Sabtu, 06 Agustus 2011

RALLY PARIS-DAKKAR PUN KALAH DENGAN PAPUA


Ada pengalaman lain yang saya rasakan ketika berada di Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Pengalaman tersebut adalah jalan-jalan ke distrik lain di luar Mulia. Rupanya, jalan aspal hanya ada di Mulia saja. Begitu kita keluar dari kota, maka jalan aspal berubah menjadi jalan tanah atau jalan batu. Hebatnya lagi, jalan melalui bukit-bukit dan jurang yang sangat menantang adrenalin.

Ceritanya, saya hendak pergi ke Distrik Tinggi Nambut, yang terletak sekitar tiga jam dari Mulia. Distrik ini berada di pelintasan Wamena-Mulia. Jadi, seluruh kendaraan yang hendak ke Mulia dari Wamena, atau sebaliknya, maka pasti melewati Tinggi Nambut.

Distrik ini juga sangat terkenal di Indonesia, atau bahkan ke seluruh dunia. Kalau Anda tidak percaya, coba Anda klik kata “Tinggi Nambut” di Google, maka Anda akan menemukan banyak sekali artikel mengenai daerah ini.

Distrik Tinggi Nambut terkenal sebagai daerah paling rawan di Papua. Gangguan keamanan sering terjadi di sini. Saya pun diharuskan memakai rompi anti peluru dan helm baja untuk bisa pergi ke sana. Ini harus saya jalani untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama di perjalanan atau selama di Tinggi Nambut.


Saya harus menggunakan rompi anti peluru dan helm baja
untuk pergi ke kawasan Tinggi Nambut, Puncak Jaya

Mobil yang saya gunakan untuk pergi ke Tinggi Nambut, Puncak Jaya

Untuk menuju ke sana, saya naik sebuah mobil double cabin 4x4. Memang hanya jenis mobil ini yang mampu ke sana. Mobil mobil biasa jangan harap bisa sampai. Pasalnya, jalur yang harus dilewati adalah jalanan tanah atau berbatu. Rutenya juga naik-turun bukit, dan berbelok-belok. Jurang yang sangat dalam juga beberapa kali dilewati. Kalau mobil masuk ke dalam jurang yang sangat dalam itu, maka kami bisa-bisa hilang untuk selamanya.

Kalau biasanya saya begitu mudah tertidur di dalam perjalanan, maka kali ini ‘hobi’ saya itu tidak bisa terlaksana. Mobil berkali-kali terbanting ketika melewati sebuah lubang atau gundukan batu. Sopir juga harus pandai memutar kemudi ketika menghindari jalan becek atau tiba-tiba jalan berbelok.

“Rally Paris-Dakar sepertinya kalah dengan jalur kita ini,” kata saya yang disambut tawa seluruh rekan di dalam mobil.

Sambil menikmati bantingan mobil, kami akhirnya asyik membicarakan bagaimana seandainya Indonesia menyelenggarakan rally di Papua untuk mengalahkan ketenaran rally Paris-Dakkar. Rally Mulia-Wamena yang sebagian rutenya sedang kami lewati ini, sudah pasti akan lebih menantang daripada rally Paris-Dakkar. “Di sana tantangannya hanya gurun. Tapi, di sini jurang dan naik-turun bukit,” kata saya.

Beberapa Pos TNI Dilewati untuk sampai di Tinggi Nambut


Beberapa pemandangan alam sepanjang perjalanan Mulia-Tinggi Nambut

Hebatnya lagi, rute Mulia-Wamena menawarkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Mobil beberapa kali melewati punggung bukit yang sangat tinggi. Sedangkan di seberang sana juga berdiri tegak bukit-bukit lain. Entah ada berapa lapis bukit yang terlihat di satu sisi. Saya pikir, mungkin lebih dari empat lapis bukit. Semuanya dipisahkan oleh jurang dan lembah yang terdapat aliran sungai. Pemandangan ini sungguh indah untuk dipandang.


Beberapa kali kata ‘wow’ terucap dari mulut kami secara spontan begitu sebuah pemandangan alam yang sangat eksotis terpampang di depan atau di kiri-kanan mobil yang kami tumpangi. Sulitnya medan yang harus kami lewati sepertinya terbayarkan oleh suguhan pemandangan yang luar biasa indahnya. Saya pikir, indah yang ada di bayangan Anda, tidak akan bisa menjangkau keindahan sesungguhnya yang ada di Puncak Jaya ini.

Cuaca sedang sangat cerah ketika kami menyusuri Mulia-Tinggi Nambut. Siraman sinar matahari membuat gelap-terang bukit-bukit yang kami lewati, terlihat semakin indah. Langit juga sangat cerah dengan gumpalan awan di beberapa tempat. Di kalangan pencinta fotografi atau pembuat film, langit Papua memang sudah terkenal sangat indah. Warna biru yang sangat cerah terlihat di hampir seluruh hasil jepretan kamera.





Suasana di Distrik Tinggi Nambut yang terkenal sangat rawan keamanan

Sayangnya, ketika kami kembali dari Tinggi Nambut ke Mulia, hari sudah menjelang sore. Kabut mulai turun. Jarang pandang barangkali hanya sekitar 10 meter. Akibatnya, kami harus berhati-hati. Apalagi, di beberapa titik, jalur kendaraan berbatasan langsung dengan jurang yang sangat dalam. Bila salah langkah, maka mobil segera terperosok. Kalau ini terjadi, entah siapa yang bakal menolong. Jurang tersebut sangat dalam, dan sangat jarang ada kendaraan lain yang melintas, terlebih menjelang malam seperti ini.

Menjelang malam, kami pun tiba kembali di Mulia dengan selamat. Pengalaman ke Tinggi Nambut ini sangat berharga untuk saya. Sebab, tidak semua orang bisa merasakannya. (bersambung ke kisah ke-5)

Foto-foto by Edi Ginting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar