Jumat, 05 Agustus 2011

4 HARI TIDAK MANDI DI PUNCAK JAYA

Saya berada di Kabupaten Puncak Jaya selama empat hari. Dan, yang paling berkesan selama di sana adalah, saya tidak pernah mandi!

Ya, saya tidak mandi selama empat hari berkunjung ke daerah yang ada di pegunungan Jayawijaya Papua ini. Pasalnya, air untuk mandi lebih dingin daripada air es. Sedangkan air panas tidak ada. Jadi, selama empat hari di sana, saya hanya gosok gigi dan menyabuni kaki, tangan, dan wajah saja. Itupun sudah dengan menahan dinginnya air yang mengenai kulit saya.

Puncak Jaya adalah sebuah kabupaten di Papua hasil pemekaran Kabupaten Puncak pada 2008. Ibukota kabupten ini adalah Mulia. Anda tahu gunung yang masih memiliki es dan terdapat di Papua? Nah, lokasinya berada di kawasan Puncak Jaya ini. Jadi, terbayanglah bagaimana dinginnya. Lha, wong gunungnya saja ditutupi es.

Nah, selama berada di Puncak Jaya, saya menginap di sebuah hotel yang bernama Mulia Inn yang ada di salah satu sudut Kota Mulia. Mungkin ini satu-satunya hotel di Mulia. Kabarnya, hotel ini milik Pemda Puncak Jaya. Kondisi Mulia Inn lumayan bersih, walau lebih mirip sebuah rumah dengan banyak kamar.

Satu-satunya penginapan di Mulia, Puncak Jaya

Puncak Jaya berada di dataran tinggi. Bahkan, kota Mulia kabarnya berada di ketinggian sekitar 3.000 meter dari permukaan laut. Puncak Bogor saja yang hanya di ketinggian sekitar 1.000an meter sudah dianggap dingin. Nah, bagaimana dengan tempat di ketinggian tiga kalipat dari Bogor ya?

Sebuah sungai di pinggir Kota Mulia. Airnya sangat jernih dan begitu dingin

Coba Anda sebutkan sejumlah daerah dingin di Indonesia, apakah itu Puncak Bogor, Berastagi, Batu Malang, atau sebagainya, semuanya kalah jauh dinginnya dibandingkan Mulia. Para produsen AC jangan harap bisa menjual satu AC pun di sini. Barangkali, mesin penghangat yang punya prospek bagus dipasarkan di Puncak Jaya.

Saya sendiri memakai jaket tebal sepanjang hari, baik pagi, siang, atau malam. Bahkan, saya juga memakai kaos kaki, topi kupluk, dan memasukkan tangan ke dalam saku jaket ketika hari sudah malam. Dan, ketika tidur, semua tadi saya tambah lagi dengan selimut yang tebal. Bagi saya, Mulia adalah tempat paling dingin yang pernah saya kunjungi di Indonesia.
Pemandangan di salah satu sudut pasar di Kota Mulia

Celakanya lagi, ancaman masuk angin begitu menghantui siapa saja yang tidak kuat menahan dingin. Walau saya sudah makan kenyang, namun rupanya masuk angin masih menerjang badan ini. Saya pun tidak bisa menahan diri untuk sering mengeluarkan gas. Beruntung saya bisa mendapatkan jamu tolak angin yang dibawa teman dari Jayapura.

Pada siang hari, matahari terkadang sangat terik. Karena itu, bagi yang tidak biasa, maka kulit akan kering dan akhirnya terkelupas. Untungnya, saya sudah mendapatkan cerita betapa dinginnya Mulia dari seorang teman, sehingga saya sudah membawa persediaan pelembab kulit. Sedangkan teman yang ikut dengan saya tidak ada persiapan sehingga kulit mukanya kering-kering dan terkelupas seperti sedang ganti kulit.

Akhirnya saya tahu, mengapa rumah asli penduduk Puncak Jaya yang disebut Honai, terlihat sangat tertutup, tidak berjendela, dan atapnya rendah tanpa ada cerobong asap. Mungkin bentuk Honai seperti ini dibuat agar suasana di dalam tempat tinggal mereka ini, selalu hangat karena udara luar tidak bisa masuk.

Tapi, pada umumnya, dinding di bagian dalam Honai sudah menjadi hitam legam. Pasalnya, asap dari tungku masak mereka, terperangkap di dalam Honai karena tidak ada cerobong asap. Asap akhirnya hanya bisa keluar dari sela-sela jerami yang dipakai untuk atap Honai. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana tidak nyamannya ketika di berada di dalam saat asap sedang ngebul.

Salah satu Honai, rumah asli penduduk Puncak Jaya

Satu keluarga sedang bersantai di depan Honai mereka

Penduduk Puncak Jaya yang hendak pergi ke kebun

Saya sendiri sempat masuk ke dalam sebuah Honai pada malam hari. Namun, saat itu pemilik Honai tidak sedang memasak, sehingga asap tidak ada. Saya merasakan kehangatan ketika berada di dalam Honai. Sangat terasa perbedaannya ketika sedang berada di luar Honai.

Tapi, saya heran juga melihat masyarakat di Puncak Jaya. Mereka sepertinya sangat kebal akan dinginnya udara di sana. Siang hari, mereka hanya memakai pakian biasa. Beberapa orang malah tidak memakai baju, termasuk anak-anak kecil. Ketika gerimis, mereka masih bermain di alam bebas tanpa merasakan kedingininan.
Walau sedang hujan dan udara sangat dingin, penduduk Kota Mulia masih asyik bermain

Empat hari di Puncak Jaya cukup lah bagi saya untuk membuat kepala dan badan mulai gatal-gatal karena tidak pernah mandi. Bukan karena tidak ada air, tapi, alamak…..dingin sekali air di sini. (bersambung ke kisah ke-4)

Foto-foto by Edi Ginting

3 komentar:

  1. Artikel yang sangat menarik, tapi sayang ya ada yg belum mandi 4 hari krn dingin. hmmmmmm. salam kenal.

    BalasHapus
  2. hehehe..... jangan dibayangkan gimana rasanya ga mandi 4 hari ya. salam kenal jg untuk Reni. Salam blogger!!!

    BalasHapus
  3. maaf sebelumnya ada 1 kalimat yang sya Ralat yakni Kabupaten Puncak Jaya bukan pemekaran dari Kabupaten Puncak ...
    melainkan Pada tahun 2008 itu Kabupaten Puncak yang di mekarkan dari Kabupaten Induk Puncak Jaya...
    dan Kabupaten Puncak Jaya adalah Pemekaran dari Kabupaten Nabire pada Tahun 1966.....

    BalasHapus