Minggu, 27 Maret 2011

Face to Face with Desi Anwar

Masih ingat dengan kedatangan Presiden Austria Heinz Fischer ke Indonesia tanggal 9 November 2010 lalu? Anda mungkin lupa-lupa ingat.

Namun, kalau saya tanyakan apakah Anda ingat dengan peristiwa kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia, jawaban Anda pasti masih ingat, ya. Nah, waktu kedatangan Presiden Austria ke Indonesia persis sama dengan kedatangan Obama.

Saat itu, banyak berita yang mengulas mengenai perbedaan sambutan Presiden Heisnz dan Presiden Obama. Kalau Obama disambut dengan sangat gegap gempita, maka orang nomor satu Austria itu disambut biasa-biasa saja. Bahkan, ketika Presiden SBY dan Presiden Austria ini mengadakan jumpa pers di Istana Negara, sempat ada insiden macetnya alat penerjemah yang dipakai oleh sang tamu negara itu. Akibatnya, saat itu presiden SBY tampak kesal.

Nah, Presiden Austria ini muncul lagi di layar TV hari Sabtu kemarin. Persisnya di layar Metro TV di dalam acara Face to Face with Desi Anwar. Selama satu jam penuh, Metro TV menayangkan liputan Desi Anwar ke negara kecil di benua Eropa itu, plus tentu saja, mewawancarai sang presiden.

Face to Face with Desi Anwar adalah sebuah program andalan Metro TV. Face to Face with Desi Anwar tayang sebulan sekali, dan biasa tayang pada hari Sabtu Pukul 19.00 WIB.

Saya termasuk penggemar berat acara Face to Face with Desi Anwar. Menurut saya, acara ini sangat ‘mahal’ sekali. ‘Mahal’ karena setiap kali tayang, menyuguhkan wawancara dengan para tokoh-tokoh besar di dunia ini. Pada umumnya sih, para kepala negara, kepala pemerintahan dari banyak negara, atau tokoh lain yang punya reputasi mengagumkan di level dunia. Desi Anwar mewawancari mereka mengenai banyak hal, mulai dari pribadi sang tokoh, sisi spiritual, isu-isu global, dan tentu saja hubungan dengan Indonesia.

Acara ini juga ‘mahal’ dalam arti sebenarnya. Bagaimana tidak mahal, Desi Anwar mewawancarai sang kepala negara langsung ke tempatnya berada. Ini tentu memerlukan biaya yang sangat besar. Kru yang berangkat saja minimal ada tiga orang. Akomodasinya tentu sangat besar. Perkiraan saya, butuh biaya puluhan hingga ratusan juta untuk setiap episodenya.

Selain Presiden Austria Heinz Fischer, sejumlah tokoh yang pernah muncul di Face to Face with Desi Anwar antara lain Pemimpin Tibet Dalai Lama, Presiden Kroasia Ivo Josipovic, Presiden Polandia Lech Walesa, Presiden Turki Abdullah Gul, Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama, dan masih banyak lagi.

Face to Face with Desi Anwar juga pernah menghadirkan wawancara dengan penulis buku terkenal Richard Greene, pemain bola Zinedine Zidane, George Soros, dan sejumlah nama lain. ‘

Saya yakin, tentu tidak mudah mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai semua tokoh-tokoh tadi, apalagi sekelas kepala negara dari negara-negara besar. Pasti butuh lobi-lobi yang panjang untuk mendapatkan kesempatan itu. Juga pasti butuh jaringan yang luas untuk mewujudkannya. Dan, Desi Anwar dengan Metro TV-nya, sudah memiliki modal itu semua.

Maka, kemudian yang muncul adalah sebuah acara yang berkelas. Ya, tentu berkelas tidak hanya dari narasumbernya, namun juga cara penyajiannya. Tidak heran kalau ada yang menyebut, Face to Face with Desi Anwar seperti sebuah program TV bergaya internasional namun hasil produk lokal.

Acara ini memang dikemas dengan full bahasa Inggris. Namun, jangan khawatir kita tidak bisa memahaminya, karena di setiap episode-nya sudah disediakan subtitle dalam bahasa Indonesia dengan format, yang menurut saya, sudah pas banget. Kabarnya, Metro TV sampai harus membayar orang untuk membuat terjemahan acara ini agar mudah dipahami. Terjemahan tadi akhirnya muncul di layar dengan pemotongan kalimat yang enak dibaca.

Di dalam acara ini, Desi Anwar kembali menunjukkan kelasnya sebagai seorang presenter berita yang sudah kenyang dengan asam garam dunia jurnalistik. Mantan Presenter RCTI ini mampu menyuguhkan teknik wawancara yang mengalir tanpa harus menggurui atau memotong omongan si narasumber. Ia tidak membuat si narasumber merasa tersudutkan, namun malah menggali pemikiran si narasumber tersebut.

Kalau boleh usul, acara Face to Face with Desi Anwar ini akan semakin dahsyat bila mampu mewawancari para kepala negara atau tokoh yang lebih besar lagi. Misalkan saja Presiden Amerika Serikat, Presiden Prancis, Presiden Korea Utara, dan sejumlah kepala negara lain.

Kalau dari kalangan non-kepala negara, Face to Face with Desi Anwar mungkin bisa mewawancarai Bill Gate, Warren Buffet, Anthony Robbins, dan sebagainya.
Selengkapnya...

Menertawai Berita di "Beritawa"


Di tengah riuhnya berita di televisi, Trans7 menyodorkan ”Beritawa”, sebuah program hiburan yang dikemas mirip berita. Dalam ”Beritawa”, realitas berita dan panggung komedi terkesan berbeda tipis: hampir sama lucunya.”

Kurir pelaku pengirim paket bom berhasil ditangkap....” Itu bunyi sari berita yang dibacakan pembawa berita Metta Sagita pada acara Beritawa di Trans7. Anchor atau pembawa berita yang mengenakan pakaian formal berupa blazer warna marun itu lalu membacakan isi berita.

”Pemirsa, setelah beberapa waktu lalu mengalami rentetan kasus teror bom lewat paket buku yang sangat menggemparkan, satuan petugas keamanan berhasil mengamankan seorang pria yang diduga kurir pengantar buku berisi bom....”

Lalu di layar ditampilkan gambar rekaman CCTV berupa kurir yang menyerahkan paket kepada resepsionis. Resepsionis mencurigai isi paket yang berbunyi seperti detak jam. Karena curiga dengan ciri dan gerak-gerik kurir, sang resepsionis menghubungi petugas keamanan. Sketsa pelaku ditampilkan di layar dan terdengarlah bunyi berita, ”Dari ciri-ciri pelaku sketsa pelaku yang baru-baru ini disebarkan oleh tim penjinak bom jinak-jinak merpati....”

Di tengah kalimat terakhir itu terdengar latar suara berupa tawa. Pembacaan berita berlanjut dengan pengakuan dan penampilan gambar pelaku berinisial TNT. ”Saya cuma kurir mbak, sumpah. Saya tidak tahu itu isinya apa....”

Berita berlanjut dengan potongan laporan dari jumpa pers. Saat itu ketua tim penjinak bom membeberkan barang bukti berupa paket. Rupanya paket yang diduga bom itu berisi jam weker. Kembali terdengar efek tawa. Sampai di sini ketahuanlah bahwa Beritawa adalah acara hiburan berupa parodi berita.

Mirip berita
Beritawa dikemas mirip acara berita sebenarnya. Acara ini menggunakan pembawa berita yang bersikap formal. Metta Sagita, si anchor, menggunakan gaya bicara, intonasi, resmi. Tak ada pretensi sedikit pun untuk bercanda atau dilucu-lucukan.

Redaksional berita televisi juga tak beda dengan gaya pembawa berita. Simak saja bagaimana si anchor menutup program. Sambil membereskan kertas di meja, ia santun berucap: ”Pemirsa demikianlah informasi yang berhasil kami rangkum dalam Beritawa. Saya Metta Sagita bersama kru yang bertugas mengucapkan selamat malam dan sampai jumpa.” Persis pembawa berita bukan?

Metta kebetulan pernah menjadi presenter berita. ”Saya diminta serius membawakan hard news. Sikap saya waktu take, bacain berita juga serius,” kata Metta.

”Kalau sedang bawain berita pengin banget ketawa, tapi harus ditahan. Itu tantangan terbesar,” katanya menambahkan.

Set atau penataan ruang juga dirancang memberi kesan acara berita serius. Secara liatan (visual) dan dengaran, Beritawa tak berbeda dengan layaknya program berita televisi. Bahkan, musik pengantar pun terdengar sangat ”berita” yang serius itu. Penonton yang belum pernah menonton Beritawa mungkin bisa terkecoh. Pasalnya, realitas berita yang telah diketahui publik secara luas bersanding dengan ”realitas” komedik.

Pada berita ”Trend Wig Ala Gayus”, misalnya, ditampilkan foto Gayus dan orang yang ”mirip” Gayus menggunakan wig dan kacamata. Bahkan, ditampilkan pula materi gambar asli
saat Gayus dikawal polisi. Materi gambar asli itu dipadu dengan berita lain yang diperankan oleh para aktor yang dipacak sesuai materi komedi. Mereka berperan sebagai narasumber. Mereka diberi naskah.

Penampilan pelakon Beritawa tampak natural dan tidak tampak pretensi untuk berlucu-lucu. Interseksi antara realitas berita dan komedi ini menjadikan Beritawa hidup. Akan tetapi, program ini tetaplah sebuah hiburan. Sikap itu ditegaskan pada awal acara lewat semacam peringatan: ”program ini hanya untuk hiburan semata. Nama, lokasi, dan kejadian adalah rekayasa”.

Berangkat dari hiburan

Beritawa, seperti dipaparkan Bahar selaku Produser program tersebut, berangkat dari keinginan Trans7 membuat program hiburan untuk remaja yang tayang pada pukul 18.00 (Beritawa tayang setiap Senin dan Selasa pukul 18.00). Pada jam-jam antara pukul 18.00 dan 19.00, sebagian besar stasiun televisi gencar menyuguhkan hiburan. Setidaknya, pada kisaran jam itu, ada delapan stasiun televisi yang menyodorkan program hiburan. Adapun tiga stasiun televisi lain menampilkan berita. Trans7 memilih program hiburan berupa komedi. ”Kami diminta membuat bentuk komedi yang berbeda, yang unik dan nyentrik. Kami memilih konsep berita yang lucu,” kata Bahar.

Beritawa memperlakukan realitas berita televisi secara karikatural, komikal. Materi ”berita” diangkat dari isu aktual, maulai dari teror paket bom, penggerebekan narkotika sampai kasus Gayus. Penonton televisi, yang terus-menerus digelontori informasi visual yang sama tentang suatu peristiwa, kali ini mendapat plesetan info di Beritawa.

Kita simak bagaimana televisi menyodorkan berita paket bom secara berulang-ulang. Penonton bisa mengikuti proses meledaknya paket bom, mulai buku diguyur air, lalu petugas mencungkil buku dengan pisau, sampai detik-detik bom meledak. Realitas berita itu menjadi pengetahuan umum. Realitas berita itulah yang dikomedikan dalam Beritawa. Penonton secara emosi terlibat dan tertawa karena mereka merupakan bagian dari persoalan.

Satu hal yang sejauh ini belum disambar sebagai materi Beritawa adalah isu-isu politik. Produser acara mengakui bahwa secara kreatif ia terbatasi untuk masuk ke ranah isu politik karena dianggap berat bagi penonton hiburan remaja. Mungkin, Beritawa takut kalah lucu dengan isu politik yang memang sering membuat orang tertawa.

Sumber: Kompas edisi Minggu, 27 Maret 2011


Selengkapnya...