Minggu, 20 November 2011

SEORANG PENGAMEN TUA DI BISKOTA

Tidak banyak penumpang di dalam biskota Patas 104 yang aku naiki. Sejak berangkat dari Tangerang, jumlah penumpang barangkali hanya sekitar 20 orang saja. Maklum saja, ini adalah hari minggu sore, yang biasanya memang sepi penumpang. Begitu juga saat bis berhenti sejenak di rest area Pinang. Hanya ada sekitar tiga tambahan penumpang saja yang dibawa biskota jurusan Grogol ini.

Namun, ada satu orang lagi yang naik dari rest area ini. Kehadirannya langsung menarik perhatianku. Apalagi, ia berdiri di 'gang' bis dengan posisi tidak jauh dari tempatku duduk. Penampilannya yang lain daripada lain yang membuatku tertarik untuk memperhatikannya sepanjang perjalanan jalan Tol Tangerang-Jakarta yang dilalui biskota yang aku tumpangi ini.

Mungkin banyak yang menduga, orang itu adalah seorang wanita cantik. Kali ini, Anda salah! Yang berdiri tersebut adalah seorang pengamen. Penampilannya rada beda dengan para pengamen pada umumnya. Seingatku, pengamen ini belum pernah aku lihat 'beraksi' di rute Tangerang-Jakarta PP. Barangkali ia pengamen yang 'tersasar' atau justru 'pendatang baru' ya. Entah lah.

Saking menarik perhatiannya, aku sempat memotonya dengan BB-ku. Inilah hasil jepretanku:


Melihat penampilannya, sekilas mengingatku kepada Gombloh, penyanyi era 80-an yang ngetop dengan lagu Apel, Di Radio, dan Kebyar-Kebyar. Namun, kalau melihat topi dan alat musik Keytal yang dibawanya, aku juga teringat dengan Ari Wibowo, penyanyi era 80-an juga yang ngetop dengan lalu Anak Singkong dan Madu dan Racun.

Begitu naik ke bis, pengamen yang mungkin sudah berumur 50an ini, langsung menggantungkan sebuah speaker kecil di pegangan bis. Setelah itu, ia memasang posisi Keytal, semudah orang memasangkan tali pada gitar agar dapat menggantung di pundak. Pengait mikropon kecil dikaitkan ke kupingnya sehingga posisi mikropon itu ada di depan bibirnya.

Baru setelah itu, sejumlah lagu meluncur manis dari mulutnya. Dari sekitar lima lagu yang ia nyanyikan, hanya satu yang aku kenal. Selebihnya mungkin lagu sebelum 80-an. suaranya cukup keras terdengar dari speaker yang ia bawa. Suaranya cukup merdu terdengar dari speaker yang sebenarnya sangat 'pas-pasan' itu.

Menjelang gerbang tol Kebon Jeruk, ia mensudahi 'konser'-nya. Mikropon ia turunkan dari depan bibirnya, lalu keytal ia lepas dan diletakkan di punggung. Dan yang terakhir, speaker yang tergantung di pegangan penumpang bis, ia lepas kembali. Rupanya, di speaker itu, ada sebuah ruang kecil yang berfungsi untuk menampung 'recehan' yang diberikan para penumpang. Aku pun memasukkan selembar uang dua ribuan ke dalamnya.

2 komentar:

  1. HAHAHAHA aduh tiap hari saya liat si bapak ini loh di bus 157 :))

    BalasHapus
  2. aksinya cukup menghibur di tengah kepadatan lalulintas kan? :-)

    BalasHapus