Rabu, 16 November 2011

TREN MEMAKAI MASKER

Kalau sedang di tempat keramaian, saya sering tersenyum geli saat melihat masker-masker yang menutupi mulut dan hidung orang-orang yang saya jumpai. Saya pikir, sepertinya sudah semakin memasyarakat budaya orang menggunakan masker di tempat-tempat umum. Lihat saja di angkutan umum, pasar, mall, atau di kereta, atau tempat keramaian lainnnya. Anda akan temukan betapa banyak orang yang memakai masker di sana.

Padahal, kalau saya tidak salah, masker dulunya hanya banyak dipakai di lingkungan rumah sakit. Rupanya masker tersebut sudah mengalami perluasan fungsi. Masker tidak identik lagi dengan rumah sakit, walau saya sendiri masih menganggap demikian. Yang muncul di memori saya saat melihat masker, ya rumah sakit itu.

Karena itu, kini pedagang yang khsuus menjual masker juga sangat mudah didapat. Kita tidak perlu lagi mencari apotik atau toko obat terdekat hanya untuk membeli masker. Kini, pedagang asongan khusus menjual masker ada di terminal bis, stasiun kereta, pintu masuk mall, atau di tempat keramain lainnya. Harganya juga sangat terjangkau, hanya Rp 1.000 untuk satu masker yang bisa Anda pakai berulang-ulang. Bahkan, Anda bisa mencucinya bila merasa sudah kotor seperti yang dilakukan oleh Upin-Ipin dalam salah satu ceritanya.

Nah, itu adalah harga masker yang biasa dipakai di rumah sakit. Namun, kini sudah ada model masker baru yang bisa Anda jadikan koleksi. Masker baru ini tidak lagi berbahan kertas seperti yang biasanya. Masker model baru ini terbuat dari kain. Yang membuat saya sering tersenyum geli adalah, motifnya sangat unik-unik. Misalkan saja, ada masker yang bergambar kartun, bibir perempuan, tengkorak, kembang-kembang, dan sebagainya. Tinggal sesuaikan dengan keberanian Anda menahan malu. Namun, harga masker seperti ini berkali-kali lipat dari masker biasa, yakni Rp 5000 untuk satu masker.

Ada yang saya heran dengan fenomena pemakaian masker yang sekarang jadi tren di masyarakat. Saya sering menduga-duga mengapa semakin banyak orang menggunakan masker di tempat keramaian. Dugaan saya, pemakainya pasti sedang tidak fit atau mungkin sedang sakit. Ia memakai masker karena tidak mau menularkan penyakitnya kepada orang-orasng di sekelilingnya. Karena itu, saya sering berdoa dalam hati, semoga ia cepat sehat.

Doa ini saya panjatkan, karena saya kasihan juga dengan mereka-mereka ini. Badan sedang tidak sehat, tapi mereka selalu memakai masker yang menutupi hidung dan mulut mereka. Kalau sedang sakit, seharusnya siapa saja harus banyak-banyak menghirup udara segar. Nah, ini malah tidak demikian. Gara-gara memakai masker, mereka malah selalu menghirup udara kotor.

Bagi Anda yang suka memakai masker, apakah Anda pernah sadar kalau Anda sebenarnya membiarkan tubuh Anda menyedot udara kotor? Coba Anda rasakan saat berlama-lama memakai masker. Anda akan merasa menghirup udara yang terasa asam. Kondisi ini Anda alami gara-gara hidung dan mulut ditutup dengan masker. Hidung menjadi susah menghirup udara segar (O2) dan malah menghurup gas CO2 (karbon dioksida) yang sebelumnya sudah Anda buang.

Apakah Anda pernah menyadarinya?

Jakarta, 16 November 2011
Saat duduk di samping seorang perempuan bermasker abu-abu di atas sebuah bis kota

4 komentar:

  1. Waktu pertama kali ke Jakarta (2009) Saya juga heran melihat banyak orang yg pake masker. :D

    BalasHapus
  2. kalau menurut saya, orang-orang, khususnya di Jakarta, makin banyak memakai masker adalah karena alasan kesehatan agar terhindar dari polusi dan asap debu kendaraan bermotor yang tebal di jalanan. Aksan lebih baik dan efisien melindungi pernafasan dari polusi tersebut dengan memakai masker. Ketimbang menutup mulut dan hidung dengan tangan yang kadang tidak steril dan higienis lagi, saya akan lebih cenderung memilih untuk menggunakan masker juga.

    BalasHapus
  3. Anonim10:37 PM

    Penggunaan masker yang memang untuk kesehatan, selain dipakai di rumah sakit juga di pakai di tempat kerja dengan polusi debu/partikel yang dapat merusak kesehatan. Jadi, memakai masker bukan saja di rumah sakit tapi juga sering di tempat kerja (malah diwajibkan). Mengingat kondisi jalanan di Jakarta yang debunya banyak, kecenderungan memakai masker ini mungkin mengadopsi pemakaian masker dari tempat kerja/pabrik.

    BalasHapus