Kamis, 15 September 2011

KETIKA SAPI DONGGALA MENCARI PANAS DI ASPAL

Kabupaten Donggala di Sulawesi Tengah selama ini dikenal sebagai penghasil sapi. Sapi-sapi di sana terkenal besar-besar dengan daging yang gurih. Karena itu, oleh-oleh dari Sulawesi Tengah pun tidak jauh-jauh dari sapi. Kalau Anda berpergian ke Palu, maka salah satu oleh-oleh khas dari sana adalah makanan abon yang katanya dibuat dari gading sapi Donggala. Saya pun mencicipi rasa abon di sana, dan menurut saya, memang rasanya sedap.

Selain Abon, wisata kuliner yang harus dicoba ketika Anda berada di Palu adalah Kaledo. Kaledo adalah sejenis sup dengan bahan utama tulang sapi yang dimasak bening dengan bumbu cabe rawit yang telah dihaluskan. Kalau Anda pernah memakan sup tulang kaki sapi di Madura, maka bentuk Kaledo mirip seperti itu. Kata orang-orang di Palu, Kaledo adalah singkatan dari Kaki Lembu Donggala. Mmm…kreatif juga orang yang pertama kali menamakan masakan itu dengan nama Kaledo.

Sapi-sapi di Donggala sangat mudah ditemukan. Maklum saja, masyarakat di sana memelihara sapi dengan cara tidak dikandangkan. Sapi dibiarkan bebas berkeliaran dan merumput di mana-mana. Karena itu, sapi-sapi itu akhirnya berkeliaran dimana-mana. Mulai dari perkebunan, hutan, kampung, hingga ke jalan raya.

Saat saya melintasi Jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan Palu dengan Tolitoli, Agustus 2011 lalu, berkali-kali mobil yang saya naiki, berpapasan dengan sapi yang bergerombol di tengah jalan. Mobil pun harus melambat menunggu sapi pindah ke pinggir jalan. Lucunya, kadang-kadang ada sapi malah cuma melihat ke arah mobil ketika klakson dibunyikan. Mereka baru mau minggir setelah beberapa kali diklakson.

Untuk mencegah kemalingan, maka siapapun yang menjual sapi, harus melampirkan surat keterangan dari desa. Sapi akan ditahan di pasar hewan bila tidak dilampiri surat desa. Cara ini memang tidak efektif 100 persen. Sebab, bisa saja orang mencuri sapi dan langsung memotongnya untuk diambil daging dan bagian lainnya. Saya tidak tahu, apakah untuk menjual daging masih perlu surat keterangan desa. Rasa-rasanya sih tidak.

Sebuah rombongan sapi Donggala menguasai separuh badan jalan

Sapi Donggala berlarian ketika diklekson. Berharaplah sapi-sapi ini tidak menubruk mobil yang Anda kendarai


Sapi-sapi di Donggala umumnya juga memiliki tato di badan. Tato-tato tersebut berbentuk inisial nama pemiliknya. Jadi, bila si pemilik sapi ingin mencari dimana sapinya, maka tinggal sapi yang memiliki tato inisial namanya. Ini cukup penting karena sapi-sapi di Donggala umumnya memiliki warna yang mirip-mirip. Karena tidak pernah dikandangkan, maka sapi bisa saja bergerombol dengan sapi-sapi lain.

Sapi-sapi di Donggala punya kebiasaan unik. Ketika malam, mereka selalu memilih untuk tidur di badan jalan. Rupanya, sapi-sapi di sana tahu kalau permukaan aspal hangat pada malam hari. Mereka pun akhirnya memilih untuk melewati malam dengan tidur di aspal jalan. Karena itu, siapapun yang akan melintas di jalan-jalan di Donggala pada malam hari, sebaiknya berhati-hati. Sebab, malam hari adalah saat dimana sapi-sapi menjadi penguasa jalanan di sana.

“Kita harus sangat berhati-hati kalau berjalan malam hari. Kita juga harus sangat sabar. Sapi-sapi itu tidak bisa buru-buru minggir ketika kita melintas. Kadang-kadang kita harus turun dan membangunkan sapi-sapi itu agar menepi,” kata Yusman, seorang warga Tolitoli yang biasa melintasi Jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan Palu dengan Tolitoli.

Seekor sapi Donggala asyik berdiam diri di tengah jalan raya

Sapi Donggala berlari menjauh dari kendaraan

Segerombolan sapi Donggala tidak mau minggir dari badan jalan raya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar