Selasa, 30 Agustus 2011

SELAMAT IDUL FITRI 1432 H

SMS Lebaran 1432 H:

"Minta maaf itu tidak hanya bisa katanya, katanya, katanya. Kasian yang bilang katanya itu. SELAMAT IDUL FITRI 1432 H. Mhn Maaf lahir & Bathin."


Selengkapnya...

Selasa, 23 Agustus 2011

PULAU LINGAYAN, BARU SEKALI UPACARA SETELAH 66 TAHUN INDONESIA MERDEKA

pulau lingayan17 Agustus 2011.

Saya berkesempatan untuk menjadi salah satu saksi sejarah di Pulau Lingayan. Tepat di hari kemerdekaan Indonesia ke-66 ini, sebuah upacara digelar di pulau yang terletak di Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah itu.

Upacara ini bermakna sangat penting. Sebab, inilah untuk pertama kalinya bendera merah putih dikibarkan di Pulau Lingayan. Selama ini belum pernah ada upacara di pulau tersebut. Padahal, Lingayan adalah salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Lingayan berhadapan langsung dengan Malaysia, dan sangat rawan terjadi hal-hal yang mengganggu kedaulatan Republik Indonesia di pulau kecil itu.

Saya pun heran mengapa selama ini tidak pernah ada upacara memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus di Pulau Lingayan. Jangankan upacara, bendera merah putih saja tidak ada yang dikibarkan di rumah-rumah penduduk seperti lazimnya di daerah-daerah lain. Penduduk Pulau Lingayan bukan tidak mau mengibarkan bendera merah putih, atau mereka sedang melancarkan aksi mogok upacara. Namun, kondisi yang memaksa penduduk di pulau tersebut untuk melupakan ritual pengibaran bendera.

“Kondisi perekonomian kami sangat buruk. Untuk membeli bendera saja, kami tidak mampu. Tapi, jangan tanya rasa nasionalisme kami. Tuhan yang sangat tahu betapa besar rasa cinta kami kepada Indonesia,” kata Kepala Dusun Pulau Lingayan, Anwar Kanda, saat berbincang-bincang dengan saya usai upacara.

Ketika berada di pulau yang berpenduduk sekitar 354 jiwa ini, saya melihat bendera merah putih sudah berkibar dimana-mana. Baik di rumah-rumah, tepi jalan, pinggir pantai, atau di pinggir lapangan. Ukurannya pun bermacam-macam. Rupanya, seluruh bendera tersebut hasil pendropan dari daratan beberapa hari sebelumnya. Menurut sang Kepala Dusun, mereka dikirimi banyak bendera ketika Pulau Lingayan dipilih menjadi lokasi upacara yang akan dihadiri oleh banyak pejabat dari provinsi, kabupaten, dan Jakarta.

lingayan
pulau terluar
lingayan pulau terluarSungguh aneh mengapa Pulau Lingayan seperti terlupakan selama ini. Padahal, lokasi pulau yang sangat indah ini tidak jauh-jauh amat. Sangat mudah untuk mencapai pulau yang banyak ditumbuhi pohon kelapa itu. Walau masuk dalam salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia, namun Pulau Lingayan sebenarnya bukan pulau yang menentukan batas laut Indonesia dengan negara tetangga. Dari Ogotua, desa terdekat ke pulau ini dari daratan Sulawesi Tengah, hanya butuh waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan perahu motor. Karena itu, pulau tersebut sebenarnya sukar dicaplok negara manapun, seperti pulau terluar lainnya.

“Pulau Lingayan memang tidak mungkin diklaim negara lain seperti kasus Sipadan-Ligitan. Tapi, posisinya yang menghadap langsung ke negara tetangga, bisa mempengaruhi sosial budaya di sana. Secara kedaulatan, Lingayan tetap menjadi bagian Indonesia. Tapi, bangsa ini pasti berduka kalau ternyata penduduk di sana lebih suka berbahasa negara tetangga, perekonomian mereka bergantung pada negara tetangga, dan hidup mereka dipengaruhi budaya negara tetangga tersebut,” kata Dietriech G. Bengen, seorang profesor dari IPB, kepada saya.

Upacara bendera di Pulau Lingayan sepertinya sudah dipersiapkan sangat matang. Pulau yang cukup kecil tersebut tiba-tiba saja sesak oleh para peserta upacara. Ratusan peserta upacara datang dari daratan dengan kapal-kapal motor yang berangkat dari sejumlah titik di sepanjang pantai Kabupaten Tolitoli. Sedangkan saya dan rombongan dari beragam instansi yang datang dari kabupaten, provinsi, dan Jakarta, berangkat dari pelabuhan Ogotua, sebuah desa persis di depan Pulau Lingayan.

upacara di pulau lingayan
upacar kemerdekaan
bendera merah putih di pulau terluar
perahu pulau terluar
Tepat pukul 08.00 WITA, upacara pun dimulai. Peserta upacara berbaris rapi di sebuah lapangan di tengah pulau. Mulai dari pasukan TNI/Polri, pegawai pemda, anak-anak sekolah, pemuda, dan tentu saja masyarakat Pulau Lingayan. Mereka tidak beranjak walau matahari sangat terik. Saya saja merasa sangat kegerahan dan beberapa kali mencari tempat yang teduh.

bendera merah
Sistem pelaksanan upacara di Pulau Lingayan ini sama saja dengan di daerah lain. Yang terasa beda adalah ketika sekelompok masyarakat yang masing-masing membawa bendera merah putih yang terikat pada sebatang bambu, memasuki lapangan upacara usai detik-detik peringatan hari kemerdekaan selesai digelar. dengan dikawal dua anggota TNI, penduduk Pulau Lingayan tadi berjalan menuju depan podium. Suasana semakin hikmat dan membakar emosi ketika lagu Tanah Air Beta dan Rayuan Pulau Kelapa, mengiringi langkah mereka.

ikrar nkri
penduduk pulau terluar
pulau terluar nkriSesampainya di depan podium, mereka menyatakan ikrar untuk tetap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Suasana semakin terasa mengharukan ketika penduduk lain, anggota TNI, para undangan, dan komponen masyarakat lain, ikut berbaur dengan mereka di depan podium untuk menyatakan kesetiaan kepada NKRI. Lagu-lagu perjuangan terus mengiringi mereka. “NKRI harga mati!” pekik salah satu dari mereka.

bendera pulau
pulau lingayan sulteng

Saya pun ikut larut kepada ‘drama’ yang ada di depan saya tersebut. Emosi saya ikut terbakar. Ini adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk saya, dimana sebuah acara upacara bendera tidak hanya sekadar upacara seperti pada umumnya. Namun, ada ritual lain yang lebih bermakna di hari kemerdekaan bangsa ini.

Dalam hati, saya berharap perhatian pemerintah tidak hanya ada di hari kemerdekaan ke-66 ini saja. Harus ada action lain untuk Pulau Lingayan agar penduduk di sini mulai merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Bahwa mereka adalah bagian dari negara yang bernama Republik Indonesia. Bahwa pulau mereka adalah titik terluar negara tersebut yang posisinya sangat strategis. Semoga saja.

F
oto-foto by Edi Ginting
Selengkapnya...

Senin, 15 Agustus 2011

PESAWAT GARUDA KOK WARNA MERAH

pesawat giaAda yang menarik perhatian saya dalam perjalanan pulang dari Jayapura ke Jakarta. Pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi terlihat berbeda dengan pesawat Garuda pada umumnya. Warnanya tidak bermotif hijau seperti biasa, melainkan bermotif garis merah.

Tulisan kata ‘Garuda Indonesia Airways’ juga berbeda. Belum lagi hidung pesawat yang berwarna hitam, yang mengingatkan saya kepada pesawat militer. Logo yang tertampang di mesin pendorong pesawat dan di sayap belakang juga bukan seperti logo Garuda Indonesia.

Saya lama menatap pesawat Garuda yang ada apron Bandara Sentani, sebelum naik ke dalam pesawat tersebut. Karena merasa janggal, saya pun mengambil kamera dari dalam tas dan memotret beberapa bagian pesawat yang memiliki kode terbang PK-GFM ini.

Ini-lah beberapa hasilnya:


garuda ke indonesia timur
garuda baru
boieng garuda
sayap garuda indonesia
Awalnya, saya berpikir, pesawat Garuda jenis Boeing 737-800 Next Generation (NG) ini adalah pesawat baru milik Garuda yang belum sempat dicat seperti biasa. Sebab, saya memang pernah membaca berita mengenai pesanan Garuda terhadap sejumlah Boeing 737-800 NG. Pesanan ini sudah mulai berdatangan dan telah beroperasi di rute domestik maupun regional. Garuda memang mengandalkan Boeing 737-800 NG sebagai armada barunya karena jenis pesawat ini, kabarnya, memiliki banyak keunggulan.

Beberapa unit Boeing 737-800 NG yang sudah diserahkan ke Garuda, telah dipakai untuk melayani rute Jakarta-Jayapura. Setidaknya ada tiga kali penerbangan Garuda tiap hari ke wilayah paling timur Indonesia tersebut. Saat berangkat ke Jayapura, saya juga menumpang Garuda dari jenis yang sama. Namun, warna dan motifnya sama seperti pesawat Garuda pada umumnya. Nah, kok yang sekarang mau saya naiki ini, berbeda ya?

Begitu sudah berada di dalam pesawat dan terbang beberapa menit, saya baru menemukan jawabannya. Jawaban ini saya peroleh dari majalah Garuda yang ada di kantung kursi.

Di majalah itu, ada artikel yang membahas mengenai sejarah berdirinya Garuda Indonesia. Artikel juga dilengkapi dengan foto-foto pesawat Garuda dari masa ke masa. Nah, pesawat Garuda generasi kedua, warna dan motifnya ternyata persis sama dengan pesawat yang sedang saya naiki ini.

penerbangan garuda ke papua
Pesawat garuda generasi kedua ini berjenis CV-990A. Hasil riset saya di Google, pesawat ini adalah buatan Convair. American Airlines menjadi launch customer CV-990 dengan memesan 25 unit CV-990 pada 1958. CV-990 pertama di-rollout dari pabrik Convair di Lindbergh Field di San Diego pada bulan November 1960, dan terbang untuk pertama kalinya bulan Januari 1961. Walau CV-990 adalah pesawat penumpang tercepat pada jamannya, namun tidak bertahan lama karena ternyata boros bahan bakar.

Hingga hari ini, saya masih penasaran mengapa Garuda Indonesia kembali membuat replika pesawat Garuda generasi kedua tersebut.

pesawat Garuda ke Papua
Garuda Indonesia
Badan Pesawat Garuda
garuda terbangYang pasti, pengalaman naik Garuda yang ‘langka’ ini menjadi penutup perjalanan saya selama hampir 10 hari ke Papua. Selama perjalanan ke Jakarta yang memakan waktu sekitar enam jam, saya asyik menikmati pengalaman terbang bersama Garuda Indonesia jenis B 737-800 NG ini. Sebab, ini adalah pesawat baru dan tercanggih di kelasnya. Belum lagi fasilitas hiburan berupa layar TV sentuh di setiap kursi penumpangnya.

Foto-foto by Edi Ginting

Catatan:
Artikel ini adalah penutup dari seri artikel perjalanan saya ke Papua pada akhir Juni 2011. Total ada 9 artikel yang saya posting dari hasil perjalanan saya ke Papua. Kesembilannya adalah:
Menuju Papua dengan Garuda Indonesia Seri Boeing 737-800 NG
Terbang Menuju Puncak Jaya yang Mengerikan
4 Hari tidak Mandi di Puncak Jaya
Rally Paris-Dakkar pun Kalah Dengan Papua
Edan, Sewa Mobil di Papua Rp 13 Juta/hari
Tidak Ada yang Murah di Papua
Anak-anak Papua Dalam Lensa Kamera
Datang Bawa Daun Singkong, Pulang Bawa Mie Instan
Pesawat Garuda kok Warna Merah
Selengkapnya...

Minggu, 14 Agustus 2011

DATANG BAWA DAUN SINGKONG, PULANG BAWA MIE INSTAN


Gambar yang ada di atas ini adalah seorang anak papua yang tinggal di Distrik Tinggi Nambut, Puncak Jaya, Papua. Saya lupa siapa namanya. Saya sudah cari di buku catatan, namun tidak kunjung menemukannya.

Ada cerita sangat menarik yang membuat saya memotret bocah yang terlihat sangat lugu ini. Yakni, mengenai dua bungkus mie instan yang ada dalam genggamannya.

Saat saya sedang berada di sebuah pos TNI di Tinggi Nambut, si anak kecil berkaus kuning tersebut datang dengan membawa dua ikat daun singkong. Ia menenteng daun singkong menuju dapur pos TNI di sebelah kanan pos. Jalannya santai sekali, dan tidak mempedulikan sejumlah pasang mata yang menatapnya, termasuk saya.


Tidak lama kemudian, satu anggota TNI yang sedang memasak di dapur, menghampiri si anak kecil. Daun singkong pun diserahkan ke anggota tersebut, dan membawanya masuk ke dalam dapur. Sebentar kemudian, si anggota TNI tadi kembali menghampiri si anak kecil yang masih berdiri tegak di tempatnya.

Si anggota TN I tersebut lalu menyerahkan dua bungkus mie instan kepada si anak kecil. Begitu mie sudah dalam genggaman, si anak Papua ini pun segera beranjak pergi keluar dari pos dengan muka berseri-seri.


“Sudah biasa seperti ini. Masyarakat menyerahkan hasil bumi mereka kepada kami, seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan umbi-umbian kepada kami. Lalu, kami memberikan mereka beberapa makanan olahan dari kota. Mungkin mereka baru mengenal makanan olahan seperti mie instan dan sebagainya. Dan, sepertinya penduduk di sini cocok dengan rasanya sehingga mereka sepertinya ketagihan,” kata seorang anggota TNI kepada saya.

Rupanya, sudah ada transfer pengetahuan dengan kehadiran pasukan TNI di pelosok-pelosok Papua. Yang tadinya penduduk lokal hanya mengenal umbi-umbian sebagai makanan, maka kini mereka pun mengenal mie instan. Wah, ladang baru bagi produsen mie instan nih.

(Bersambung ke artikel ke-9 dari perjalanan saya ke Papua)
Foto-foto by Edi Ginting



Selengkapnya...

Jumat, 12 Agustus 2011

ANAK-ANAK PAPUA DALAM LENSA KAMERA

Saya selalu tidak melewatkan untuk membidikkan kamera ke anak-anak kemanapun saya bepergian. Bagi saya, anak-anak adalah subjek foto yang sangat menarik. Anak-anak begitu polos di lensa kamera. Ekspresi mereka tidak pernah dibuat-buat. Sedih, bahagia, tawa, dan ekspresi lainnya, selalu mereka perlihatkan apa adanya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Saya memiliki koleksi foto anak-anak yang cukup banyak.

Begitu juga ketika saya berada di Puncak Jaya, Papua. Anak-anak selalu tidak luput dari bidikan kamera saya. Begitu saya lihat seluruh hasil foto yang ada, saya baru menyadari kalau rupanya cukup banyak foto-foto hasil bidikan saya dengan objek anak-anak tadi.

