Jumat, 08 Juli 2011

Gile, Harga Jeruk Medan Hampir Rp 40.000/Kg

Saat berbelanja di sebuah Hypermarket di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang, dua hari lalu, iseng-iseng saya cuci mata ke bagian buah-buahan. Walau stok buah-buahan sedang banyak di rumah, namun saya tidak mau ketinggalan informasi mengenai buah-buahan yang sedang banjir di pasar.

Nah, yang membuat saya terkejut adalah ketika melihat harga jeruk Medan. Di sana tertulis Rp 3.790 per 100 gr, atau sama saja dengan Rp 37.900 per kilogram. Walah, ini harga yang sungguh-sungguh tidak masuk akal.

Saya lalu melihat-lihat jeruk yang ada di keranjang. Ukurannya memang di atas rata-rata, namun masih jauh disebut besar. Warnanya kuning, namun berdasarkan pengalaman saya, warna kuning seperti ini bukan karena buah sudah matang di pohon. Biasanya, kalau buah Jeruk Medan matang di pohon, warnanya lebih cenderung ke orange daripada kuning. Dari salah satu buah jeruk yang dibelah dua dan disimpan di sebuah wadah plastik, saya perkirakan rasa jeruk ini memang cukup manis. Perkiraan saya ini berdasarkan warna daging jeruk yang berwarna kemerah-merahan. Semakin cenderung ke warna kemerah-merahan, maka jeruk akan semakin manis.

Di atas tumpukan buah jeruk ini, terpampang sebuah tulisan dengan kata 'Jeruk Medan Jumbo'. Saya lalu mengambil satu jeruk dan memperlihatkannya kepada istri yang berada tidak jauh dari sana.

"Bunda, harga Jeruk Medan seperti ini Rp 37.900 perkilo. Jeruk sebesar ini saja disebut Jumbo. Gimana dengan jeruk yang kita bawa ya," celetukku.
"Hehehe... Jauh lebih besar jeruk yang kita bawa ya," jawab istri.

Kami memang baru saja pulang dari Medan beberapa hari lalu, dan membawa sekardus jeruk dari sana. Jeruk tersebut adalah hasil memetik sendiri dari kebun milik keluarga di Tanah Karo, Sumatera Utara. Ukuran Jeruk yang kami bawa, rata-rata di atas ukuran jeruk yang dijual di hypermarket ini. Bahkan, ada yang sangat jauh lebih besar.

Saat memanennya, kami memang mengambil jeruk dari berbagai ukuran, dari yang biasa sampai yang besar. Ini dimaksudkan agar kardus bisa diisi oleh banyak jeruk. Kalau hanya diisi dengan jeruk yang besar-besar, sudah pasti jeruk yang bisa kami bawa hanya sedikit. Padahal, kami berencana untuk membagi-bagi jeruk itu kepada para tetangga dan kerabat.

Di Tanah Karo sendiri, harga jeruk kini sekitar Rp 8.000/kg. Paling tinggi Rp 10.000/kg, dan harga ini sangat jarang terjadi. Padahal, biasanya harga hanya berkisar di Rp 4.500-6.000/kg. Tingginya harga saat ini karena memang sedang tidak musim panen. Panen besar biasa terjadi pada Juli-Agustus dan Januari-Februari.

Menurut saudara-saudara yang mememiliki kebun jeruk di Tanah Karo, harga Rp 8.000/kg adalah untuk jeruk dengan kategori oke. Kategori paling jelek dan biasa dijadikan sebagai jeruk peras, harganya sekitar Rp 4.000/kg.

Nah, yang sangat mengherankan, bagaimana mungkin Jeruk Medan dijual di Jakarta bisa seharga hampir Rp 40.000/kg? Semahal itukah biaya transportasinya? Kalau alasan jarak yang sangat jauh yang membuat harga melonjak tinggi, lantas mengapa jeruk impor dari Cina bisa lebih murah dijual, padahal jaraknya lebih jauh daripada dari Medan?

Mmmm.... Pemerintah seharusnya punya jawaban yang masuk akal.

4 komentar:

  1. indra ginting4:18 PM

    ini artinya sangat menguntungkan bagi pedagang, tapi sangat merugikan bagi petani jeruk

    BalasHapus
  2. Lebih tepatnya lagi, menguntungkan bagi tengkulak jeruk, senina. :-)

    BalasHapus
  3. Anonim11:49 PM

    frengki bukit.....mmg btul-btul apes petani jeruk dr tnh karo,udah penyakit jeruk skrg ini mkin bnyak,trus harga pupuk sm obat semprot untk jeruk mahal dibuat sm pemerintah.bahkan harga jeruk juga murah .kok bisa ya harga jeruk diberastagiyg paling oke cm Rp 3.500 /kg skrg.tp harga jeruk medan di swalayan jakarta Rp 4.0000 /kg. sbtulnya dimn perhatian pemerintah untuk petani jeruk dr tanah karo.

    BalasHapus
  4. @Frengki Bukit: Saya setuju dengan Anda. Kasian petani Jeruk di Tanah karo. Saking tidak menjanjikan lagi menjadi petani Jeruk, mereka pun akhirnya menelantarkan kebun mereka. Kalaupun masih berbuah, mereka akan menjualnya sebagai jeruk peras. Yang penting jadi duit, walau harganya sangat murah. Bahkan, sudah banyak yang akhirnya membunuh pohon jeruk mereka dan menggantikannya dengan tanaman lain.

    BalasHapus