Selasa, 23 Agustus 2011

PULAU LINGAYAN, BARU SEKALI UPACARA SETELAH 66 TAHUN INDONESIA MERDEKA

pulau lingayan17 Agustus 2011.

Saya berkesempatan untuk menjadi salah satu saksi sejarah di Pulau Lingayan. Tepat di hari kemerdekaan Indonesia ke-66 ini, sebuah upacara digelar di pulau yang terletak di Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah itu.

Upacara ini bermakna sangat penting. Sebab, inilah untuk pertama kalinya bendera merah putih dikibarkan di Pulau Lingayan. Selama ini belum pernah ada upacara di pulau tersebut. Padahal, Lingayan adalah salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Lingayan berhadapan langsung dengan Malaysia, dan sangat rawan terjadi hal-hal yang mengganggu kedaulatan Republik Indonesia di pulau kecil itu.

Saya pun heran mengapa selama ini tidak pernah ada upacara memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus di Pulau Lingayan. Jangankan upacara, bendera merah putih saja tidak ada yang dikibarkan di rumah-rumah penduduk seperti lazimnya di daerah-daerah lain. Penduduk Pulau Lingayan bukan tidak mau mengibarkan bendera merah putih, atau mereka sedang melancarkan aksi mogok upacara. Namun, kondisi yang memaksa penduduk di pulau tersebut untuk melupakan ritual pengibaran bendera.

“Kondisi perekonomian kami sangat buruk. Untuk membeli bendera saja, kami tidak mampu. Tapi, jangan tanya rasa nasionalisme kami. Tuhan yang sangat tahu betapa besar rasa cinta kami kepada Indonesia,” kata Kepala Dusun Pulau Lingayan, Anwar Kanda, saat berbincang-bincang dengan saya usai upacara.

Ketika berada di pulau yang berpenduduk sekitar 354 jiwa ini, saya melihat bendera merah putih sudah berkibar dimana-mana. Baik di rumah-rumah, tepi jalan, pinggir pantai, atau di pinggir lapangan. Ukurannya pun bermacam-macam. Rupanya, seluruh bendera tersebut hasil pendropan dari daratan beberapa hari sebelumnya. Menurut sang Kepala Dusun, mereka dikirimi banyak bendera ketika Pulau Lingayan dipilih menjadi lokasi upacara yang akan dihadiri oleh banyak pejabat dari provinsi, kabupaten, dan Jakarta.

lingayan
pulau terluar
lingayan pulau terluarSungguh aneh mengapa Pulau Lingayan seperti terlupakan selama ini. Padahal, lokasi pulau yang sangat indah ini tidak jauh-jauh amat. Sangat mudah untuk mencapai pulau yang banyak ditumbuhi pohon kelapa itu. Walau masuk dalam salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia, namun Pulau Lingayan sebenarnya bukan pulau yang menentukan batas laut Indonesia dengan negara tetangga. Dari Ogotua, desa terdekat ke pulau ini dari daratan Sulawesi Tengah, hanya butuh waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan perahu motor. Karena itu, pulau tersebut sebenarnya sukar dicaplok negara manapun, seperti pulau terluar lainnya.

“Pulau Lingayan memang tidak mungkin diklaim negara lain seperti kasus Sipadan-Ligitan. Tapi, posisinya yang menghadap langsung ke negara tetangga, bisa mempengaruhi sosial budaya di sana. Secara kedaulatan, Lingayan tetap menjadi bagian Indonesia. Tapi, bangsa ini pasti berduka kalau ternyata penduduk di sana lebih suka berbahasa negara tetangga, perekonomian mereka bergantung pada negara tetangga, dan hidup mereka dipengaruhi budaya negara tetangga tersebut,” kata Dietriech G. Bengen, seorang profesor dari IPB, kepada saya.

Upacara bendera di Pulau Lingayan sepertinya sudah dipersiapkan sangat matang. Pulau yang cukup kecil tersebut tiba-tiba saja sesak oleh para peserta upacara. Ratusan peserta upacara datang dari daratan dengan kapal-kapal motor yang berangkat dari sejumlah titik di sepanjang pantai Kabupaten Tolitoli. Sedangkan saya dan rombongan dari beragam instansi yang datang dari kabupaten, provinsi, dan Jakarta, berangkat dari pelabuhan Ogotua, sebuah desa persis di depan Pulau Lingayan.

upacara di pulau lingayan
upacar kemerdekaan
bendera merah putih di pulau terluar
perahu pulau terluar
Tepat pukul 08.00 WITA, upacara pun dimulai. Peserta upacara berbaris rapi di sebuah lapangan di tengah pulau. Mulai dari pasukan TNI/Polri, pegawai pemda, anak-anak sekolah, pemuda, dan tentu saja masyarakat Pulau Lingayan. Mereka tidak beranjak walau matahari sangat terik. Saya saja merasa sangat kegerahan dan beberapa kali mencari tempat yang teduh.

bendera merah
Sistem pelaksanan upacara di Pulau Lingayan ini sama saja dengan di daerah lain. Yang terasa beda adalah ketika sekelompok masyarakat yang masing-masing membawa bendera merah putih yang terikat pada sebatang bambu, memasuki lapangan upacara usai detik-detik peringatan hari kemerdekaan selesai digelar. dengan dikawal dua anggota TNI, penduduk Pulau Lingayan tadi berjalan menuju depan podium. Suasana semakin hikmat dan membakar emosi ketika lagu Tanah Air Beta dan Rayuan Pulau Kelapa, mengiringi langkah mereka.

ikrar nkri
penduduk pulau terluar
pulau terluar nkriSesampainya di depan podium, mereka menyatakan ikrar untuk tetap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Suasana semakin terasa mengharukan ketika penduduk lain, anggota TNI, para undangan, dan komponen masyarakat lain, ikut berbaur dengan mereka di depan podium untuk menyatakan kesetiaan kepada NKRI. Lagu-lagu perjuangan terus mengiringi mereka. “NKRI harga mati!” pekik salah satu dari mereka.

bendera pulau
pulau lingayan sulteng

Saya pun ikut larut kepada ‘drama’ yang ada di depan saya tersebut. Emosi saya ikut terbakar. Ini adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk saya, dimana sebuah acara upacara bendera tidak hanya sekadar upacara seperti pada umumnya. Namun, ada ritual lain yang lebih bermakna di hari kemerdekaan bangsa ini.

Dalam hati, saya berharap perhatian pemerintah tidak hanya ada di hari kemerdekaan ke-66 ini saja. Harus ada action lain untuk Pulau Lingayan agar penduduk di sini mulai merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Bahwa mereka adalah bagian dari negara yang bernama Republik Indonesia. Bahwa pulau mereka adalah titik terluar negara tersebut yang posisinya sangat strategis. Semoga saja.

F
oto-foto by Edi Ginting

1 komentar:

  1. Sebelum ada upacara bendera, sebenarnya garuda ada disana. Kami sudah mensertipikatkan tanah 50 bidang di pulau itu tahun 2010. Dan penduduknya kebanyakan menumpang di sana, karena yg punya tanah/menguasai fisik tanah adalah tuan tanah orang bugis di ogotua. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk takut kehilangan lingayan yang jelas-jelas ada di depan kita dan sangat jauh dari malaysia. Kalaupun kita waspada, boleh saja tapi kalau benar malaysia ingin mengklaim, saya kira mustahil. Tidak ada orang malaysia di sana, dan saya tidak pernah mendengar orang malaysia dattang ke sana. Merdeka, Makmur AS (Kepala Kantor Pertanahan Kab. Tolitoli 2011-2012)

    BalasHapus