Jumat, 27 Mei 2011

Pencuri, Pembobol, Atau Perampok Mesin ATM

Tawa geli muncul ketika menyaksikan berita soal pembobolan ATM di layar kaca. Si pembaca berita menggunakan kata ‘perampok’ ketika menyampaikan berita ini. Setelah berita disimak sampai tuntas, ternyata yang terjadi bukan perampokan, namun (hanya) pencurian. Atau, mungkin tepatnya pembobolan ATM.

Keteledoran yang memalukan ini semakin menjadi-jadi dengan CG yang muncul di layar TV. Isi CG adalah ‘Perampok Gasak Uang Rp 100 juta’. Wah, si produser program berita ini juga mengamini kalau berita yang ia sampaikan adalah berita perampokan.

Padahal, gambar yang muncul di TV juga mendukung kalau yang terjadi di ATM tadi adalah pencurian. Si pelaku yang diduga berjumlah tiga orang masuk ke dalam ATM pada malam hari. Mereka kemudian merusak mesin ATM dan menggasak uang yang ada di dalamnya.

Lantas, mengapa berita yang muncul kemudian adalah telah terjadi ‘perampokan?

Kuat dugaan (ah, kalimat ini biasanya dipakai dalam kasus-kasus hukum), si pembuat naskah tidak paham dengan arti perampokan tadi. Celakanya lagi, si produser program juga tidak paham perbedaan antara perampok dengan pencuri. Akhirnya, si pembaca berita yang sama tidak pahamnya, membawakan berita yang salah.

Bagi wartawan yang biasa liputan di bidang hukum atau kriminal, tentu sudah sangat paham membedakan makna perampokan dan pencurian. Mereka juga pasti paham kalau pencurian juga bisa dibedakan menjadi dua, yakni pencurian biasa dan pencurian dengan pemberatan.

Bahkan, wartawan di bidang ini biasanya juga sudah hafal dengan pasal-pasalnya. Pencurian biasa diatur di pasal 362 KUHP, pencurian dengan pemberatan di pasal 363, dan perampokan di pasal 365.

Pencurian biasa adalah mengambil barang milik orang lain tanpa merusak apapun. Misalnya, mencuri seekor ayam di jalanan, mengambil sebuah durian dari tukang penjual buah, dan sebagainya.

Sedangkan pencurian dengan pemberatan yang ada di pasal 363 KUHP adalah pencurian dengan ada benda yang dirusak. Misalnya, mencuri TV di rumah orang dengan merusak teralis. Contoh lain, mengambil uang di laci meja bos di kantor dengan merusak laci menggunakan linggis (wah, nekat ya!). Nah, pembobolan ATM tadi juga masuk dalam kategori ini.

Sedangkan perampokan sangat beda dengan kedua macam pencurian tadi. Perampokan biasa disebut juga dengan istilah pencurian dengan kekerasan. Maksud kekerasan di sini adalah kekerasan terhadap manusia. Artinya, ada orang lain yang menyaksikan aksi si pelaku dan bahkan melakukan pengancaman.

Contoh jelasnya begini. Bila ada orang masuk ke dalam rumah dengan cara mencongkel jendela, lalu membawa kabur TV, maka ia terkena pasal pencurian dengan pemberatan. Bila, saat sudah masuk ke dalam rumah, lalu mengancam orang di dalam rumah yang memergoki aksinya, maka ini sudah masuk tindak pidana pencurian dengan kekerasan alias perampokan.

Ancaman hukuman perampokan tentu lebih berat daripada pencurian.

Aneh juga kalau ada stasiun TV yang masih membiarkan kesalahan yang sepertinya kecil dan sepele ini. Sebab, di sana tentu ada kredibilitas yang dipertaruhkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar