Sabtu, 28 Mei 2011

Menembus Jalur Selatan Jawa


Jumat, 20 Mei 2011.

Jarum jam menunjukkan pukul empat sore, ketika mobil Panther warna perak yang kami tumpangi, mulai meninggalkan kantor di kawasan Kedoya, Jakarta Barat. Reynaldi duduk di belakang sopir, dan ditemani oleh Jopal di sisi kirinya. Aku duduk di belakang Reynaldi, sedangkan Dini duduk di belakang Jopal.

Kemacetan segera menemani perjalanan begitu mobil memasuki jalan tol dalam kota dari arah Tomang. Mobil hanya bisa dipacu sekitar 20 sampai 50 kilometer perjam. Rupanya, larangan truk melintasi jalan tol ini pada siang hari, tidak begitu tokcer menghilangkan macet. Menurut orang, pengaruhnya memang ada. Namun, menurutku, kok sepertinya tidak ada ya.

Kemacetan benar-benar hilang begitu kami sudah memasuki jalan tol Cikampek. Mobil mulai dapat dipacu lebih cepat menyusuri jalan tol yang terkenal dengan angka kecelakaan yang tinggi ini. Truk dan bis mendominasi jalan tol ini. Maklum saja, bis-bis antarkota tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur, memang biasa berangkat sore hari dan sampai di kota tujuan pada pagi harinya.

Begitu memasuki jalan tol Cipularang, suasanan jalanan semakin lengang. Mobil pun semakin lincah menyusuri jalan tol yang berbelok-belok dan naik turun ini. Perjalanan semakin bertambah asyik dengan pemandangan di kiri-kanan jalan yang memanjakan mata. Apalagi, saat itu waktu sedang dalam peralihan dari sore ke malam. Langit pun terlihat berwarna kuning. Dan, tidak lama kemudian, yang terlihat hanya lampu-lampu dari rumah penduduk. Malam pun sudah meliputi kawasan Tol Cipularang ini.

Perjalanan relatif aman dan nyaman sampai kami keluar di pintu tol Cileunyi. Hari pun sudah berganti gelap. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Persimpangan Cileunyi terlihat cukup ramai. Kepadatan semakin menjadi-jadi oleh ulah bis-bis yang ngetem di pinggir jalan raya untuk menunggu penumpang.

Dari Cileunyi, kami pun berbelok ke arah Tasikmalaya, dan menyusuri Jalan Raya Rancaekek.

Baru beberapa kilometer bergerak dari Cileunyi, kami sepakat untuk makan malam dulu. Kami segera memperlambat laju mobil untuk melihat tempat makan yang cocok di kiri-kanan jalan.

Pilihan pun jatuh pada Rumah Makan Ampera yang ada di Jalan Raya Rancaekek No 23. Rumah makan yang menyajikan beragam masakan khas Sunda ini menjadi pilihan kami, karena kami sudah familiar dengan menu dan rasanya. Kami tentu tidak mau membeli kucing dalam karung untuk mengisi perut yang sudah mulai memberontak ini.

Kami segera memilih menu masing-masing yang dipajang di dekat pintu masuk. Ada yang memilih bebek goreng, ayam goreng, dan pilihan menu lainnya. Ada juga yang memilih jengkol balado. Sedangkan aku memilih sayur gule siput sawah, ditambah dengan bakwan jagung dan lalapan, plus beberapa potong jengkol balado untuk menambah selera makan. Aku langsung tertarik dengan siput sawah ini karena sudah lama juga tidak menikmatinya. Biasanya, jenis makanan yang mungkin masih asing bagi kebanyakan orang ini, sering aku santap saat pulang kampung ke Sumatera Utara.

Setelah istirahat sambil bersantap malam sekitar sejam, kami pun melanjutkan perjalanan. Penyakit asli orang Indonesia pun mulai menyerangku, yakni ngantuk setelah makan. Karena itu, aku langsung tertidur begitu mobil semakin mendekati Nagrek. Hanya sesekali aku terbangun karena posisi duduk yang sudah tidak nyaman atau karena mobil yang mengerem mendadak.

Misalkan saja, ketika mobil tiba-tiba mengerem mendadak dengan posisi sudah berhadap-hadapan dengan sebuah bis, di persimpangan Nagrek. Kejadian ini berawal ketika Reynaldi salah berbelok. Ia sudah sempat mengarahkan posisi mobil ke arah Garut. Begitu sadar salah arah, Reynaldi langsung membanting stir ke kiri untuk kembali ke jalur ke arah Ciamis. Rupanya, dari depan muncul sebuah bis. Keduanya pun berhenti dalam posisi sudah berhadapan. Klekson bis terdengar begitu nyaring. Dan, kejadian ini akhirnya hanya menjadi bahan tertawaan kami di jalan.

Menjelang tengah malam, kami kembali berhenti di sebuah warung di daerah Banjar. Warung kecil di pinggir jalan sengaja kami pilih. “Untuk berbagi rupiah ke pedagang kecil,” begitu kata Reynaldi ketika membelokkan ke kiri jalan dan akhirnya berhenti di depan warung.


Ibu Ika, si penjaga warung segera melayani kami. Ia membuat kopi dan cofeemix pesanan kami sesegera mungkin. Matanya tampak mengantuk. Namun, ia sangat ramah melayani. Bahkan, ketika aku meminta ia mengupas dua buah mangga harum manis yang dijual di samping warungnya, ia segera melakukannya.

Hampir satu jam kami istirahat di sini. Selain duduk-duduk sambil ngobrol, kami pun mengisi waktu dengan kegiatan lain. Jopal asik mengabadikan kamera Handycam-nya, Reynaldi asyik dengan telepon genggamnya, dan Dini asik dengan rokoknya. Sedangkan aku asyik dengan kamera foto sakuku. Ini adalah beberapa hasil jepretanku. Sengaja angle foto aku buat berantakan untuk menimbulkan kesan tertentu pada gambar-gambar ini.


Selepas Banjar, perjalanan menjadi lebih tidak nyaman. Memasuki wilayah Jawa Tengah, kondisi jalan lebih rusak. Mulai dari lubang kecil, lubang besar, atau jalan yang bergelombang. Bahkan, di beberapa titik sedang ada perbaikan jembatan atau gorong-gorong sehingga mobil harus bergantian melintas. Beberapa orang terlihat menggunakan situasi ini dengan meminta sumbangan ala kadarnya dari para pelintas.

Tiba di Jogja menjelang pagi

Akhirnya, kami memasuki kota Jogjakarta sekitar pukul 05.15. Saat itu, aktivitas masyarakat mulai terlihat. Dan, menjelang pukul enam pagi, kami pun tiba di hotel yang sudah dipesan.

Selesai sudah melintas jalur selatan Jawa….

Foto-Foto by Edi Ginting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar