Minggu, 07 Agustus 2011

EDAN, SEWA MOBIL DI PAPUA RP 13 JUTA/HARI

Ketika berada di Kota Mulia, Puncak Jaya, saya melihat begitu banyak mobil double cabin berseleweran di tengah kota. Hampir seluruh mobil terlihat sangat kotor, seperti baru saja menempuh perjalanan sangat jauh. Di bak belakang mobil juga penuh dengan muatan hingga melebihi tinggi mobil. Ada berisi tumpukan kardus, karung, atau bahkan drum-drum. Namun, sebagian muatan tampak masih tertutup rapat oleh terpal.

Ketika berkeliling kota, saya melihat sejumlah mobil lain sudah berhenti di banyak rumah, toko, atau parkir di depan pasar. Aktivitas bongkar muatan sedang berlangsung di beberapa mobil. Muatan segera dibawa masuk ke dalam rumah atau toko. Saya juga melihat ada mobil yang penuh dengan drum-drum. Entah apa isinya, namun saya perkirakan isinya adalah bahan bakar minyak alias BBM seperti solar atau bensin.

“Lajuran baru datang dari Wamena. Mobil-mobil itu membawa segala macam kebutuhan dari Wamena. Mereka biasanya akan kembali berangkat dari Mulia pada besok pagi,” kata kawan yang menemani selama saya berada di Mulia. Dari kawan ini, saya mendapatkan banyak kisah mengenai mobil-mobil double cabin yang mencuri perhatian saya tadi.

Lajuran yang dimaksud kawan tadi adalah rombongan mobil double cabin yang biasa melayani rute Wamena-Mulia pulang pergi. Masyarakat di Puncak Jaya memang sudah biasa menyebut iring-iringan mobil ini dengan sebutan lajuran. Yang menarik buat saya, sedikitnya ada 50 mobil double cabin yang berangkat secara bersama-sama dalam satu kali lajuran alias iring-iringan. Kadang-kadang jumlahnya bisa mencapai 100 mobil. Kurang dari 50 mobil tidak mungkin.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bepergian dengan ada puluhan atau seratus mobil berjalan secara beriring-iringan. Pasti suasananya sangat seru dan mengasyikkan, begitu pikiran saya dalam hati.

Saya bersyukur mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya tersebut. Besoknya, saya bersama kawan-kawan di Mulia, mengatur jadwal agar bisa melihat persiapan seluruh mobil untuk kembali ke Wamena. Hebatnya lagi, kami pun mengatur jadwal agar bisa melihat bagaimana lajuran ini bergerak melintasi jalur Mulia-Wamena. Kami mengatur jadwal agar bisa beriring-iringan dengan lajuran ketika hendak pergi ke Tinggi Nambut, sebuah wilayah yang memang berada di jalur Mulia-Wamena. Dan, inilah beberapa foto lajuran hasil jepretan kamera saya:







Berjalan secara beriring-iringan memang menjadi pilihan utama bagi setiap pengendara yang melayani rute Wamena-Mulia PP. Faktor keamanan menjadi pertimbangan mereka sehingga tidak ada yang berani menempuh rute ini hanya dalam rombongan beberapa kendaraan, apalagi hanya sendirian. Salah-salah, hilang tanpa jejak di tengah perjalanan.

Rute Wamena-Mulia adalah jalur tengkorak. Keamanan jalur ini sangat tidak terjamin. Penghadangan oleh orang-orang bersenjata sering terjadi di tengah perjalanan. Kalau ini terjadi, maka siap-siaplah untuk menghadapi segala kemungkinan. Mobil beserta segala muatan bisa dirampok oleh kelompok bersenjata itu. Lebih tragis lagi, mobil juga bisa dibakar. Dan, yang paling parah, penumpang mobil bisa dibunuh. Mmmmm…menyeramkan sekali.

Dengan bergerak beriring-iringan hingga puluhan mobil, maka mereka bisa saling menjaga dan membantu bila ada rekan mereka yang mengalami kesulitan. Siapapun yang hendak menghadang di tengah jalan tentu akan berpikir beberapa kali lipat bila melihat iring-iringan mobil mencapai 50 atau 100 kendaraan.

Untungnya, terdapat beberapa pos TNI/Polri sepanjang jalur Wamena-Mulia. Keberadaan pos-pos ini setidaknya memberikan rasa aman bagi para "anggota lajuran". mereka akan didata di setiap pos yang dilewati. Nama supir dan nomor polisi setiap mobil akan dicatat. Begitu mereka kembali ke Wamena, setiap mobil kembali di data dengan mencentrang nama yang sudah melintas. dengan sistem ini, akan ketahuan mobil mana yang sudah dan belum melintas. Bila ada mobil yang hilang di tengah jalan, juga akan mudah mengeceknya karena tinggal menyusuri dari pos pemeriksaan sebelumnya.


Jalur Wamena-Mulia melalui jalan tanah dan berbatu, yang kondisinya lebih parah daripada jalur offroad manapun. Rute ini melewati lereng-lereng bukit pegunungan Jayawijaya yang sangat tinggi. Mobil harus berbelok-belok, naik-turun bukit, dan melewati jembatan ala kadarnya. Akibat kondisi ini, kemungkinan gangguan pada kendaraan juga bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Karena itu, mereka akan saling membantu bila gangguan ini terjadi pada salah satu rekan mereka dalam lajuran atau rombongan. Rasa solidaritas begitu dijaga dalam lajuran ini.

Jurang-jurang yang sangat dalam juga banyak yang dilalui sepanjang perjalanan. Jalan pun kadang-kadang berbatasan langsung dengan jurang di kiri atau kanan kendaraan. Seandainya hanya sendirian melintas dan terterosok ke dalam jurang, entah siapa yang akan menolong. Bisa jadi, selamanya tidak akan ditemukan karena mobil jatuh ke dasar jurang yang sangat dalam.



Segala macam rintangan dan tantangan tadi akhirnya membuat harga sewa kendaraan di Mulia menjadi selangit tingginya. Saya sangat terkejut ketika mengetahui harga sewa kendaraan Wamena-Mulia mencapai Rp 13 juta/hari untuk mobil double cabin dan Rp 21 juta/hari untuk truk kecil. Wow!!!

Bagi saya, ini adalah harga paling mahal yang pernah saya ketahui. Harga paling mahal yang pernah saya jumpai sebelumnya, adalah ketika berada di Kabupaten Bintuni, Papua Barat, tahun 2005 silam. Saat itu, saya harus menyewa mobil hardtop Rp 2 juta/hari.

Walau tergolong sangat mahal, namun permintaan pasar sangat besar. Mobil inilah yang dipakai oleh orang-orang untuk mengangkut muatan dari Wamena. Mulai dari sembako, BBM, bahan bangunan, pakaian, dan apapun yang menjadi kebutuhan masyarakat Puncak Jaya. Sedangkan untuk orang yang mau ikut menumpang, tarifnya adalah Rp 400 ribu/orang.

Waktu tempuh Wamena-Mulia sekitar 16 jam nonstop. Biasanya, para pengendara menempuhnya dalam waktu dua hari satu malam. Pasalnya, mereka berangkat siang hari dari kota asal sehingga harus bermalam di jalan. Mereka biasa bermalam di Illu, sebuah kota yang berjarak sekitar 6 jam dari Mulia.

Rata-rata, pemilik kendaraan double cabin berdomisili di Wamena. Harga Rp 13 juta tadi adalah harga dengan kondisi si pemilik mobil sudah memperhitungkan kemungkinan kosong ketika kembali dari Mulia ke Wamena. Harga tersebut juga sudah termasuk biaya BBM. Bila mobil mendapatkan lagi muatan dari Mulia ke Wamena, maka harga sewa mobil tergantung negosiasi, dan pasti lebih murah daripada Rp 13 juta tadi. Sebab, muatan ini hanya sekadar tambahan untuk biaya operasional untuk kembali ke Wamena saja.

Mahalnya biaya transportasi ke Puncak Jaya akhirnya mau tidak mau, sangat memperngaruhi segala macam harga barang-barang di sana. Seberapa mahal biaya hidup di Puncak Jaya? Yang pasti, sebotol air meneral saja mencapai Rp 20.000. Ceritakan selengkapnya ada di kisah berikutnya. (bersambung ke kisah ke-6)

Foto-foto by Edi Ginting

4 komentar:

  1. bro masukin di kaskus saja beritanya, keren buat destinasi wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anonim11:40 AM

      masbro bisa minta referensinya ga untuk sewa mobil di wamena? atau jayawijaya? trims sebelumnya

      Hapus
    2. maaf sekali masbro. saya sudah mencari nomor telepon kawan di Puncak Jaya yang kira-kira bisa membantu masbro, namun ternyata hilang dari list kontak di HP. :-(

      Hapus