Kamis, 04 Agustus 2011

TERBANG MENUJU PUNCAK JAYA YANG MENGERIKAN

pesawat ke muliaSetelah beberapa hari di Jayapura, saya melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Puncak Jaya. Jangan lagi bayangkan kenyamanan dan kemewahan yang saya rasakan ketika terbang dari Jakarta menuju Jayapura dengan Garuda Indonesia. Sebab, kali ini saya harus terbang dengan pesawat yang jauh lebih kecil.

Saya menuju ke Puncak Jaya dengan menumpang Trigana Air Service dari Bandara Sentani. Kalau saya tidak salah, jenis pesawat yang saya naiki adalah jenis Twin Otter yang hanya muat untuk 16 penumpang. Ini adalah jenis pesawat baling-baling.

Pengalaman berbeda sudah dirasakan ketika proses check in, yang tidak dilakukan di terminal keberangkatan seperti lazimnya. Proses check in justru dilakukan di gedung cargo Trigana yang ada di luar Bandara Sentani.

Untuk bisa berangkat, maka petugas harus menimbang seluruh muatan pesawat, termasuk para penumpang. Maka saya pun harus menaiki sebuah timbangan untuk mengetahui berat badan saya. Saya tertawa geli ketika menjalani proses yang sangat langka dan unik ini. Petugas memang harus punya catatan total muatan pesawat untuk menjaga keamanan dan keselamatan pesawat ketika mengudara.

terbang ke puncak jayapesawat ke puncak jayapesawat ke papua

Sebenarnya pengalaman harus menimbang berat badan ini, pernah juga saya alami sebelumnya. Tahun 2005 silam, ketika hendak terbang dari bandara Teluk Bintuni ke Sorong dengan pesawat Merpati yang jenisnya mungkin saya, petugas pun menimbang berat badan saya dan seluruh barang bawaan saya. Pengalaman pertama ini sangat membekas di ingatan saya. Sayang, saya tidak sempat mengabadikan momen yang sangat langka ini.

Di dalam skedul, pesawat Trigana yang saya tumpangi, seharusnya berangkat pukul 07.30 WIT dari Sentani. Namun, jadwal ini harus molor sampa jam 09.30WIT karena hujan sedang mengguyur Sentani.

Di Papua, jadwal keberangkatan pesawat memang sudah biasa mengalami keterlambatan karena faktor cuaca. Bahkan, kabarnya sehari sebelumnya tidak ada penerbangan ke Puncak Jaya karena pesawat tidak bisa kembali dari kabupaten di tengah pedalaman Papua itu karena faktor cuaca. Kalau cuaca sedang tidak tidak menentu, sepertinya tidak ada awak pesawat di Papua yang berani mengambil resiko untuk terbang. Sudah cukup banyak catatan pesawat jatuh di papua akibat alam yang tiba-tiba tidak bersahabat saat berada di udara.

Penerbangan ke Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya, ditempuh dalam waktu sekitar satu jam 40 menit. Pesawat sangat mulus ketika take off dari landasan Bandara Sentani yang masih basah oleh hujan yang baru saja mengguyur.

Ada ras was-was ketika pesawat sudah beberapa menit mengudara. Tiba-tiba saja saya teringat dengan keluarga di rumah. Entah mengapa bayangan mereka muncul dalam pikiran saya. Tidak lama kemudian, saya membayangkan berita-berita pesawat yang jatuh di hutan belantara atau pegunungan Papua. Sungguh bayangan yang menyeramkan sekali.

Segala macam pikiran yang tidak sedap ini muncul setelah saya banyak mendapatkan cerita mengenai pengalaman terbang ke Puncak Jaya dari beberapa teman. Kisah mereka umumnya seragam. Menurut mereka, penerbangan ke Mulia menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupa. Banyak alasan yang mereka kemukakan. Misalnya, pesawat yang dipakai sangat kecil sehingga relatif bergoyang ketika melewati angin atau awan. Pesawat juga melewati Pegunungan Jayawijaya sehingga pesawat harus bermanuver di udara agar tidak menabrak salah satu puncak gunung.

Yang lebih menarik lagi, Bandara Mulia berada di sebuah lembah diantara perbukitan. Pesawat harus bermanuver untuk bisa mendarat. Kalau pilot salah menerbangkan pesawat, maka bersiap-siap lah untuk menabrak salah satu bukit. “Nanti terlihat ada bangkai pesawat yang dibiarkan berserakan di bukit yang ada di dekat Bandara Mulia,” begitu kata salah satu teman.

terbang ke muliatrigana ke puncak jaya

Semua cerita-cerita yang tidak mengenakkan itu begitu menghantui saya sejak pesawat mengudara dari Sentani. Sempat muncul penyesalan mengapa saya mau pergi ke Puncak Jaya kalau resikonya harus begini. Pokoknya segala macam perasaan kurang sedap melayang-layang di pikiran saya. Hanya doa kepada Sang Pencipta yang terus saya dengungkan dalam hati. Cukup menggelikan kalau saya kembali mengingat semua hal yang saya pikirkan dalam penerbangan ke Mulia tersebut.

Apa yang diceritakan teman-teman mengenai pengalaman ke Mulai tadi, memang saya alami. Misalkan saja, pesawat beberapa kali goyang-goyang ketika melewati tumpukan awan. Saya pun langsung mengencangkan pegangan ke kursi sambil mulut komat-kamit membaca doa. Saya perhatikan, pilot juga beberapa kali bermanuver seperti menambah ketinggian atau berbelok untuk menghindari kumpulan awan yang cukup tebal.

Yang lebih menyeramkan namun mengasyikkan adalah, pesawat melintasi pegunungan pada hampir separuh perjalanan. Sering kali pesawat terbang diantara dua puncak gunung. Tinggi pesawat pun sejajar dengan puncak gunung. Pemandangan di luar sungguh indah. Saya perhatikan hampir semua penumpang menikmati pemandangan di luar pesawat.

Rupanya bukan saya seorang yang terpesona dengan alam yang kami lewati. Saking dekatnya pesawat terbang dengan gunung-gunung, maka sangat terlihat jelas lebatnya hutan, sungai, air terjun, maupun jalan tanah yang meliuk-liuk bak seekor ular di lereng bukit. Sungguh sebuah pemandangan yang mempesona, selain menakutkan, tentunya. Maklum, apa jadinya kalau pesawat yang terbang begitu dekat dengan gunung-gunung itu, tiba-tiba saja mengalami gangguan.

bandara muliaPesawat ke Puncak Jaya terbang lebih rendah daripada gunung-gunung

Saya sangat jarang melepaskan pandangan dari suasana di luar pesawat, karena saya ingin menikmati seluruh pemandangan indah yang ada di sana. Dan, tiba-tiba saya melihat sebuah keramaian di luar sana. Untuk ukuran Papua, bisa jadi itu adalah sebuah kota.

Sebentar kemudian, saya pun melihat ada landasan pesawat. Pesawat Trigana yang saya tumpangi tiba-tiba seperti berbelok dan mulai mengurangi ketinggian. Sepertinya pesawat tiga kali melakukan putaran sambil mengurangi ketinggian tersebut. Dan, pesawat tiba-tiba meluncur lurus ke ujung landasan yang sudah ada di depan pesawat.

uncak jaya dari udaraLandasan Bandara Mulia terlihat dari dalam pesawat


bandara puncak jayaSetelah pesawat mendarat di Bandara Mulia

Ini-lah Kota Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya. Begitu turun dari pesawat, saya segera melihat situasi bandara. Rupanya, bandara memang berada di sebuah lembah yang cukup luas. Di sekelilingnya menjulang bukit-bukit yang tinggi. Rupanya, posisi landasan yang demikian itulah yang membuat pesawat harus bermanuver dengan cara berputar-putar sambil mengurangi ketinggian, untuk bisa mendarat dengan mulus. Saya salut dengan pilot yang begitu lihai tiap hari terbang ke Mulia.

bandara muliaMenara pengawas Bandara Mulia

landasan puncak jayaLandasan Bandara Mulia yang menurun dengan bukit-bukit di sekelilingnya

pesawat jatuh puncak jayaBandara Mulia setelah sepi dari aktivitas

Di salah satu lereng bukit di pinggir landasan, terlihat bangkai pesawat yang berserakan. Menurut cerita penduduk, itu adalah bangkai pesawat yang jatuh karena menabrak bukit. Pilot dikabarkan tewas saat itu. Saya heran, mengapa bangkai pesawat dibiarkan di lereng bukit dan tidak diambil. Jangan-jangan, ini dimaksudkan untuk tanda agar para pilot selalu waspada, ya....

bangkai pesawat muliaBenda putih yang ada di bukit adalah bangkai pesawat yang pernah jatuh

Yang pasti, saya sudah tiba di Kota Mulia dengan selamat. Saya tidak perlu membayangkan bagaimana saya pulang dari Mulia. Lebih baik saya nikmati dulu petualangan di Puncak Jaya ini, sebuah wilayah di pedalaman Pegunungan Jayawijaya yang katanya sangat indah dan eksotik. (bersambung ke kisah ke-3)


Foto-foto by Edi Ginting

12 komentar:

  1. kerreeen, Indonesia memang memiliki alam yg unik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indonesia yang kaya dan indah

      Hapus
  2. betul sekali mas Tris.... saya pun jadi punya impian suatu hari bisa satu bulan penuh keliling Indonesia dari Ujung BARAT sampai ke ujung TIMUR. pasti seru tuh. Ada yang mau mensponsori ga ya? Hehehehe.....

    BalasHapus
  3. makasih sharingnya, mas edi. saya selalu suka membaca pengalaman-pengalaman seperti ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih untuk kunjunganya, mbak risa.... Salam kenal.... :-)

      Hapus
    2. Wahh mas ini tahun brp yaa? Kbtulan sya jg org Papua lahir d Wamena besar di Nabire tp skrg ada d Madiun Jawa Timur memang klo d Mulia sana sprti it mas klo naik twin otter menakutkan jga apalagi klo terbang wktu kabut turun sdh nggk karuan paniknya hehehe tp makasih mas sdh mau berkunjung ke Papua tanah kaya surga yg ad d bumi ini

      Hapus
    3. Wahh mas ini tahun brp yaa? Kbtulan sya jg org Papua lahir d Wamena besar di Nabire tp skrg ada d Madiun Jawa Timur memang klo d Mulia sana sprti it mas klo naik twin otter menakutkan jga apalagi klo terbang wktu kabut turun sdh nggk karuan paniknya hehehe tp makasih mas sdh mau berkunjung ke Papua tanah kaya surga yg ad d bumi ini

      Hapus
    4. Ini pengalaman saya ke Puncak Jaya tahun 2011. Sebuah pengalaman yang sangat mengesankan. Papua itu negeri penuh pesona. Sudah beberapa kali ke sana dan tak pernah bosan.

      Hapus
  4. arifin bakti nur rohman1:52 PM

    sangat menarik seperti ketika kami berkunjung ke wamenajayawijaya,merauke, fak-fak, ...berawal dengan dag dig dug dan berakhir dengan kekaguman dan rasa syukur sudah menginjakkan kaki ke sana...saluut dengan p edy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mas Arifin lebih punya banyak kisah dengan petualangan di Papua, terutama dengan penerbangan di sana. Keren... :-)

      Hapus
  5. ada Atm gk dsana Om.. rencana Mau berkunjung nih Ke puncak Jaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saat saya ke sana, ATM belum ada di Kota Mulia.

      Hapus