Beragam cerita terlukis dari foto-foto tersebut. Ada anak yang hanya membisu, namun lebih banyak yang tersenyum dan tertawa. Ketika memotret mereka, terkadang saya membiarkan mereka menatap kamera, lengkap dengan beragam ekspresi mereka. Namun, kadang-kadang saya juga sengaja mengambil foto secara diam-diam untuk menangkap ekspresi natural mereka.
Saya tersenyum sendiri melihat foto-foto di memori kamera saya. Anak-anak Papua sangat indah di lensa kamera. Ya, sangat indah dan eksotis sekali.

Saya akan mempelihatkan beberapa foto tersebut kepada Anda. Ini dia mereka, para penerus bangsa ini dari bumi Cendrawasih. Tepatnya dari Puncak Jaya, sebuah daerah di pedalaman Papua yang berada di tengah Pegunungan Jayawijaya.





























Nah, bagaimana menurut Anda mengenai anak-anak Papua ini? (Bersambung ke Kisah ke-8 dari perjalanan saya ke Papua)

Foto-foto by Edi Ginting
Selengkapnya...

Kamis, 11 Agustus 2011

TIDAK ADA YANG MURAH DI PAPUA

Mungkin banyak yang menduga, apapun masih murah di Papua. Anggapan ini muncul karena merasa provinsi paling timur Indonesia ini masih lebih terbelakang daripada daerah lain. Sebaiknya Anda tidak lagi punya anggapan demikian. Faktanya, biaya hidup justru paling mahal dibandingkann daerah lain. Karena itu, ada tunjangan kemahalan bagi siapapun yang mendapatkan tugas ke bumi cendrawasih ini.

Anda tidak percaya? Lihatkan foto di bawah ini! Foto ini saya ambil di sebuah warung makan di Kota Mulia, Puncak Jaya.

harga makan papua
Bagaimana menurut Anda? Kalau untuk saya, harga yang tertera di foto ini sangat mahal dibandingkan Jakarta sekalipun. Seporsi nasi ayam saja, masih dapat Rp 10.000 di Jakarta. Tapi, di Puncak Jaya harganya lebih mahal empat kali lipat. Harga teh manis masih sekitar Rp 2.500 di Jakarta, namun di Puncak Jaya mencapai Rp 5.000 untuk satu gelas.

Saya mencatat sejumlah harga barang-barang lain di Puncak Jaya. Misalkan saja, sebotol air Aqua 600 ml yang di Jakarta hanya Rp 2.000, maka di sini mencapai Rp 20.000, atau lebih mahal 10 kali lipat. Wow!

Harga barang-barang lain umumnya berkali-kali lipat dibandingkan di Jakarta. Misalkan saja, sebungkus rokok dijual Rp 20.000, BBM Rp 35.000 perliter, minyak goreng Rp 25.000 per liter, semen Rp 850.000 persak, pasir Rp 4 juta pertruk, paku Rp 50.000 perkg.

Faktor utama mahalnya segala macam barang-barang di Puncak Jaya adalah akibat transportasi yang sulit dan mahal. Barang-barang umumnya dipasok lewat udara dan darat. Lewat udara, barang dipasok dari Jayapura atau Sorong. Nah, tarif pesawat ke Puncak Jaya saja sudah sangat mahal. Saya membeli tiket pesawat ke Kota Mulia dari Jayapura seharga Rp 2,45 juta untuk penerbangan selama satu jam 45 menit.



Begitu juga dengan transportasi darat. Umumnya, segala macam kebutuhan penduduk Puncak Jaya datang dari Wamena. Nah, untuk membawa barang dagangan dari Wamena, para pemilik toko di Mulia harus menyewa mobil angkutan seharga Rp 13 juta/ hari. Padahal, di Wamena sendiri, harga barang-barang juga sudah sangat mahal dibandingkan di luar Papua. Karena itu, tidak heran harga satu sak semen mencapai Rp 850 ribu di Puncak Jaya. Harga ini mencapai 17 kali lipat lebih mahal daripada di Jakarta.

Menurut pemantauan saya, mahalnya barang-barang di Papua dijumpai di hampir semua daerah, termasuk di Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Saya pernah makan nasi kuning di sebuah kios kecil, dan membayar sepiring nasi kuning plus telor Rp 20 ribu. Begitu juga dengan nasi soto yang mencapai Rp 15 ribu. Kalau saya menganalisa, untuk sekali makan di warung makan yang ada di Jayapura, bisa menghabiskan rata-rata Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu.

Demikian juga harga koran di Jayapura. Lihatlah harga yang tercantum di koran paling besar di Papua ini!

koran Papua
Bagaimana dengan barang-barang yang diproduksi sendiri di Papua? Buat saya, juga lebih mahal daripada di daerah lain, walaupun tidak berkali-kali lipat. Saat berada di Puncak Jaya, saya sempat membeli buah markisa di pasar. Pedagang menjual perlima buah Rp 5.000. saya juga sempat membeli buah nanas yang dijual Rp 10.000 perbuah. Memang, masih relatif ‘normal’-lah harganya dibandingkan segala macam barang yang harus ‘diimpor’ dari luar daerah tadi.

Bagaimana ya inflasi di Papua kalau apapun mahal di sana? Entah lah.... (bersambung ke Kisah ke-7)




Foto-foto by Edi Ginting

Selengkapnya...

Senin, 08 Agustus 2011

FOTO-FOTO KOTA BOGOTA KOLOMBIA

lalulintas bogotaMuhammad Nazaruddin, sang mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, akhirnya tertangkap di Kolombia, sebuah negara di Amerika Selatan. Politisi yang telah membuat geger Indonesia itu, ditangkap interpol Kolombia ketika berada di Cartagena, sebuah kota wisata di tepi pantai yang menghadap Samudra Atlantik. Kini, Nazaruddin telah dibawa ke Bogota, ibukota Kolombia, dan selanjutnya segera dibawa kembali ke Indonesia.

"Kolombia tiba-tiba menjadi terkenal ya. Dari tadi pagi banyak sekali kawan-kawan yang menelepon saya, bertanya mengenai berita penangkapan Nazaruddin di Kolombia," kata Johan Mulyadi, seorang rekan yang pernah bertugas di KBRI di Kolombia. Saya meneleponnya Senin malam untuk sekadar ngobrol mengenai berita penangkapan Nazaruddin di negara tempat Johan Mulyadi lama bertugas sebagai diplomat.

Berita penangkapan Nazaruddin menarik perhatian saya, karena saya pernah berkesempatan pergi ke Kolombia, sekitar tiga tahun lalu. Berita ini kembali mengingatkan saya mengenai pengalaman pernah berkunjung ke negara yang dulu terkenal angker sebagai negara mafia kartel narkoba tersebut.

Saya berada di Bogota, ibukota Kolombia, selama bebeberapa hari. Begitu banyak yang saya lihat, dengar, dan rasakan mengenai hiruk-pikuk Bogota, kota yang kini telah berubah menjadi sebuah kota yang indah dan nyaman. Bus Transjakarta adalah salah satu hal yang ditiru Indonesia dari keberhasilan pemerintah Bogota mensulap kota mereka menjadi lebih baik sebagai kota metropolitan yang sangat ramah bagi penduduknya . Kalau Jakarta memiliki Transjakarta, maka Bogota punya Trans-milineo.

Berikut ini saya perlihatkan beberapa foto hasil jepretan saya selama berada di Kolombia. Melihat kembali foto-foto ini, timbul pertanyaan di diri saya, mungkinkah suatu hari saya kembali bisa menginjakkan kaki di sana? Mmmm..... semoga saja, ya.

bogota kolombia
foto bogota
bogota gambar
kota bogota kolombia
pemandangan bogota
gambar kolombia

pemandangan kolombia
jalur bo


bogota indah
jalur bogota
Foto-Foto By Edi Ginting




Selengkapnya...