk bekal yang cukup lama.

Selama sekitar satu jam berkunjung, membuat saya mendapatkan cukup banyak penjelasan mengenai salak pondoh dari Bu Madhuri. Selain penjelasan, tentu saja saya mendapatkan cukup banyak salak untuk dibawa pulang. Hehehe....

Selain itu, hasyat untuk memakan salak hasil memetik sendiri langsung dari pohonnya juga sudah tercapai. Entah berapa banyak salak yang telah saya makan. Yang pasti, cukup mengenyangkan. Hehehe......

Saya juga akhirnya tahu perbedaan buah salak yang baru dipetik dengan yang biasa dijual di tukang buah. Pada salak yang baru dipetik, akan dijumpai duri-duri yang memenuhi kulit buah. Duri ini harus disingkirkan bila kita hendak mengupasnya. Caranya bermacam-macam. Yang paling umum adalah dengan menggosok-gosokkan salak ke benda lain sampai duri tadi berjantuhan. Bila sudah ‘aman’, baru salak dikupas, deh...
pohon salak pondohDereten pohon salak pondoh

Hasil riset saya, salak pondoh dari Jogjakarta memang fenomenal. Tanaman yang masuk dalam jenis palma ini, mulai dikembangkan di kota gudeg ini sejak 1980an. Akhirnya, jenis buah yang nama ilmiahnya adalah Salacca zalacca ini, segera menjadi buah primadona yang penting di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta.

Bahkan, kini salak pondoh menjadi jenis salak yang paling populer di Indonesia. Ketenaran ini tidak lepas dari aroma dan rasanya yang manis segar tanpa rasa sepat, meski pada buah yang belum cukup masak sekalipun. Berbeda dengan jenis salak lain yang rasanya masih terasa sepat atau asam.

Asal-usuk salak tidak diketahui persis darimana. Yang pasti, salak pertama kali ditemukan tumbuh liar di alam Pulau Jawa dan Sumatera. Bisa jadi, ini yang membuat salak dalam bahasa Inggris pun disebut ‘salak’. Ada juga yang menyebut dengan kata snake fruit karena kulitnya yang mirip sisik ular.

F
oto-foto by Edi Ginting

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar