Rabu, 13 April 2011

Serangan Pasukan Ulat Bulu ke Indonesia, Ulah Siapa?

ulat bulu
Tiba-tiba saja, Indonesia diserang ulat bulu. Bak penjajah di jaman perang, mereka mengepung Indonesia dari segala penjuru. Mereka tampaknya telah menguasai teknik peperangan paling jitu di dunia ini. Awalnya, mereka menyerbu dari perkampungan yang mereka anggap lemah pertahanannya. Setelah menguasai perkampungan, serangan berlanjut dan semakin gencar untuk menusuk ke jantung pertahananan yang ada di kota-kota besar.

Indonesia tampaknya harus waspada. Pasalnya, bisa jadi, sasaran utama mereka adalah menguasai Jakarta, kota yang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, bisnis, dan pusat hiburan di Indonesia. Tidak terbayangkan apa yang bakal terjadi bila ulat bulu ini akhirnya menguasai Jakarta.

Serangan ulat bulu, yang di Inggris dipanggil dengan nama Caterpillar, pertama kali dilaporkan terjadi di Probolinggo, Jawa Timur, pada akhir Maret lalu. Serangan terjadi secara sporadis ke banyak titik. Akibatnya, masyarakat ketakutan. Korban pun berjatuhan. Ratusan warga yang tinggal di sepuluh desa merasa resah akibat ulat bulu yang menimbulkan rasa gatal di sekujur tubuh mereka.

Penduduk di sana akhirnya memilih tinggal di dalam rumah saja agar tidak menjadi korban berikutnya. Bagi mereka rumah yang akan keluar rumah, terpaksa mengunakan payung karena takut dan jijik dengan ulat yang tersebar di sekitar rumah. Bahkan, sekolah pun terpaksa diliburkan demi keamanan anak-anak.

Kabarnya, jenis ulat bulu yang menyerang secara sporadis di Probolinggo merupakan jenis ulat yang berbeda dengan tempat lainnya. Ulat yang bernama arctornis submarginata ini baru terlihat lagi setelah 70 tahun terakir.

Setelah sukses menebar teror di Probolinggo, pasukan ulat bulu bergerak ke titik penyerangan lain. Kabar datang dari sejumlah daerah lain kalau pasukan ulat bulu sudah terlihat di sana. Misalkan saja laporan dari Malang, Bali, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan daerah-daerah lain. Entah berapa ribu atau bahkan buta jutaan, ulat bulu mengerahkan pasukannya untuk menginvasi Indonesia. "Mari kita serang Indonesia!" Mungkin begitu kata Panglima Perang Ulat Bulu kepada jutaan anak buahnya untuk menyerang Indonesia.

Ulat bulu atau Caterpillar ini pun mencoba memasuki kota Medan, Sumatera Utara. Ratusan ulat bulu dijumpai di sebuah pohon Mahoni besar yang tumbuh di depan Masjid Agung, Jalan Diponegoro, Medan. Ulat bulu berwarna coklat kemerah-merahan itu bergerombol di pohon kayu mahoni yang ditaksir sudah berusia puluhan tahun itu. Mereka terlihat di sana sejak hari Senin, 11 April lalu.

Masyarakat mulai khawatir bila ulat bulu di atas pohon mahoni itu hanyalah pasukan mata-mata ulat bulu. Serangan yang lebih besar lagi bisa saja terjadi di seluruh kota Medan setelah pasukan mata-mata ulat bulu ini mengirim informasi intelijin mengenai situasi kota asal Bika Ambon ini, ke markas besar mereka. Kalau ini terjadi, maka siap-siapkan pasukan infantri ulat bulu yang sangat besar, bakal menyerang bakal Medan.

Karena itu, masyarakat mendesak Pemerintah Kota Medan untuk segera membasmi habis ulat bulu tersebut, agar tidak meluas ke tempat lain. “Ulat bulu di Medan ini tubuhnya kecil dan bulunya tidak begitu lebat sedangkan ulat bulu di Probolinggo besar dan bulunya sangat lebat,” kata seorang warga Medan.

Ulat bulu juga sudah menyerang Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Sejak beberapa hari terakhir, ribuan ulat bulu terlihat muncul di kawasan permukiman warga. Walau ulat bulu tidak mengerahkan pasukan sebanyak serangan ke Probolinggo, namun serbuan ulat bulu ini membuat penduduk di Banjarmasin ketakutan.

Ulat bulu menyerang di lahan pekarangan dan permukiman warga setempat. Ulat bulu juga memakan daun pepohonan dan rumput sekitar. Akibatnya, warga menjadi ketakutan dan tidak berani membuka pintu dan jendela rumah. Mereka khawatir ulat bulu akan menyerang masuk ke dalam rumah.

Namun, Indonesia tampaknya sudah terlambat mengantisipasi serangan ulat bulu. Pasalnya, serangan sudah memasuki kota Jakarta, pusat segala aktivitas di Indonesia. Laporan serangan ulat bulu di Jakarta datang antara lain dari Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Sepuluh warga dilaporkan sudah menjadi korban, dan terserang gatal-gatal.

”Saya sudah instruksikan Kepala Dinas Peternakan untuk koordinasi dengan lembaga yang berwenang agar jika terjadi wabah sudah bisa diambil langkah-langkah,”kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Orang nomor satu di Jakarta ini pun meminta warga untuk segera melaporkan ke aparat yang berwenang dan terdekat bila menjumpai serangan ulat bulu di daerah mereka.

Sejarah mencatat, serangan ulat bulu sudah sering terjadi di Indonesia. Kabarnya, Probolinggo, daerah yang pertama kali dilaporkan mendapatkan invasi dari ulat bulu, juga sebelumnya pernah mendapatkan serangan serupa pada 1936 silam. Dampaknya hampir sama yaitu menimbulkan kerugian pada para pemilik kebun mangga di daerah tersebut.

"Setelah kami melakukan investigasi, ternyata pada tahun 1936 lalu juga terjadi kasus yang hampir sama, yakni serangan ulat bulu. Kali ini terjadi lagi dan menyerang lebih banyak lagi perkebunan mangga di Probolinggo," kata Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf.

Ayo, jangan sampai ulat bulu menguasai Indonesia. Kita lawan mereka sampai titik darah penghabisan…
Selengkapnya...

Cuci Otak

cuci otak
Kasus yang menimpa Laila Febriani alias Lian, 26 tahun, yang dituduh telah menjadi korban cuci otak oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII), mengingatkan saya kepada kisah beberapa teman lama. Sepertinya, saya bisa menerka-nerka apa yang telah dialami oleh CPNS Kementerian Perhubungan tersebut berdasarkan kisah teman-teman saya tadi. Saya tidak tahu apakah mereka memang direkrut oleh kelompok yang sama atau bukan. Namun, pengalaman mereka sepertinya mirip-mirip.

Laila Febriani, seorang ibu muda bersatu anak, dikabarkan menghilang sejak Kamis 7 April 2011 ketika pergi makan siang dari kantornya di Kementerian Perhubungan. Besoknya, wanita ini ditemukan petugas keamanan di Masjid Atta'awun, sebuah masjid menjelang Puncak Pas, Puncak, Bogor. Saat ditemukan, Lian terlihat linglung dan tidak ingat lagi di mana rumah dan asal usulnya. Lian ditemukan dalam keadaan telah memakai baju gamis dan memakai cadar. Ia pun mengaku bernama Maryam, dan bukan Laila Febriani.

Kisah Laila ini mengingatkan saya kepada seorang teman perempuan yang saya kenal semasa kuliah. Kami cukup akrab karena sering sama-sama aktif di sejumlah kegiatan kampus. Hingga kelar kuliah, saya sama sekali tidak menemukan ada yang janggal pada teman ini. Keanehan baru terasa ketika kami sudah lulus.

Suatu hari, beberapa bulan setelah kami lulus, teman ini menelepon ke rumah. Saya cukup terkejut karena tumben-tumbenan ia menelepon. Apalagi, ia menelepon pada jam yang seharusnya orang sudah bersantai di rumah. Kami tidak lama berbasa-basi, karena teman ini langsung mengutarakan maksudnya. Ia mengaku sedang kehabisan uang, dan minta ditransfer sejumlah uang. Karena saya sudah biasa mengorek-ngorek pengakuan orang, maka saat itu, saya pun berusaha mencari tahu dulu apa yang terjadi dengan teman ini.

Saat itu, saya merasakan ada yang aneh dengan penjelasannya. Pertanyaan saya selalu diarahkan ke permintaan uang. Bahkan, ia berharap dikirim uang Rp 20.000 saja tidak masalah, agar bisa pulang ke rumah. Namun, saya belum menduga yang macam-macam terhadap teman ini. Saya memang tidak jadi memberinya uang karena ternyata bank kami tidak sama, dan saat itu belum ada ‘ATM bersama’ atau sejenisnya. Sedangkan hari sudah malam sehingga tidak mungkin ada bank yang buka.

Saya semakin merasakan keanehan ketika teman ini kembali menelepon saya beberapa waktu kemudian, dan kembali meminta dikirimi uang. Bermacam-macam alasan yang ia sampaikan. Namun, pada umumnya ia mengaku sedang kepepet dan butuh sejumlah uang. Anehnya, ia selalu mengatakan jumlah uangnya bisa berapapun.

Saya baru tahu sepak terjang teman ini ketika saya menceritakan pengalaman saya ini kepada beberapa teman lain. Rupanya, bukan hanya saya yang sering ditelepon dan dimintai uang. Rupanya, teman-teman lain yang mengalaminya. Saya pun kemudian jadi tahu apa sebenarnya kegiatan teman saya tersebut. Rupanya, ia bergabung ke dalam sebuah kelompok tertentu. Saya tidak tahu persis kelompok apa, namun mungkin sama dengan kelompok yang merekrut Laila Febriani.

Mengapa saya mengatakan kelompok yang sama? Pasalnya, ada dua teman saya yang akhirnya tidak hanya dimintai uang dengan alasan kepepet, namun juga pernah diajak bergabung.

Begini ceritanya. Suatu hari, teman perempuan yang suka meminta uang tadi akhirnya mengajak bertemu dua teman saya. Karena sama-sama perempuan, dua teman saya tadi, mau saja diajak pergi ke sebuah rumah di kawasan Cileduk. Saya tidak tahu persis alamatnya. Namun, kata kedua teman saya itu, rumah tersebut memang berada di sekitar Cileduk.

Sesampainya di rumah, sudah ada beberapa orang lain. Mereka berpakaian sejenis dengan teman yang mengajak tadi. Yang pasti, kedua teman saya menjadi sangat tidak nyaman dan akhirnya memilih pergi dari rumah tersebut.

Menurut keduanya, mereka dicekoki oleh beragam doktrin-doktrin yang sangat menyesatkan. Mereka juga harus mempercayai dan menuruti apapun perkataan orang yang mereka sebut sebagai pemimpin. Kedua teman saya itu menduga, saat itu mereka sedang mau dibaiat. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup mereka bila tidak berhasil kabur saat itu. Bisa jadi, mereka akan mengalami cuci otak dan akhirnya takluk ke dalam kelompok itu.

Kisah Laila Febriani sepertinya mirip dengan pengalaman kedua teman saya itu. Laila awalnya mengaku pergi dengan temannya. Diduga, temannya itu membawa Laila ke sebuah tempat yang menjadi markas kelompok asal temannya itu. Disana akhirnya terjadi proses cuci otak. Laila pun dibaiat dan telah masuk ke dalam kelompok tersebut.
Selengkapnya...