Jumat, 10 Juni 2011

Selamat Datang di Rumah Mbah Maridjan


Sudah sekitar delapan bulan berlalu tragedi Meletusnya Gunung Merapi Jogjakarta. Namun, bekas-bekas dahsyatnya peristiwa ini, masih tersisa sampai hari ini. Duka dari sekitar 270 keluarga korban yang kehilangan nyawa, masih membekas. Belum lagi harta benda yang ludes, seperti rumah beserta isinya, kendaraan, tanaman di kebun-kebun mereka, dan sebagainya, yang tentu menambah kesedihan mereka.

Namun, perlahan-lahan mereka pun kembali bangkit. Duka harus dihadapi dengan semangat baru, dan bukan dengan cara putus asa. Hidup tentu harus terus dijalani.

Setidaknya, ini yang saya saksikan ketika berkunjung ke lokasi terkena dampak letusan Gunung Merapi, akhir Mei lalu. Bersama sejumlah teman-teman lain, saya mengunjungi Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkriangan, yang termasuk paling parah terkena dampak. Saya pun berjalan kaki terus mendaki ke Dusun Kinahrejo, yang merupakan lokasi rumah (Alm) Mbah Marijan, sang juru kunci Merapi yang telah menjadi salah satu korban ganasnya erupsi Gunung Merapi.

Begitu memasuki gapura Desa Umbulharjo, beberapa penduduk desa menyetop mobil. Rupanya, mereka memungut bayaran dari setiap kendaraan yang ingin masuk. Jumlahnya sekitar Rp 5.000 per satu kendaraan. Melihat pemandangan ini, saya merasa sedang jalan-jalan ke sebuah tempat wisata. Yap, saya memang tidak salah. Di spanduk besar yang dipajang di gapura, terpampang tulisan ' Selamat Datang di Kawasan Wisata Volcano Tour Merapi". Wow, rupanya saya memang sedang memasuki sebuah tempat wisata.

Beberapa saat setelah melewati gerbang Desa Umbulharjo tadi, pemandangan di kiri-kanan jalan pun seketika berubah total. Yang tadinya pepohonan yang hijau nan rimbun menjadi pemandangan dari mobil, maka kini berubah menjadi hamparan tanah kosong seperti yang baru saja habis terbakar. Beberapa sisa batang pohon yang telah terbakar terlihat masih berdiri tegak. jurang-jurang dan bukit-bukit begitu jelas terlihat karena tidak ada lagi pohon-pohon yang menutupinya. Memang, tanah tampak kembali hijau oleh tanaman yang mulai tumbuh. Apalagi, reboisasi sedang berlangsung di kawasan ini.

Kami akhirnya memarkirkan mobil di sebuah tempat parkir yang telah disediakan. Beberapa bis pariwisata tampak parkir di sini. Suasana pun cukup ramai. Rupanya, bukan hanya kami yang penasaran dengan lokasi yang terkena erupsi Merapi ini. Sepertinya kawasan ini telah menjadi lokasi wisata baru di Jogjakarta. Tidak hanya wisatawan lokal, namun beberapa wisatawan asing pun terlihat di sini.

Hampir dua jam saya menghabiskan waktu di sini. Sayangnya, puncak Merapi yang sebenarnya sudah begitu dekat dari posisi saya, sedang ditutupi oleh awan. Namun, saya sudah cukup puas sampai di sini. Apa yang saya lihat langsung di sini dan apa yang saya pernah lihat di tayangan TV, membuat saya mampu membayangkan betapa ngerinya letusan Merapi akhir 2010 lalu. Begitulah. Kalau alam 'mengamuk', manusia tidak bisa 'merayu' agar alam mau diam.

Di bawah ini, saya ikut sertakan beberapa foto hasil jepretan saya saat berkunjung ke lokasi bencana Merapi.

Gerbang masuk menuju Desa Umbulharjo. Setiap kendaraan yang ingin masuk ke desa ini, dipungut bayaran sekitar Rp 5.000. Gerbang ini masih berada di kawasan tidak terkena dampak Merapi. Namun, begitu melewati gerbang ini, pemandangan pun segera berganti.


Beberapa bus Pariwisata parkir di Dusun Kinahrejo, yang merupakan dusun terdekat dengan puncak Merapi. Kawasan ini telah menjadi tempat wisata baru di Jogjakarta. Tiap akhir pekan, kawasan ini cukup padat.


Pemandangan puncak Merapi yang ditutupi awan. Sejumlah warung berdiri di sejumlah tempat di Dusun Kinahrejo.


Pemandangan Dusun Kinahrejo yang mulai hijau lagi oleh tanaman yang tumbuh liar ataupun yang sengaja ditanam.


Sejumlah rambu peringatan dipasang di beberapa titik yang dianggap berbahaya. Di kawasan Dusun Kinahrejo memang terdapat beberapa tebing yang cukup dalam dan sangat berbahaya bila pengunjung tidak waspada.


Beberapa pengunjung yang memadati sebuah warung. Makanan dan minuman di sini dijual tidak begitu mahal. Misalnya saja, air meneral dijual Rp 3.000 perbotol. Beberapa makanan tradisional juga ada, seperti tempe goreng, mendoan, jagung rebus, dan sebagainya.


Tiga orang wisatawan asing sedang 'mejeng' di salah satu sudut Dusun Kinahrejo.


Suasana Dusun Kinahrejo yang kini ramai oleh warung-warung.



Salah satu warung yang ada di Dusun Kinahrejo yang menjual VCD tentang Gunung Merapi, menjual cobek, dan beberapa kerajinan lain. Pendapatan penduduk sekitar lumayan banyak dari para wisatawan Merapi yang datang ke sini.



Salah satu pedagang di lereng Merapi di Dusun Kinahrejo yang hanya bermodakan payung. Udara di sini cukup dingin, namun terik matahari begitu membuat kulit 'sengsara'.


Pemandangan akibat letusan Merapi 2010. Tanah pun kini mulai hijau lagi.



Sebuah bangkai mobil yang nyaris tertanam oleh abu Merapi.



Bekas rumah Mbah Marijan.


Bekas rumah Mbah Marijan yang tiap hari selalu ramai dikunjungi. Mbah Marijan turut menjadi salah satu korban letusan Merapi. Ia ditemukan tewas di rumahnya ini pada 28 Oktober 2010.



Jalan desa yang hancur terkena letusan Merapi.


Pohon-pohon pun mulai ditanam untuk kembali menghijaukan Gunung Merapi. Beragam jenis pohon ditanami di seluruh areal kaki Merapi yang sempat gundul disapu erupsi Merapi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar