Kamis, 03 November 2011

MARI BERLOMBA MAKAN BUAH MANGGA

Saya termasuk orang yang beruntung di dunia ini. Tuhan memberikan saya satu anugrah yang tidak dimiliki oleh setiap orang di muka bumi ini. Sedihnya lagi, ada orang yang diberikan anugrah yang sama, tapi mereka tidak bisa menikmatinya. Ibarat seorang yang kaya-raya, tapi apapun tidak bisa ia nikmati karena mengkoleksi penyakit gula. Hidup yang sia-sia. Tidak berarti.

Anugrah yang saya maksud ini adalah adalah hobi memakan mangga. Mungkin Anda semua heran mengapa menyantap buah mangga saja, saya anggap sebuah anugrah dari Sang Pencipta untuk saya. Saya akan jelaskan alasannya. Mangga adalah buah spesial untuk saya. Sebab, selain buah durian, saya memasukkan buah mangga sebagai salah satu buah ternikmat yang diciptakan Tuhan di alam raya ini.

Dan, saat ini adalah saat-saat terindah dimana saya bisa memuaskan hobi saya ini. Lihat saja, mangga begitu membanjiri Jakarta dan sekitarnya. Apalagi di dekat rumah saya. Mangga ada dimana-mana. Mulai toko penjual buah, gerobak dorong, emperan pasar, hingga becak yang berubah fungsi jadi gerobak mangga. Semua berlomba-lomba menjajakan buah yang katanya berasal dari India ini.

Aneka jenis mangga saat ini sedang musim panen. Ada mangga Harummanis yang rasanya memang manis dengan serat yang lebih sedikit, ada mangga Indramayu yang sedikit asam dengan serat lebih banyak. Lalu, ada lagi mangga Manalagi yang hijau kulitnya dan rasanya manis walau masih mentah. Yang lebih sedap dipandang karena warnanya kuning kemerah-merahan adalah mangga Gincu atau mangga Gedong. Mangga Golek juga ada di beberapa pedagang.

Harga buah mangga juga relatif sangat terjangkau. Mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 15.000 perkilogram, tergantung kepintaran Anda dalam menawar. Kalau sedang musim mangga seperti saat ini, saya selalu menghindari untuk membeli mangga di supermarket. Selain harganya bisa dua kali lipat, kualitasnya juga belum tentu lebih bagus. Saya biasa membeli mangga Harummanis, Indramayu, atau Manalagi dengan harga berkisar Rp 5.000 untuk ukuran kecil dan Rp 7.500 untuk yang besar, per kilogram. Murah, bukan? Menurut sejumlah pedagang buah-buahan, omzet penjualan buah-buah lain mengalami penurunan kalau sedang musim mangga seperti saat ini.

Saya sering tertawa geli sendiri bagaimana melihat 'kerakusan' saya dalam melahap mangga. Setiap ada kesempatan di rumah, maka yang saya ingat hanya makan mangga. Stok mangga belum habis di kulkas, saya sudah membeli lagi. Karena itu, istri pun suka meledak saya karena tidak pernah lupa menyediakan stok mangga di rumah. "Sepertinya hanya mangga yanga ada di pikiran ayah," kata istri yang saya balas dengan senyuman saja.

Tidak hanya saat memakannya saja saya menikmatinya. Saya juga menikmati saat-saat mengupas mangga di dapur atau di teras rumah sambil menikmati pemandangan hijaunya rerumputan di halaman rumah. Sedikit demi sedikit kulit mangga terkelupas oleh pisau yang digenggam tangan kanan saya. Tidak butuh waktu lama untuk membuang semua kulitnya. Mungkin dalam lima menit saja, buang tanpa kulit lagi, sudah ada di genggaman tangan.

Baru setelah itu saya membelah daging mangga. Saya membuat belahan dengan ukuran yang tidak terlalu besar-besar agar cukup untuk masuk ke dalam mulut saya. Saya belah, lalu masuk mulut, dan kemudian saya kunyah, dan akhirnya saya telan. Begitu seterusnya sampai daging mangga tidak bisa

dibelah lagi. Sisa-sisa daging yang masih ada di biji pun saya habiskan dengan langsung menyerumputnya. Habis sampai warnanya sudah kuning keputih-putihan. Nikmat sekali. Rasa-rasanya, satu buah mangga pun belum cukup saya santap. Apalagi, tidak setiap saat saya bisa menikmati saat-saat seperti ini. Hanya pada saat mangga sedang berbuah saja.

Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan saya anugrah dapat menikmati salah satu buah terlezat di muka bumi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar